
Anum datang ke rumah Arum, ia ingin melihat kehidupan Arum.
Rasa iri dengkinya membuatnya merasa penasaran.
Dengan bertanya pada Nyi Sowa, Anum langsung bisa menemukan rumah besar yang terkesan paling mewah di zamannya itu.
Anum disambut oleh pelayan rumah Arum, semakin rasa iri hatinya timbul melihat kehidupan adiknya yang seperti langit dengan bumi dengan dirinya.
"Katakan pada Arum, aku Anum datang menemuinya," ucap Anum pada pelayan rumah.
Pelayan rumah Arum lalu pergi menemui Arum yang sedang bersantai di dalam rumah.
"Gusti Ayu....ada tamu yang mencari Gusti Ayu....namanya Anum," pelayan rumah memberitahu Arum.
Arum mengerenyitkan dahinya, ada apa kakaknya itu datang mencarinya...bukankah waktu itu Anum mengatakan menganggapnya sebagai musuh?
"Suruh dia masuk menemuiku," sahut Arum.
"Baik Gusti Ayu...," pelayan mengundurkan diri.
Anum masuk diantar oleh pelayan rumah Arum.
"Duduklah," suruh Arum.
Anum duduk berhadapan dengan Arum.
"Ada perlu apa datang kemari?" tanya Arum.
"Hanya ingin melihat keadaan kamu saja," ketus Anum.
"Terus setelah itu?" tanya Arum lagi.
"Jangan bersenang hati dulu, kamu kira dengan menikahi seorang yang kaya- raya keturunan bangsawan kamu sudah berbangga hati?" Anum terlihat tidak senang.
"Katakan saja kamu iri melihat keadaanku yang lebih beruntung dari pada kamu," jawab Arum.
"Jangan sombong kamu, kamu harusnya berterima kasih padaku...kalau kamu menikahi Raden Bondo mungkin kamu tidak bisa seenak sekarang," ketus Anum.
Anum sengaja membuka luka lama Arum yang sudah sembuh.
Arum memandang Anum dengan tatapan tajam, ia menahan rasa marahnya.
"Kamu tidak pernah berubah dengan apa yang sudah kamu alami...jangan katakan kalau kamu selama ini hidup bahagia," senyum Arum.
Anum terdiam, Selama ini ia memang tidak pernah merasa bahagia, lebih tepatnya ia tidak pernah merasa puas.
"Apakah kamu merasa puas sudah merebut Raden Bondo?" Arum tersenyum mengejek.
"Raden Bondo sudah mati..."ketus Anum.
Arum pura- pura terkejut.
"Apa? mungkin kamu yang sudah menghabisinya...," jawab Arum.
__ADS_1
"Jaga mulutmu," Anum bangun dan hendak menampar Arum.
Arum menangkap tangan kakaknya.
"Kamu sedang berada di rumahku...tolong jaga sikapmu," ketus Arum.
Anum menurunkan tangannya, ia menatap Arum dengan marah.
"Aku akan membuat kamu menderita, lihat saja....aku akan membuat suamimu membencimu," ancam Anum.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Arum.
"Kamu lihat saja apa yang bisa aku lakukan," Anum tersenyum licik.
Arum merasa hatinya tidak enak, ia sudah mengenal sifat Anum.
Anum tidak akan mau mengalah, ia akan melakukan apa saja untuk kesenangan dirinya sendiri.
Anum membangkitkan kemarahan Arum.
"Lihat saja kalau kamu berani, aku akan mempercepat kematianmu," gumam Arum dalam hati.
"Aku pulang dulu....dari sekarang berhati- hatilah....dan siapkan dirimu," Anum tersenyum mengejek.
"Harusnya aku yang mengatakan itu padamu," Arum balas tersenyum menjawab ancaman Anum dalam hati.
Anum pergi meninggalkan tempat itu, ia mencari Raden Prana di tempat biasanya ia mengawasi para pekerjanya.
Saat itu Anum mencarinya di ladangnya, dan Anum tersenyum melihat Raden Prana sedang berada di situ duduk di sebuah pondok kecil.
"Raden Prana...," panggil Anum.
Raden Prana menoleh.
"Iya...Anum? apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Raden Prana heran.
"Ada sesuatu yang ingin saya ceritakan Raden...bolehkah saya ikut duduk di situ?"
"Tentu boleh...duduklah," Raden Prana menggeser duduknya.
Anum lalu duduk berhadapan dengan Raden Prana.
