
Anum dan Dimas tinggal di rumah sederhana, rumah sewaan milik Raden Prana.
Walaupun sederhana, tapi rumah sewaan itu memiliki fasilitas yang cukup lengkap, ada sumur di belakang rumah, kamar mandi, dan perlengkapan memasak sudah tersedia di dapurnya.
Tungku memasak dan tumpukan kayu kering untuk memasak sudah tersedia di sana.
Rumah yang mereka sewa tidaklah jauh dari rumah Ki Sowa.
Dimas juga diberi pekerjaan oleh Raden Prana, ia bertugas membantu mengurus peternakan sapi milik Raden Prana.
Di saat Dimas sudah pergi bekerja, siang itu Anum merasa perutnya seperti melilit.
Anum berbaring di kamarnya untuk beristirahat.
"Mungkin aku terlalu lelah...," gumamnya.
Anum mencoba memejamkan matanya, ia berharap dengan tidur, rasa sakit di perutnya bisa hilang.
Anum tertidur pulas, menjelang sore Anum bermimpi...
"Anum... aku kesepian di sini...," Raden Bondo mendatangi Anum dengan luka menganga di punggung yang tembus sampai ke dadanya.
"Kanda Bondo, kamu sudah mati....mengapa kamu masih menggangguku?" tanya Anum dengan tubuh gemetar.
"Aku kesepian....sendirian di sini sangat membuatku tersiksa," jawab Raden Bondo.
"Pergilah Kanda Bondo...aku mohon...biarkan aku hidup tenang," pinta Anum memelas.
" Apa? hidup tenang? ha....ha...bagaimana aku bisa membiarkan kamu hidup tenang, sementara aku mati karena kamu!" tunjuk Raden Bondo dengan wajah penuh amarah.
"Ini juga salahmu Kanda Bondo...mengapa kamu masih mengejarku saat itu," jawab Anum.
"Karena kamu sudah menginjak harga diriku sebagai laki- laki," tukas Raden Bondo sinis.
" Ini bukan hanya kesalahanku sendiri, aku tidak bahagia dengan pernikahan kita," balas Anum lagi.
"Tapi tidak dengan berselingkuh saat kamu masih menjadi isteriku," bentak Raden Bondo.
"Itu karena mas Dimas lebih bisa menyenangkan hatiku," Anum membela diri.
"Kamu harus membayar semua perbuatanmu padaku," tambah Raden Bondo.
"Aku tidak punya apa- apa untuk membayarnya," jawab Anum.
"Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa, bayar sekarang...," Raden Bondo berkata dengan nada mengancam.
" Tidak....jangan....," Anum berbalik lalu berlari menjauhi Raden Bondo.
"Kamu tidak bisa lari dariku Anum....," Raden Bondo mengejar Anum.
"Tidak....jangan....lepaskan aku...," teriak Anum masih terus berlari.
Napas Anum sudah terengah- engah, ia kepayahan....kakinya terasa begitu berat.
Anum menoleh ke belakang, Raden Bondo masih mengejarnya.
Jarak mereka semakin dekat, Anum semakin lamban...ia sungguh merasa kelelahan.
Akhirnya Anum sudah tidak kuat untuk berlari, ia berhenti untuk mengambil napas.
__ADS_1
Raden Bondo sudah tiba di depannya...
Tangan Raden Bondo terulur ke depan, Anum mengira Raden Bondo ingin mencekiknya.
Nyatanya, dugaan Anum ternyata salah...Raden Bondo mengulurkan tangannya menyentuh perut Anum.
"Ia akan menemaniku di sini...," tukas Raden Bondo dengan senyum menyeringai.
"Tidak....jangan...tolong lepaskan dia....," Anum memelas.
"Tidak bisa....hutang nyawa harus dibayar nyawa....," jawab Raden Bondo....wajah Raden Bondo menjadi menyeramkan.
"Lepaskan dia....ampunilah kami.....tolong....," teriak Anum meminta tolong.
"Berteriak lah sekencangnya...tidak ada yang akan bisa menolongmu....ha...ha..." Raden Bondo tertawa terbahak- bahak.
Mata Raden Bondo berubah menjadi merah, wajahnya dipenuhi oleh dendam dan amarah.
Anum tidak berdaya, ia hanya bisa berteriak meminta tolong...
"Tolong ...siapapun tolong aku....," teriak Anum.
Tangan Raden Bondo mencengkeram perut Anum, ia meremasnya.
" Jangan.....aku mohon jangan....," mohon Anum berderai air mata.
