Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Meminta kejelasan


__ADS_3

Arum mendekati Raden Dito.


"Apakah kamu juga akan kusakiti?" Arum mengusap leher Raden Dito.


Kedua tangannya dalam posisi siap untuk mencekik...


Raden Dito hanya diam, seperti tubuh tanpa jiwa.


Pandangan mata Raden Dito tampak kosong.


Arum tertawa....


Ia menurunkan kedua tangannya yang tadinya sudah siap untuk mencekik.


"Belum waktunya kau mati...aku masih membutuhkanmu," Arum menyeringai.


" Ingat kamu harus membenci Ningrum, mulai sekarang dia bukan kekasihmu lagi."


" Kalau kamu bertemu dengannya, kamu akan bersikap kasar padanya," ucap Ningrum meniup kepala Raden Dito.


Raden Dito mengangguk.


"Pulanglah dengan kereta kudamu," perintah Ningrum.


Raden Dito berjalan ke arah kereta kudanya lalu mengendarainya pulang menuju rumahnya.


Arum menatap punggung Raden Dito sampai kereta kuda yang membawanya membelok ke arah tikungan jalan.


Arum tertawa


"Ha...ha...semua sesuai rencana.."


Ningrum membalikkan tubuh semampai nya lalu berbalik arah berjalan kembali ke arah hutan larangan.


**********


Gusti Arya dan Raden Ayu Ditha pagi- pagi sudah bersiap untuk ke rumah orang tua Raden Dito, kediaman keluarga Gusti Brijaya dan Raden Ayu Kiswani.


Mereka ingin mengadukan perbuatan Raden Dito kepada puteri mereka Ningrum dan membuat perhitungan dengan Raden Dito.


Seorang pelayan yang merangkap sebagai kusirnya sudah menunggu di atas kereta kuda milik keluarga Gusti Arya.


Gusti Arya dan Raden Ayu Ditha lalu naik ke kereta kuda.


" Jalan Ki..." perintah Gusti Arya pada Ki Anjar.


" Baik Gusti," jawab Ki Anjar, sang kusir.


Ki Anjar menjalankan kereta kuda dengan kecepatan sedang.


Sesampainya mereka di kediaman Gusti Brijaya, mereka segera turun dari kereta kuda.


Seorang tukang kebun yang sedang membersihkan halaman rumah Gusti Brijaya menyambut mereka dan mempersilahkan kedua tamu yang sudah dikenalnya sebagai calon besan junjungannya untuk masuk ke dalam rumah.


Tukang kebun itu lalu berlari masuk untuk memanggil Gusti Brijaya dan Raden Ayu Kiswani yang berada di bagian belakang rumah.


"Maaf Gusti ada tamu di depan...Gusti Arya dan isterinya yang datang," lapornya.


Gusti Brijaya berpandangan dengan isterinya, Raden Ayu Kiswani.

__ADS_1


Mereka merasa heran, mengapa sepagi ini Gusti Arya dan Raden Ayu Ditha sudah datang berkunjung ke rumah mereka.


" Suruh pelayan sajikan minuman hangat buat tamu," perintah Gusti Brijaya pada tukang kebunnya.


" Baik Gusti," jawabnya sambil membungkukkan badannya.


"Pasti ada hal yang penting," kata Gusti Arya pada Raden Ayu Kiswani.


Raden Ayu Kiswani menganggukkan kepalanya.


Mereka bergegas keluar menemui Gusti Arya dan Raden Ayu Ditha yang sudah duduk menunggu di ruang tamu.


" Selamat pagi Kangmas dan Nimas," sapa Gusti Brijaya dan Raden Ayu Kiswani.


" Selamat pagi..." jawab Raden Arya dan Raden Ayu Ditha.


Pasangan Raden Arya dan Raden Ayu Ditha lebih tua umurnya dibandingkan Raden Brijaya dan Raden Ayu Kiswani, sehingga mereka memanggil Gusti Arya dan Raden Ayu Ditha dengan panggilan Kangmas dan Nimas.


Gusti Brijaya dan Raden Ayu Kiswani lalu duduk.


"Tumben Kangmas dan Nimas pagi- pagi datang berkunjung, ada hal penting apakah?" tanya Gusti Brijaya.


" Maaf kalau kedatangan kami di sini mengganggu Dimas dan Diajeng," ucap Raden Arya.


" Tentu saja tidak Kangmas," jawab Gusti Brijaya.


"Permisi.."


Seorang pelayan membawa nampan yang berisi empat cangkir teh lalu meletakkannya di meja tamu.


"Sebenarnya kedatangan kami di sini karena masalah putera dan Puteri kita," Raden Arya yang menjelaskan.


" Kalau boleh tau, ini tentang masalah apa? Gusti Brijaya bertanya. Ia dan Raden Ayu Kiswani merasa heran.


