Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Berbuat dosa


__ADS_3

Anum sudah tidak tahan lagi, setiap hari pada waktu siang hari ibu mertuanya selalu menugaskannya untuk menemani Ningrum, adik iparnya.


" Aku bukan pengasuh, mengapa harus aku?" omelnya dalam hati.


Anum sempat memprotesnya di depan Raden Bondo.


Tapi Raden Bondo malah membela ibunya.


" Kamu kan siang juga ga ngapa- ngapain, masa hanya untuk menemani adik iparmu sendiri kamu keberatan?" kata Raden Bondo mengecamnya.


"Lagian kan kamu bisa mengakrabkan diri dengan adik iparmu," sambungnya lagi.


Anum hanya mendengar ceramah suaminya dengan muka cemberut.


Di depan Raden Ayu Ditha, Anum tidak berani mengatakan apa- apa, apalagi untuk protes. Anum tidak punya nyali sebesar itu.


Raden Ayu Ditha tidak mengizinkan Ningrum untuk sendirian, karena itu bisa memberi kesempatan Ningrum untuk melamun atau mengingat kesedihannya karena ditinggal Raden Dito.


Anum sudah lama tidak pergi bertemu dengan teman- temannya, untuk mengundang datang ke rumah ia tidak berani mengingat Raden Ayu Ditha tidak menyukai ia melakukan hal itu.


Anum ingin menonton pertunjukan seni gamelan yang disukainya.


Ia merasa sejak menikah, kehidupannya menjadi terkekang dan ia tidak bisa merasakan kebebasan seperti waktu ia masih tinggal bersama Romonya.


Apalagi melihat sikap Raden Bondo yang tidak pernah manis padanya.


Anum merindukan Dimas, mantan kekasihnya.


Di dalam hatinya, Anum sangat ingin menemui Dimas.


Entah bagaimana kabar laki- laki itu.


" Mbakyu, kenapa mukamu tampak masam?" tegur Ningrum.


"Apa Mbakyu keberatan menemani Ningrum ngobrol?" tanya Ningrum.


" Bukan keberatan, cuma merasa bosan saja seharian duduk," jawab Anum.


"Bagaimana kalau kita pergi ke luar Mbakyu? Ningrum juga merasa bosan."


Anum merasa girang, tentu saja dia tidak keberatan. Tapi mereka harus meminta izin pada Raden Ayu Ditha.


" Tapi apa Bunda mengizinkan Ningrum?" tanya Anum.


Anum berharap kalau Ningrum yang meminta izin pada Raden Ayu Ditha, mungkin mereka akan diizinkan untuk keluar.


"Nanti biar Ningrum yang bicara pada bunda," jawab Ningrum.


Anum bersorak dalam hati, ini adalah hal yang sangat dinanti- nantikan nya.


Anum lalu mengikuti Ningrum menemui Raden Ayu Ditha untuk meminta izin.


" Bunda, bolehkah Ningrum dan Mbakyu keluar jalan- jalan?" tanya Ningrum pada Raden Ayu Ditha.


"Kalian mau kemana? ini keinginan siapa? kamu yang mau keluar Anum?" tanya Raden Ayu Ditha dengan pandangan mata menyelidik.


"Bu..bukan saya Bunda," jawab Anum tergagap.


"Ningrum yang ingin keluar jalan- jalan Bunda, bukan Mbakyu," sanggah Ningrum.


" Kamu mau kemana Ningrum?" tanya Raden Ayu Ditha.


" Ke Pusat Kota Bunda, Ningrum bosan di rumah terus," sambung Ningrum.


" Baiklah....Anum, kamu temani Ningrum, juga suruh Ki Anjar untuk mengantar dan menjaga kalian," perintah Raden Ayu Ditha tegas.

__ADS_1


Anum bersorak dalam hatinya, akhirnya ia bisa keluar rumah.


"Baik Bunda," jawab Anum.


Anum dan Ningrum lalu meminta Ki Anjar untuk mengantar mereka menuju pusat kota.


Sudah lama Anum tidak melihat- lihat, sepanjang perjalanan ia tersenyum sumringah.


" Mbakyu mau kemana selain ke pusat kota?" tanya Ningrum.


" Bolehkah Mbakyu menemui teman Mbakyu? tanya Anum pada Ningrum.


"Tentu saja boleh, Mbakyu bisa meminta Ki Anjar untuk mengantar Mbakyu dahulu, biar Ningrum nanti ditemani Ki Anjar saja," jawab Ningrum.


Tentu saja Anum sangat girang mendengar jawaban dari Ningrum, pikirnya kesempatan tidak datang dua kali.


"Mbakyu mau diantar kemana?" tanya Ningrum.


" Nanti dekat belokan pasar saja, rumah teman Mbakyu di dekat situ," jawab Anum.


"Ki...nanti turunkan saya di dekat belokan pasar ya," pinta Anum.


"Baik Gusti Ayu...," jawab Ki Anjar.


Setelah sampai, Anum lalu turun dari kereta kuda dan berpesan pada Ki Anjar.


" Nanti tolong Ki Anjar jaga Ningrum ya, jangan biarkan dia sendiri apalagi sampai melamun."


" Dan juga perihal saya ketemu teman saya, jangan Ki Anjar beritahu siapapun, termasuk suami saya...nanti kita berdua bisa kena omelan," Anum mewanti- wanti Ki Anjar.


