Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Amarah Raden Bondo


__ADS_3

Raden Bondo menceraikan Anum dengan hukum adat yang berlaku.


Harga diri Raden Bondo terinjak- injak, ia merasa sangat malu dengan perbuatan Anum.


Sumpah Arum masih terngiang jelas di telinga Raden Bondo.


" Aku sumpahi kamu akan menderita...aku sumpahi kalian berdua tidak akan bahagia."


Air mata menetes turun dari mata Raden Bondo tanpa bisa ia menahannya.


Anum dan Dimas dibawa di rumah pengadilan adat, mereka terpaksa dinikahkan karena Anum sudah mengandung.


Pada masa itu, berselingkuh dengan orang yang sudah menikah hukumannya sangat berat.


Setelah proses pernikahan Anum dan Dimas selesai, mereka diarak keliling kampung.


Seluruh penduduk yang tinggal di sana menyaksikan mereka diarak.


Mereka diludah dan dilempar dengan kerikil.


Dimas berusaha melindungi Anum dengan memeluknya dan menjadi tameng dari lemparan kerikil.


Semua mata mencemooh mereka, sepanjang perjalanan Anum menangis.


Inilah konsekuensi yang harus mereka diterima karena melanggar aturan, bukan hanya hukuman fisik yang ia terima tetapi hukuman batin.


Gusti Lingga yang mendengar Anum sudah melakukan kesalahan besar merasa sangat malu, ia tidak mau menemui puterinya itu.


Puterinya sudah melempar kotoran ke mukanya, ia sangat malu dan menyesal.


Selama ini Gusti Lingga terlalu memanjakan Anum.


Gusti Lingga teringat pada Arum dan mendiang isterinya, ia merasa bersalah...


Seandainya waktu itu ia bertindak adil dan bicara pada Gusti Arya bahwa Arum lah yang seharusnya berjodoh dengan Raden Bondo karena mereka saling mencintai.


Gusti Lingga tertunduk, ia baru mengingat Arum, entah masih hidup atau sudah meninggal Arum saat ini.


Raden Ayu Sinta duduk di samping Gusti Lingga, ia menemani suaminya yang sedang terpukul.


Raden Ayu Sinta tidak bicara apa- apa, hanya tangannya saja yang mengelus lengan Gusti Lingga untuk menenangkannya.


Sementara Anum dan Dimas masih harus berjalan dengan diarak beramai- ramai, setelah ini mereka akan menerima hukuman lagi.


Mereka berdua akan diikat di dalam hutan larangan selama tiga hari.


Dan selama itu juga mereka tidak boleh makan ataupun minum.


Hukuman yang sangat berat, kenikmatan yang harus dibayar dengan penderitaan.


Setelah hukuman selesai, barulah mereka boleh menjalani kehidupan sebagai sepasang suami isteri.


Itu pun mereka masih tetap akan menerima hinaan dari orang lain,


di masa itu perselingkuhan dianggap sebagai sesuatu yang rendah dan sangat tabu.


Anum terus menangis, kakinya sangat sakit...ia yang seorang keturunan bangsawan tidak pernah berjalan tanpa alas kaki, sekarang ia harus menginjak kerikil di jalanan dengan bertelanjang kaki.


Tentu saja telapak kakinya yang halus harus lecet terkena tusukan benda tajam atau pun kerikil yang ada di jalanan.


Dan hal ini menjadi penderitaan sendiri buat Anum.


Setelah sampai di hutan larangan, Anum dan Dimas diikat masing- masing di pohon besar dengan arah saling berhadapan.


warga yang mengarak mereka kemudian meninggalkan mereka yang terikat.

__ADS_1


Dimas menenangkan Anum yang tidak berhenti menangis.


"Anum, jangan menangis lagi...kasihan anak kita," hibur Dimas.


"Kita sudah berjanji akan menjalaninya berdua, apakah kamu sudah lupa?"


Mendengar perkataan Dimas, Anum bukannya berhenti menangis tapi malah semakin kencang suara tangisnya.


Dimas bingung harus bagaimana menghibur Anum, akhirnya ia memilih diam dan menunggu tangis Anum reda.


Setelah puas menangis, Anum menyisakan isakan kecil.


"Apa kamu sudah merasa sedikit tenang sayang?" tanya Dimas.


Anum menganggukkan kepalanya.


"Aku haus...," kata Anum.


Dimas berusaha melepaskan tali yang mengikatnya, yang ia pikirkan sekarang adalah Anum dan anak yang ia kandung.


Dimas terus memberontak, tapi tali yang mengikatnya terlalu kuat...


"Maafkan aku Anum, aku memang tidak berguna," Dimas merasa tidak berdaya.


**********


Raden Bondo sangat terpukul, ia sangat marah.


"Kamu seorang pecundang, laki- laki dari kalangan rakyat jelata berani merebut isterimu...dan kamu hanya duduk di sini menerimanya....," bisikan iblis mulai bicara padanya.


"Biarkan saja...mereka sudah menerima hukumannya...bukannya malah hal itu bagus buatmu...kamu bisa melepaskan pernikahan yang memang tidak kamu sukai," bisik hatinya yang satunya lagi.


"Tidak bisa, kamu seorang laki- laki keturunan bangsawan...sangat memalukan...isteri kabur dengan pria yang tidak punya apa- apa," jawab bisikan iblis dari hatinya.


"Relakan Anum....dari awal kalian memang tidak saling mencintai...lepaskan segala dendam," sahut bisikan yang lain.


Raden Bondo mengepalkan jemari kedua tangannya, mukanya merah padam.


