
Anum bersenang- senang, bersama beberapa orang teman Noni- Noni Belanda nya menyaksikan kesenian musik gamelan.
Anum menggoyangkan badannya mengikuti irama gamelan yang mengalun.
Mereka menonton sambil bercengkrama dengan riangnya.
"Heel melodieus, ik hoor het graag," sesekali terdengar Noni - Noni Belanda itu menggunakan bahasa Belanda. (merdu sekali, aku suka mendengarnya).
" Tentu saja merdu....," jawab Anum tertawa.
Seorang pelayan rumah Anum menghampiri Anum.
" Maaf Gusti Kanjeng...., dipanggil pulang sama Gusti Romo," bisiknya.
Anum mengerenyitkan dahinya, tidak biasanya Romo memanggilnya pulang di saat ia menonton kesenian gamelan kesukaannya.
"Ada apa Romo memanggil aku pulang?" Anum bertanya dengan heran.
" Ada hal penting Gusti kanjeng...cepatlah pulang, takut Gusti Romo marah..."
Anum lalu bangun dari duduknya, ia pamitan kepada teman- temannya.
" Aku pulang dulu ya...dipanggil Romo ku pulang," ucap Anum pada teman- temannya.
"wees voorzichtig onderweg!" (hati- hati di jalan!)
" terima kasih," jawab Anum melambaikan tangannya.
Anum bergegas pulang ke rumah bersama pelayannya.
Sesampai di rumah, Anum melihat Romo dan ibu tirinya, Raden Ayu Sinta
sedang duduk menunggunya.
" Ada apa Anum dipanggil pulang Romo?" tanya Anum.
" Adikmu Arum sampai saat ini masih belum kembali, kamu malah pergi bersenang- senang," ucap Gusti Romo pada Puteri sulungnya itu.
" Bukannya Romo sudah mencarinya ke rumah teman- teman Arum Romo?" jawab Anum dengan cemberut.
" Romo memang sudah mencarinya, tapi tak seorangpun teman- temannya yang tau ia di mana."
" Sudah tanya ke Kanda Bondo Romo? siapa tau Kanda Bondo tau di mana Arum berada."
" Sudah...kemarin memang adikmu itu menemui Raden Bondo...katanya mereka bertengkar lalu adikmu marah dan pergi."
"Biarkan saja Romo...Arum sudah bukan anak kecil lagi, tidak mungkin ia hilang, kalau memang ia ingin pulang ia pasti pulang," jawab Anum tidak peduli.
" Tapi adikmu itu seorang perempuan..., bagaimana kalau terjadi sesuatu sama dia?"
"Anum pasti sengaja Romo, supaya kita membatalkan perjodohan Anum dengan Kanda Bondo," jawab Anum asal.
__ADS_1
" Benar kata Anum Kanda...biarkan saja, Arum sudah dewasa. Ia tau mana yang baik dan tidak baik buat dia," Raden Ayu Sinta berkata sinis.
Gusti Romo menghela napasnya, ia kecewa dengan Arum, Puteri bungsunya.
Arum berani pergi dari rumah, berarti ia berani menentang keinginan Romonya.
Entah apa yang ingin dilakukan Arum dengan pergi dari rumah.
Tapi bagaimanapun sebagai seorang ayah, ia pasti tetap mencemaskan anaknya.
" Sudahlah Kanda, jangan terlalu dipikirkan, Arum pasti sengaja untuk membuat kita cemas supaya kita membatalkan perjodohan Anum dengan Raden Bondo," ucap Raden Ayu Sinta mempengaruhi pikiran suaminya.
Raden Ayu Sinta malah bersorak dalam hatinya dengan kepergian Arum, tidak ada lagi "duri" dalam rumah tangganya.
Ia malah berharap selamanya Arum tidak usah kembali.
Sedangkan Anum memang tidak pernah menyayangi adiknya itu, ia merasa punya saingan yang lebih cantik darinya.
Apalagi semenjak Arum menjalin hubungan dengan Raden Bondo yang sudah ditaksirnya sejak lama, iri hati dan rasa cemburu semakin membuat kebencian tumbuh di dalam hati Anum pada Arum, adik kandungnya sendiri.
Dari kecil, Anum dan Arum memang tidak pernah akur. Semasa ibundanya masih hidup, bunda mereka selalu mengajarkan Anum untuk selalu mengalah pada adiknya.
Mungkin itu juga yang menyebabkan rasa iri hati Anum bermula, ia selalu diajarkan untuk mengalah oleh bundanya.
