
Pak Broto membawa Dino untuk memeriksakan kesehatan Dino ke rumah sakit.
Setelah menunggu hasil pemeriksaan dari pagi, setelah agak sore semua hasil pemeriksaan sudah keluar.
" Dari hasil pemeriksaan secara keseluruhan, Tuan Dino dinyatakan sehat," kata dokter yang memeriksa.
"Tapi kenapa Dino bisa kehilangan sebagian ingatannya dan bisa sakit kepala saat dipaksa untuk mengingat dokter?" tanya Pak Broto terlihat cemas.
"Menurut saya itu karena Tuan Dino mengalami shock Pak, yang penting jangan dipaksakan," pesan dokter.
"Lalu bagaimana dengan bekas luka di pergelangan tangan anak saya dok?"
"Tidak menunjukkan infeksi Pak...semua hasil bagus," jawab dokter.
"Dari hasil CT scan dan Rontgen seluruh tubuh juga hasil ambil darah....semua alat vital Tuan Dino tidak ada masalah," jelas dokternya lagi.
"Baik dokter, makasih," Pak Broto terlihat lega mendengar penjelasan dari dokter.
Setelah membayar biaya konsultasi dokter dan lain- lain, Pak Broto dan Dino melangkah keluar dari pintu utama rumah sakit.
Dino yang berjalan sambil melamun menabrak tubuh seseorang.
"Maaf...," ucap Dino pada orang yang ditabraknya, orang itu terbelalak.
"Dino....? saya tidak salah lihat kan? kamu Dino....," ternyata orang yang ditabrak Dino adalah mas Darto, suami mbak Susi tetangga dekat Mira dan Dino.
" Kamu siapa?" tanya Dino mengerutkan dahinya.
Dino merasa seperti wajah orang di depannya tidak asing tapi ia tidak ingat siapa orang itu.
"Dino...apa yang terjadi? kamu tidak ingat saya? saya Darto.....tetangga dekat kamu....kapan kamu kembali dan mengapa tidak pulang menemui Mira?" tanya mas Darto bertubi- tubi.
"Mira?" lagi- lagi nama Mira disebut, Dino jadi sakit kepala.
Dino memegang keningnya, Pak Broto yang melihat Dino seperti sedang sakit kepala segera memapahnya untuk segera pergi dari situ.
"Maaf, anda salah mengenali orang," Pak Broto buru- buru mengajak Dino pergi dari situ.
Mas Darto jadi terbengong, ia tidak mungkin salah orang.
"Mas Darto udah selesai?" temannya mas Darto menyusulnya.
"Sudah beres," jawab mas Darto.
" Ayo kita pulang," ajak temannya.
Mereka bertugas mengantarkan alat- alat kesehatan pesanan rumah sakit.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mas Darto tidak berhenti memikirkan Dino, ia memang tidak mengenal Pak Broto, ayah Dino.
Tapi Mas Darto tak mungkin salah mengenali orang.
Setelah pekerjaannya selesai, mas Darto buru- buru pulang, ia menceritakan pertemuannya dengan Dino pada Susi, isterinya.
" Yang benar mas Darto? mas tidak salah mengenali orang kan?" tanya Susi tidak percaya pada suaminya.
"Masa sih ada Dino yang lain? semirip- miripnya orang pasti ada bedanya," jawab mas Darto meyakinkan isterinya.
"Kalau memang itu betul Dino, lalu mengapa ia tidak mengenali mas Darto? dan mengapa pula ia tidak pulang kembali pada Mira?" tanya Susi masih tidak percaya.
" Nah itu yang aku tidak tau, atau ia kehilangan ingatan karena terlalu lama di hutan?" mas Darto balik bertanya.
" Kalau memang Dino kehilangan ingatan...bagaimana cara ia kembali? tadi ia bersama siapa? bapaknya?" tanya Susi.
"Mungkin tadi itu bapaknya, aku kan ga kenal sama bapaknya," jawab mas Darto.
"Kalau itu bapaknya, terus Dino kehilangan ingatannya lalu cara ia pulang menemui bapaknya bagaimana?" tanya Susi lagi.
Mas Darto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ada benarnya yang dikatakan Susi, isterinya... tapi mas Darto benar- benar yakin yang tadi dilihatnya adalah Dino.
