
Nenek Kanji berdiri di depan pohon besar, ia sudah menunggu kedatangan Arum.
Arum sampai dengan napas terengah- engah.
Arum masih mengalirkan air matanya.
Nenek Kanji menatap Arum dengan tatapan buas, tidak ada sedikitpun rasa kasihan nenek Kanji melihat Arum yang sudah berlimpah air mata.
"Masih ingat kah kamu dengan isi perjanjian kita saat kita bertemu pertama kali?" tanya Nenek Kanji.
Arum hanya mengangguk.
"Jika kamu melanggar perjanjian kita, kamu harus mendapatkan hukuman..."
"Aku ulangi agar kamu ingat," Nenek Kanji berkata tajam.
" Kamu akan selamanya menjadi penghuni hutan ini....bukan sebagai ratu...tapi sebagai budak...dan yang kamu korbankan karena dendamlah yang akan menjadi ratunya....." Nenek Kanji mengulangi isi perjanjian mereka.
"Benarkah begitu isi perjanjian kita kalau kamu melalaikan tugasmu?" ulang Nenek Kanji.
Arum hanya bisa mengangguk, ia tau tidak ada gunanya memohon lagi.
Nenek Kanji adalah roh yang penuh dendam, ia tidak akan mengampuni Arum.
"Baiklah....sekarang saatnya...," Nenek Kanji mendekati Arum.
Arum pasrah, ia memejamkan matanya....bersiap untuk menerima hukuman.
"Selamat tinggal suamiku Raden Prana dan puteriku Asmita....," gumamnya dalam hati.
Nenek Kanji menyeringai kejam, matanya berkilat...ia membuka mulutnya yang memperlihatkan gigi taringnya yang tajam.
Nenek Kanji mengusap leher jenjang Arum.
"Clap....." gigi tajam Nenek Kanji menggigit leher Arum.
Arum tidak berteriak, ia hanya menggelepar menahan rasa sakit.
Arum sudah menerima karma dari semua dosa- dosanya.
Ia berada di posisi seperti orang- orang sebelumnya yang sudah ia tumbalkan.
Nenek Kanji terus menghisap....air mata Arum turun dengan derasnya.
Arum merasa matanya berkunang- kunang, semuanya semakin gelap.
Tubuh Arum mulai mengering dan mengeriput, lalu berubah menjadi kepulan asap hitam.
"Hi....hi....manis....," Nenek Kanji menjilati bibirnya yang masih ada sisa darah.
Nenek Kanji lalu menjentikkan jarinya....nampak asap hitam bergulung ke arahnya lalu berhenti.
Asap hitam itu perlahan membentuk menjadi sesosok tubuh perempuan, dengan pakaian seperti layaknya seorang Puteri keturunan keraton atau bangsawan.
Sebuah mahkota kecil berbentuk rusa bertahta di atas kepala perempuan itu, yang ternyata adalah wujud dari Anum.
"Sekarang kamu akan menjadi ratu yang memimpin segala makhluk astral yang ada di hutan ini," tunjuk nenek Kanji pada Anum.
"Semua yang sudah menjadi tumbalku selamanya akan menjadi penghuni hutan ini..."
"Kecuali ada yang seseorang yang berjiwa murni yang menunjukkan cinta kasihnya tanpa batas yang akan membebaskan jiwa kalian yang terikat dengan hutan ini," pesan Nenek Kanji.
Anum tersenyum dengan wajah putih pucatnya...
Ia mengangguk...kemudian menghilang dari hadapan Nenek Kanji.
"Sudah waktunya aku istirahat....sudah ada yang menggantikan aku, hi....hi....," Nenek Kanji tertawa lalu perlahan tubuhnya menghilang.
__ADS_1
*********
Raden Prana tidak mendapatkan Arum di sisinya.
Raden Prana hanya melihat Puteri kecilnya yang masih terlelap.
Raden Prana merasa heran, tidak biasanya Arum menghilang sepagi ini.
Raden Prana keluar dari kamar, ia mencari Arum di seluruh sudut rumah namun tidak nampak bayangan Arum.
"Kalian melihat Gusti ayu?" tanya Raden Prana pada para pelayan rumahnya yang sudah sibuk mengerjakan tugas mereka.
"Tidak Raden," jawab mereka.
Raden Prana terduduk lesu, dari kemarin Raden Prana sudah merasa heran.
Sikap Arum tidak seperti biasanya, Arum bersikap lebih manja namun seperti menyembunyikan kesedihan.
Jika Raden bertanya, Arum hanya menjawab itu hanya perasaan Raden Prana saja.
