Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Pertemuan


__ADS_3

Dimas berjalan dengan lesu, ia merasa sangat kehilangan calon anaknya.


Di depan Anum, Dimas bersikap tegar agar Anum tidak semakin terpuruk.


Raden Prana mengawasi para pekerja yang bekerja di peternakan.


Dimas yang baru datang dengan muka pucat dan terlihat tidak bersemangat, sangat terlihat berbeda saat Raden Prana pertama kali melihatnya.


"Dimas, kamu kenapa?" tegur Raden Prana.


"Anum keguguran...," jawabnya sendu.


"Kok bisa?" Raden Prana sangat kaget.


"Ini salah saya, mungkin Anum terlalu capek saat kami melakukan perjalanan," jawab Dimas.


"Jangan menyalahkan diri sendiri," Raden Prana menepuk bahu Dimas.


"Nanti aku akan mengajak isteriku menjenguk Anum," janji Raden Prana.


"Terima kasih Raden...," jawab Dimas.


"Sekarang kamu pulanglah, temani isterimu di rumah ..ia pasti sangat terpukul...aku memberimu libur empat hari...kamu tidak perlu masuk bekerja...," Raden Prana berucap dengan prihatin.


"Terima kasih atas kebaikan Raden," ucap Dimas.


"Pulanglah....,"titah Raden Prana.


"Terimakasih Raden," Dimas kembali pulang untuk menemani Anum.


Raden Prana menatap punggung Dimas dengan kasihan, dalam hati ia berjanji akan menjaga Arum dan calon anak mereka dengan baik.


Raden Prana bergegas pulang, ia berencana untuk mengajak Arum menjenguk Anum, isteri Dimas.


Setiba di rumah, Raden Prana disambut Arum dengan senyum.


"Tumben Kangmas sudah kembali?" tanya Arum.


"Aku kangen isteri dan calon anakku," jawab Raden Prana, lalu ia mengecup pipi dan perut Anum dengan sayang.


"Gombal...," jawab Arum tertawa kecil.


Raden Prana mencubit gemas hidung Arum.


"Beneran kangen sayang...," tukasnya tertawa kecil.


Arum terlihat bahagia, Raden Prana selalu bersikap manis padanya.


"Arum....ayo kita jenguk Anum, isteri Dimas....ia baru saja keguguran," ajak Raden Prana.


Arum terdiam, ia sebenarnya belum siap untuk bertemu dengan kakaknya itu.


Arum juga tidak tau akan bersikap bagaimana di depan Anum, haruskah ia mengakui Anum adalah kakaknya atau berpura- pura tidak mengenalnya.


"Apa kita menjenguknya dengan tangan kosong Kangmas? sebaiknya Kangmas membeli buah- buahan," jawab Arum mengulur waktu.

__ADS_1


"Betul juga ucapanmu, kanda akan keluar sebentar membeli buah- buahan untuk isteri Dimas," Raden Prana lalu pergi dengan menunggangi kudanya.


"Sebaiknya aku berpura- pura tidak mengenal Anum di depan Kangmas Prana..."


"Tapi bagaimana jika Anum yang mengakuinya sebagai saudarinya?"


"Ah...lihat nanti saja..." gumam Arum setelah bergelut sendiri dengan pikirannya.


Raden Prana sudah kembali, ia membawa sekantong buah- buahan.


"Ayo Arum, kita pergi sekarang," ajaknya.


Sesampai di rumah Anum, Raden Prana mengetuk pintu.


"Tok....tok...tok..."


Terdengar langkah tergesa dari dalam rumah, Dimas yang membuka pintu.


"Raden....," sapa Dimas.


"Ayo silahkan masuk," Dimas membuka pintu lebar- lebar.


Raden Prana masuk diikuti Arum, Raden Prana lalu menyerahkan bawaannya pada Dimas.


"Terima kasih Raden," ucap Dimas.


" Silahkan duduk Raden dan Gusti ayu...akan saya panggilkan Anum isteri saya...," Dimas hendak memanggil Anum.


"Jangan....isterimu masih butuh istirahat, biar saya yang jenguk ke kamarnya jika boleh," Arum mencegah Dimas.


"Baiklah Gusti Ayu masuk saja..."


Anum yang melihat Arum yang datang terbelalak...ia sangat kaget...


Bagaimana Arum bisa datang menemuinya.


Arum duduk di tepi tempat tidur Anum.


"A...rum...bagaimana kamu bisa berada di sini?" tanya Anum tergagap.


"Aku adalah isteri Raden Prana, pemilik rumah yang kalian sewa ini," jawab Arum.


