
Anum menemui kekasihnya, Dimas.
Ia ingin mengakhiri hubungan cintanya dengan laki- laki yang selama ini menjadi kekasih "gelap" nya.
Dimas berasal dari keluarga rakyat biasa, bukan keturunan bangsawan seperti yang diidam- idamkannya.
"Mas Dimas, aku ingin kita putus," ucap Anum pada laki- laki itu.
Pemuda berkulit cokelat, bertubuh tegap itu terperanjat mendengar Anum meminta putus darinya.
Bukankah selama ini Anum yang sudah memaksa dan membujuknya agar ia mau jadi kekasihnya?
Dimas sudah pernah mengatakan bahwa mereka berbeda status dan derajat, ia dari keluarga rakyat jelata dan Anum dari keluarga priyayi.
Waktu itu Dimas sudah sempat menolak Anum karena ia takut kalau orang tua Anum akan menentang hubungan mereka.
Tapi Anum meyakinkannya bahwa itu tidak akan terjadi karena mereka akan pacaran secara diam- diam tanpa diketahui keluarga mereka.
Anum juga meyakinkannya bahwa Anum mencintai Dimas dan nanti akan membujuk Romonya untuk menerima Dimas.
" Mengapa mendadak begini Anum? mengapa kau berubah pikiran?" tanya Dimas.
"Aku dijodohkan orang tua ku dengan Raden Bondo, putera sulung Gusti Arya," jawab Anum tanpa rasa bersalah.
" Mengapa kau mempermainkan perasaanku Anum? dulu aku sudah menolakmu, tapi kau yakinkan aku bahwa kau mencintaiku," Dimas tampak marah.
" Bukan begitu Mas Dimas....aku tidak bisa menolak kemauan Romo ku dan tidak mungkin melawannya."
" Bukankah dulu kamu bilang akan membujuk Romomu untuk menerimaku?" Dimas tampak kecewa.
Anum terdiam, ia merasa sedikit bersalah. Ia berbohong pada Dimas.
Dimas memang hanya menjadi kekasihnya karena saat itu Anum tidak dapat menaklukkan hati Raden Bondo.
Dimas hanya sebagai "cadangan", orang yang mendengarkan keluh kesahnya.
" Apakah kamu mencintai Raden Bondo Anum?" tanya Dimas dengan tatapan tajam.
" Tentu saja tidak Mas Dimas, aku hanya mencintaimu...," jawab Anum berbohong.
" Kalau kamu memang mencintai aku, bagaimana kalau besok aku menemui Romomu? aku akan meminta restunya," ucap Dimas sungguh- sungguh.
Anum tidak menyangka Dimas akan seberani itu, ia takut kalau Dimas memaksa, dan semua rencananya untuk bersanding dengan Raden Bondo akan berantakan.
Anum mengakui Dimas tidak kalah tampan dan gagah seperti Raden Bondo, dan dalam hati kecilnya sesungguhnya Anum mencintai Dimas.
__ADS_1
Karena perasaan tidak mau kalah dari Arumlah yang membuatnya tergila- gila pada Raden Bondo.
Selain tampan dan gagah, Raden Bondo juga keturunan bangsawan dan memiliki banyak kekayaan.
Seandainya Dimas juga dari kalangan bangsawan, mungkin Anum akan memilih Dimas.
Anum tidak mau adiknya Arum mendapatkan kekasih yang lebih baik dari pada dirinya yang menjadi kakak.
Ia merasa harga dirinya kalah dibandingkan adiknya.
Itulah yang menyebabkannya ia tidak mau memperjuangkan cintanya dengan Dimas.
Ia juga ingin adiknya Arum mengerti, bahwa ia yang lebih pantas memiliki Raden Bondo karena ia adalah Puteri sulung Romo.
Rasa keegoisannya mengalahkan rasa cintanya pada Dimas, dan ia juga tidak mempedulikan perasaan adiknya sendiri.
"Anum...kenapa kau diam saja?" Ujar Dimas menghentikan lamunan Anum.
" Maaf Mas Dimas....aku tidak bisa...."
" Hanya sebesar itukah rasa cintamu padaku?" ucap Dimas tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
" Mas Dimas...maukah kau berjanji padaku?" Anum memandang ke dalam mata Dimas.
" Mau kah kamu menerimaku kembali seandainya nanti aku tidak bahagia dengan Raden Bondo?" Anum bertanya penuh harap.