Raden Bondo tidak peduli, ia malah tertawa....
"Tolong....lepaskan dia....tidak......" keringat dingin sudah membasahi tubuh Anum.
"Anum...Anum...bangun....kamu kenapa?" Anum merasa tubuhnya diguncang seseorang.
Anum membuka matanya, ia melihat wajah Dimas yang terlihat sangat cemas.
"Bangunlah....ini udah sore...kamu bermimpi buruk?" tanya Dimas cemas.
Anum bangun dari tidurnya, ia mengusap peluh yang membanjiri pelipisnya.
"Au....," Anum mengaduh.
Perutnya semakin terasa sakit, sangat sakit...
"Kenapa Anum? perutmu sakit?" tanya Dimas begitu melihat Anum memegang perutnya.
"Aduh...perutku sangat sakit mas Dimas..." Anum berteriak kesakitan.
"Aku akan mencari bantuan...sabar ya Anum," Dimas melesat berlari keluar rumah, ia menuju rumah Ki Sowa.
"Ki Sowa....Nyi....tolong Anum...," teriak Dimas begitu tiba di rumah Ki Sowa.
"Anum kenapa?" tanya Nyi Sowa.
"Perutnya sakit....tolong Nyi adakah dukun beranak di sini yang mengerti?" tanya Dimas gugup.
"Ayo kita ke rumah....saya dukun beranak di sini," jawab Nyi Sowa.
Dimas sedikit lega, ternyata Nyi Sowa seorang dukun beranak...
Mereka bertiga bergegas berlari menuju rumah Dimas.
__ADS_1
"Langsung ke kamar Nyi...," Dimas langsung membawa mereka ke dalam kamar.
Muka Anum sudah terlihat pucat, ia memegang perutnya dengan kesakitan.
Nyi Sowa langsung memeriksa Anum, Nyi Sowa memegang denyut nadi Anum.
Wajah Nyi Sowa terlihat cemas, ia lalu menyingkap kemben Anum...nampak darah sudah membasahi di sela- sela pahanya.
Nyi Sowa memandang Dimas.
"Isterimu keguguran....," Nyi Sowa berkata dengan pelan.
"Apa?" Dimas seperti disambar gledek.
"Yang sabar ya...saya akan menolong mengeluarkan janinnya dari perut Anum," ucap Nyi Sowa.
Anum yang mendengar ucapan Nyi Sowa langsung menangis...ia harus kehilangan calon anak mereka.
"Ki, tolong ambilkan ramuan yang ada di rumah...Anum harus meminumnya untuk membersihkan kandungannya," perintah Nyi Sowa pada suaminya.
Ki Sowa lalu bergegas pulang ke rumah untuk mengambilkan ramuan yang diminta Nyi Sowa.
"Tahan ya Anum...kita akan mengeluarkan janin ini," titah Nyi Sowa.
Nyi Sowa lalu memijat perut Anum, Anum masih terlihat kesakitan.
Gumpalan darah kental tampak sudah keluar...
Anum tidak bisa menahan rasa sakitnya, ia kehilangan kesadarannya.
"Anum..Anum....," Dimas terlihat cemas.
"Tidak apa- apa Dimas, wanita yang habis keguguran memang begitu....sebentar lagi ia pasti segera sadar," Nyi Sowa menenangkan Dimas, sementara Nyi Sowa membersihkan sisa- sisa darah.
**********
"Habiskan ramuannya," perintah Nyi Sowa pada Anum.
Dimas menyerahkan air rebusan obat yang baru saja matang pada Anum.
Anum masih menangis...
"Relakan calon anak kita Anum....jangan menangis lagi...sekarang yang terpenting kamu harus cepat pulih," hibur Dimas.
Anum meneguk semua air rebusan obat yang diberi oleh Nyi Sowa.
"Ingat Dimas, nanti ramuan itu harus diberi pada Anum sampai tiga hari," perintah Nyi Sowa.
"Baik Nyi....terimakasih atas bantuannya....kami sangat berhutang budi pada Nyi Sowa dan juga Ki Sowa," ujar Dimas.
"Sama- sama Dimas....jangan dipikirkan, yang penting Anum cepat sehat kembali," jawab Nyi Sowa.
Anum memejamkan matanya, ia merasa mendapatkan balasan dari dosa- dosa yang sudah ia perbuat.
Anum menghela napas panjang, ia harus merasakan akibat dari perbuatannya.
Ia yang sudah menabur dosa....dan kini ia sedang memanen akibat dari perbuatan dosanya.
Air mata mengalir dari sudut matanya...
__ADS_1