Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Bantuan Nandar


__ADS_3

Hari Minggu Nandar datang, mbak Susi menemaninya ke rumah Dino dan Mira.


Mira menceritakan semua yang sudah Dino dan Mira alami.


Nandar mengangguk.


"Garis besarnya sudah diceritakan sama mbak Susi," ujar Nandar.


"Apa mas Nandar bisa melihat apa penyebab dari kejadian semua ini?" tanya Dino.


"Saya coba ya...," Nandar duduk bersila di lantai, ia membacakan doa- doa, kemudian terdiam lama.


Nandar membuka matanya.


"Pantesan...," gumam Nandar lirih.


"Pantesan bagaimana Ndar?" tanya mbak Susi.


"Ada ikatan dendam pada leluhur neng Mira...neng Mira adalah keturunan langsung dari salah satu perempuan itu," jelas Nandar.


"Perempuan yang mana?" mbak Susi bertanya tidak sabar.


"Saya mau tanya, apa Neng Mira pernah merasa menjadi orang lain tapi dalam wujud neng sendiri?" tanya Nandar.


Mira mengingat sebentar, Mira mengingat ia pernah bermimpi seperti masuk dalam tubuh seorang perempuan cantik bernama Arum.


Mira merasakan segala kesedihan, kemarahan, dan dendam dari perempuan yang bernama Arum itu seakan Arum itu adalah Mira.


Mira juga pernah merasa dibawa ke sebuah pohon besar dan melihat seseorang yang ditumbalkan oleh Arum.


Dan yang terakhir Mira bermimpi, ia yang seakan merasakan rasa sakit di lehernya.


Karena ia menjadi tumbal terakhir, tapi dalam mimpi itu sosok Mira ada dalam diri Arum, dan ia berada di bawah pohon besar yang sama.


"Begitu Mas Nandar...," Mira mengakhiri ceritanya.


Nandar mengangguk.


"Arum itu adalah leluhur langsung neng Mira, ia banyak berbuat dosa."


"Arum....Arum..., aku seperti pernah mendengar namanya...tapi di mana ya?" Dino mengingat- ingat.


"Lalu apa hubungan semua ini dengan leluhur Mira yang bernama Arum?" tanya mbak Susi penuh rasa penasaran.


"Dari penglihatan mata bathin saya, dulunya Arum ini terlibat dendam dengan kakak kandungnya sendiri...dendam mereka masih bertahan sampai sekarang," lanjut Nandar.


"Dan Arum leluhur neng Mira tersiksa dengan hukuman yang ia terima....ia masih belum lepas dari hukumannya...rohnya tidak tenang..."


"Yang datang meminta tolong pada neng Mira melalui bisikan yang neng dengar adalah Arum leluhur neng Mira," kata Nandar lagi.


"Lalu hubungan sama Dino apa Ndar?" tanya mbak Susi.


"Den Dino kebetulan mempunyai wajah yang sangat mirip dengan laki- laki yang pernah menyakiti Arum."


"Laki- laki inilah yang menjadi penyebab awal terjadinya dendam kesumat di antara Arum dan kakak kandungnya sendiri, saya bisa mengetahui nama kakak Arum adalah Anum," tambah Nandar dari hasil penerawangan bathin nya.


"Anum....nama yang tidak asing," Dino mengingat- ingat.


"Ah....kepalaku sangat sakit....sakit sekali...." teriak Dino.

__ADS_1


Mira menjadi panik melihat Dino yang kesakitan memegang kepalanya.


"Mas Dino....kamu kenapa?" Mira memegang Dino.


"Mbak Susi, tolong ambilkan saya segelas air," perintah Nandar.


Nandar menyentuh kepala Dino, ia berkomat- kamit membaca doa sambil memejamkan mata.


Mbak Susi datang dengan membawa segelas air yang diminta Nandar lalu menyerahkannya pada Nandar.


Nandar membaca doa lalu membantu Dino minum air yang sudah didoakan oleh Nandar.


Dino meneguk air itu sampai habis, lalu ia jatuh pingsan.


"Mas Dino....bagaimana ini mas Nandar?" tanya Mira cemas.


"Tidak apa- apa Neng...dipegang aja, suami Neng Mira sebentar lagi akan segera sadar," titah Nandar.


"Bagaimana Ndar?" tanya mbak Susi.


"Sepertinya ingatan Den Dino kembali, kita tunggu saja sampai ia sadar," jawab Nandar.


Tidak lama kemudian Dino membuka matanya, ia melihat Mira lalu pada Nandar dan mbak Susi.


"Apa yang kamu rasakan Den Dino?" tanya Nandar.


Dino memegang kepalanya.


"Sudah tidak sakit....dan aku sudah ingat semuanya," Dino menjawab.


"Apa yang kamu ingat?" tanya Nandar.


"Kejadian waktu aku hilang di hutan...berawal dari aku mengejar seekor rusa besar yang aku tembak."


"Aku dan Poni mengejarnya dengan mengikuti jejak darahnya, sampai kami tiba di tempat itu," pikiran Dino kembali mengingat waktu itu.


"Aku tersandung batu dan terjatuh, sialnya kepalaku luka dan berdarah...setelah itu aku tidak sadarkan diri."


