Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Malam Purnama terakhir


__ADS_3

Asmita menjadi kesayangan Raden Prana, setiap sore Raden Prana akan cepat kembali ke rumah demi bertemu dengan bayi cantik itu.


Kasih sayang Raden Prana pada Arum pun semakin bertambah.


Raden Prana merasa kehidupannya semakin lengkap dengan hadirnya Asmita.


Hari ini adalah sebulan setelah Arum melahirkan, dan malam ini adalah tepat malam bulan purnama.


Arum akan mencari tumbal terakhir untuk membuat lunas perjanjiannya dengan nenek Kanji.


Sore ini Asmita bersikap tidak seperti biasanya, ia menjadi sangat rewel.


Asmita tidak mau lepas dari gendongan Arum, ia selalu merengek.


Raden Prana terlihat cemas, ia mau menggendong Asmita, namun bayi kecilnya itu entah mengapa hari ini tidak mau digendong oleh Raden Prana.


Ia akan menangis kencang bila berpindah tangan dari Arum.


"Apa ia lagi sedang tidak enak badan Kangmas?" tanya Arum cemas.


"Kangmas akan menyuruh pelayan untuk memanggil Ki Randu," jawab Raden Prana.


Raden Prana lalu menyuruh salah seorang pelayan laki- laki rumahnya untuk memanggil tabib langganan keluarganya sejak lama, Ki Randu untuk datang ke rumahnya.


"Pergilah dan bawa kereta kuda untuk menjemput Ki Randu, cepatlah...," perintah Raden Prana yang mencemaskan Puteri kecil kesayangannya.


Pelayan bergegas pergi untuk menjemput Ki Randu.


Asmita merengek, Arum memeluk bayinya dengan cemas.


"Ada apa sayang? berhentilah merengek..." Arum menggoyang- goyangkan bayinya dan mendendangkan lagu untuk menenangkan rengekannya.


"Asmita badannya agak panas Kangmas," Arum memegang dahi Asmita.


"Bawalah ia ke kamar Arum, aku akan mengambil bawang merah di dapur," suruh Raden Prana.


Raden Prana menyuruh pelayannya untuk mengupas bawang merah lalu menghancurkan bawang merah itu.


Setelah selesai, Raden Prana membawa bawang merah itu ke dalam kamar.


Arum membaringkan Asmita ke tempat tidur, Asmita langsung menangis begitu dilepaskan dari gendongan Arum.


"Buka bedongnya Arum," suruh Raden Prana.


Raden Prana membalurkan bawang merah ke tubuh Asmita setelah bedongnya dibuka oleh Arum.


Bayi perempuan itu terus menangis, Raden Prana mempercepat kegiatannya.


Setelah selesai, Arum segera menggendong Asmita kembali.


Bayi itu langsung berhenti menangis setelah Arum menggendongnya, hanya tersisa rengekannya saja.


"Ki Randu lama sekali Kangmas," Arum yang sangat mencemaskan Asmita tidak sabaran.


"Sabar Arum...mungkin Ki Randu masih mengobati orang lain," Raden Prana yang juga cemas menenangkan Arum.

__ADS_1


"Berikan ia susu Arum, mungkin Asmita akan berhenti merengek," suruh Raden Prana.


Arum lalu mencoba menyusui Asmita namun Asmita menolaknya.


Ia menggeleng- gelengkan kepalanya dan tidak mau menghisap.


"Asmita tidak mau Kangmas...," ujar Arum.


"Ya sudah, cukup peluk dia saja...ia sepertinya merasa nyaman dalam pelukanmu," tukas Raden Prana.


Setelah sekian lama, Ki Randu dan pelayan rumah Arum masih belum sampai juga.


Arum semakin cemas, Asmita masih belum tidur dan masih merengek.


Arum duduk di atas tempat tidur sambil menggendong Asmita untuk mengurangi rasa lelahnya.


Raden Prana dengan setia mendampingi Arum di sisinya.


"Mungkin bisa meminta tolong Nyi Sowa Kangmas," ucap Arum baru teringat paga Nyi Sowa.


Raden Prana meminta pelayan perempuan rumahnya untuk meminta bantuan Nyi Sowa.


"Katakan Asmita rewel dan badannya agak panas...," titah Raden Prana.


"Katakan juga Ki Randu nya belum datang, mungkin Nyi Sowa bisa memberi ramuan," tambah Raden Prana.


"Baik Raden...," jawab pelayan perempuan itu.


Raden Prana kembali ke dalam kamar untuk menemani Arum menjaga Puteri mereka.


"Raden, Nyi Sowa sedang tidak berada di rumah...ia sedang pergi membantu salah seorang warga yang mau melahirkan," pelayan perempuan itu memberitahu.