Walaupun begitu, Anum tidak pernah mau mengalah. Apalagi setelah bundanya tiada, Arum tidak ada lagi yang membela...Anum suka berbuat sesuka hati pada adiknya itu.
Di antara mereka mulai ada rasa untuk saling menyaingi satu sama lain.
Raden Bondo sedang merasakan keresahan dalam hatinya, ia mendengar dari ayahanda Anum dan Arum, bahwa Arum pergi dari rumah.
Arum menghilang, setelah menemuinya... dan Arum pergi dalam keaadaan dipenuhi oleh amarah.
Raden Bondo teringat akan sumpah yang diucapkan Arum.
Sumpah bahwa Raden Bondo dan Anum tidak akan bahagia.
Mereka akan hidup sengsara sampai menangis darah.
Raden Bondo bergidik, ada rasa takut sumpah itu akan benar- benar menjadi kenyataan.
Dalam hati kecilnya, ia ragu untuk melanjutkan perjodohannya dengan Anum, tapi bagaimana dengan ayahandanya, Gusti Arya?
Ayahnya menghendaki ia memperistri Anum sebagai Puteri sulung, bukan Arum yang seorang Puteri bungsu.
Raden Bondo menemui ayahandanya, ia ingin menceritakan tentang Arum yang telah menyumpahinya
" Ayanda ( panggilan cepat untuk ayahanda), bisakah Bondo membatalkan perjodohan dengan Anum? "
" Tidak bisa, apapun yang terjadi ayanda tidak mau merubah keputusan yang sudah disetujui."
"Tapi ayanda, Bondo takut..."
__ADS_1
" Takut apa?" potong Gusti Arya.
" Arum menyumpahi Bondo tidak akan bahagia dengan Anum, ayanda..."
"Apa?" Gusti Arya terkejut.
"Bondo tidak mau nantinya sumpahnya benar- benar terjadi ayanda."
" Arum bukan dewa....dia tidak bisa menentukan takdir seseorang," tukas Gusti Arya.
" Dengan begitu, ayanda semakin yakin Arum tidak pantas untukmu," ujarnya Gusti Arya lagi.
" Kalau dia memang mencintaimu, seharusnya dia mendoakanmu untuk bahagia bukan sebaliknya."
"Tapi ayanda....bagaimana jika nanti benar- benar terjadi?"
" Tidak mungkin, di dalam keluarga kita secara turun temurun putera sulung harus menikah dengan Puteri sulung...maka kemakmuran dan rezeki akan datang berlimpah."
" Kamu tidak usah takut....Arum hanya sedang marah saja karena sifat kekanak- kanakannya."
"Ayanda tetap ingin melanjutkan perjodohan ini bahkan kalau bisa proses pernikahan kalian segera dilakukan."
Raden Bondo tidak bisa berkata- kata lagi, ia pasrah dengan keputusan yang diambil ayahandanya.
Ia memang mencintai Arum, tapi ia tidak mungkin bisa mengembalikan waktu.
Kalau ia tau kejadiannya akan begini, Raden Bondo tidak akan berani menjalin hubungan dengan Arum.
Toh, akhirnya juga mereka tidak bisa menikah.
Dalam aturan keluarga mereka, keputusan mutlak berada di tangan orang tua.
Ia sebagai anak hanya bisa mematuhi yang sudah jadi keputusan ayahandanya.
" Arum...tolong maafkan Kandamu ini...aku sudah sangat bersalah padamu,' desahnya dengan gundah.
" Aku berjanji di kehidupan yang akan datang, jika kita dipertemukan lagi aku akan mencintai dan mendampingimu selamanya..."
" Bahkan jika aku terlahir sebagai seekor binatang pun aku akan melayanimu," gumamnya dalam hati.
Raden Bondo menyimpan segala keresahannya dalam hatinya.
Raden Bondo tidak pernah menyangka bahwa ia akan terjebak di antara cinta kakak beradik, Anum dan Arum.
Ia hanya berdoa Arum bisa memaafkannya dan menemukan laki- laki lain yang lebih baik dari dirinya.
Sungguh seandainya ia boleh memilih di antara Anum dan Arum, maka Raden Bondo akan memilih Arum...karena rasa cinta yang sebenarnya adalah cinta untuk Arum.
Tetapi karena kepercayaan dan tradisi yang ada di keluarga mereka yang menyebabkan Raden Bondo dipaksa untuk memilih Anum, kakak dari gadis yang dicintainya.
Raden Bondo memaklumi kemarahan Arum, karena Raden Bondo akhirnya melepaskan Arum dengan memilih Anum....
__ADS_1