
Arum berjalan dengan terseok- seok, rambutnya awut- awutan...
Sudah beberapa hari ini ia berjalan masuk menembus hutan larangan...
Untuk bertahan hidup, Arum makan apa saja yang ada di dalam hutan...
Buah- buahan hutan yang jadi makanan burung, pucuk tumbuhan yang masih muda.
Apa saja ia makan, asalkan bisa mengganjal perutnya yang lapar.
Ia terus berjalan masuk semakin ke dalam hutan, tidak ia pedulikan gelap dan rimbunnya semak belukar.
Arum seperti kehilangan rasa takutnya, tidak peduli dengan suara binatang- binatang yang terdengar begitu menyeramkan...
Suara serangga- serangga aneh terdengar sahut- sahutan, dalam kondisi normal...mungkin Arum sudah berlari pulang.
Sedangkan perasaannya saat ini diselubungi rasa kecewa, sedih, marah, dan dendam yang berbaur jadi satu.
Hal itu lah yang menyebabkan seakan- akan Arum tidak merasa takut pada apapun, padahal ia sedang berada sendirian di dalam hutan.
Tidak ia pedulikan rasa perih pada tangan dan kakinya yang tergores, terkena goresan semak berduri dan ranting tajam saat ia berjalan menerobos masuk.
Karena kelelahan, Arum ingin beristirahat dan mencari tempat yang nyaman untuk bisa diduduki.
Mata Arum tertuju pada sebuah pohon besar.
Arum melihat, nampak ada senampan sesajen di bawah pohon besar itu.
Sesajen yang berisi kendi, makanan yang dibungkus daun pisang, bunga tujuh rupa, buah pisang, dan dupa yang masih menyala.
Ada dupa yang masih menyala....Arum mencari di sekelilingnya, sesajen itu belum lama diletakkan seseorang di situ.
Namun tidak nampak seorang pun terlihat di sana.
Anum mendekati sesajen itu....dan ia meraba perutnya.
Sudah beberapa hari ini ia tidak makan nasi...ia menelan air liurnya.
Arum menengok lagi di sekelilingnya, untuk memastikan apakah tidak ada seorang manusia pun yang berada di situ.
" Wahai Eyang penghuni pohon dan hutan...aku minta izin untuk makan sesajen ini...perutku lapar..." Arum berjongkok mengambil makanan yang dibungkus dengan daun pisang di atas nampan sesajen itu.
Arum membuka makanan yang dibungkus daun pisang, nampak nasi putih dengan sepotong paha ayam goreng. Terlihat sangat enak.
Arum memakannya dengan lahap, terasa sangat lezat. Menggigit ayam gorengnya dan menyuapkan nasi ke mulutnya.
Arum menghabiskan makanannya, sampai bersih dan hanya menyisakan tulang ayam.
Lalu ia mengangkat kendi di atas nampan dan menuangkan air teh dari dalam kendi itu dengan mendongakkan lehernya dan membuka mulutnya.
" Nikmat...kenyang," Arum mengelap bibirnya dengan jemarinya yang lentik.
Masih ada dua buah pisang di atas nampan.
__ADS_1
" Sisain buat nanti pas lapar saja," ucap Arum.
Arum meletakkan kembali kendi di atas nampan.
Arum merasa mengantuk karena kenyang dan juga kelelahan.
"Terima kasih Eyang atas makanannya," Arum menangkupkan kedua tangannya.
Arum duduk menyandarkan punggungnya di pohon besar itu.
Ia menguap lebar, lalu memejamkan kedua matanya.
Arum merasa ada angin sepoi- sepoi yang membelai wajahnya, ia tidur dengan pulas.
*********
" Bangun Cah ayu....," seseorang menepuk- nepuk lengan Arum.
"Mmmm....," Arum masih tampak mengantuk.
" Cah ayu...bangun..." ia membangunkan Arum lagi.
Arum mengucek matanya....ia melihat di depannya berdiri seorang nenek renta berambut putih, mengenakan kemben dan kebaya gombrong berwarna putih.
Dari mana nenek ini datang? Arum sempat terheran...
"Nenek siapa?" tanya Arum bingung.
" Aku tinggal di sini, panggil aku dengan sebutan nenek Kanji," jawab nenek itu.
Arum memutar lehernya, tidak tampak ada rumah di situ. Lalu nenek itu tinggal di mana?
