Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Dino kembali


__ADS_3

Sudah 180 hari...


Mira sudah menanti 180 hari...ia berharap Dino benar- benar kembali.


Mira gelisah...


Sudah sampai malam, belum ada tanda- tanda Dino kembali.


Mungkin besok, hari ke 181...


Mira kembali mengingat- ingat mimpinya..


Suamimu akan kembali setelah 180 hari..mungkin begitu isi mimpinya yang sudah lama lewat.


Mira berusaha untuk memejamkan matanya...


Si Poni meringkuk di sudut kamar Mira dengan beralaskan kain hangat.


Sementara di lain tempat... di kegelapan malam yang sepi...


Sesosok laki- laki dengan terseok- seok menuju rumah Pak Broto.


Ada sosok lain berwujud perempuan yang mengikutinya dari belakang, perempuan berwajah pucat.


Sosok laki- laki itu adalah Dino, ia seperti melangkah bukan dengan kehendaknya sendiri.


" Sudah sampai...kau sudah kuantarkan sampai di rumah orang tuamu," perempuan itu berkata dengan dingin.


Dino hanya mengangguk.


Sosok perempuan itu lalu berbalik arah, lalu menghilang di kegelapan malam.


Dino mengetuk pintu rumah Pak Broto...


Tok...tok...tok...


Dino menunggu beberapa saat, namun belum juga ada yang membukakannya pintu.


Tok...tok...tok...


"Siapa yang malam- malam begini mengganggu orang tidur?" pak Broto menyeret langkahnya dengan malas, ia masih didera rasa kantuk.


Pak Broto membuka pintu, dan matanya terbelalak.


Pak Broto mengucek- ngucek matanya, ia tidak percaya dengan penglihatannya.


"Bapak..." panggil Dino.


"Dino...betulkah ini kamu? bapak tidak sedang bermimpi kan?" Pak Broto mencubit lengannya sendiri.


"Sakit..." kata Pak Broto.


Pak Broto memeluk Dino, ia menangis...ia sudah hampir kehilangan harapan.


Ia pikir sudah tidak akan bisa melihat puteranya lagi untuk selamanya.


Pak Broto lalu menarik pergelangan tangan Dino....ia ingin mengajak Dino masuk.


"Au...sakit Pak," ringis Dino.


Pak Broto melihat pergelangan Dino, tampak memerah seperti bekas tusukan.


"Astaga....ini persis seperti di dalam mimpiku," desisnya dengan kaget.


Pak Broto lalu memegang lengan Dino.


"Ayo Nak...kita masuk," Pak Broto membimbing Dino yang tubuhnya terlihat sangat kurus.


Ada rasa iba dan menyesal dalam hati Pak Broto.

__ADS_1


Tubuh anaknya begitu kurus dan terlihat ringkih.


Pak Broto dan Dino masuk.


Setelah mendudukkan Dino di bangku, Pak Broto segera menutup pintu lalu dengan terburu- buru ia ke kamar, memanggil isterinya yang masih terlelap.


"Bu...bangun Bu...lihat siapa yang ada di depan," Pak Broto menggoyang- goyangkan tubuh ibu Dino.


Bu Broto membuka matanya, ia langsung bangun.


"Kenapa Pak?...ada apa?..." Bu Broto panik.


"Ayo cepat bangun....lihat siapa yang ada di depan...," ulang Pak Broto.


Bu Broto lalu mengikuti suaminya yang tergopoh- gopoh di ruang depan.


"Dino...." Bu Broto membelalakkan matanya.


Ia lalu mengucek- ngucek matanya, ia tidak percaya dengan yang dilihatnya.


Dino sedang duduk memandangnya, mata anaknya terlihat cekung dan sayu.


"Ibu..."panggil Dino lirih.


Bu Broto berlari lalu menghambur dan memeluk tubuh anaknya yang terlihat sangat kurus.


Bu Broto menangis histeris...


Ia tidak menyangka, anaknya bisa kembali dalam keadaan masih hidup.


Selama ini ia sudah memasrahkan nasib anaknya, ia sudah tidak terlalu berharap kalau Dino bisa pulang dalam keadaan masih bernyawa.


Pakaian Dino terlihat lusuh...tubuhnya terlihat lemah seperti orang yang kehilangan semangat.


" Bu aku lapar...dan haus...," Dino menatap ibunya dengan pandangan sayu.


Ia mengeluarkan lauk, sop dan nasi sisa tadi sore yang ia simpan di kulkas.


Dengan gesit ia segera menghangatkan semua makanan lalu meletakkannya di meja makan.


Ia juga menuang segelas air minum untuk Dino.


"Ayo Nak makan, udah siap," teriaknya.


Pak Broto membantu Dino berjalan menuju ke arah meja makan.


Dino mencuci tangannya yang sudah lama tidak bertemu dengan air, ia juga mencuci mukanya.