"Setelah aku sadar, Poni tidak bersamaku lagi...yang lebih aneh aku terbangun dan berada di tempat lain."


Dino lancar bercerita, sampai ia bertemu dengan penguasa hutan itu yang bernama Anum...seorang perempuan berwajah pucat.


"Apa ia memakai mahkota kecil di kepalanya dan pakaiannya seperti pakaian Puteri keraton zaman dulu?" tanya Mira.


"Kok kamu bisa tau Mir?" tanya Dino heran.


"Aku melihatnya dalam mimpiku," jawab Mira.


"Semua saling tersangkut- paut," sela Nandar.


"Teruskan ceritamu Dino, mbak juga penasaran," suruh mbak Susi.


Dino lalu melanjutkan ceritanya ketika ia dibawa ke tempat upacara pemakaman suami Anum yang merupakan jelmaan rusa yang sudah ditembak oleh Dino.


Dan Dino darahnya dihisap oleh perempuan yang bernama Anum itu.


Pergelangan tangannya digigit dengan tusukan dari gigi taring runcing Gusti ratu Anum untuk menerima hukuman karena sudah menembak suami Anum.


Dan dengan darah Dino juga, Anum membangkitkan suaminya kembali.

__ADS_1


Dino juga menceritakan mimpinya yang didatangi oleh Arum yang mengaku sebagai saudari dari Anum, tapi membenci saudarinya itu.


Sampai kemudian Dino bercerita pada saat suami Anum yang dipanggilnya dengan mas Dimas itu berhasil bangkit dari kematian.


Dan masa hukuman Dino selama seratus delapan puluh hari selesai, ia diantar sendiri oleh Anum sampai di depan rumah Pak Broto, orang tua Dino.


Sebelum pergi Anum juga berbisik padanya, ia akan kehilangan sebagian ingatannya dan melupakan orang yang paling dicintai Dino dan beberapa orang lainnya.


Dino juga akan mengalami berbagai hal yang menakutkan.


"Semua kutukanku akan lenyap jika dendam dari masa lalu ku sudah hilang," begitu yang dikatakan oleh Gusti ratu Anum.


Dino menutup ceritanya.


Mira membulatkan matanya, ternyata Dino selama di hutan sudah masuk ke alam lain dan harus menjalankan siksaan yang mengerikan.


Mira memegang pergelangan tangan Dino dan mendapatkan banyak bekas luka di sana.


"Ternyata ini bekas luka gigitan gigi taring," Mira bergidik.


Mira menatap Dino dengan rasa iba.


Mira merasa tidak rela suaminya harus menjalani hukuman yang sangat menyakitkan, digigit dan dihisap darahnya.


" Bagaimana kamu masih bisa bertahan hidup dengan darah yang dihisap terus- terusan?" tanya mbak Susi heran bercampur ngeri.


"Gusti ratu Anum selalu memberiku daun berwarna keemasan untuk dimakan, dengan makan daun itu tubuhku akan segar kembali," jawab Dino.


"Daun itu lah yang membuatku tidak merasa lapar dan haus walau tidak makan dan minum," tambah Dino lagi.


"Bagaimana cara menghilangkan kutukan dendam itu Ndar?" tanya mbak Susi.


"Neng Mira masih terlindungi oleh kebaikan dari leluhur yang lain," jelas Nandar.


"Jadi dosa- dosa Arum yang terbawa dalam kehidupan neng Mira terbantu oleh kebaikan dari suami Arum yang saya tau bernama Raden Prana."


"Raden Prana juga mempunyai kedua orang tua yang sangat baik, jasa pahala mereka sangat besar...mereka banyak berbuat kebaikan," tambah Nandar.


"Kutukan dendam ini akan berakhir jika kita bisa melepaskan roh- roh yang terkurung di hutan itu."


"Kita harus membebaskan roh- roh itu agar bisa kembali ke akhirat."


"Bagaimana caranya Ndar?" tanya mbak Susi, lagi- lagi ia tidak sabaran.


"Saya belum tau, saya harus berpuasa agar bisa tau bagaimana caranya," jawab Nandar.


"Sementara saya hanya bisa membantu sampai di sini, mencari penyebab dari semua keanehan yang dialami Den Dino dan neng Mira."


"Nanti setelah saya mendapatkan jawabannya, saya akan kemari lagi," janji Nandar.


"Terimakasih mas Nandar....tapi hari ini saya sangat bersyukur karena ingatan Mas Dino sudah pulih," ucap Mira.


Dino menyelipkan uang di dalam saku Nandar, namun Nandar menolaknya.


"Saya hanya membantu, tidak ada niat untuk mencari uang," kata Nandar dan mengembalikan uang Dino.


"Buat uang bensin mas...." kata Dino.


"Saya masih mampu bayar uang bensin dengan gaji saya," tawa Nandar.

__ADS_1


"Kalau begitu saya hanya bisa mengucapkan terima kasih atas bantuannya mas....tapi saya merasa ga enak," ucap Dino.


"Santai aja Dino, Nandar memang begitu orangnya," sela mbak Susi tertawa.


__ADS_2