
Raden Ayu Ditha terhenyak, bagaimana mungkin Nenek itu tau apa yang diucapkannya di dalam hati.
Ia merinding...
Nenek itu lalu tertawa mengikik
Hi....hi...hi...
Kuda yang sedang dipegang tali kekangnya oleh Ki Anjar mengangkat kedua kakinya. Kuda mereka meringkik dengan keras.
Ki Anjar panik menenangkan kudanya.
Raden Ayu Ditha berpegang pada kereta dengan erat, ia takut kereta itu akan terbalik karena kuda mereka yang panik.
Bulu kuduk Raden Ayu Ditha meremang, siapakah Nenek yang menghadang kereta mereka itu sebenarnya?
Gusti Arya membantu Ki Anjar menenangkan kuda mereka.
Gusti Anjar menengok ke arah Nenek misterius itu, ia mencari ke sekeliling.
"Mana nenek itu?" gumamnya.
Gusti Arya melihat ke ujung jalan, tidak tampak apapun.
Nenek itu seperti menghilang di telan bumi.
Kuda berhasil ditenangkan, hanya masih menghentak- hentakkan kakinya dengan perlahan.
" Ki Anjar melihat ke arah mana nenek tadi pergi?" tanya Gusti Arya pada Ki Anjar.
" Tidak melihat Gusti, tadi saya sibuk menenangkan si Bondan ," jawab Ki Anjar.
"Kamu melihat nenek tadi Dinda?" tanya Gusti Arya pada Raden Ayu Ditha.
" Tidak Kanda, saya tadi panik takut jatuh tidak sempat melihat lagi," jawab Raden Ayu Ditha ikut merasa heran.
"Aneh...," Kata Gusti Arya mengerutkan dahinya.
" Apa mungkin secepat itu ia berjalan?" Gusti Arya sibuk bertanya dalam hati.
Gusti Arya mengusap belakang tengkuknya yang meremang.
Lalu Gusti Arya buru- buru naik ke atas kereta.
"Cepat jalan Ki, segera tinggalkan tempat ini," perintah Gusti Arya.
Ki Anjar juga merasa ada yang aneh dengan nenek itu dari pertama ia berdiri di tengah jalan.
Si Bondan, kuda mereka juga seperti merasakan keanehan tersebut.
Tapi Ki Anjar diam saja, ia tidak mau membuat kedua majikannya itu menjadi ketakutan.
Ki Anjar segera menjalankan kereta kudanya dengan sedikit buru- buru, ia pun tidak ingin berlama- lama di tempat itu.
Raden Ayu Ditha masih sempat menoleh ke belakang...
__ADS_1
Raden Ayu Ditha terkesiap...
Nampak Nenek aneh tadi ada di sana sedang memandangi mereka dengan tatapan tajam.
Raden Ayu Ditha menepuk paha suaminya.
"Kanda lihat ke belakang," bisiknya dengan bibir gemetar.
Gusti Arya menoleh ke belakang, ia membeliakkan mata melihat apa yang dilihat isterinya.
"Bagaimana bisa?" ucapnya heran bercampur seram.
Nenek aneh itu tampak berdiri tegak memegang tongkatnya sambil melihat ke arah mereka.
"Percepat laju kereta Ki...," perintahnya pada Ki Anjar.
Semakin jauh sosok nenek tua itu terlihat semakin mengecil, Raden Ayu Ditha menepuk dadanya yang dari tadi sudah berdetak dengan kencang.
" Kanda siapa dia sebenarnya? kenapa saya jadi merinding?" tanya Raden Ayu Ditha pada suaminya.
" Kanda tidak tau Dinda, tadi jelas- jelas dia sudah menghilang, bagaimana tiba- tiba dia bisa muncul lagi di sana," jawab Gusti Arya.
" Apa Nenek itu kembali ada di sana Gusti?" tanya Ki Anjar tanpa menoleh ke belakang, ia sibuk melihat jalan.
" Iya Ki...aneh," jawab Gusti Arya.
" Apa ia penunggu tempat itu Kanda? atau ia arwah penasaran? Hi..." Raden Ayu Ditha bergidik.
" Lalu ramalannya pada kita Kanda... betulkah itu?" tanya Raden Ayu Ditha.
" Jangan didengarkan Dinda, abaikan saja. Kasihan Anum kalau kita salahkan," ucap Gusti Arya.
" Bagaimana nenek itu bisa tau kita punya menantu perempuan Kanda?" Raden Ayu Ditha masih merasa was-was.
Ia takut jika hal itu benar adanya, keluarga mereka akan ketimpa sial.
