Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Anum pergi.


__ADS_3

Anum sudah tidak bisa bersabar lagi, ia tidak bisa mendapat izin dari ibu mertuanya.


Kepalang basah, Anum sudah tidak peduli lagi...ia sudah tidak berniat untuk mempertahankan pernikahannya dengan Raden Bondo.


Begitu Raden Ayu Ditha sibuk di dapur melihat para pelayannya yang menyiapkan makanan, Anum langsung keluar mencari Ki Anjar...


Anum membawa beberapa pakaiannya yang ia lipat menjadi bungkusan.


"Ki Anjar tolong antar saya," pinta Anum.


" Mau kemana Gusti Ayu?" tanya Ki Anjar.


" Di tempat biasa Ki...ayo Ki...saya ada perlu," jawab Anum.


Anum naik ke kereta kuda, Ki Anjar mengantar Anum sampai di belokan pasar.


"Ki...tidak usah tunggu saya...saya tidak pulang," Anum memberitahunya.


" Lho kenapa Gusti Ayu?" tanya Ki Anjar bingung.


"Kalau ditanya Ki Anjar jangan beritahu siapapun saya ada di tempat ini, saya sudah tidak tahan tinggal di rumah Ki," tukas Anum.


" Tapi Gusti Ayu...saya tidak mungkin berbohong...saya bisa dimarahi," Ki Anjar jadi ketakutan.


" Terserah Ki Anjar saja...saya sudah tidak peduli," ketus Anum menjawab.


Ia kesal, tidak ada seorangpun yang mendukungnya.


"Tidak boleh begitu Gusti Ayu...saya bisa dipecat... bagaimana saya nanti menghidupi keluarga saya?" Ki Anjar begitu khawatir.


"Kalau begitu katakan saja saya minta diturunkan di jalan...Ki Anjar tidak tau saya ke mana," kata Anum terlihat kesal.


" Jangan sampai mereka tau saya ada di tempat ini, kalau sampai Ki Anjar memberitahu mereka...saya akan katakan selama ini Ki Anjar saya ajak kerja sama untuk berbohong," ancam Anum.


Ki Anjar menyeka keringat yang tiba- tiba mengalir di pelipisnya.


Ia menjadi serba salah, berkata jujur salah berbohong juga salah.


Ki Anjar takut ia yang akan menerima akibat dari perbuatan Anum.


"Baiklah terserah Gusti Ayu...tapi saya tidak bisa berjanji nantinya bisa terus menutupi kebohongan ini," jawab Ki Anjar.


Ki Anjar lalu memutarbalikkan arah keretanya, ia membawa keretanya kembali ke rumah kediaman Gusti Arya.


Sementara Anum menemui Dimas di rumahnya.


Tok...tok...tok...


Dimas membuka pintu lalu segera menarik Anum masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Mas Dimas....aku kabur dari rumah," Anum memberitahu Dimas.


"Lho kenapa Anum?" tanya Dimas kaget.


"Aku sudah tidak sanggup lagi tinggal bersama mereka, ibu mertuaku mulai memusuhi aku," adu Anum pada Dimas.


"Kenapa ia memusuhimu Anum?" tanya Dimas mengerutkan keningnya.


"Sempat tercetus dari mulut ibu mertuaku aku pembawa sial," cerita Anum lagi.


"Apa? ia tega bicara seperti itu pada menantunya sendiri?" Dimas jadi geram setelah mendengar cerita Anum.


"Mas, aku tidak mau kembali ke rumah itu lagi...bawa aku pergi mas," Rajuk Anum.


"Kita akan hadapi mereka Anum, kembalilah padaku," kata Dimas membelai rambut Anum, ia lalu memeluk tubuh kekasih gelapnya itu.


**********


Ki Anjar kembali ke kediaman Gusti Arya dengan perasaan tidak karuan.


Ia belum memutuskan akan berbohong atau berterus terang tentang Anum.


Dalam hati ia hanya berdoa semoga tidak ada yang bertanya padanya kemana Anum pergi, walaupun kemungkinannya sangat kecil.


Setelah memarkirkan kendaraannya, Ki Anjar kembali mengerjakan pekerjaannya yang lain, membersihkan tanaman dari rumput- rumput liar.


Di dalam rumah, Gusti Ayu Ditha yang dari tadi tidak melihat Anum mulai bertanya- tanya dalam hati.


Raden Ayu Ditha mencoba tidak mempedulikannya.


" Kalau Raden Bondo sudah pulang, pasti dia juga akan muncul," gumamnya lagi.


Sorenya, ketika Raden Bondo sudah pulang ke rumah.


Ia heran tidak melihat isterinya sama sekali, ia lalu mencarinya ke dalam kamar mereka.


