
Dimas dan Anum keluar dari kamar Dimas dengan kondisi rambut yang acak- acakan.
Keduanya saling memberi senyuman mesra setelah melepas kerinduan dan ga***h yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan.
Anum merapikan rambutnya yang sanggulnya sudah terlepas.
Bibirnya masih tetap tersenyum, wajahnya terlihat sumringah.
Dimas menatap wajah cantik Anum yang sangat dicintainya itu.
"Mas Dimas, aku harus segera pergi...adik iparku sedang menungguku di pusat kota," kata Anum.
"Pergilah Anum, jangan sampai ada yang mencurigaimu," jawab Dimas.
"Kapan lagi kita bisa bertemu mas Dimas, aku pasti akan lebih merindukanmu setelah kita...." Anum tidak melanjutkan kalimatnya, matanya mengerling nakal pada Dimas.
" Kita akan sering bertemu Anum," jawab Dimas sambil mengelus wajah Anum.
"Aku akan mencari cara agar bebas menemuimu lagi mas Dimas," janji Anum.
"Aku akan menunggu sayang...," balas Dimas.
"Aku pamit dulu mas Dimas," pamit Anum.
Dimas membuka pintu, ia melongokkan kepalanya melihat sekeliling tempat itu untuk melihat situasi.
"Aman...sepi."
Anum lalu melangkah keluar, dan melambaikan tangannya pada Dimas.
Dimas mengantar kepergian Anum dengan tatapan matanya hingga tubuh Anum tidak terlihat lagi, barulah Dimas menutup pintu.
Dimas tersenyum mengingat apa yang barusan ia dan Anum lakukan.
Hatinya berdesir...ini akan menjadi candu untuknya.
**********
Anum melangkah menuju pusat kota, matanya mencari- cari.
Anum melihat kereta kuda Ki Anjar ada di situ, namun belum terlihat Ningrum dan Ki Anjar.
Anum bertanya kepada seorang laki- laki setengah tua yang duduk di dekat kereta kuda Ki Anjar.
"Permisi Ki, maaf mau tanya pemilik kereta kuda ini ada di mana?" tanya Anum.
"Yang bersama seorang gadis itu ya?" tanya laki- laki itu.
"Iya Ki betul sekali, ada di mana mereka?" Anum mengulang pertanyaannya.
"Tadi ada kejadian aneh di sini," kata orang itu pada Anum.
"Kejadian aneh? maksudnya bagaimana Ki?" tanya Anum dengan hati berdebar.
Anum takut telah terjadi sesuatu pada Ningrum, lalu dia akan disalahkan ibu mertuanya karena tidak menemani adik iparnya itu.
" Tadi ada seorang nenek- nenek yang menarik baju gadis itu, lalu gadis itu seperti kesurupan lalu mengikuti nenek itu pergi, sedangkan kusir kereta kudanya berusaha untuk membawanya kembali," cerita laki- laki itu.
Deg...jantung Anum berdegup kencang...
"Ke arah mana mereka pergi Ki?" tanya Anum.
"Ke arah sana..." tunjuk laki- laki itu.
__ADS_1
"Ayo saya antar," tawar laki- laki itu.
"Kalau tidak merepotkan, Aki namanya siapa?" tanya Anum.
"Panggil saya Ki Arup," jawabnya.
Anum berjalan mengikuti Ki Arup, pusat kota hari itu tampak lengang tidak ramai seperti biasanya.
Ki Arup berjalan sangat cepat, Anum setengah berlari mengikuti langkah lebar Ki Arup.
"Jangan terlalu cepat Ki...saya ga kuat," kata Anum dengan napas terengah.
"Cepetan Neng...," jawab Ki Arup tanpa menoleh.
Ki Arup tetap berjalan dengan terburu- buru, Anum yang mengkhawatirkan Ningrum terpaksa mengejarnya.
Tunggu dulu, Anum sebenarnya mengkhawatirkan dirinya sendiri. Kalau terjadi sesuatu pada Ningrum...tentu Anum yang akan menerima akibatnya.
"Ki Anjar tidak bisa menjaga Ningrum dengan baik," gumam Anum.
Anum menyalahkan Ki Anjar, padahal dia sendiri tidak bertanggung jawab, tidak menjaga amanah yang diperintahkan ibu mertuanya.
Anum malah asyik bersenang- senang dengan urusannya sendiri.
Anum mulai kepayahan , Ki Arup sudah agak jauh meninggalkannya.
" Ki... tunggu saya," teriak Anum.
