
Dimas membawa Anum memacu kuda cokelat itu menjauh sebisa mungkin dari tempat tinggal mereka dan juga orang- orang yang mereka kenal.
Menjelang malam, Dimas sampai di kawasan yang jarang penduduknya.
Dimas melihat seorang pria yang sedang asyik menghisap cerutu di depan rumah yang sederhana.
Dimas dan Anum lalu turun dari kuda.
"Malam Ki, maaf saya mau bertanya..," Dimas menyapa pria setengah baya itu.
"Iya den...ada apa?"
"Saya dan isteri saya sedang dalam perjalanan, kami ingin mencari rumah sewaan...apakah ada di sekitar sini?" tanya Dimas.
"Ada den...milik seorang Raden muda, dia punya banyak rumah yang bisa disewakan...tapi ini sudah malam...mungkin pengurus rumahnya sudah pada tidur," jawab pria itu.
"Tolong saya Ki...isteri saya sedang hamil...ia sudah kelelahan...kami butuh tempat untuk istirahat," ucap Dimas dengan memohon.
Pria itu berpikir sejenak, ia sekilas melihat pada Anum yang memang terlihat kelelahan, mendengar ia lagi hamil...pria itu menjadi kasihan.
"Begini saja den...kalau kalian berkenan...kalian malam ini boleh menginap di rumah saya...besok baru saya bantu antarkan untuk mencari rumah sewaan," tawar pria itu.
Dimas merasa bersyukur, masih ada yang mau membantunya di saat seperti ini.
"Nama saya Ki Sowa...saya hanya tinggal berdua dengan isteri saya...nama kalian siapa?" tanya Ki Sowa.
"Panggil saja saya Dimas Ki, dan Anum nama isteri saya," jawab Dimas.
"Makasih Ki...kalau kami tidak merepotkan, dengan senang hati kami mau menginap di rumah Ki Sowa," sambung Dimas.
"Kalau begitu, mari masuk ke dalam...saya kenalkan pada isteri saya Nyi Sowa," ajak Ki Sowa.
Dimas mengikat kuda cokelat milik Raden Bondo pada sebatang pohon yang ada di situ.
Lalu Dimas dan Anum mengikuti Ki Sowa masuk ke dalam rumahnya.
"Nyi....ada tamu," panggil Ki Sowa yang ada di dapur.
Nyi Sowa keluar, ia menatap bingung pada mereka.
"Nyi...mereka Dimas dan Anum...mereka kemalaman mau mencari rumah sewaan, karena udah malam mereka malam ini menginap di sini," Ki Sowa menjelaskan.
"Silahkan...neng kelihatan sangat lelah," ucap Nyi Sowa pada Anum.
"Ia sedang hamil katanya Nyi," jawab Ki Sowa.
"Kalian pasti sangat lapar, tunggu sebentar," Nyi Sowa lalu membawa sepiring singkong dan kendi berisi air putih.
"Silahkan kalian makan dulu, tapi cuma ada singkong dari hasil kebun saja," tawar Nyi Sowa.
"Makasih Nyi, saya memang sangat lapar dan haus," jawab Anum.
__ADS_1
Anum mengambil air yang disuguhkan, ia menenggaknya lalu ia makan singkong rebus di atas piring.
Begitu juga dengan Dimas, mereka makan dengan sangat lahap.
"Makasih Nyi...Ki...," ucap Dimas.
"Sama- sama den.." jawab Ki Sowa dan isterinya.
Keesokan harinya...
"Ki Sowa, saya ingin menjual kuda saya...," kata Dimas.
"Oh nanti sekalian saya ajak kamu bertemu dengan pemilik rumah sewaan itu, mungkin saja dia mau membelinya," jawab Ki Sowa.
Ki Sowa lalu mengajak Dimas bertemu dengan pemilik rumah sewaan yang sedang mengawasi para pekerja di ladang miliknya.
"Itu orangnya...," tunjuk Ki Sowa dengan jempolnya.
"Raden Prana...," panggil Ki Sowa.
Ternyata orang itu adalah Raden Prana, suami Arum.
Raden Prana menoleh ke arah suara Ki Sowa yang memanggilnya.
Raden Prana juga melihat Dimas.
"Iya Ki Sowa ada apa?" Raden Prana mendekat ke arah mereka.
"Rumah sewaan masih ada yang kosong...kalau kuda....saya harus melihat dulu bagaimana rupa kudanya," jawab Raden Prana.
