
Dino merindukan kedua orang tuanya, ia ingin menjenguk mereka.
Kebetulan hari ini rumah makan tempatnya bekerja tutup lebih awal karena hari ini sangat ramai dan makanan sudah habis terjual.
"Mir, hari ini aku ingin menjenguk bapak dan ibu, apa kamu mau ikut?" tanya Dino.
"Sangat mau mas Dino, bagaimanapun mereka adalah orang tua mu...tapi kamu tau sendiri bagaimana mereka memperlakukanku," jawab Mira.
"Kita coba lagi Mir, mungkin dengan kembalinya ingatanku mereka akan menerimamu," balas Dino.
"Baiklah mas Dino, Mira ikut saja dan bagaimana setelah dari sana kita juga menjenguk bapakku?" ajak Mira.
"Boleh Mir, kita sudah lama juga tidak menjenguk bapakmu," jawab Dino.
"Kalau begitu Mira ganti baju dulu mas Dino, nanti sekalian mampir ke toko buah mas...kita bawa buah tangan," ujar Mira.
******
Dino sampai ke rumah orang tuanya dengan membonceng Mira.
Dino dan Mira mengetuk pintu, ibu Dino sendiri yang membuka pintu untuk mereka.
"Dino...kamu datang Nak?" ibu Dino menyambut Dino dengan gembira, tapi tatapannya langsung berubah begitu melihat Mira bersama Dino.
Bu Broto menatap Mira dengan pandangan tidak suka, tapi Mira tidak peduli.
Dino menyalami tangan ibunya begitu juga dengan Mira.
Bu Broto memberikan tangannya pada Mira dengan terpaksa.
Dino memberikan kantong yang berisi buah- buahan yang tadi mereka beli di toko buah.
"Kenapa kamu ajak dia?" tanya ibu Dino pada Dino, ia menunjuk dengan dagunya sambil menerima kantong pemberian Dino.
"Ibu tolong...," tegur Dino pada ibunya.
"Ya sudah...ajak dia masuk," Bu Broto lalu masuk ke dalam rumah.
Dino dan Mira masuk mengikuti dari belakang.
"Bapak...," sapa Dino begitu melihat Pak Broto yang duduk di ruang tengah.
Dino dan Mira lalu menyalami Pak Broto.
"Bapak dan ibu sehat?" tanya Dino.
"Sehat...bagaimana dengan kamu sendiri?" tanya Pak Broto.
"Dino ingatannya sudah kembali Pak," jawab Dino.
"Baguslah kalau begitu," sela ibu Dino.
"Duduklah...," suruh Pak Broto pada Dino dan Mira.
Dino dan Mira lalu duduk bersebelahan.
Ibu Dino mengawasi Mira dengan tatapan tajamnya.
"Kamu udah kerja?" tanya Pak Broto.
"Udah Pak, Dino dapat pekerjaan di sebuah rumah makan," jawab Dino.
"Kamu sih lebih pilih perempuan itu dari pada diberi toko beras," ketus ibu Dino.
Mira hanya bisa diam mendengar perkataan pedas dari ibu Dino, ia sudah terbiasa.
Mira menganggap perkataan ibu Dino seperti angin lalu, ia tidak mau memasukkannya ke dalam hati.
"Kapan kamu bisa maju kalau masih saja kerja sama orang." Ucap Pak Broto.
"Saya cukup merasa bersyukur aja Pak, yang penting Dino bisa mencukupi kebutuhan kami berdua," jawab Dino.
"Kamu masih belum hamil juga Mira?" Pak Broto beralih pada Mira.
__ADS_1
"Belum Pak," jawab Mira pelan.
"Itu lah kalau kamu sembarangan cari isteri Dino, rezeki nya susah...anak pun sampai sekarang ga dikasih," ketus Pak Broto.
Muka Mira merah padam, ia merasa tersinggung karena bapak Dino ucapannya tidak kalah pedas dengan isterinya.
Dino menggenggam tangan Mira, ia merasa iba pada Mira.
Kedua orang tuanya masih belum menerima Mira sebagai menantu mereka.
"Rezeki itu sudah ada yang atur Pak...bukan karena Dino salah pilih isteri."
"Dino lah yang merasa beruntung karena Mira isteri yang sangat baik untuk Dino," bela Dino.
"Mata kamu udah buta karena cinta," sela ibu Dino.
"Bapak...ibu...tolong hargai saya...bukan sebagai anak kalian...tapi tolong hargai saya sebagai suami dari Mira," pinta Dino.
"Bagaimana perasaan saya kalau isterinya selalu direndahkan?" sambung Dino.
"Dari dulu kamu itu memang tidak bisa dikasih tau," jawab ibu Dino.
"Dino datang ke sini karena Dino merindukan bapak dan ibu, tapi bapak dan ibu selalu begini," balas Dino dengan kecewa.
"Kamu yang selalu tidak terima kalau bapak dan ibu bicara," Pak Broto yang menjawab.
"Kalau begitu kami permisi dulu Pak...Bu...Dino capek selalu bertengkar karena keegoisan bapak dan ibu," Dino menarik tangan Mira untuk berdiri.
"Kamu yang egois....tidak mau mengerti perasaan orang tua...lebih memilih orang yang tidak ada hubungan sama sekali," ibu Dino tidak mau kalah.
"Apa ibu bilang? Mira itu isteri Dino Bu....tentu saja ada hubungannya...astaga ibu," Dino terlihat mulai marah.
"Sudah Mas Dino...kita pulang aja," lerai Mira.
Mira tidak ingin suaminya bertengkar dengan orang tua nya hanya karena Dino membela Mira.
