
Gusti Arya dan isterinya Raden Ayu Ditha
heran melihat Puteri bungsu mereka, Ningrum berlari sambil menangis masuk ke dalam rumah.
Tidak biasanya Ningrum pulang telat sehabis latihan menari...juga tanpa ditemani oleh kekasihnya, Raden Dito.
Biasanya sehabis latihan menari, Raden Dito tidak pernah absen menjemput dan mengantar Ningrum pulang dengan kereta kudanya.
Ningrum tidak memberi salam kepada kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di depan teras pendopo utama rumah mereka.
Ningrum melewati Raden Bondo yang sedang berjalan ke arah keluar pintu utama.
Raden Bondo terheran melihat adiknya yang berlari sambil menangis.
" Ningrum...," panggilnya.
Ningrum tidak menjawab ataupun menoleh, ia terus berlari menuju ke dalam kamarnya yang ada di bagian tengah rumah mereka.
Raden Bondo lalu menemui ayahanda dan ibundanya.
" Ada apa dengan Ningrum, Ayanda?" tanya Raden Bondo.
" Tidak tau...apa sedang bertengkar dengan Raden Dito?" jawab Gusti Arya.
" Biar Bunda yang tanyakan..." Raden Ayu Ditha bangun dari duduknya kemudian menyusul Ningrum masuk ke dalam rumah.
Raden Bondo duduk di sebelah ayahandanya sambil menghela napas.
" Di mana Anum isterimu Nak?" tanya Gusti Arya.
" Lagi di kamar sedang merapikan pakaiannya di lemari Ayanda..." jawab Raden Arya.
Di kamar Ningrum, Raden Ayu Ditha sedang mengusap kepala puterinya.
" Katakan sama Bunda Nak....kamu kenapa menangis? kamu habis bertengkar dengan Raden Dito?" tanya Raden Ayu Ditha lembut.
Mereka duduk di tepi ranjang Ningrum, Ningrum masih sesenggukan, sesekali ia mengusap air matanya yang meleleh membasahi pipinya.
Ningrum menggelengkan kepalanya...
" Lalu kenapa kamu menangis Nak?"
" Ceritakan sama Bunda...jangan menangis saja..." sambung Raden Ayu Ditha.
Ningrum mengatur napasnya yang tidak teratur...ia bingung harus bercerita mulai dari mana.
" Nak....jangan diam saja, kalau kamu menangis terus bagaimana Bunda bisa tau apa masalahmu," ucap Raden Ayu Ditha dengan sabar.
" Bunda....," Ningrum memeluk ibundanya.
Ningrum memang dekat dengan ibundanya, karena ia Puteri bungsu dan Puteri satu- satunya, tentu saja ia menjadi kesayangan semua anggota keluarga Gusti Arya.
Raden Ayu Ditha sangat memanjakan Puteri satu- satunya itu.
__ADS_1
Raden Ayu Ditha menepuk pelan punggung Ningrum.
" Ceritakan pada Bunda...Bunda akan bantu kamu apapun itu," ujar Raden Ayu Ditha.
Setelah menenangkan dirinya Ningrum mulai bercerita.
" Bunda...Mas Dito berkhianat..."
"Apa? bagaimana bisa?" Raden Ayu Ditha terperanjat.
Ia tidak begitu saja langsung percaya pada cerita Ningrum, karena selama ini setau Raden Ayu Ditha, Raden Dito sangat mencintai Ningrum dan tidak pernah berbuat yang macam- macam.
Keluarga kedua pihak pun sudah dekat dan saling mendukung hubungan keduanya.
Raden Ayu Ditha melihat selama ini Raden Dito adalah laki- laki yang setia, tidak pernah mendengar Raden Dito memiliki hubungan dengan perempuan lain.
"Ningrum melihat dengan mata kepala Ningrum sendiri Bun..."
" Tunggu Bunda mau tanya, tadi apa Raden Dito menjemputmu di tempat latihan?" tanya Raden Ayu Ditha.
Ningrum menggelengkan kepalanya, air matanya turun lagi.
" Sudah jangan menangis....kita selesaikan dulu masalah ini," Raden Ayu Ditha mengusap air mata Puteri kesayangannya.
" Tadi Ningrum menunggu Mas Dito di tempat latihan, nunggunya sampai lama tapi dia ga muncul- muncul Bunda."
" Terus...." Raden Ayu Ditha jadi penasaran mendengar kelanjutan cerita puterinya itu.
"Setelah kira- kira setengah perjalanan, Ningrum melihat kereta kuda milik keluarga Mas Dito berhenti di pinggir jalan."
"Terus Raden Dito nya ada?" tanya Raden Ayu Ditha.
" Mas Dito nya ga ada di kereta."
