
Ningrum membuka matanya perlahan, kepalanya terasa pusing.
"Nak kamu sudah sadar?" tanya Raden Ayu Ditha khawatir.
" Ningrum kenapa Bun?" Ningrum balik bertanya.
Raden Ayu Ditha saling berpandangan dengan Gusti Arya, Ningrum terlihat kebingungan melihat sikap kedua orang tuanya.
" Ningrum kenapa Bunda?" Ningrum mengulang pertanyaannya.
" Kamu kerasukan Nak," Gusti Arya yang menjawab.
"Ningrum kerasukan?" Ningrum memandang kedua orang tuanya kebingungan.
" Ayanda nasehatin kamu Nak, kamu tidak boleh terlalu banyak pikiran...lupakan Raden Dito. Dia tidak pantas untukmu," nasehat Gusti Arya.
" Bunda tidak ingin terjadi apa- apa sama kamu Nak...tolong lupakan Raden Dito," Raden Ayu Ditha menambahkan.
Ningrum menangis, bicara memang mudah. Tapi ia yang merasakan selama beberapa tahun ini sudah begitu dekat dengan Raden Dito.
Hatinya teramat sakit...sakit sekali..
Mengapa hanya dalam sehari sikap Raden Dito berubah padanya?
Tentu saja Ningrum tidak bisa begitu saja menerimanya.
***********
Anum melambaikan tangannya kepada teman- temannya.
Noni- Noni Belanda teman- temannya itu berpamitan pulang.
Anum tersenyum, hatinya riang. Teman- temannya sangat menyenangkan hatinya.
Anum masuk ke dalam rumah, ibu mertuanya duduk di ruang tengah melihatnya dengan pandangan tidak suka.
" Anum, udah bersenang- senangnya?" tanya Raden Ayu Ditha.
"Bunda marah pada Anum?" Anum balik bertanya.
" Bunda bukan marah, tapi seenggaknya kamu harus tau situasi di rumah kita lagi bagaimana," jawab Raden Ayu Ditha.
"Memang kenapa dengan situasi di rumah kita Bunda?" tanya Anum lagi.
"Adik iparmu baru kesurupan, apakah kamu tau?" Raden Ayu Ditha memandang tajam pada menantunya.
" Apa Bunda? kapan?" tanya Anum kaget.
" Kamu terlalu sibuk dengan Noni- Noni Belanda teman- temanmu itu...sehingga ada kejadian di dalam rumah kita saja, kamu bahkan tidak tau," kata Raden Ayu Ditha terdengar sinis.
" Barusan Bunda? kok bisa? lalu bagaimana kondisi Ningrum sekarang Bunda?" tanya Anum.
" Sudah sadar dan sedang istirahat di kamarnya," jawab Raden Ayu Ditha ketus.
" Maaf Bunda, Anum tidak tau," jawab Anum.
" Bunda hanya ingin kamu tau...Ningrum sedang patah hati. Tolong seenggaknya kamu sebagai kakak iparnya lebih memperhatikan dia," Ucap Raden Ayu Ditha.
" Baik Bunda," jawab Anum.
************
Malam Bulan Purnama
Sesosok wanita berkerudung hitam tampak berjalan dengan terburu- buru.
Ia harus mencari seseorang untuk dikorbankan.
Ia melihat ada sebuah kereta kuda yang berhenti di tepi jalan.
__ADS_1
Tampak seorang pria sedang mengikat roda yang tampak kayu penghubung roda itu patah.
Mata Arum terpaku pada sosok cantik yang duduk di atas kereta kudanya.
Seorang gadis keturunan Belanda, mungkin gadis itu baru pulang dari bepergian.
Arum mendekati kereta kuda itu. Lalu ia menepuk bahu pria yang sedang sibuk memperbaiki kereta itu.
Pria itu langsung terdiam tidak bisa bergerak. Hanya matanya saja yang tampak bergerak- gerak.
Arum mendekati gadis yang sudah melihat ke arahnya dengan tatapan bingung.
" Hai cantik...turunlah dari kereta..," perintah Arum.
Gadis cantik keturunan Belanda itu perlahan turun dari kereta dan mendekati Arum.
"Namamu siapa?" tanya Arum.
"Saya Aleid," jawabnya.
"Ikutlah denganku...," Arum menarik tangan Aleid dengan buru- buru.
Arum memandang ke arah langit, nampak bulan yang terlihat bulat memancarkan sinarnya.
Gadis yang mengaku bernama Aleid itu mengikuti Arum tanpa ada perlawanan.
Gadis berambut pirang itu seperti dihipnotis, tidak bisa berpikir lagi.
Akan ada bahaya yang sebentar lagi mengintai nyawanya.
Ia hanya mengikuti Arum yang menarik tangannya dengan erat, seakan takut ia lepas.
"Cepatlah...kedatangan kita sudah ditunggu," Arum berbicara dengan gadis itu.
Gadis itu hanya diam, ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Arum padanya.
