
Mira dan Dino pulang dari rumah orang tua Mira setelah hari gelap.
"Hati- hati di jalan Nak, kalau sempat mainlah lagi kemari," pesan Pak Sugeng.
"Baik Pak, makasih...," jawab Dino.
Mira melambaikan tangannya pada bapaknya.
Dino menjalankan motor bututnya, Mira memeluk pinggangnya di belakang boncengan.
Jalanan tampak sepi, maklum kondisi di desa belum banyak kendaraan yang berlalu lalang.
Masih banyak semak belukar di kiri kanan jalan.
Udara dingin saat malam mulai mereka rasakan.
Tiba- tiba sekelebat bayangan melompat di depan mereka.
Dino mengerem mendadak, seekor kucing berbulu hitam berhenti di pinggir jalan.
"Astaga ya Tuhan..., kaget aku," ucap Mira.
Kucing hitam itu memandang tajam pada Dino dan Mira.
"Mas Dino, apa ini kucing yang tempo hari?" tanya Mira.
"Entahlah Mir, bisa iya bisa bukan," jawab Dino.
Dino kembali menjalankan motornya, ia berdoa semoga dalam perjalanan mereka tidak mendapat gangguan lagi.
Mira menoleh ke belakang, cepat sekali kucing hitam itu sudah tidak ada lagi di sana.
"Cepat sekali menghilang kemana dia?" gumam Mira.
"Apa Mir?" tanya Dino.
"Tidak apa- apa mas Dino...fokus lihat ke jalan aja mas..," teriak Mira untuk mengalahkan suara motor Dino yang agak berisik.
Setelah dekat dengan rumah mereka, lagi- lagi Dino mengerem mendadak.
Tubuh Mira sampai condong ke depan.
Dino merasa ada sekelebat bayangan yang melintas di depan motornya, namun setelah ia mengerem motornya tidak terlihat apa- apa.
"Ada apa mas Dino?" tanya Mira.
"Tadi seperti ada sesuatu," jawab Dino.
Mira merinding, entah mengapa Mira merasa mereka sedang diawasi oleh seseorang.
Mira menoleh ke belakang, dan sepasang mata berkilat melihat mereka dari pinggir jalan.
"Mas Dino lihat....," tunjuk Mira.
Dino menoleh, ia melihat seekor kucing hitam sedang menatap mereka.
"Aneh....," ucap Dino.
"Cepat jalankan motornya mas....," suruh Mira.
Dino yang sempat terbengong lalu bergegas menjalankan motornya kembali.
Rumah mereka sudah terlihat, Dino mempercepat laju sepeda motornya.
Setelah sampai, Mira memutar kunci pintu rumah mereka, Si Poni sudah menyambut kepulangan mereka.
Poni mengibas- ngibaskan ekornya.
Mira menyalakan semua lampu rumah, Dino masuk lalu segera menutup pintu.
"Mas Dino, mas merasa aneh ga dengan kucing hitam itu?" tanya Mira.
"Iya Mir, tidak mungkin hanya kebetulan saja," jawab Dino.
"Untung kita sudah sampai," tukas Mira.
__ADS_1
"Mas Dino, Mira mandi duluan ya," Mira mengambil handuk dan pakaian gantinya lalu membawanya menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur.
Mira baru ingin masuk ke dalam kamar mandi, Mira terlonjak kaget.
"Mas...mas Dino....," teriak Mira.
Dino datang diikuti oleh Si Poni.
Si Poni langsung menggonggong.
Dino membelalakkan matanya, ia sangat heran.
"Bagaimana mungkin?" Dino menatap Mira.
Mira memegang lengan Dino.
"Mira takut mas Dino," ujar Mira.
Seekor kucing berbulu hitam berdiri tegak menatap mereka seakan sedang menantang.
Si Poni menggonggong keras, tapi Poni seperti menjaga jarak.
"Tenang Mir...," Dino menenangkan Mira.
Dino mengambil sapu yang ada di sana, lalu membuka pintu belakang lebar- lebar.
"Keluarlah dan jangan ganggu kami," usir Dino mengibas- ngibaskan sapu di tangannya.
Kucing hitam itu lalu berlari keluar setelah menyeringai seperti mengancam.
Dino segera menutup pintu belakang kembali, ia tidak ingin Si poni mengejar lagi dan kembali dengan terluka.
Mira tubuhnya gemetar, ia ketakutan.
Dino menuangkan segelas air untuk Mira dan memberikannya pada Mira.