Namun tidak dilihatnya mata hidung isterinya itu.


Raden Bondo mencari Raden Ayu Ditha.


" Bunda...Anum di mana? kok tidak kelihatan?" tanyanya.


"Bukankah dia berada di dalam kamarnya? sehabis makan siang bunda juga tidak melihatnya lagi," jawab Raden Ayu Ditha.


"Anum tidak ada di kamar Bunda...," jawab Raden Bondo sedikit cemas.


" Kemana anak itu?" tanya Raden Ayu Ditha dalam hati.


Raden Bondo bertanya pada semua pelayan yang ada di rumah, namun tidak ada satupun dari mereka yang tau keberadaan Anum.

__ADS_1


"Bagaimana sih, kalian semua di rumah tapi tidak tau di mana isteriku," keluh Raden Bondo.


Raden Ayu Ditha teringat pada Ki Anjar, ia menyuruh salah satu pelayannya untuk memanggil Ki Anjar untuk menemuinya.


Ki Anjar yang dipanggil, dengan tergopoh- gopoh datang menemui Raden Ayu Ditha dan Raden Bondo yang sudah menunggunya.


Ki Anjar sudah gemetaran, ia sudah tau kejadian ini pasti terjadi padanya.


"Ki....saya mau tanya apa Ki Anjar tau di mana isteri saya? apa Ki Anjar ada mengantarnya di suatu tempat?"


"Maaf Raden....saya....saya...," Ki Anjar tergagap, ia takut salah bicara.


"Katakan dengan jelas Ki, saya jadi curiga dengan sikap Ki Anjar....mengapa jadi terlihat gugup begitu?" sentak Raden Ayu Ditha.


"Sabar Bunda....biar saya yang bertanya," Raden Bondo menenangkan Raden Ayu Ditha.


"Ki Anjar, tolong beritahu saya apa Ki Anjar ada mengantar Anum pergi ke suatu tempat?"


Ki Anjar memutar otaknya, ia lalu menjawab.


"Tadi Gusti Ayu Anum meminta saya untuk mengantarnya, tapi ia lalu minta diturunkan di jalan...selanjutnya saya tidak tau lagi Raden....," jawab Ki Anjar takut- takut.


"Tadi kenapa tidak meminta izin dari saya dulu?" tukas Raden Ayu Ditha.


"Saya tidak tau....sungguh....saya kira Gusti ayu Anum sudah meminta izin pada Raden ayu...," jawab Ki Anjar.


"Isterimu sungguh lancang Bondo....bunda semakin kesal saja," sengit Raden Ayu Ditha.


"Mohon bunda tenang dulu...mungkin Anum tidak betah di rumah bunda...beri waktu buat Anum...mungkin ia ingin menenangkan diri," kata Raden Bondo menenangkan Raden ayu Ditha.


"Isterimu itu tidak punya etika Bondo, Bunda tidak suka," Raden Ayu Ditha masih sangat kesal.


"Maafkan Anum Bunda, mungkin ini kesalahan saya juga selama ini kurang memperhatikan Anum," bela Raden Bondo.


Raden Bondo juga sadar selama ini ia selalu bersikap dingin dan tidak mengacuhkan Anum.


Mungkin itu juga salah satu penyebab Anum pergi tanpa izin.


"Kamu masih membela dia Bondo, bunda semakin percaya Anum itu memang pembawa sial....sejak dia datang di keluarga kita begitu banyak kejadian yang menguras emosi, apalagi dengan kepergian Ningrum," Raden Ayu Ditha meneteskan air matanya begitu teringat pada Ningrum.


"Sudah Bunda...ikhlaskan kepergian Ningrum...ini bukan salah Anum...mungkin Ningrum tidak bisa menerima kematian Raden Dito jadi ia memilih untuk meninggalkan kita," Raden Bondo mengusap lengan Raden Ayu Ditha yang sudah terisak.


" Ki Anjar boleh pergi...," kata Raden Bondo pada Ki Anjar.


" Baik Raden..."


"Lalu bagaimana dengan Anum Raden Bondo?" tanya Raden Ayu Ditha sambil menyeka air matanya.


"Mungkin dia kembali ke rumah Romonya Bunda, biarkan saja kita beri waktu Anum untuk menenangkan diri...beberapa hari lagi Bondo akan ke sana menjemputnya," jawab Raden Bondo.

__ADS_1


Raden Bondo mengira Anum pasti telah kembali ke rumah Romonya, ia pasti akan terkejut jika ia tau Anum sebenarnya pergi ke rumah Dimas, mantan kekasihnya yang kini telah menjadi kekasih gelapnya.


__ADS_2