"Mengapa bisa ada kebetulan seperti ini?" tanya Raden Prana.


"Entahlah Raden...," jawab pelayan perempuan itu.


"Ya sudah, tolong kamu tunggu di depan ...kalau Ki Randu sudah datang langsung suruh kemari," perintah Raden Prana.


"Baik Raden...," pelayan lalu mundur untuk menunggu kedatangan Ki Randu.


Menjelang tengah malam, barulah Ki Randu tiba di rumah Raden Prana.


Ia diantar oleh pelayan rumah masuk ke kamar Raden Prana dan Arum.


Arum terlihat sangat lelah, matanya menahan rasa kantuk.


"Maaf Raden saya terlambat datang, tadi saya harus pergi mengobati beberapa orang yang juga lagi sakit," tukasnya.


"Tidak apa- apa Ki, tolong segera periksa bayi kami Ki Randu," titah Raden Prana.


"Apa badannya panas?" tanya Ki Randu sebelum menyentuh Asmita.


"Iya Ki, badannya agak panas," jawab Raden Prana.


"Sudah saya duga, bayi seusia begini kalau rewel biasanya masalah perut, atau karena badannya panas...," Ki Randu lalu memeriksa tubuh mungil bayi cantik itu.

__ADS_1


"Perutnya tidak apa- apa, panasnya bisa dari tenggorokannya yang sakit," jelas Ki Randu.


"Tolong lepaskan dia di tempat tidur Gusti Ayu....biar saya periksa lebih teliti," pinta Ki Randu.


Asmita kembali menangis, ia membuka mulutnya dan kesempatan bagi Ki Randu untuk melihat lidah dan bagian mulutnya.


"Sudah saya duga, anak Raden pasti tenggorokannya sakit...saya sudah siapkan ramuan," Ki Randu membuka kantong yang dibawanya.


"Cukup diseduh saja dengan air panas sedikit, lalu campurkan air dingin....segera minumkan," titah Ki Randu.


"Saya tunggu di depan Raden...setelah bayi Raden minum obat...kita tunggu reaksinya," Ki Randu lalu pamit untuk menunggu di ruang tamu.


Raden Prana sendiri yang menyeduh obat buat Asmita, setelah siap ia segera menyendokkan ya dengan hati- hati ke dalam mulut Asmita.


"Arum kamu berbaringlah, kamu terlihat sangat lelah dan mengantuk...aku akan menjaga Asmita....lagian Ki Randu masih menunggu reaksi obatnya," suruh Raden Prana.


Arum yang memang sangat lelah lalu membaringkan tubuhnya sambil memeluk Asmita.


Setelah tak lama minum obat, Asmita terlihat mengantuk, bayi mungil itu memejamkan matanya.


Raden Prana menyentuh dahi Asmita.


"Panasnya sudah turun," bisik Raden Prana pada Arum.


Hati Arum yang tadinya sangat cemas menjadi tenang, ia mulai memejamkan matanya.


Arum lalu tertidur pulas, karena kesibukannya mengurus Asmita yang sakit Arum jadi melupakan tugas terakhirnya mencari tumbal untuk Nenek Kanji.


Raden Prana lalu menemui Ki Randu yang masih duduk menunggu.


"Terima kasih Ki Randu, bayi saya sudah tertidur dan panasnya sudah turun," Raden Prana memberikan beberapa kepingan perak kepada Ki Randu.


"Selalu kebanyakan Raden...," ujar Ki Randu.


"Tidak kebanyakan Ki....ini sudah tengah malam...," jawab Raden Prana tersenyum.


"Minumkan ramuan yang saya berikan tadi tiga kali sehari sampai ramuan itu habis," pesan Ki Randu.


"Baik Ki...pelayan saya akan mengantar Ki Randu kembali," ujar Raden Prana.


"Terima kasih Raden," ucap Ki Randu.


Ki Randu lalu pamit dan diantar oleh pelayan laki- laki Raden Prana yang tadi menjemput Ki Randu.


Raden Prana lalu menutup pintu, kemudian kembali ke kamar dengan perlahan.


Raden Prana takut membangunkan Arum dan Asmita yang sudah tertidur pulas.


Di hutan larangan....


"Hi....hi....kamu melupakan tugas terakhir yang aku berikan cah ayu....hari ini aku sangat lapar dan haus..."


"Tunggulah hukuman dariku karena sudah berani melalaikan tugasmu," mata nenek Kanji berkilat penuh kemarahan....


Sinar rembulan tampak tidak begitu kelihatan karena ia bersembunyi di balik awan gelap.

__ADS_1


Angin bertiup dengan kencang...terasa hawa dingin melingkupi sekitarnya, mengiringi suasana yang mencekam di dalam hutan larangan...


__ADS_2