"Tidak apa- apa Mir, hanya seekor kucing," Dino menenangkan Mira.
Mira meneguk habis air minum yang diberikan Dino.
Dino mengusap- usap punggung Mira dengan lembut.
Poni sudah terlihat tenang dan meringkuk di dekat kaki Mira.
Dino mengambil piring Si Poni, dan menuangkan makanan untuk Poni.
"Poni makan....kamu pasti sudah lapar," Poni langsung mendekati Dino.
Poni makan dengan lahap.
"Bagaimana Mir, apa kamu sudah tenang?" tanya Dino.
"Sudah mas...," jawab Mira.
"Pergilah mandi," suruh Dino.
*******
Malamnya, Mira sulit untuk tidur.
Sementara di sebelah Mira, Dino sudah tertidur lelap.
Mira berusaha untuk memejamkan matanya, namun sepertinya ia tidak mengantuk.
"Mira....Mira...tolong aku...bebaskan aku...," Mira mendengar bisikan di telinganya.
Mira menutup telinganya.
"Mira...tolonglah...aku mohon....aku sangat menderita di sini," tetap saja suara itu bisa masuk ke dalam telinganya.
"Mira....bebaskan aku...," suara itu mendesis, seperti suara kesakitan.
Mira menyalakan lampu kamar.
Tidak ada siapa- siapa.
__ADS_1
"Tolong.....bebaskan aku," kembali Mira mendengar bisikan itu di telinganya.
Bulu kuduk Mira berdiri, suara itu begitu dekat masuk ke telinganya.
"Mas...mas Dino bangun....," Mira membangunkan Dino.
Dino mengucek matanya.
"Apa sudah pagi Mir?" tanya Dino menguap.
"Belum Mas...masih jam dua belas malam," mata Mira menatap jam dinding di kamarnya.
"Lalu ada apa Mir?" tanya Dino heran.
"Mas Dino Mira takut...suara itu datang lagi meminta tolong," jawab Mira dengan suara gemetar.
Dino memeluk Mira.
"Jangan takut, aku di sini menemanimu," hibur Dino.
"Kamu belum tidur?" tanya Dino.
"Belum mas...," jawab Mira.
"Tidurlah....sini aku peluk, lampu biarkan saja menyala biar kamu ga takut," titah Dino.
Dino memeluk Mira.
"Pejamkan matamu Mir," suruh Dino.
Hati Mira sedikit lebih tenang dalam pelukan Dino.
Mira lalu memejamkan matanya, ia lalu mulai tertidur.
Mira bermimpi, ia masuk ke hutan larangan...
Arum berdiri menunggunya di bawah sebuah pohon besar.
"Dosa- dosaku menumpuk di sini," tunjuk Arum.
"Jiwaku terkurung di sini, aku tersiksa....rohku tidak bisa tenang...tolong bantu aku."
"Cuma kamu sisa keturunanku, saat ini kamu adalah keturunan terakhirku," kata Arum.
"Dimulai dari aku, kemudian generasi anakku semua keturunanku mendapatkan anak perempuan," ceritanya lagi.
"Jika kamu bisa membebaskan aku, semua kutukan dendam akan berakhir dan semua roh yang sudah ditumbalkan di sini akan terbebas, termasuk aku," tambah Arum lagi.
Mira hanya terdiam, ia mendengarkan semua yang dikatakan Arum padanya.
*********
Hari Minggu...
Nandar menemui mbak Susi lalu mbak Susi menemani Nandar ke rumah Dino.
"Saya sudah mendapatkan jawabannya neng Mira, saya sudah tau cara untuk menghentikan semua ini," ujar Nandar.
"Bagaimana caranya Ndar?" tanya mbak Susi.
"Apakah caranya sulit?" sela Dino.
"Ini harus dilakukan di hutan tempat Dino menghilang," jawab Nandar.
"Kita akan melakukan ritual doa di dalam hutan, tapi Dino hanya boleh menunggu di luar hutan."
"Harus Mira yang melakukannya, dengan bantuan sebungkus garam."
"Apa saya boleh ikut?" tanya mbak Susi.
" Saya memang berharap mbak Susi ikut untuk menemani saya mendampingi Mira di sana...," jawab Nandar.
"Tapi mungkin akan ada halangan berupa hujan besar...jadi kita semua harus mengenakan jas hujan," tambah Nandar lagi.
"Kapan kita lakukan mas Nandar?" tanya Mira.
__ADS_1
"Secepatnya...," jawab Nandar mantap.