
Mira memeluk suaminya untuk melepaskan kerinduannya selama ini.
Mereka baru saja sampai di rumah setelah Mira menjemput Dino dari rumah mertuanya.
Dino langsung mengenali Si Poni yang mengibaskan ekornya dan mengangkat- ngangkat kakinya menyambut kepulangan Dino ke rumah.
Dino memandangi semua sudut rumahnya, terasa familiar.
Tapi ia sana sekali tidak mengingat, kalau ini adalah rumahnya.
"Ini rumah kita?" tanya Dino pada Mira.
" Iya mas Dino...Poni saja bisa langsung pulang ke rumah entah bagaimana caranya," jawab Mira.
Mira terisak....ia menangis bahagia.
Sementara Poni memandang kedua majikannya sambil mengibaskan ekornya.
"Mas Dino jadi kurus begini," Mira menatap wajah Dino.
Dino membelai Poni yang bermanja di kakinya.
"Maafkan kalau aku belum bisa mengingatmu Mir..., tapi aku percaya kamu memang isteriku...ditambah Poni juga ada di sini," sahut Dino.
" Mas ingat Poni?" tanya Mira.
Dino mengangguk.
"Tapi kenapa melupakan Mira?" tanya Mira ingin tau.
"Entahlah Mir...aku ga bisa mengingat semuanya," jawab Dino.
"Tidak apa- apa mas Dino, pelan- pelan saja. Oh ya, berarti tempo hari mas Dino ke rumah sakit untuk diperiksa?" tanya Mira.
Dino menggangguk lagi.
"Terus apa kata dokternya?" tanya Mira lagi.
"Semua hasilnya bagus, tidak ada apa- apa....dokternya cuma bilang aku tidak bisa mengingat mungkin karena shock," Dino menjelaskan.
Mira manggut- manggut, mungkin selama di hutan suaminya mengalami sesuatu yang membuatnya menjadi shock.
"Mas Dino sepertinya masih butuh istirahat untuk memulihkan kondisi mas...istirahatlah di kamar kita," Mira menarik tangan Dino.
Mira mengajak Dino ke kamarnya, Dino memandang sekeliling kamar mereka.
Dino terpaku pada benda putih memanjang yang ada di sekeliling kamar mereka.
"Apa itu Mir?" tunjuknya.
"Garam mas...itu karena sewaktu mas Dino belum pulang....Mira sering mendapat gangguan," jawabnya.
"Gangguan apa?" tanya Dino.
" Makhluk astral mas Dino, sudahlah mas Dino istirahat aja...jangan dipikirkan," Mira membimbing Dino ke tempat tidur.
" Mira mau nyiapin bahan- bahan kue buat besok di dapur....mas tiduran aja," suruh Mira.
Dino mengangguk, Mira lalu keluar kamar.
__ADS_1
Dino membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, sementara si Poni meringkuk di bawah samping tempat tidur.
Ia setia menemani tuannya yang baru saja kembali.
*********
Malamnya Dino berada di ruang tamu, ia duduk bersama Poni...sementara Mira masih sibuk berkutat di dapur mempersiapkan bahan kue untuk dagangan besok.
Dino membelai lembut kepala Poni dengan penuh kasih sayang, tiba- tiba kepala Poni berdiri tegak...Poni terlihat tegang.
Poni berdiri, badannya nampak tegak dengan telinga tegak ke atas.
Dino mendadak menatap ke arah pintu depan yang terbuka lebar.
Dino membulatkan matanya, sesosok bayangan putih sedang menatap ke arahnya.
Sosok perempuan berambut panjang, matanya merah menyala...mulutnya lebar menyeringai ke arah Dino.
Yang membuat Dino menjadi merinding adalah gigi- gigi runcing yang keluar dari mulutnya yang lebar, air liurnya nampak menetes keluar.
Sosok tubuh itu memakai pakaian berwarna putih panjang menjuntai tidak kelihatan kakinya.
Sosok perempuan berbaju putih itu seperti melayang, pakaiannya berkibar kencang.
Dino berteriak...
"Pergi mahkluk jahanam....pergi dari sini....."
Poni melolong panjang, bulu cokelatnya tampak berdiri...Poni kemudian menggonggong panik.
Mira yang mendengar sesuatu yang tidak beres, berlari dari arah dapur.