Sisi baiknya sudah dikalahkan oleh bisikan iblis di hatinya, segala amarah dan dendam membara dalam hatinya.


Raden Bondo bangun dari duduknya, ia berjalan ke belakang rumahnya yang terdapat kandang kuda.


Ki Anjar yang sedang memberi makan kuda- kuda peliharaan majikannya menegur Raden Bondo.


"Raden mau pergi?" tanyanya.


"Iya...keluarkan seekor buat saya," perintah Raden Bondo.


Ki Anjar memasang pelana dan tali kekang pada seekor kuda, lalu menariknya keluar dari kandang dan memberikannya pada Raden Bondo.


"Nanti kalau bunda tanya saya kemana, katakan saya lagi ada urusan keluar," titah Raden Bondo pada Ki Anjar.


"Baik Den...," jawab Ki Anjar.


Raden Bondo segera menaiki kuda berbulu cokelat itu, ia segera memacu kudanya untuk berlari.


Raden Bondo mengarahkan kudanya berlari menuju hutan larangan, ia ingin membuat perhitungan dengan Anum.


Amarah yang menguasai hatinya tidak membuatnya berpikir panjang.


"Hari ini semua harus selesai," gumamnya dengan hati yang dikuasai dendam dan amarah.


Sesampainya di depan hutan larangan, Raden Bondo turun dari kudanya, ia mengikat kudanya di salah satu pohon yang banyak rerumputan di sekelilingnya.


"Kamu bisa sambil merumput di sini," kata Raden Bondo sambil menepuk kudanya.

__ADS_1


Raden Bondo memasuki hutan larangan, ia mencari Anum.


"Tenanglah sayang...aku sedang berusaha melepaskan ikatan tali ini," terdengar suara Dimas.


"Aku haus mas Dimas...," isak Anum.


Raden Bondo mendekati asal suara, ia berjalan sampai di depan kedua orang yang sangat dibencinya.


"Kanda Bondo...," Anum membelalakkan matanya.


Anum melihat wajah Raden Bondo yang penuh dengan lebam bekas baku hantam dengan Dimas, setali tiga uang dengan wajah Dimas yang juga penuh lebam.


Dimas terheran, untuk apa Raden Bondo menemui mereka....hatinya merasa tidak enak...apalagi melihat kilatan penuh dendam dari mata Raden Bondo.


"Dasar wanita murahan....tidak tau malu.."


"Plak...." Raden Bondo menampar wajah Anum.


Anum berteriak...


"Jangan sakiti Anum...," bentak Dimas marah.


"Dia pantas menerimanya....seorang pengkhianat....ha...ha..." tawa Raden Bondo.


Dimas khawatir Raden Bondo akan berbuat nekad...ia berusaha keras membuka ikatan tali yang mengikatnya.


"Kanda Bondo...kita sekarang sudah bercerai, aku bukanlah isterimu lagi...kamu sudah tidak berhak memarahiku lagi," teriak Anum marah, sakit di pipinya tidak seberapa dengan rasa sakit di hatinya karena tamparan Raden Bondo.


"Itu bayaran untuk wanita pengkhianat...kamu mengkhianatiku di saat kita masih terikat pernikahan...dan itu sangat pantas kamu dapatkan untuk perempuan tidak tau diri sepertimu," tunjuk Raden Bondo.


"Aku membencimu....aku tidak menyesal meninggalkanmu...kamu memang pantas untuk ditinggalkan," jawab Anum meludahi wajah Raden Bondo.


Raden Bondo mengelap ludah Anum dengan ujung bajunya...


Raden Bondo hilang kesabarannya, ia semakin marah.


"Kamu perempuan murahan..."


"Brett ....Brett.....prekk...," Raden Bondo merobek pakaian Anum.


Anum berteriak...


"Kamu perempuan liar....tidak punya harga diri...pantas untuk dilecehkan," Raden Bondo men*c**m tubuh Anum dengan kasar.


Lalu Raden Bondo melepaskan ikatan tali yang mengikat tubuh Anum, ia sudah lupa daratan.


Kata- kata Anum yang pedas, sudah bersalah bukannya meminta maaf tapi malah membuat Raden Bondo menjadi kalap.


"Jangan ganggu Anum....," teriak Dimas semakin cemas.


Raden Bondo tidak peduli, ia menerkam Anum...iblis sudah menguasai hatinya.


Tubuh Anum terguling, Raden Bondo berniat melecehkannya, Raden Bondo menindih tubuh Anum yang pakaiannya sudah compang- camping.


Anum meraih batu yang ada di dekatnya, ia memukulkannya ke kepala Raden Bondo.


Raden Bondo berteriak kesakitan, ia melepaskan pelukannya pada tubuh Anum.


Anum mendorong tubuh Raden Bondo, sekuat tenaga Anum berlari menjauhi Raden Bondo


Raden Bondo memegang kepalanya yang sudah berdarah, ia merobek ujung pakaiannya lalu mengikatnya pada kepalanya.


Rasa marah menguasai hati Raden Bondo, ia mengejar ke arah Anum melarikan diri.


"Kamu akan merasakan pembalasanku Anum...," Raden Bondo menyeringai...

__ADS_1


Catatan penulis: semua hanya sekedar untuk hiburan, dan ide cerita adalah murni imajinasi penulis..... penulis akan berusaha menuliskan cerita tanpa bertele- tele biar ga bosan.....Semoga semua pembaca setia tetap sehat dan baca novel ini sampai tamat ya....Jangan lupa untuk selalu memberi like dan komennya....Terima kasih....


__ADS_2