" Kau gila Anum, kamu kira kamu bisa melakukan apapun karena aku miskin?" tanya Dimas agak tersinggung.
" Bukan begitu Mas Dimas....berjanjilah padaku....aku akan kembali padamu jika nantinya aku tidak bahagia...," ujar Anum.
" Kalau kau bahagia dengan Raden Bondo? apa aku akan menantimu dengan sia- sia?" dengus Dimas.
" Apakah kamu mencintaiku?" tanya Anum.
" Iya tentu saja aku mencintaimu...," Dimas menggangguk.
" Kalau aku menyerahkan tubuhku padamu....apa kamu mau berjanji untuk menerimaku kalau nantinya aku tidak bahagia dengan Raden Bondo?" tawar Anum.
" Apa?" Dimas gelagapan.
Walaupun ia seorang rakyat jelata, selama ini Dimas selalu menjaga kesopanan dan menghormati Anum.
Ia tidak menyangka Anum yang seorang keturunan bangsawan, yang biasanya diajarkan cara berperilaku seorang bangsawan berani berkata seperti itu.
" Apa aku serendah itu Anum, kamu pikir aku akan memanfaatkan keadaan ini untuk keuntunganku?" Dimas menjawab tidak suka.
__ADS_1
" Itu membuktikan ketulusanku padamu Mas Dimas...," jawab Anum lembut.
Dimas memeluk Anum, lalu membelai rambut panjangnya....ia memegang dagu Anum.
" Kalau aku melakukan itu padamu berarti aku laki- laki pengecut...bagaimana nanti di malam pertamamu dengan Raden Bondo? ia akan merendahkan mu....," Ucap Dimas tulus.
" Aku tidak ingin kamu nantinya dipermalukan Anum....baiklah aku berjanji...kembalilah padaku kalau kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu," Dimas mengecup bibir Anum sekilas.
Dimas lalu memeluk erat tubuh Anum untuk terakhir kalinya.
Di belakangnya, Anum tersenyum licik. Rencananya berhasil, ia tau Dimas tidak akan mau merusaknya. ia mengenal sifat Dimas selama ini.
Kalaupun tadinya Dimas menerima dan meminta tubuhnya, Anum juga akan rela memberikannya.
Anum tidak sepolos itu, pergaulannya dengan Noni- Noni Belanda membuat pemikirannya lebih bebas dan liar dibandingkan dengan gadis bangsawan lainnya.
Anum hanya ingin memuluskan jalannya, kalau pun nanti ia tidak bahagia dengan pernikahannya ia sudah punya laki- laki lain yang mau menerimanya tanpa syarat.
Dimas siap menerimanya kembali....Anum merasa lega.
Ia tidak peduli dengan keegoisannya...ia hanya ingin menyenangkan dirinya sendiri.
Anum tidak peduli saat ini Arum adiknya pergi dari rumah dan belum kembali karena keegoisannya.
Anum hanya ingin keinginannya untuk menjadi pendamping Raden Bondo segera terwujud.
" Aku ingin melihatmu bahagia Anum....tapi aku akan siap menunggumu kembali padaku," Dimas membelai rambut Anum.
Demi cintanya Dimas sudah tidak bisa berpikir logis, kalau ia hanya dimanfaatkan.
" Makasih Mas Dimas...kaulah yang paling mengerti aku...," Anum menggenggam jemari Dimas.
Bagaimanapun sebenarnya Anum menyukai Dimas, orang yang selama ini menjadi tempatnya berbagi cerita.
Dimaslah yang selama ini menemaninya bila ia sedang merasa bosan, menghiburnya jika dia lagi sedih, dan yang selalu mendengarkan curahan hatinya selama ini.
" Cuma sayang Mas Dimas, kamu bukan dari keluarga keturunan priyayi," ucapnya dalam hati.
" Andai saja tidak ada jarak antara kasta rakyat jelata dan kasta priyayi, aku akan memilihmu Mas Dimas," desahnya dalam hati.
" Andai aku bisa memilikimu Anum....tanpa ada perbedaan kasta di antara kita. ..," Dimas juga bergumam dalam hati.
Anum dan Dimas saling memandang satu sama lain.
Ada jarak antara cinta dan keegoisan ...
__ADS_1
Semua saling menyatu dan ini menjadi awal dari cerita yang panjang....yang nantinya akan terjadi kisah cinta yang rumit di antara mereka di kemudian hari.