"Buruan Neng, itu udah dekat," jawab Ki Arup.
Ki Arup hilang di belokan jalan, Anum panik karena semakin jauh tertinggal.
Anum berlari dengan cepat, tubuhnya sudah basah oleh keringat.
Napasnya terengah- engah...ia mengusap peluh di pelipis yang mulai turun menetes membasahi pipinya.
Anum berlari lurus mengikuti arah jalan yang tidak ada belokan lagi.
" Mana Ki Arup tadi?" Anum mencari- cari.
Anum berjalan sampai ke ujung, mentok tidak ada jalan lagi.
Anum terheran- heran, lalu di mana Ki Arup tadi menghilang?
Anum terkejut melihat di sebelah kiri dan kanannya.
Tadi hanya tampak rerumputan dan pohon- pohon rindang, kenapa jadi berubah.
Di sebelah kanan dan kiri jalan tampak berjajar kuburan- kuburan tua yang sudah tidak terurus.
Batu nisan kuburan- kuburan itu tampak berantakan.
Anum merinding, siapa sebenarnya Ki Arup itu?
Anum berbalik, ia ingin kembali ke tempat tadi ia menemukan kereta kuda Ki Anjar.
Anum baru akan melangkah, ketika sebuah tangan dirasakannya memegang pundaknya.
Anum melihat ke belakang, tidak nampak siapa- siapa.
Tapi siapa yang barusan memegang pundaknya.
Anum mempercepat larinya, ia tidak ingin berlama- lama di situ.
__ADS_1
"Anum..." suara yang sudah dikenalnya memanggil namanya.
Anum menghentikan larinya.
"Kanda Bondo..." panggilnya.
Anum heran, dari mana Raden Bondo datang dan bisa muncul secara tiba- tiba di tempat itu.
"Apa yang Kanda lakukan di sini?" dengan bingung Anum bertanya.
Raden Bondo melihat Anum dengan tatapan dingin, Anum bergidik.
Anum jadi menerka- neraka sendiri.
"Apakah Kanda Bondo mengetahui apa yang sudah kulakukan dengan Mas Dimas?" gumamnya dalam hati.
" Tapi tidak mungkin...kami baru sekali saja bertemu," sanggahnya dalam hati.
Anum merasa ada angin yang meniup telinga sebelah kirinya, yang segera menyadarkannya dari keterpakuan.
" Kan..." Anum menghentikan kalimatnya untuk memanggil Raden Bondo.
Tapi Anum terheran kembali, ia celingak- celinguk...
Anum membelalakkan matanya..."Di mana Kanda Bondo tadi?" Anum memutar- mutar kepalanya, tapi tidak ada siapapun yang berada di situ.
"Apa aku kelelahan?" Anum kembali mengusap peluh yang membasahi pelipisnya.
Anum mempercepat langkahnya, ia merasakan angin meniup telinganya kembali.
Anum menoleh ke arah tiupan, tidak ada siapa- siapa, ia kembali merasakan angin meniup telinga sebelah kanannya.
Anum merinding, angin tiupan yang dirasakannya berbeda dengan tiupan angin biasa.
Seperti ada seseorang yang sedang meniupnya, tapi tidak ada siapa- siapa.
Anum ketakutan, ia seperti sedang dipermainkan oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Anum terus berlari, napasnya sudah sangat terengah- engah.
Jarak yang tidak begitu jauh dari tempatnya semula, dirasakan Anum seperti sangat ja...uh.
Seolah jalan itu menjadi sangat panjang, Anum tetap berlari karena ia sangat ketakutan.
Ia harus cepat kembali ke kereta kuda Ki Anjar.
"Mbakyu....Mbakyu....," Anum seperti mendengar suara Ningrum yang memanggilnya.
Anum tidak mempedulikannya, mungkin ia akan dipermainkan lagi oleh sosok- sosok yang menyerupai orang seperti Ki Arup dan Raden Bondo.
"Ada yang sedang mempermainkanku," Anum bergumam dalam hati.
"Mbakyu....," kembali terdengar seperti suara Ningrum yang memanggilnya.
Anum tidak peduli, ia terus berlari...
"Ki Anjar...apa yang terjadi dengan Mbakyu?" terdengar suara cemas dari Ningrum.
Tapi Anum tidak melihat siapa- siapa di situ.
Anum merasa seperti dilempar dengan sesuatu.
Anum terbelalak....
__ADS_1
Apa yang sedang dia alami?
Beberapa pasang mata menatapnya dengan terheran- heran....