"A..a..pa? bagaimana bisa?" Anum membulatkan matanya.


Ia tidak menyangka, setelah Arum pergi dari rumah ia sudah menikah dengan seorang keturunan bangsawan yang kaya- raya.


Timbul lagi rasa iri dalam hati Anum, manusia kadang tidak bisa belajar dari kesalahannya.


Anum sudah merasakan akibat dari dosa yang sudah ia perbuat, namun melihat adiknya yang hidupnya lebih makmur dan terlihat lebih bahagia darinya, timbul lagi rasa iri hatinya.


Anum merasa ia malah hidup menderita, ia merebut Raden Bondo yang keturunan bangsawan dari Arum...tapi ia tidak merasakan kebahagiaan dari pernikahannya itu.


Anum lalu memilih laki- laki yang sangat mencintainya, tapi suaminya itu seorang yang miskin dan dari kalangan rakyat jelata.


Dan mereka harus melarikan diri dan jauh dari orang- orang yang mereka kenal.

__ADS_1


Sedangkan adiknya, Arum setelah ditinggalkan Raden Bondo malah mendapatkan seorang suami yang tidak kalah tampan dari Raden Bondo, bahkan malah lebih kaya- raya dibandingkan dengan keluarga Raden Bondo.


"Tentu saja bisa...sudah nasibku untuk mendapatkan seorang suami seperti Raden Prana, suamiku," jawab Arum tertawa kecil.


Anum cemberut, ia terlihat jelas tidak suka melihat kebahagiaan Arum.


" Sudahlah kakakku sayang, jangan cemberut...aku datang untuk menjengukmu...katanya kamu habis keguguran," tukas Arum.


"Kamu pasti senang melihat aku menderita," ketus Anum.


"Jangan berburuk sangka dulu kakakku sayang....aku benar- benar tulus ingin menjengukmu," jawab Arum.


Arum menggelengkan kepalanya, kakaknya itu sifatnya tidak pernah berubah.


"Aku tidak sudi dijenguk olehmu...aku tidak mau mengakuimu sebagai adikku," Anum membuang mukanya.


" Aku juga tidak mau mengakuimu sebagai kakakku, kamu tidak pernah berubah," jawab Arum kesal.


" Kalau begitu keluarlah...selamanya kamu tetap ku anggap sebagai musuhku," ketus Anum mengusir Arum.


"Baik kalau begitu...aku tidak akan pernah menyesalinya," balas Arum, lalu ia melangkah keluar dari kamar Anum.


"Kangmas...ayo kita pulang," ajak Arum menyembunyikan kekesalan hatinya.


"Baiklah....ayo...mari Dimas kami pulang dulu, titip salam buat isteri kamu...," pamit Raden Prana.


"Terima kasih atas kedatangan Raden dan Gusti Ayu...," ucap Dimas.


Raden Prana tersenyum hangat, ia memang seorang yang baik hati.


Raden Prana dikenal sebagai seorang bangsawan yang rendah hati, ia juga sangat memperhatikan bawahan yang bekerja padanya.


Di daerah itu Raden Prana sangat dihormati, bukan hanya karena nama besar almarhum ayahnya tetapi memang karena Raden Prana sangat berkharisma dan suka membantu orang lain.


Sepulang Arum dan Raden Prana, Anum terlihat uring- uringan.


Dimas mengupas buah yang dibawa Raden Prana untuk Anum makan.


Anum memandang buah yang dikupas Dimas dengan bernafsu, sudah lama ia tidak makan buah yang harganya sangat mahal semenjak ia meninggalkan rumah Raden Bondo.


Dimas tidak mampu untuk memberinya makan enak, mereka selama ini hanya makan makanan sederhana.


Anum teringat lagi pada adiknya, Arum...


"Beruntung sekali nasibmu Arum...kamu pasti bisa makan enak apapun yang kamu mau," gumamnya dalam hati.


Dimas menyodorkan buah pada Anum.


"Buka mulutmu," suruh Dimas, ia menyuapi Anum dengan sayang.


Anum memandang Dimas, kasih sayang Dimas pada Anum bisa dirasakan Anum.


Cuma sayang, Dimas adalah orang miskin...


Ada rasa tidak puas dalam hati Anum, ia ingin menjadi orang yang bisa memiliki apa saja.

__ADS_1


Tapi ia sendiri yang sudah memilih antara harta atau cinta.


Dan Anum sudah memilih cinta, dan rela meninggalkan Raden Bondo yang punya banyak harta... tapi ia masih tidak merasa bahagia.


__ADS_2