Pak Broto dengan sabar menunggunya dan memegang lengannya, takut Dino terjatuh karena kondisinya yang terlihat sangat lemah.


Pak Broto sendiri merasa heran, bagaimana Dino bisa berjalan sendiri keluar dari hutan menuju rumahnya dengan kondisi seperti itu.


Pak Broto lalu membimbing Dino untuk duduk dan segera makan.


Dengan tangan gemetar Dino menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Ibu Dino membantu menuangkan sop dan lauk ke piring Dino.


Dino makan dengan lahap, ia sangat lapar.


Ia menghabiskan semua makanan seakan sudah bertahun- tahun tidak pernah makan.


Entah apa yang dimakan Dino selama berada di hutan, Pak Broto akan menanyakannya nanti kepada Dino kalau ia sudah sehat.


Dino meneguk air minumnya dengan rakus, ia lalu menjilat bibirnya.


"Kenyang..." katanya masih dengan suara lemah.


"Kamu ingin segera tidur Nak?" tanya Bu Broto.

__ADS_1


"Bolehkah aku mandi dulu Bu? badanku terasa bau dan gerah...aku ingin berganti pakaian," kata Dino.


" Ibu akan masak air panas untukmu Nak... tunggu bentar ya," jawab ibu Dino.


Ibu Dino menyiapkan pakaian Dino yang masih ada di lemari kamar bekas Dino sebelum ia menikah dengan Mira.


Semua bekas pakaian lamanya masih tersusun rapi di dalam lemari.


Tempat tidurnya pun tetap bersih Karena Bu Broto rajin mengganti spreinya walaupun bekas kamar Dino tidak ada yang menempati.


Setelah air panasnya matang, Bu Broto menyuruh Dino untuk mandi di kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Pak Broto mengantar Dino masuk ke kamar mandi lalu menyuruhnya cepat mandi.


Pak Broto dengan sabar menunggu Dino selesai mandi lalu mengantarnya sampai ke kamar tidurnya untuk beristirahat.


" Mira tidak tau kalau kamu sudah kembali Nak?" tanya Pak Broto pada anaknya.


"Mira?... siapa Mira Pak?" tanya Dino bingung.


Pak Broto saling melihat dengan Bu Broto yang tampak bingung dengan jawaban Dino.


"Mira isterimu lah....emangnya Mira mana lagi?" jawab ibu Dino ketus.


"Isteri?....sejak kapan Dino punya isteri Bu?" tanya Dino lagi.


"Kamu ngelindur Nak?" tanya Bu Broto.


Bu Broto memegang dahi Dino.


" Tidak sedang demam, kamu kenapa lupa sama isterimu sendiri Nak?" tanya ibu Dino.


" Dino tidak mengerti apa maksudnya. Mira? isteri Dino? kapan Dino menikah?" tanyanya beruntun dengan sangat bingung.


"Kamu lupa? coba kamu ingat apa tidak, kamu punya adik atau tidak?" tanya Pak Broto.


" Punya lah, Dino punya seorang adik perempuan. Namanya Reni," jawab Dino.


"Lalu adik perempuanmu udah menikah atau belum?" tanya pak Broto.


" Sudah...tapi Dino lupa siapa nama suami Reni."


"Astaga...ternyata tidak semua hal bisa Dino ingat," Bu Broto terlihat panik.


" Sudah Bu...jangan dipaksa dulu...mungkin Dino dalam keadaan shock, jadi ia ingat sebagian saja...syukur dia tidak melupakan kita Bu," kata Pak Broto.


"Sudahlah Nak...kamu istirahat...segeralah tidur, tubuh kamu terlihat lemah..," sambung Pak Broto lagi.


Dino membaringkan tubuhnya di atas kasur, sudah lama ia tidak berbaring seenak ini.


"Selama di hutan, apa yang kamu makan?" tanya Bu Broto.


" Nanti saja ditanyanya Bu, biarkan Dino memulihkan diri dulu," tegur Pak Broto pada isterinya.


"Tolong kamu ambilkan salep obat luka dulu Bu, pergelangan Dino perlu diobati," tunjuk Pak Broto.


Bu Broto baru sadar ada bekas luka yang masih memerah di pergelangan tangan anaknya, ia lalu mengambilkan salep yang ada di laci meja yang ada di kamar Dino.


Bu Broto lalu mengobati tangan anaknya.


" Luka ini karena apa Nak?" tanyanya.


Dino menggelengkan kepalanya...


" Sudah Bu ...nanti saja tanyanya.." Pak Broto menegur isterinya kembali.


"Dino mungkin belum ingat semuanya," kata Pak Broto.


"Segeralah tidur...ayo Bu," ajak Pak Broto pada isterinya untuk meninggalkan Dino.

__ADS_1


__ADS_2