Pikiran gadis itu melayang, seperti dikendalikan oleh sesuatu yang tidak ia mengerti.
Ia hanya bisa menurut, mengikuti langkah gadis berkerudung hitam yang menarik tangannya.
Arum membawa Aleid sampai di dalam hutan.
Hanya diterangi oleh cahaya bulan, dalam keremangan malam mereka tiba di depan sebuah pohon besar.
" Nenek Kanji, aku datang membawa persembahan untukmu," ucap Arum berteriak.
Pohon besar di depannya bergetar...lalu terdengar seperti suara kepakan ribuan burung.
Nenek Kanji muncul dengan tawanya yang menyeramkan.
"Hi...hi....bagus Cah Ayu...kamu datang menepati janjimu," Nenek Kanji terlihat menyeringai.
Nenek Kanji mendekati Aleid lalu mengusap- ngusap leher gadis itu.
" Cantik...tapi sayang kau harus menjadi korbanku hi...hi...," tawa Nenek Kanji memenuhi tempat itu.
Arum saja masih tetap bergidik mendengarnya.
Nenek Kanji menunjukkan gigi taringnya yang tajam lalu...
Clap...
"Aaaaaaaa........," Aleid berteriak kesakitan.
Nenek Kanji menghisap darah gadis malang itu.
Sementara tubuh Aleid bergetar menahan rasa sakit di lehernya.
Tubuh Aleid perlahan mengkerut dan berkeriput lalu berubah menjadi asap hitam.
__ADS_1
"Hi.....hi.....manis....," Nenek Kanji menjilati bibirnya dengan suara kecapannya yang terdengar nyaring.
Arum melihat pemandangan di depannya dengan bergidik.
" Bagus Cah ayu....aku suka dengan persembahanmu...masih muda, darahnya segar..," Nenek Kanji memuji Arum.
"Ingat kau harus membawa lagi persembahan untukku di malam bulan purnama berikutnya...jangan sampai lupa kalau kamu tidak ingin celaka," ancam Nenek Kanji.
Arum menganggukkan kepalanya.
" Baik Nek," jawab Arum.
***********
Raden Bondo baru pulang dari pekerjaan mengawasi para pekerja di ladang.
Ia membawa kereta kudanya sendirian tanpa dikawal pelayannya.
Raden Bondo melihat kerumunan orang- orang di depannya.
Raden Bondo penasaran, ia menghentikan kereta kudanya.
"Ada apa ini Ki?" tanya Raden Bondo pada seorang pria paruh baya yang ada dalam kerumunan.
Raden Bondo melihat ada kereta kuda yang terparkir di situ, seorang pria yang diduga sebagai pemilik kereta kuda itu menangis.
" Majikan dari pria itu hilang," jawab pria yang ditanya oleh Raden Bondo.
" Bagaimana ceritanya?" tanya Raden Bondo penasaran.
"Tadi ia melihat seorang wanita berkerudung hitam datang membawa majikannya," jawab pria itu.
Raden Bondo mengerenyitkan keningnya.
" Lalu pria itu tidak menghalangi perempuan itu?" tanyanya lagi.
" Dia tidak bisa bergerak Den...tidak tau katanya perempuan berkerudung hitam itu sebelumnya menepuk bahunya."
" Aneh," gumam Raden Bondo.
"Terus tidak ada yang berusaha mencari majikannya?" tanya Raden Bondo lagi.
" Sudah Den...sudah dicari di sekitar sini, tapi tidak ketemu," jawab pria itu lagi.
" Majikannya perempuan atau laki- laki Ki?"
" Perempuan muda keturunan Belanda Den," jawabnya lagi.
" Apa yang terjadi sebenarnya?" Raden Bondo bertanya dalam hatinya.
Ia merasa heran, selama ini tidak pernah ada kejadian yang aneh- aneh yang terjadi di daerah mereka.
"Makasih infonya Ki...semoga majikan pria itu cepat ketemu...saya permisi dulu Ki sudah ditunggu keluarga di rumah," Ki Bondo pamit yang dijawab dengan anggukan oleh pria yang ditanyanya.
Raden Bondo melanjutkan perjalananya pulang menuju rumah.
Raden Bondo ingin segera sampai di rumah, ia ingin tau bagaimana hasil kunjungan kedua orang tuanya ke rumah Raden Dito.
Raden Bondo kasihan melihat Ningrum, adiknya yang terlihat sedih dan patah hati.
Raden Bondo teringat pada Arum.
" Apa ini balasan karena aku juga mengkhianati Arum?" pikirnya dalam hati.
Arum juga pasti sedih dan patah hati seperti yang dialami Ningrum sekarang.
"Apa kutukan Arum sudah mulai dia alami?"
Timbul kecemasan dalam hati Raden Bondo. Ia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Raden Bondo berharap, semoga ini hanya kebetulan belaka.
Bukan karena akibat dari Arum yang sudah menyumpahinya.