"Begini saja, kamu ceritakan hal ini sama Mira....suruh Mira melihat di rumah orang tua Dino...apa benar yang aku lihat tadi itu benar- benar Dino," akhirnya mas Darto memberi solusi.
Susi mengangguk.
"Mira tidak akan tahan kalau disuruh untuk menunggu sampai besok untuk melihat suaminya atau bukan," sambung Susi.
"Ya udah mana baiknya saja," jawab mas Darto.
*********
Pak Broto setelah pulang dari rumah sakit, segera menceritakan pertemuan Dino dengan seorang tetangga dekatnya yang bernama Darto.
" Gawat Pak, kenapa bapak tidak hati- hati sih?" omel isterinya.
" Gimana mau hati- hati, wong aku juga ga kenal sama tetangga Dino," Pak Broto balik mengomel.
"Jadi gimana nih Pak, takutnya tetangganya menyampaikan hal ini pada Mira," kata ibu Dino cemas.
" Sementara jangan biarkan Dino keluar...kalau Mira mencarinya ke sini...sembunyikan Dino," pesan Pak Broto.
"Katakan juga pada Bi Siti...jangan berani dia coba- coba memberitahu Mira bahwa Dino sudah kembali," lanjut Pak Broto.
Bu Broto mengangguk, ia akan memisahkan Dino dan Mira.
Kebetulan Dino tidak mengingat bahwa ia sudah memiliki seorang isteri, maka ini merupakan kesempatan baik untuk memisahkan mereka.
__ADS_1
Bu Broto tersenyum sinis.
" Tak akan ku biarkan Dino kembali pada Mira," gumamnya dalam hati.
"Perempuan itu tidak pernah pantas untuk menjadi isteri Dino, perempuan miskin...pembawa sial....," umpat bu Broto dalam hatinya.
" Di mana Dino sekarang? apa ia sudah tidur?" tanya Pak Broto.
" Iya pak...sepulang dari rumah sakit...ia mengeluh masih sakit kepala," jawab Bu Broto.
"Dokter tidak memperbolehkan ia memaksa untuk mengingat," kata Pak Broto.
"Lalu bagaimana Pak?" tanya Bu Broto khawatir.
" Tidak usah khawatir Bu...anak kita tidak apa- apa, semua hasil pemeriksaannya bagus dari CT scan sampai rontgen seluruh tubuh, tidak ada bagian tubuh yang menunjukkan luka Bu...," jelas Pak Broto.
" Syukurlah kalau begitu...ibu jadi tidak begitu khawatir lagi," jawab Bu Broto.
********
Mbak Susi menceritakan pada Mira apa yang diceritakan mas Darto padanya.
" Betulkah?" Mira membulatkan matanya.
" Untuk memastikannya, sebaiknya kamu segera pergi ke rumah mertuamu Mir. Nanti siang sehabis jualan, mbak anterin kamu ke sana," kata mbak Susi.
"Makasih mbak, Mira berharap itu benar- benar Mas Dino...tapi kalau benar kenapa mas Dino tidak kembali pada Mira ya mbak?" tanya Mira.
" Itulah yang membuat mbak ragu dengan cerita mas Darto Mir...semuanya terdengar tidak masuk di akal," jawab Mbak Susi.
Mira berpikir keras, ia sudah tidak sabar untuk mengecek kebenarannya sendiri...mudah- mudahan benar kalau yang ditemui mas Darto itu adalah mas Dino, suami Mira.
Setelah dagangan mereka habis terjual, Mira sudah bersiap- siap untuk pergi ke rumah mertuanya.
" Tunggu di sini ya Mir...mbak ambil motor dulu," pesan mbak Susi yang berjalan pulang ke rumahnya.
Mbak Susi memakai jaketnya, lalu mengambil sepeda motornya.
Setelah memakai helm, mbak Susi menjemput Mira di rumahnya.
"Pakai dulu helm nya Mir," mbak Susi menyerahkan helm pada Mira.
Mira segera memakai helm di kepalanya, lalu segera naik di atas boncengan motor mbak Susi.
Mbak Susi menjalankan motornya dan menuju rumah mertua Mira dengan petunjuk jalan dari Mira.
Jantung Mira berdetak kencang setelah rumah mertuanya sudah mulai kelihatan...
__ADS_1