" Aku tinggal di sekitar hutan ini" tunjuk nenek Kanji seakan ia bisa membaca isi pikiran Anum.
"Apa yang kau lakukan di sini cah ayu...?" tanyanya lagi.
Arum ragu untuk menjawab nenek Kanji, ia bingung harus bercerita mulai dari mana.
" Udah tidak perlu kau ceritakan kalau tidak mau," kembali nenek Kanji bisa membaca isi kepala Arum.
Arum menggelengkan kepalanya.
" Aku melihat bara dendam di matamu cah ayu...."
" Apakah kamu mau aku membantumu cah ayu?" tanyanya lagi dengan pandangan tajam.
"Maksud nenek?" tanya Arum bingung.
" Kau sudah memakan makanan yang diberikan untukku cah ayu....tapi karena sebelum makan kamu sudah meminta izin...aku tidak marah," ucap nenek Kanji pada Anum.
" Oh maaf jadi itu punya nenek Kanji? maaf....aku tadi sangat lapar..." Arum menangkupkan kedua tangannya.
" Tidak apa- apa cah ayu, tapi kau harus membayar apa yang sudah kau ambil. hi.....hi....," nenek Kanji tertawa menyeramkan.
__ADS_1
Arum melihat mata nenek Kanji berubah menjadi merah....kuku tangannya berubah menjadi panjang dan tajam.
Tapi tidak ada rasa takut sedikitpun dalam diri Arum...
Dendam dan amarah dalam hatinya membuat tidak ada yang ditakutinya.
" Aku akan membayarnya nek...katakan dengan cara apa aku bisa membayar makanan yang sudah aku makan?" tantang Arum...
"Hi....hi....bagus...bagus...kau pemberani....aku suka itu.."
"Katakan saja nek, aku siap membayarnya...."
" Baik....tapi kau tidak boleh menyesal di kemudian hari," ucap nenek Kanji.
" Kau harus menjadi pengikutku...."
" Pengikutmu nek? apa maksudnya?" tanya Arum dengan berani.
" Aku akan membantumu membalaskan segala dendam yang ada di hatimu. Kau boleh membalas rasa sakit hatimu....hi...hi..."
"Bagaimana nenek bisa tau aku punya dendam dan sakit hati?" tanya Arum bingung.
" Tentu saja aku tau, aku adalah nenek Kanji...roh pendendam yang menghuni pohon besar ini...." jawab nenek Kanji.
"Siapapun boleh meminta sesuatu padaku....aku akan memberikan segala yang mereka minta....kekayaan, ketenaran, balas dendam....semua bisa kukabulkan...."
" Dengan satu syarat....mereka harus menjadi pengikutku...."
" Apakah kamu bersedia cah ayu?" tanyanya lagi.
" Aku bersedia. Bagaimana caranya nek?"
" Kau harus mengorbankan satu nyawa untukku, setiap bulan purnama cah ayu....kau harus membawa mereka kemari...."
Arum sudah tidak bisa berpikir dengan akal sehatnya lagi, karena rasa dendam di hatinya....ia sudah tidak peduli dengan resiko yang sudah dia ambil.
Arum tidak peduli, jika nantinya akan banyak yang akan dikorbankan.
Ia tidak tau melakukan perjanjian dengan setan akan membawanya ke dalam dosa besar.
Dan ia juga tidak memikirkan akibat yang akan diterimanya jika ia melanggar perjanjian yang sudah dibuatnya.
" Bagaimana cara aku membawa mereka ke sini nek, sedangkan aku tidak punya kekuatan apa- apa."
" Hi....hi....nanti aku akan memberikan kekuatanku padamu cah ayu....mereka akan menurut padamu saat kau bawa mereka ke sini."
" Tapi ingat....jika kau lupa membawa satu orang untukku di malam bulan purnama....maka kau akan menanggung akibatnya."
"Apa akibat yang akan kutanggung nek?" tanya Arum ingin tau.
" Kau akan selamanya menjadi penghuni hutan ini....bukan sebagai ratu...tapi sebagai budak...dan yang kau korbankan karena dendamlah yang akan menjadi ratunya.....hi....hi...."
Arum mengganggukkan kepalanya. Tanpa berpikir panjang lagi ia menyetujui perjanjiannya dengan nenek Kanji.
__ADS_1
" Bagus....hi.....hi...."