" Nanti jemput di mana Gusti ayu?" tanya Ki Anjar.


"Kalian tunggu saya di pusat kota, toh tidak jauh dari sini. Nanti saya yang akan mencari kalian," jawab Anum.


"Ningrum, Mbakyu tidak akan lama...nanti segera menyusul di pusat kota...bersenang- senanglah, jangan sampai melamun atau bengong," pesan Anum.


" Baik Mbakyu," jawabnya.


Anum lalu berjalan menuju rumah seseorang yang sangat dirindukannya.


Sementara Ki Anjar menjalankan keretanya menuju pusat kota yang tidak jauh dari situ.


Anum mengetuk pintu sebuah rumah yang sekitarnya tampak sepi.


Tok...tok..


"Mas Dimas...." panggil Anum.


Tok...tok...


"Mas Dimas...buka pintunya."


"Tunggu sebentar..." terdengar suara Dimas yang menyahut dari dalam rumah.


Anum menahan kerinduannya, ia ingin segera melihat mantan kekasihnya itu.


" Krekk.....," terdengar derit pintu yang dibuka.


Sesosok laki- laki yang bertelanjang dada menatap Anum dengan terbelalak.


"Anum apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya heran.


Dimas menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi ia tidak melihat siapapun yang datang bersama Anum.


"Kamu datang sendirian?" Dimas bertanya lagi.

__ADS_1


"Tanyanya satu- satu Mas," senyum Anum.


"Aku datang sendirian ke sini, dan itu karena aku sudah tidak dapat menahan rasa rinduku padamu...Mas."


"Aku ga disuruh masuk Mas Dimas?" ledek Anum dengan kerlingan menggoda.


"Eh...i...iya...silahkan masuk," Dimas membuka pintu lebar- lebar.


Anum sengaja menyenggol lengan Dimas dengan bahunya.


" Kamu sendirian di rumah Mas Dimas?" tanya Anum.


" I...iya...Bapak dan mbok lagi di desa sebelah, ada keluarga dekat yang anaknya nikah," jawab Dimas gugup.


"Tutup pintunya Mas Dimas, ga enak dilihat orang kalau kita sedang berduaan seperti ini," suruh Anum.


"Tapi....bukannya malah ga enak kalau kita tutup pintu Anum?" tanya Dimas.


" Tutup aja Mas Dimas, ada sesuatu yang ingin kukatakan," jawab Anum.


Dimas menurut, ia lalu menutup daun pintu rumahnya.


"Kita duduk aja Mas ngobrolnya," ajak Anum.


Dimas menurut lagi, ia duduk di sebelah Anum.


"Kamu tambah tampan saja Mas Dimas, aku kangen sama kamu," kata Anum sambil mengerling pada tubuh Dimas yang tidak memakai baju.


"Maaf, aku pakai baju dulu," kata Dimas berdiri.


"Tidak usah Mas Dimas, begini saja...kamu lebih gagah seperti ini," Anum menarik tangan Dimas untuk kembali duduk.


Jantung Dimas berdetak lebih kencang, Anum terlihat makin cantik dan tubuhnya terlihat lebih berisi.


"Mas Dimas, aku tidak bahagia menikah dengan suamiku," adu Anum.


" Mungkin karena kamu baru menikah Anum...masih dalam penyesuaian," hibur Dimas.


"Tidak Mas, bukan begitu. Suamiku tidak pernah mengacuhkan ku, ia selalu bersikap dingin padaku," cerita Anum lagi.


"Sikapnya tidak semanis sikapmu padaku," tambah Anum sambil memegang lengan Dimas.


Dimas merasakan jantungnya semakin berdetak kencang, ia sedang bersama mantan kekasih yang masih sangat dicintainya, tetapi sudah berstatus isteri orang.


"Mas Dimas...aku merindukanmu," Anum mendekatkan b*b*r nya ke tubuh Dimas.


Ia lalu memeluk Dimas dengan manja.


Dimas tidak bisa menolak pelukan Anum, karena dia juga sangat merindukan Anum.


Dimas balas memeluk tubuh Anum, lalu mereka saling b**c**m**.


Keduanya larut dalam hawa na*su iblis, mereka seperti tidak peduli dengan status mereka yang bukan suami isteri.


Dimas membimbing Anum untuk melangkah menuju kamar tidur Dimas yang ada di bagian paling belakang rumahnya.


Entah apa yang mereka lakukan selanjutnya, hanya Tuhan dan mereka berdua saja yang mengetahuinya.


Mereka tidak menyadari iblis yang sedang tertawa, bersorak untuk kemenangan mereka...berhasil membawa kedua anak manusia yang berlainan jenis itu ke dalam kubangan dosa yang akan membawa mereka ke dalam kehancuran.


Hanya sesekali terdengar de**h*n lirih yang suaranya samar- samar dari luar kamar tidur itu.


Antara cinta dan dosa, semua pilihan ada di tangan manusia itu sendiri...


Mereka melakukan dosa....dengan alasan cinta...padahal cinta yang sesungguhnya adalah menjaga kesucian dari cinta itu sendiri agar tidak ternoda oleh perbuatan dosa.

__ADS_1


__ADS_2