"Ada apa Anum? apa yang ingin kamu ceritakan?" tanya Raden Prana.
"Begini Raden....sebenarnya saya adalah kakak dari Arum isterimu," Anum membuka pembicaraannya.
"Benarkah? kok Arum tidak mengatakan apa- apa," Raden Prana merasa kaget dan juga heran.
"Iya benar, kalau Raden tidak percaya coba tanyakan langsung pada Arum," tukas Anum.
"Mungkin Raden tidak percaya pada cerita saya tentang Arum...ia sengaja tidak mengakui saya sebagai kakaknya karena saya miskin," hasut Anum.
"Sebenarnya dulu suami pertama saya adalah mantan kekasih Arum, ia marah pada saya karena ternyata saya lah yang berhasil menikahi mantan kekasihnya itu...dan sampai sekarang ia masih marah pada saya karena hal itu Raden..."
__ADS_1
"Arum sampai sekarang masih mencintai mantan kekasihnya itu Raden...," Anum berusaha menghasut Raden Prana.
Raden Prana terlihat tenang, ia tidak terpancing hasutan Anum.
Anum yang melihat Raden Prana tidak ada reaksi marah atau kesal menjadi bingung.
"Raden tidak marah?" tanya Anum.
"Mengapa saya harus marah? itu kan cerita masa lalu kalian, lagipula sekarang Arum sudah menjadi isteri saya dan sudah mengandung anak saya," jawab Raden Prana tenang.
"Tapi apakah Raden tidak merasa Arum mengkhianati cinta Raden? ia masih mencintai Raden Bondo mantan kekasihnya itu," Anum memanas- manasin Raden Prana.
"Masalah perasaan itu hak Arum, yang penting ia menjalankan tugasnya sebagai seorang isteri," bela Raden Prana.
Anum terlihat kesal karena hasutannya tidak berhasil.
"Ya sudah...terserah kalau Raden tidak mau ambil pusing....apa yang sudah saya sampaikan sungguh bukan kebohongan...tapi Raden berhati- hati saja, Arum tidaklah sebaik yang Raden pikir," ketus Anum.
" Kalau begitu saya permisi dulu Raden...," pamit Anum.
Setelah Anum pergi, Raden Prana bergegas pulang.
Ia ingin menceritakan pada Arum apa yang dikatakan Anum padanya.
Raden Prana ingin Arum berhati- hati terhadap Anum, sangat kentara Anum tidak menyukai Arum.
Raden Prana tidak percaya sepenuhnya dengan cerita Anum tentang Arum, karena selama ini Arum terlihat begitu mencintai Raden Prana.
Sesampainya di rumah, Raden Prana segera menceritakan apa yang dikatakan Anum tentang Arum.
Arum tersenyum.
"Memang betul apa yang dikatakan Anum bahwa ia adalah kakakku Kangmas...kami sedari kecil memang sudah tidak cocok," cerita Arum.
" Anum memang menikahi mantan kekasihku yang bernama Raden Bondo karena mereka dijodohkan oleh kedua pihak keluarga."
"Aku memang sangat mencintai Raden Bondo waktu itu Kangmas....dan sempat kecewa karena Raden Bondo tidak mau memperjuangkan cinta kami," sambung Arum.
Raden Prana dengan sabar mendengarkan cerita Arum.
Arum melanjutkan ceritanya...
"Saat itu aku memang sempat patah hati dan marah lalu aku pergi dari rumah, dan itu lah sebab dari kepergianku dari rumah yang tidak mau aku ceritakan padamu saat itu Kangmas," tambah Arum.
"Tapi saat ini aku berani bersumpah, aku mencintaimu dan calon anak kita melebihi apapun," ucap Arum tegas.
Raden Prana mengangguk, ia tersenyum...lalu memeluk tubuh Arum dengan mesra.
"Aku percaya padamu Arum, aku juga sangat mencintaimu..."
Ada rasa marah yang sangat besar pada Anum karena ia sudah mencoba menghasut Raden Prana untuk membenci Arum.
"Aku tidak akan berlama- lama lagi Anum, lihat saja aku akan segera menjadikanmu sebagai tumbal untuk Nenek Kanji," desis Arum dalam hati.
__ADS_1
Tadinya Arum masih ingin mengulur waktu dan memberi waktu yang cukup lama untuk Anum menikmati sisa hidupnya.
Tapi karena perbuatan Anum yang membuatnya marah, Arum ingin segera mempercepat tugasnya.