Mira melihat ke arah pandangan mereka, tapi tidak melihat apapun.
"Mas Dino ada apa?" Mira mendekati Dino yang sudah terlihat sangat pucat.
"I..tu....itu...," Dino tergagap, jarinya menunjuk ke arah luar.
Mira melihat ke arah yang ditunjuk Dino, tapi ia tidak melihat apa- apa.
Poni tetap melolong dengan ribut.
Mira berinisiatif menutup pintu depan.
Dino sudah terduduk di bangku, ia nampak lemas.
Poni sudah mulai tenang, ia berhenti melolong.
Poni lalu meringkuk di bawah kaki Dino.
Mira mengambilkan minum untuk suaminya, Dino nampak terlihat sangat shock dengan sesuatu yang baru saja dilihatnya.
Mira membantu Dino untuk minum, ia hampir saja pingsan.
" Mas Dino, ada apa? apa yang mas Dino lihat?" tanya Mira setelah Dino mulai tenang.
Dino mengatur napasnya yang masih belum begitu teratur.
"Sosok perempuan menyeramkan berpakaian putih panjang menjuntai ...bermata merah...bergigi taring tajam...," cerita Dino dengan terbata.
__ADS_1
"Dia berdiri di depan teras rumah kita....ia menatapku...," sambungnya lagi.
Mira bergidik...bulu kuduknya meremang.
Mira mengira, tidak akan ada lagi gangguan di rumah mereka setelah Dino kembali.
Sejak kembalinya Si Poni ke rumah, Mira sudah tidak pernah mendapatkan gangguan di rumah mereka.
Dan barusan mas Dino nya malah melihat sosok yang menyeramkan.
Mira percaya dengan cerita Dino, apalagi melihat si Poni yang tadi juga terlihat panik dan melolong panjang.
Hewan seperti Poni, biasanya lebih peka bila ada makhluk halus dan semacamnya.
Poni pasti juga bisa melihat apa yang dilihat oleh mas Dinonya.
"Besok- besok kalau lagi duduk di sini...pintunya ditutup saja mas," Mira berkata lembut.
Dino mengangguk, sudah dua kali ia melihat sosok menyeramkan setelah ia kembali dari hutan.
Yang pertama saat berada di rumah ibu Dino, saat ia baru selesai mandi Dino melihat sosok perempuan yang menyeramkan.
Dan sekarang, Dino melihat lagi sosok yang berbeda, tapi tidak kalah menyeramkan dari yang sudah dilihatnya di rumah ibu Dino.
Dino merinding, apa yang sudah terjadi dengan penglihatannya?
Tapi Si Poni tadi sepertinya juga bisa melihat apa yang dilihat oleh Dino.
Apa mungkin sekarang Dino bisa melihat makhluk halus?
Tapi mengapa dan apa tujuan makhluk astral itu mendatanginya?
Apa Dino punya salah pada mereka? Dino tidak bisa menemukan jawabannya.
Dino memegangi kepalanya yang terasa sakit, ia terlalu keras berpikir.
"Mir, kepalaku terasa sakit," Dino memberitahu Mira.
"Ayo tiduran di kamar aja mas..., nanti Mira pijit kepalanya," Mira memapah Dino bangun dari duduknya.
Poni dengan setia mengikuti mereka dari belakang.
Mira membaringkan tubuh Dino di atas tempat tidur.
Poni meringkuk tidur di bawah samping tempat tidur mereka.
Mira memijit lembut pelipis Dino, ia mengoleskan sedikit minyak angin di pelipis Dino.
" Coba untuk tidur mas Dino," perintah Mira.
"Maafin mas ya Mir...aku jadi menyusahkan kamu," ucap Dino merasa bersalah.
"Jangan dipikirkan Mas Dino...Mira isteri Mas Dino...ga pernah merasa disusahkan," jawab Mira lembut.
"Makasih Mir...," Dino lalu menutup matanya, ia mencoba untuk segera tidur untuk menghilangkan rasa sakit kepalanya.
Dino merasa bersalah, sampai saat ini ia belum bisa mengingat kebersamaannya bersama Mira.
Apa kesukaan Mira, bagaimana mereka dulu bertemu, dan kenangannya bersama Mira hilang begitu saja dalam ingatannya.
__ADS_1
Entah sampai kapan ia bisa mengembalikan ingatannya.