
Gusti Brijaya dan Raden Ayu Kiswani tiba di kediaman Gusti Arya ketika hari sudah lewat siang hari, mereka datang bersama beberapa orang suruhannya.
Ki Anjar dan temannya terlihat kelelahan dan menyingkir ke belakang.
Karena jarak rumah mereka yang lumayan jauh, sehingga cukup memakan waktu untuk bolak- balik.
Raden Ayu Kiswani menangis histeris ketika melihat putera semata wayangnya sudah meninggal, apalagi dalam kondisi mengenaskan.
" Raden Dito anakku, kenapa jadi begini?" teriaknya mengguncang- guncang tubuh Raden Dito yang sudah kaku.
Salah seorang perangkat desa mendekati dan menanyakan pada Gusti Brijaya.
" Maaf Gusti...putera Gusti semalam memangnya pergi ke mana dan bersama siapa?" tanyanya.
" Putera saya, Raden Dito tidak ke mana- mana...ia berada di rumah dan tidur di kamarnya," jawab Gusti Brijaya.
" Gusti yakin?" tanya perangkat desa itu lagi.
" Iya sangat yakin, karena tadinya saya, isteri saya, dan putera saya masih mengobrol dan berkumpul di rumah...setelah itu putera saya pamit untuk tidur duluan," jawab Gusti Brijaya dengan yakin.
Semua orang yang ada di situ mendengar jawaban Gusti Brijaya dengan heran.
" Lalu bagaimana tubuhnya bisa ada di sini?" tanya mereka lagi.
" Saya tidak tau, lalu menurut kalian apa penyebab kematian anak saya?" Raden Brijaya balik bertanya.
"Kesimpulan saya putera Gusti meninggal karena kehabisan darah, dan seperti ada luka tusukan lebih miripnya seperti tusukan benda yang tajam di lehernya," jawab salah satu perangkat desa.
" Tapi kami tidak berani memastikan putera Gusti meninggalnya karena apa," jawabnya lagi.
Di masa itu belum ada yang namanya polisi atau sejenisnya, tapi ada pihak yang bertugas menjaga keamanan.
Semua diatur oleh para perangkat desa yang merangkap sebagai pihak yang bertanggung jawab pada keamanan warga di masa itu.
Gusti Arya mendekati Gusti Brijaya.
"Kami turut berbelasungkawa Dimas, tidak menyangka begitu cepatnya Raden Dito pergi," Gusti Arya menepuk pelan pundak Gusti Brijaya.
" Terima kasih Kangmas, maafkan kelakuan Raden Dito pada Ningrum baru- baru ini," jawab Gusti Brijaya dengan wajah penuh duka.
Ningrum menangis tersedu-sedu, Raden Ayu Kiswani memeluk tubuh gadis itu.
Mereka sama- sama sangat merasa kehilangan dengan meninggalnya Raden Dito.
"Kami akan segera memakamkan putera kami," kata Gusti Brijaya.
"Silahkan lakukan Gusti....kasihan kalau dibiarkan terlalu lama," jawab salah satu dari perangkat desa.
Gusti Brijaya memberi kode pada para orang suruhannya.
__ADS_1
Orang- orang suruhannya segera menurunkan kain putih dari kereta kuda mereka dan membungkus tubuh Raden Dito.
Tubuh Raden Dito kemudian dinaikkan ke kereta kuda untuk dimandikan dan diurus pemakamannya.
Gusti Arya dan Raden Bondo berniat mengikuti kereta Gusti Brijaya.
Bagaimanapun hubungan mereka selama ini sudah terjalin dengan baik sebelum putusnya Raden Dito dan Ningrum.
" Ayanda...Ningrum mau ikut," teriak Ningrum sambil menangis.
Gusti Arya melihat pada Raden Ayu Ditha untuk meminta persetujuannya.
Raden Ayu Ditha mengangguk.
" Saya juga ikut kanda...," Raden ayu Ditha memapah Ningrum naik ke kereta.
"Anum, kamu jaga rumah ya," perintah Raden ayu Ditha.
"Baik Bunda," jawab Anum.
Raden Bondo yang duduk mengendarai salah satu kereta kuda milik mereka.
Gusti Arya membantu isterinya memegang tubuh Ningrum yang terlihat lemas.
Mereka meninggalkan tempat itu mengikuti rombongan keluarga Gusti Brijaya untuk mengurus jenazah Raden Dito.
Anum malah sibuk mencari cara untuk menemui Dimas.
