Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Dimas berterus terang


__ADS_3

Mbok Ning diminta Dimas datang memeriksa Anum.


Mbok Ning menekan pelan perut Anum, lalu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Anum.


Mbok Ning menatap Anum dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.


"Kalian sudah menikah?" Mbok Ning menatap tajam pada Dimas.


"Belum...eh sudah...," jawab Dimas gugup.


"Kapan kalian menikah?" tanya Mbok Ning curiga.


"Sebulan yang lalu," jawab Dimas asal.


"Neng udah hamil, umur kehamilannya sekitar enam minggu," ujar Mbok Ning memberitahu, Anum yang mendengar hal ini langsung pucat- pasi.


Bagaimanapun mereka bukan suami isteri, bagaimana jika ada yang tau mereka adalah pasangan selingkuh.


"Saya tidak akan membicarakan hal ini di luar...tapi sebaiknya kalian segera menikah...jangan sampai kalian menerima hukuman adat," Mbok Ning memperingatkan mereka, ia tidak bisa dibohongi.


Mbok Ning yang sudah berpengalaman tau, mana pasangan yang sudah menikah mana yang belum.


Dimas tidak akan mungkin begitu gugup ketika ditanya mereka sudah menikah atau belum.


Mata tua Mbok Ning juga tidak bisa dibohongi, biasanya pasangan suami isteri akan bahagia bila tau isterinya sudah hamil.


Mbok Ning membaca dari wajah Anum yang langsung pias ketika diberitahu sudah hamil.


Mereka mengaku sudah sebulan menikah, tapi usia kehamilan Anum sudah sekitar enam mingguan.


"Kalau begitu saya permisi dulu, dengarkan kata- kata saya segeralah kalian menikah," Mbok Ning kembali mengingatkan.


"Baik mbok Ning, terimakasih dan tolong jangan ceritakan pada siapapun," pinta Dimas.


"Iya saya akan menutup rapat- rapat mulut saya...tapi bagaimanapun kalian menyimpan hal ini...suatu hari pasti akan terbongkar juga," sahut mbok Ning.


Dimas cuma menggangguk, apa yang dikatakan mbok Ning benar adanya.


Kalau Anum belum bersuami, mungkin mereka bisa langsung menikah tanpa diketahui orang lain Anum sudah hamil duluan, tapi masalahnya Anum adalah wanita yang sudah bersuami.


Dimas harus segera menyelesaikan masalah ini, ia tidak ingin berlarut- larut, apalagi Anum sudah diketahui benar- benar hamil....seperti dugaan Anum.


Setelah Mbok Ning pulang, Dimas mencoba membicarakan hal ini pada Anum.


"Anum, aku akan segera menemui Raden Bondo...kita tidak bisa bersembunyi lagi...aku akan meminta ia segera menceraikanmu lalu aku akan menikahimu Anum," kata Dimas.


"Aku takut mas...," ujar Anum.


"Tenanglah...kita akan menanggung semuanya berdua," Dimas membelai rambut Anum.


Sore harinya, Dimas nekad bertandang di rumah Raden Bondo.

__ADS_1


Ia mencari Raden Bondo yang kebetulan sudah berada di rumah.


Seorang pelayan memanggil Raden Bondo karena ada tamu yang mencarinya di teras depan.


Raden Ayu Ditha mengerenyitkan dahinya, tidak biasanya ada yang datang mencari puteranya, Raden Bondo.


Firasat Raden Ayu Ditha mengatakan, ini pasti ada yang penting dan berhubungan dengan perginya Anum dari rumah.


"Suruh tamu nya masuk ke dalam," perintah Raden Ayu Ditha.


"saya akan segera menemuinya," sambung Raden Bondo.


"Baik Raden...," pelayan mundur menemui Dimas.


Raden Bondo dan Raden Ayu Ditha lalu menemui Dimas yang sudah duduk di ruang tamu.


Dimas segera berdiri setelah Raden Bondo dan Raden Ayu Ditha menemuinya.


"Duduklah..." perintah Raden Bondo.


Dimas duduk dengan menguatkan hatinya, ia berhadapan langsung dengan suami dari wanita yang sudah dihamilinya.


"Anda siapa dan ada perlu apa?" tanya Raden Bondo.


Raden Bondo bertanya- tanya, siapa laki- laki tampan di depannya dan ada keperluan apa mencarinya.


Dilihat dari penampilannya, laki- laki itu sepertinya seumuran dengan Raden Bondo.


Cuma dari pakaiannya, Raden Bondo bisa melihat laki- laki di depannya itu bukanlah dari kalangan bangsawan sepertinya, tapi dari kalangan rakyat jelata.