"Raden Ditonya masih tidur Nimas, semalam dia pulang agak telat dan kemalaman," jawab Raden Ayu Kiswani.


"Bukankah kemaren Raden Dito menjemput Ningrum dan main di rumah Kangmas dan Nimas?" tambahnya lagi.


Gusti Arya dan Raden Ayu Ditha saling memandang.


Orang tua Raden Dito pasti tidak tau perbuatan Raden Dito pada Puteri mereka, Ningrum.


" Sebenarnya ini ada apa Kangmas, Nimas?" tanya Raden Ayu Kiswani.


Raden Ayu Kiswani menduga pasti telah terjadi sesuatu antara Raden Dito dan Ningrum.


Gusti Arya memandang Raden Ayu Ditha sebelum menjawab pertanyaan Raden Ayu Kiswani.


Raden Ayu Ditha menganggukkan kepalanya memberi kode kepada Gusti Arya untuk menjelaskan semuanya.


" Begini Dimas dan Diajeng, saya akan langsung ke intinya saja...Raden Dito sudah mengkhianati puteri kami, Ningrum....dengan perempuan lain dan menurut Ningrum... Raden Dito sudah berani menampar Ningrum," Gusti Arya menceritakan dengan panjang lebar.


Gusti Brijaya dan Raden Ayu Kiswani terperanjat, mereka saling bertatapan.


Lalu tatapan mereka beralih pada Gusti Arya.


"Benarkah itu Kangmas?" tanya Gusti Brijaya.


Gusti Brijaya dan Gusti Ayu Kiswani tidak bisa mempercayai cerita Gusti Arya begitu saja.

__ADS_1


Selama ini mereka melihat Raden Dito begitu mencintai Ningrum dan tidak pernah dekat dengan perempuan lain setelah keduanya menjalin hubungan yang sudah disetujui pula oleh kedua belah pihak keluarga.


"Mungkin Dimas dan Diajeng tidak mempercayainya, kamipun semula tidak mempercayainya."


"Tapi Ningrum tidak pernah berbohong, kemarin dia pulang dengan menangis," jelas Raden Ayu Ditha.


"Biar lebih jelas dan tidak terjadi salah paham, bisakah Raden Dito disuruh kemari?" tanya Gusti Arya.


" Bangunkan Raden Dito Dinda," perintah Gusti Brijaya pada isterinya.


Raden Ayu Kiswani bangun dari duduknya, ia kemudian berjalan menuju kamar tidur Raden Dito.


Tok...tok...tok


Raden Ayu Kiswani masuk ke kamar puteranya yang tidak terkunci, setelah menunggu beberapa saat di depan pintu.


Ia tidak sabar ingin mendengar kebenarannya dari mulut puteranya sendiri.


Raden Dito tampak masih tertidur pulas dalam posisi tengkurap.


Raden Ayu Kiswani mendekati puteranya lalu menepuk- nepuk lengannya.


" Nak bangun....bangun....."


Raden Dito menggerakkan tubuhnya.


" Mmmm masih ngantuk Bunda..." jawabnya malas.


" Bangun sekarang, ada tamu...orang tua Ningrum datang," ucap Raden Ayu Kiswani pada puteranya.


Raden Dito membuka matanya dengan perlahan.


Ia berbalik dengan posisi telentang.


" Kenapa pagi- pagi sudah datang Bun?" tanyanya sambil mengucek matanya.


" Ada hal penting yang mau ditanyakan padamu Nak," jawab Raden Ayu Kiswani.


Raden Dito lalu bangun lalu beringsut duduk di tepi ranjang.


" Cepatlah cuci muka lalu pergi ke ruang tamu," perintah Raden Ayu Kiswani pada Raden Dito.


Raden Ayu Kiswani lalu keluar dari kamar Raden Dito, kembali ke ruang tamu menemui suami dan kedua calon besannya.


Raden Dito dengan malas bangun lalu berjalan keluar menuju bagian belakang rumahnya untuk mencuci muka.


Sementara Gusti Arya dan Raden Ayu Ditha masih menunggu Raden Dito menemui mereka.


"Diminum dulu teh nya Kangmas...Nimas," Raden Ayu Kiswani mempersilahkan kedua tamunya minum teh yang sudah disajikan di meja tamu.


Gusti Arya dan Raden Ayu Ditha meminum teh yang disajikan untuk menghormati tuan rumah.


Raden Dito muncul di ruang tamu.


Ia hanya berdiri diam di depan kedua orang tuanya dan orang tua Ningrum.


Raden Ayu Kiswani heran melihat Raden Dito yang hanya diam dan tidak menyapa orang tua Ningrum.


" Nak, kamu kenapa? di mana sopan santunmu?" Gusti Brijaya menegur anaknya dengan suara agak keras.

__ADS_1


Ia malu...


"Saya...."


__ADS_2