" Mungkin ia hanya asal bicara Dinda, jangan terlalu dipikirkan," hibur Gusti Arya melihat keresahan Raden Ayu Ditha.
" Tapi kejadian beberapa hari ini setelah Anum menjadi menantu kita Kanda. Selama ini semuanya rasanya baik- baik saja," Raden Ayu Ditha masih dilanda keresahan.
" Abaikan saja Dinda, itu hanya kebetulan saja...nenek itu hanya mengada- ngada untuk menakuti kita," jawab Gusti Arya.
"Nenek itu seperti tau isi hati saya Kanda, saya bilang mungkin nenek itu gila...dia langsung menunjuk saya dan mengatakan bahwa dia tidak gila," Raden Ayu Ditha masih penasaran.
Gusti Arya terdiam begitu Raden Ayu Ditha berkata demikian, di dalam hatinya dia juga memikirkan hal yang sama, nenek itu seakan bisa menebak isi hati mereka.
Tapi Gusti Arya tidak ingin membuat isterinya menjadi ketakutan, jika ia mengalami hal yang sama dengan Raden Ayu Ditha ketika Gusti Arya bergumam dalam hati, nenek aneh itu langsung menjawab seperti tau apa yang ia gumamkan dalam hatinya itu.
Sejujurnya di dalam hati Gusti Arya, dia juga merasakan ketakutan yang sama dengan apa yang sudah dikatakan nenek aneh itu.
Gusti Arya takut kalau Anum benar- benar menjadi pembawa sial dalam keluarga mereka.
Apa yang harus mereka lakukan? tidak etis kalau mereka harus memulangkan Anum kepada orang tuanya.
Apa yang akan dipikirkan oleh Gusti Lingga pada mereka?
__ADS_1
Mereka seperti menjadi mertua jahat yang percaya kepada takhayul.
Krak....bles...bum..
Ki Anjar menarik tali kekang kudanya untuk memberhentikan kereta kudanya secara mendadak.
Si Bondan, kuda mereka meringkik dengan keras karena kaget.
" Ada apa lagi ini?" Raden Ayu Ditha melihat di sekeliling mereka.
Jalan yang mereka lalui tampak sepi, di kiri kanan mereka hanya tampak semak belukar.
Belum terlihat ada rumah penduduk sekitar di daerah itu.
Di depan mereka tampak dahan pohon yang patah melintang di tengah jalan.
Mereka masih bersyukur, dahan itu tidak menimpa mereka.
" Tunggu sebentar Gusti.." kata Ki Anjar lalu turun dari arah depan kereta.
Ia berniat menarik atau mengangkat dahan yang menghalangi jalan mereka lalu menyingkirkannya ke tepi jalan.
"Au....aduh...." teriaknya.
"Ada apa Ki?" Gusti Anjar berteriak pada Ki Anjar.
"Banyak semut Gusti..." jawabnya.
Ki Anjar kerepotan diserbu oleh puluhan semut yang ternyata ada di dahan pohon yang patah.
Ki Anjar mengibas- ngibaskan tangan dan kakinya.
Raden Ayu Ditha takut- takut melihat sekeliling.
Ia memegang erat tangan suaminya, Gusti Arya menepuk- nepuk tangan Raden Ayu Ditha untuk menenangkannya.
" Tenang Dinda, itu hanya semut...mungkin mereka bersarang di dahan itu," ucap Gusti Arya pada isterinya.
Ki Anjar masih sibuk mengusir semut- semut yang merayap cepat di kaki dan tangannya.
Rasa sakit dan gatal bercampur menjadi satu di bagian yang sudah digigit.
Sambil setengah melompat, Ki Anjar berusaha menyeret dahan kayu yang patah itu di tepi jalan agar tidak menghalangi kereta mereka.
Gusti Arya ingin turun membantu Ki Anjar, namun tangannya ditarik Raden Ayu Ditha.
Raden Ayu Ditha menggelengkan kepalanya, melarang suaminya untuk turun.
"Saya takut Kanda...temani saya di sini saja," gemetar suara Raden Ayu Ditha.
Gusti Arya mengurungkan niatnya untuk membantu Ki Anjar.
Ia terpaksa hanya melihat Ki Anjar berjuang sendirian menarik dahan kayu yang cukup besar itu.
Dengan bersusah payah, akhirnya Ki Anjar berhasil juga menepikan dahan kayu itu.
__ADS_1
Sambil menggaruk- garuk tangan dan kakinya yang tadi sudah digigit semut, Ki Anjar lalu naik ke kereta kuda setelah memastikan tidak ada lagi semut yang merayap di badannya.
"Waduh Ki...