Arum bersikap aneh dengan memberi banyak pesan dan meminta maaf.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada isteriku?" Raden Prana bertanya dalam hati.
*********
Mira tersentak dari tidurnya, ia memegang lehernya.
Ia melihat semua kejadian Arum dalam mimpinya.
Dino yang melihat Mira yang terbangun dari tidurnya merasa heran.
Dino segera bangun dan menyalakan lampu kamar mereka.
"Ada apa Mir? kamu habis bermimpi buruk?" tanya Dino.
Mira melihat jam dinding, masih jam setengah empat pagi.
Dino mengambil segelas air minum yang ada di meja kamar mereka dan menyerahkannya pada Mira.
"Minum dulu biar tenang," suruh Dino.
Mira menenggak semua air minumnya hingga tandas.
"Kamu mimpi apa?" tanya Dino.
"Mimpi yang mengerikan...," jawab Mira.
"Sudahlah jangan ditanggapi, mimpi hanya bunga tidur," ucap Dino.
"Tapi mimpi itu sangat aneh mas....seperti aku merasakan sendiri...," jawab Mira.
"Mimpi yang bagaimana?" tanya Dino lagi.
Mira menceritakan mimpinya, apa yang Arum rasakan seperti Mira yang seakan menjadi Arum.
”Hutan itu....dan pohon besar itu...astaga...." Mira menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Mata Mira membulat, Mira ingat dulu ia seperti pernah melihat seseorang yang ditumbalkan di pohon besar itu.
Dan saat itu Mira ragu apakah ia memang dibawa ke sana atau hanya di dalam mimpinya.
"Sebenarnya apa hubungannya dengan pengalaman aneh yang pernah aku alami?" Mira bertanya- tanya dalam hatinya.
"Jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu akan ketakutan," Dino mengusap lengan Mira yang terlihat termenung.
"Aku juga sudah beberapa Kali mengalami kejadian aneh," sambung Dino.
__ADS_1
"Kita sering mengalami kejadian aneh dimulai sejak mas Dino menghilang di hutan," tukas Mira.
"Apa semua ini ada sangkut- pautnya dengan itu?" tanya Dino menatap Mira.
"Mungkin saja, kita harus mencari tau mas Dino, apa mas Dino tidak merasa terganggu dengan hal ini?" Mira balik bertanya.
" Terus terang iya Mir, setiap aku sendirian aku selalu merasa was- was apakah akan mendapat gangguan lagi."
"Seperti waktu hari pertama aku mulai bekerja di saat pulang menuju rumah....aku masih sering ingat kejadian menyeramkan itu," tukas Dino.
"Ya sudah, nanti saja kita bahas lagi...
aku harus bersiap membuat kue....mas mau tidur lagi ?" ujar Mira.
"Sudah tidak ngantuk lagi Mir...biar aku temani kamu di dapur," ujar Dino.
Mira dan Dino lalu bersiap untuk keluar dari kamar mereka.
Si Poni yang meringkuk di bawah samping ranjang mereka, tiba- tiba berdiri dengan tegang.
Ia menggonggong, terlihat panik...
"Poni ada apa?" tanya Dino.
Poni terus menggonggong dengan ribut, bulu- bulunya berdiri tegak.
Sepertinya Poni merasakan sesuatu.
Mira dan Dino berpandangan, bulu kuduk keduanya meremang.
Mereka keluar kamar dan menyalakan lampu ruang tengah.
Sesosok hewan berbulu hitam memandang mereka dengan tatapan tajam.
"Dari mana ia datang?" tanya Mira heran.
"Entahlah....semua pintu dan jendela sudah tertutup rapat," jawab Dino.
Poni menyalak...
kucing hitam itu memperlihatkan taringnya yang tajam.
Dino mengambil sapu yang ada di dapur, ia berniat mengusir kucing itu keluar.
Dino membuka pintu depan lebar- lebar...
"Hush....hush...keluarlah....," usir Dino menggunakan ujung sapu.
Kucing hitam itu berlari keluar....Poni mengejarnya.
" Poni....jangan dikejar," teriak Dino.
Tapi Poni tetap berlari, anjing pemburu itu sudah biasa untuk berburu.
Dino dan Mira ikut berlari keluar.
Dino membelalakkan matanya....
Tampak olehnya bayangan perempuan berambut panjang yang berdiri tepat di jalanan depan rumah mereka.
Perempuan itu bermata merah, tersenyum menyeringai pada Dino.
Dino gemetar...
" Kita masuk...," Dino menarik tangan Mira yang terheran.
Mira mengikuti Dino masuk ke dalam rumah, lalu ketika mencapai pintu ia menoleh ke belakang.
__ADS_1
Tidak nampak apa- apa....