"Ada di rumah saya Raden...," jawab Ki Sowa.
"Boleh saya lihat sekarang?" tanya Raden Prana.
"Tentu ayo Raden ikut saya," ajak Ki Sowa.
"Kamu orang baru di sini?" tanya Raden Prana pada Dimas.
"Iya Raden...saya datang bersama isteri saya...namanya Anum...isteri saya sedang hamil dan kami butuh tempat tinggal," jawab Dimas.
Raden Prana tersenyum, ia ingat Arum isterinya yang juga lagi hamil.
Nama isteri mereka juga mirip...Arum dan Anum. Mereka sama- sama sedang hamil. Bagaimana bisa begitu kebetulan?
"Saya juga mencari pekerjaan Raden..., mungkin Raden punya pekerjaan untuk saya," kata Dimas.
"Oke kita bicarakan satu- satu dulu ya, kita lihat kudanya terlebih dahulu," jawab Raden Prana.
Setelah mereka sampai di depan rumah Ki Sowa, Raden Prana melihat seekor kuda cantik berbulu cokelat yang terikat di salah satu pohon.
"Kuda yang bagus, tubuhnya tegap dan kekar..," Raden Prana mengelus kepala kuda itu.
__ADS_1
"Saya suka..saya akan membelinya...," ujar Raden Prana.
Raden Prana mengeluarkan puluhan keping perak dari kantong yang ada di sakunya.
"Apakah ini cukup?" tanyanya.
Dimas membelalakkan matanya, ia tidak menyangka akan mendapatkan keuntungan besar.
"Cu...cukup Raden," jawab Dimas girang.
Ia segera menerima puluhan kepingan perak itu dengan gembira, ia lalu memberikan dua keping perak pada Ki Sowa.
"Ini buat Ki Sowa karena sudah membantu saya," Dimas menyodorkannya pada Ki Sowa.
"Makasih den...saya terima ya," ucap Ki Sowa senang karena ia kecipratan rezeki dari Dimas.
"Dan mengenai rumah, nanti tolong Ki Sowa antar Dimas ke salah satu rumah sewaan saya...katakan sama pengurus rumah saya yang suruh...," titah Raden Prana.
"Berapa biaya yang harus saya bayar Raden?" tanya Dimas.
"Sudah saya hitungkan dengan kuda itu, anggap lunas sampai setahun ke depan," jawab Raden Prana.
Dimas membelalakkan matanya, ia tidak menyangka kuda Raden Bondo memberinya banyak keuntungan.
"Dan mengenai pekerjaan, mungkin saya bisa membantu....tapi saya harus bicarakan hal ini dulu pada isteri saya, nanti saya kasih kabar," tambah Raden Prana.
"Makasih Raden," ucap Dimas membungkukkan badannya.
Dimas tidak menyangka semua masalah yang mereka hadapi, mendapatkan jalan keluar dalam sehari saja.
"Baiklah saya pergi dulu, kudanya saya bawa," pamit Raden Prana.
"Sekali lagi terima kasih Raden," ucap Dimas.
"Tidak masalah," jawab Raden Prana, ia menaiki kuda yang sudah ia buka ikatannya.
Lalu memacu kuda cokelat itu dan berlalu dari tempat itu.
***********
Raden Prana menyerahkan kudanya untuk dirawat pada pelayannya.
Lalu ia masuk menemui Arum, Raden Prana mencium pipi dan perut Arum.
"Arum, aku mau cerita...ada suami isteri yang menyewa rumah kita, dia juga menjual kudanya pada Kangmas....yang lebih lucu isteri orang itu sedang hamil sama sepertimu....dan kamu tau ga namanya juga hampir sama dengan namamu....Anum namanya," cerita Raden Prana dengan semangat.
Arum sudah menebak, ia sudah diberi mimpi. Sejak ia melakukan perjanjian dengan nenek Kanji, Arum bisa melihat apapun yang dilakukan dan berhubungan dengan kehidupan Anum lewat mimpinya.
"Suaminya bernama Dimas, ia meminta diberikan pekerjaan....bagaimana menurutmu Arum?" tanya Raden Prana.
"Berikan ia pekerjaan Kangmas," jawab Arum mantap.
__ADS_1
Anum berada dekat dengannya, dunia memang sempit....dengan begitu Arum juga tidak usah bersusah payah untuk mencari Anum saat waktu itu tiba.