Dimas langsung bicara ke intinya.


Raden Bondo memandang Raden Ayu Ditha yang juga sedang memandang ke arahnya.


Betul tebakan Raden Ayu Ditha, kedatangan laki- laki itu ke rumah mereka berhubungan dengan menantunya, Anum.


"Apa maksud anda berbicara begitu dan apa hak anda bicara seperti itu pada saya?" tanya Raden Bondo tidak suka.


"Saya ingin berterus terang, saya adalah kekasih Anum sebelum Raden menjadi suaminya...sekarang Anum kembali pada saya dan sudah hamil anak saya," jawab Dimas tenang.


"Apa?" Raden Ayu Ditha langsung berdiri dari duduknya, ia kaget dengan apa yang dikatakan tamu di depannya.


Sementara Raden Bondo mukanya langsung merah padam, ia mengepalkan kedua jemarinya.


Tapi ia tidak mau gegabah, Raden Bondo menahan kemarahannya.


"Jangan main- main...apa benar yang anda katakan itu?" tanya Raden Bondo untuk meyakinkan apa yang dikatakan laki- laki di depannya.


"Untuk apa saya berbohong?" bukankah Anum sudah lama pergi dari sini?" Dimas balik bertanya.


Raden Bondo tidak bisa menahan kemarahannya lagi, ia berdiri lalu mencengkram baju Dimas dengan kencang.

__ADS_1


Raden Bondo merasa harga dirinya sudah diinjak- injak.


Laki- laki di depannya dengan berani mengakui sudah menghamili isterinya.


"Raden boleh memukul saya, tapi ceraikan Anum agar saya bisa segera menikahinya," tambah Dimas.


Raden Bondo memukul wajah Dimas dengan tinjunya.


Dimas terpelanting ke belakang, Raden Ayu Ditha menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Anum telah membuat malu keluarga mereka dengan mencorengkan aib di wajah keluarga mereka.


Raden Ayu Ditha tidak bisa menerima hal ini.


Raden Bondo masih ingin memukul Dimas dengan tinjunya, tapi tentu saja Dimas tidak berdiam diri.


Dimas menangkis tinju dari Raden Bondo, rasa sakit di wajahnya membuat Dimas berani melawan.


"Aku sudah mengalah saat kamu menikahi Anum, tapi salahmu sendiri kamu tidak bisa membahagiakan dia sehingga dia jatuh ke dalam pelukanku," Dimas mengejek Raden Bondo.


Raden Bondo berang, ia mencoba memukul Dimas kembali, tapi Dimas sudah siap.


Dimas balik memukul wajah Raden Bondo, Raden Ayu Ditha berteriak.


Keributan itu membuat para pelayan rumah mereka datang melihat.


Pelayan laki- laki mencoba menangkap kedua laki- laki yang sedang baku hantam itu.


Muka Dimas dan Raden Bondo sudah babak belur, keduanya sudah saling memukul dengan marah.


Setelah bersusah payah, beberapa pelayan laki- laki yang menangkap mereka akhirnya berhasil memegang tangan keduanya sehingga tidak bisa untuk saling memukul lagi.


Gusti Arya yang baru tiba, sudah menerima laporan dari seorang pelayannya tentang kejadian yang baru saja terjadi di rumahnya.


Ia langsung masuk ke rumahnya.


Gusti Arya melihat wajah anaknya, Raden Bondo dan lawannya sudah babak belur.


Keduanya masing- masing mendapatkan luka di sudut bibir mereka.


Pipi keduanya tampak merah dan membengkak.


Gusti Arya menghela napas panjang, ia memerintahkan pelayannya untuk memanggil kepala adat yang memimpin di daerah mereka di masa itu.


Pada zaman itu, hukum adatlah yang berlaku, bila ada masalah perselingkuhan maka semuanya akan diselesaikan secara adat.


Gusti Arya bertanya kepada Dimas.


"Benarkah yang saya dengar...kamu adalah kekasih dari menantu saya Anum?" tanya Gusti Arya.


"Iya, saya sudah mengenal Anum jauh sebelum Raden Bondo menikahi Anum," jawab Dimas.

__ADS_1


"Tapi sekarang Anum sudah berstatus menjadi isteri Raden Bondo, mengapa kamu merusak rumah tangga mereka?" tanya Gusti Arya dengan tatapan tajam.


"Anum sendiri yang datang pada saya, ia mengatakan ia tidak bahagia dengan pernikahannya...Raden Bondo terlalu dingin dan tidak mengacuhkan Anum," jawab Dimas dengan berani, sudah kepalang basah...ia harus menjelaskan semua kenyataannya.


__ADS_2