Anum berganti pakaian lalu berpesan kepada kepala pelayan yang ada di rumah untuk menjaga rumah.
" Mbok, saya mau ke rumah orang tua saya...tolong jaga rumah selama semua belum pulang, saya akan kembali sebelum yang lain pulang," pesan Anum pada kepala pelayan mereka.
"Baik Gusti ayu," jawab kepala pelayan.
Anum lalu mencari Ki Anjar untuk mengantarnya.
"Ki...tolong antar saya keluar sebentar, saya ada keperluan," perintah Anum pada Ki Anjar.
" Baik Gusti ayu...tapi semua lagi pergi, apakah tidak apa-apa Gusti ayu juga pergi?" tanya Ki Anjar takut- takut.
" Asal Ki Anjar jangan banyak bicara, mereka tidak akan tau, kita akan pulang secepatnya sebelum yang lain pulang," jawab Anum.
Anum seperti ketagihan untuk menemui Dimas, ia mencari kesempatan di kala yang lain lagi sibuk karena kematian Raden Dito.
Setelah sampai di belokan pasar, Anum minta diturunkan.
" Ki Anjar tunggu saya di pusat kota seperti biasa ya, nanti saya akan segera menemui Ki Anjar," pesan Anum.
" Baik Gusti ayu...," Ki Anjar lalu meninggalkan Anum dan menunggunya di tempat biasa, di pusat kota.
__ADS_1
Anum mengetuk pintu dan Dimas langsung bisa menebak, Anumlah yang datang mencarinya.
Dimas tentu saja girang, ia tidak perlu bersusah payah mencari Anum, justru Anum yang selalu datang untuk memberikan keinginannya.
Mereka mereguk manisnya dunia...tidak menyadari kehancuran sudah menanti di depan mata.
Setelah selesai berbuat maksiat, Anum segera menemui Ki Anjar yang menunggunya di pusat kota.
Dalam hati Ki Anjar, terbersit rasa curiga dengan apa yang Anum lakukan.
Ki Anjar selalu melihat, Anum selalu berwajah sumringah setelah pulang menemui yang katanya seorang teman.
Entah siapa teman dari junjungannya itu, Ki Anjar menduga- duga apakah Anum sudah melakukan sesuatu yang salah.
Ki Anjar juga sempat melihat rambut Anum yang awalnya sanggul rambutnya terlihat rapi, tapi pulang dalam kondisi berbeda terlihat agak berantakan.
Entah Anum menyadari atau tidak, Ki Anjar yang mulai sedikit curiga tapi tidak berani mengungkapkan kecurigaannya itu pada siapapun.
Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang yang digaji oleh Gusti Arya untuk melayani semua anggota keluarga majikannya itu.
"Ayo Ki...kita pulang sebelum yang lain kembali...," Anum menyadarkan Ki Anjar dari lamunannya.
"Baik Gusti ayu...," jawabnya lalu menghentakkan tali kekang kudanya untuk menjalankan keretanya.
Anum tersenyum membayangkan adegan yang baru saja ia lakukan bersama Dimas.
" Mas Dimas..., aku semakin mencintaimu," ucapnya dalam hati.
"Kanda Bondo tak ada seujung kelingking pun bisa menyamaimu," gumamnya.
"Salahmu sendiri Raden Bondo, kamu tidak bisa bersikap manis pada isterimu sendiri....jadi jangan salahkan aku kalau aku jatuh ke dalam pelukan mas Dimas," Anum bicara dalam hati.
Sepanjang jalan, Anum tersenyum sumringah....ia sangat menikmati waktu seperti ini.
Anum tidak menyadari, sepandai- pandainya tupai melompat suatu hari ia akan jatuh juga.
Sepandai- pandainya Anum mencari cara untuk menemui Dimas, suatu hari pasti perbuatannya akan terbongkar juga.
Hanya menunggu sang waktu yang akan menunjukkan kepada dunia, ia berani menabur maka ia akan menuai akibat dari apa yang sudah ia lakukan.
"Gusti ayu kita sudah sampai," Ki Anjar memberitahu Anum yang masih tersenyum- senyum sendiri.
Anum tersentak, ia langsung tersadar.
"Iya Ki...terimakasih," Anum lalu bergegas turun.
Ki Anjar hanya bisa menggeleng- gelengkan kepalanya.
" Semoga apa yang kupikirkan tentang Gusti ayu Anum tidak benar....mudah- mudahan hanya prasangkaku saja," gumam Ki Anjar dalam hati yang melihat sikap mencurigakan Anum.
__ADS_1