"Kami pulang Pak...Bu...," Dino dan Mira mengambil tangan orang tua Dino untuk menyalaminya.
Mereka lalu berlalu dari sana dengan perasaan kecewa.
Dino lalu mengarahkan motornya ke arah rumah orang tua Mira.
Rumah sederhana dengan hanya berlapiskan papan yang tidak dicat itu terlihat sepi.
"Permisi....bapak...," panggil Mira.
Bapak Mira yang bernama Pak Sugeng tergopoh- gopoh membuka pintu.
"Mira...Dino...ayo masuk Nak," Pak Sugeng terlihat senang melihat Puteri dan menantunya datang.
"Pak ini sedikit oleh- oleh," Dino menyerahkan kantong yang berisi buah- buahan.
"Makasih Nak, kok repot- repot...kalian duduklah bapak seduh teh manis buat kalian," Pak Sugeng berlalu ke dapur.
Rumah Pak Sugeng hanya terdapat satu kamar, ruang tamu dan dapur, dan kamar mandi saja...rumahnya hanya diisi perabotan seadanya.
Bapak Mira kembali dari dapur dengan membawa dua gelas teh manis.
"Diminum nak," suruhnya.
Dino dan Mira yang memang merasa haus, karena di rumah orang tua Dino mereka tidak ditawari minum.
Mira dan Dino yang haus meneguk teh manis yang disuguhkan Pak Sugeng.
"Bapak sehat- sehat saja?" tanya Mira.
"Sehat- sehat Nak, kalian bagaimana?" tanya bapak Mira.
"Sehat- sehat Pak...maaf Mira jarang berkunjung menengok bapak apalagi saat Mas Dino hilang di hutan," jawab Mira.
"Hilang di hutan? kok bapak tidak dikasih tau?" tanya Pak Sugeng.
"Mira tidak ingin bapak cemas," jawab Mira.
__ADS_1
Mira lalu menceritakan semua kejadian yang menimpa mereka selama ini.
"Mira mau tanya apa bapak tau cerita tentang leluhur Mira yang bernama Arum itu dari pihak bapak atau ibu?" tanya Mira.
"Sepertinya dari pihak ibumu Nak....soalnya ibumu dulu pernah cerita yang ia dengar secara turun- temurun....mereka masih berdarah bangsawan."
"Kalau dari pihak bapak tidak ada Nak, setau bapak....bapak semua keluarganya dari keturunan petani," ucap Pak Sugeng lagi.
"Kalian mau makan? kita makan bersama ya, bapak kebetulan hari ini bikin pepes ikan sama tumis kangkung," tawar Pak Sugeng.
Dino merasa malu, bapak Mira yang hidup sederhana saja begitu memperhatikan mereka.
Sedangkan di rumah orang tuanya, jangankan ditawari makan dikasih minumpun tidak.
Pak Sugeng membuka jendela dapur lebih lebar, biar terang katanya.
"Ayo Nak cuci tangan kalian...kita makan," ajak bapak Mira.
Dino mengikuti Mira mencuci tangan lalu mereka duduk di meja makan yang terbuat dari kayu sederhana tapi terlihat sangat bersih.
"Ayo Nak...."Pak Sugeng memberikan Dino dan Mira piring dan sendok.
"Pake tangan aja Pak," jawab Mira.
Pak Sugeng mengembalikan sendok di tempatnya, memang lebih nikmat makan dengan tangan saja.
Mereka lalu makan dengan lahap, masakan Pak Sugeng memang sederhana tapi rasanya sangat enak di lidah Dino dan Mira.
"Makasih Pak," ucap Dino setelah selesai makan.
Mira lalu mencuci piring bekas mereka makan.
Pak Sugeng membongkar sesuatu yang ia keluarkan dari kamarnya.
Setumpuk foto tua.
"Ini masih ada foto- foto lama keluarga ibumu Nak...mungkin bisa membantu," ujar Pak Sugeng.
Mira membuka album foto- foto lama yang masih hitam putih.
"Foto- foto itu adalah foto nenek kakek dan juga buyut- buyut ibumu," Pak Sugeng memberitahu.
Mira membalik- balikkan satu persatu album- album foto itu.
Dan mata Mira terfokus pada foto seorang perempuan cantik yang mirip dengan Arum yang ada di mimpi Mira.
Di situ juga tertulis tahun foto itu diambil.
Mira melepaskan foto itu dari album, dan membalikkan foto itu.
Di belakangnya ada tulisan dengan ejaan lama.
"Poeteri ku tersayang "Dartjie" ."
"Lihat foto ini mas Dino," tunjuk Mira pada Dino.
Dino melihatnya, ia membulatkan matanya.
Dino ingat wajah perempuan yang ada di foto itu seperti wajah Arum yang dilihatnya dalam mimpi sewaktu ia di hutan.
"Ini seperti wajah Arum," tukas Dino.
"Iya Mas, tapi ia bukan Arum...namanya Darcie," Mira menunjukkan tulisan yang ada di foto itu.
"Berarti Darcie ini generasi di bawah Arum," tebak Dino.
"Iya betul mas....berarti yang dikatakan Mas Nandar kalau Arum adalah leluhur Mira semuanya benar," sahut Mira.
Mira memasukkan kembali foto itu ke dalam album, Mira melihat wajah- wajah keluarga ibunya yang semuanya sudah meninggal.
Foto- foto itu masih awet, walaupun ada juga beberapa yang sudah terlihat buram.
"Makasih bapak....," Mira mengembalikan album- album foto itu pada bapaknya.
__ADS_1
Dino memandang lekat wajah Mira, sekilas Mira juga terlihat mirip dengan leluhur perempuannya itu.