"Tiba- tiba Ningrum mendengar suara seorang perempuan dan suara Mas Dito...mereka ada di balik pohon dekat situ Bunda dan....," Ningrum tidak melanjutkan kata- katanya, ia menangis lagi.
"Sayang...jangan menangis lagi. Bunda ambil kesimpulan mereka sedang bermesraan begitu?" ucap Raden Ayu Ditha.
Ningrum mengangguk.
" Kamu kenal siapa perempuan itu Nak?"
Ningrum menggeleng, ia menghapus air matanya. Mata dan hidungnya sudah memerah.
" Perempuan itu menutup sebagian mukanya dengan kerudung yang ia pakai...jadi Ningrum tidak jelas melihat wajahnya."
" Dan yang bikin Ningrum sakit hati...Mas Dito mengusir Ningrum saat Ningrum menarik Mas Dito untuk pergi dari situ."
" Benarkah? lalu kamu tidak bertanya padanya siapa perempuan itu?"
" Ada Bunda...Ningrum bertanya siapa perempuan itu...perempuan itu yang menjawab Mas Dito adalah kekasihnya."
" Ningrum mulanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan perempuan itu, lalu Ningrum tarik tangan Mas Dito. Tapi tangan Ningrum ditepis oleh Mas Dito.... Mas Dito juga menampar muka Ningrum Bunda," Ningrum terisak.
__ADS_1
" Apa? Raden Dito berani menamparmu? keterlaluan dia," Raden Ayu Ditha marah.
Raden Ayu Ditha tentu saja tidak terima Puteri yang selama ini dijaga dengan penuh kasih sayang oleh keluarganya ditampar oleh Raden Dito, mereka saja tidak pernah menyakiti puterinya itu walau hanya seujung rambut pun.
"Bunda akan membuat perhitungan dengan Raden Dito... besok Bunda akan menemui orang tuanya," ucap Raden Ayu Ditha.
" Sudah Nak, untuk apa kamu menangisi laki- laki yang sudah tega menyakitimu," Raden Ayu Ditha tampak kesal.
" Tapi Bun, Ningrum masih ga percaya kenapa Mas Dito bisa berubah sikapnya dalam sekejap."
" Laki- laki kalau sudah berpaling memang begitu Nak, baguslah kamu belum menikah dengannya," kata Raden Ayu dengan berapi- api.
" Tapi Ningrum mencintai Mas Dito Bunda....hiks...hiks...," Ningrum menangis lagi dengan kencang.
Raden Ayu Ditha memeluk puterinya, ia mengepalkan jemarinya.
" Lihat saja Raden Dito...aku akan membuat perhitungan denganmu," ucapnya dalam hati.
"Sudah Nak...sekarang kamu pergi mandi dulu...bersihkan tubuhmu biar segar...setelah itu kita makan."
Ningrum menganggukkan kepalanya, ia menghapus air matanya.
Raden Ayu Ditha lalu keluar dari kamar Ningrum. Ia menemui suaminya di teras yang masih asyik mengobrol dengan Raden Bondo, puteranya.
"Bagaimana anak kita Dinda, apa yang terjadi sama Ningrum?" tanya Gusti Arya.
" Raden Dito mengkhianatinya dengan perempuan lain Kanda," jawab Raden Ayu Ditha masih dengan perasaan kesal.
" Apa? benarkah itu Bunda?" tanya Raden Bondo pada ibundanya.
" Iya...dan lebih parahnya lagi Raden Dito berani menampar muka Ningrum," cerita Raden Ayu Ditha.
" Apa? k***** a**r...beraninya dia.." Gusti Arya langsung berdiri dari duduknya.
" Aku akan beri pelajaran padanya...," Gusti Arya ingin pergi menemui Raden Dito ke rumahnya.
Raden Bondo langsung menarik tangan ayahandanya, ia menghalanginya.
" Jangan pergi dalam keadaan emosi ayanda...besok saja kita ke sana," kata Raden Bondo menenangkan ayahandanya.
" Benar Kanda...ini sudah malam, jangan bikin gempar," Raden Ayu Ditha turut bicara.
" Kita tenangkan diri dulu, sekarang ayo kita makan malam dulu...semua pasti udah lapar."
"Nak, panggil isterimu untuk makan malam bersama," perintah Gusti Ayu Ditha pada Raden Bondo.
Raden Bondo menemui Anum di kamarnya.
Raden Ayu Ditha memijit pelipisnya, beberapa hari ini terjadi masalah di keluarganya.
Dimulai dari pernikahan puteranya yang kacau- balau, lalu rusaknya atap salah satu pendopo rumah mereka dan sekarang masalah Ningrum.
Seharusnya dalam beberapa hari ini, keluarga mereka dalam suasana bersuka cita karena pernikahan putera mereka.
__ADS_1