
Kabut yang tadinya sangat tebal perlahan- lahan mulai menipis dan kemudian menghilang.
Dino memandang pemandangan di depannya dengan perasaan yang bercampur aduk.
Dino seperti terhipnotis berjalan perlahan ke arah pemandangan yang dilihatnya.
Di depannya nampak ramai orang- orang berkumpul, mengelilingi sesuatu.
Dino hanya bisa melihat punggung dari orang- orang itu.
Alam bawah sadarnya memerintahkan Dino untuk berbalik dan segera meninggalkan tempat itu, tetapi entah mengapa kakinya berjalan maju tanpa bisa Dino hentikan.
Seperti ada kekuatan yang menarik kakinya. Otak dan kakinya saling bertolak belakang.
Otaknya memerintahkan Dino untuk pergi dan jangan mendekat, sementara kakinya tidak bisa sinkron dengan otaknya.
" Pergi dari sini Dino, pergi...," hati kecilnya memperingatkannya.
Dalam hutan yang tadinya sunyi, tiba- tiba ada sekelompok orang yang sedang melakukan sesuatu...harusnya bila dalam keaadaan normal Dino pasti sadar dengan keanehan tersebut.
Tiba- tiba orang- orang itu berbalik, menatap Dino dengan pandangan tajam, dingin menusuk...
Mereka memakai pakaian yang aneh, seperti pakaian orang zaman dahulu...
Yang memimpin, seorang perempuan dengan bermahkota kecil berbentuk kepala rusa di kepalanya. Pakaiannya seperti seorang Puteri keraton zaman dulu.
Sementara yang lain, perempuan semua... berpakaian seperti Noni- Noni Belanda zaman dulu.
Muka mereka pucat seperti kapas, mereka membentuk lingkaran mengelilingi sebuah meja panjang yang terbuat dari batu.
Bukan dengan keinginannya sendiri, Dino mendekat dan menyibak kumpulan orang- orang itu.
Astaga...Dino melihat sesosok tubuh seorang laki- laki bertubuh tegap terbaring di atas meja batu itu, memakai mahkota yang bentuknya seperti perempuan yang memimpin...mahkota berbentuk kepala rusa.
Laki- laki itu bertelanjang dada, hanya bagian pinggang ke bawah yang ditutupi oleh kain panjang.
Laki- laki itu terbaring dengan mata terpejam, dan mata Dino langsung tertuju pada bagian dada laki- laki tersebut.
Dada laki- laki itu ada bekas luka, berlobang seperti bekas tusukan atau tembakan yang masih tampak ada sisa darah yang menempel.
Dino mukanya pucat- pasi, tubuhnya gemetaran....
" Jangan- jangan.....
Dino menggeleng- gelengkan kepalanya.
" Tidak mungkin...," gumam Dino dengan jantung berdetak kencang tidak karuan.
Perempuan itu mendekati Dino.
" Lihat perbuatanmu....kau sudah membunuhnya..."
Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Dino, ia sangat ketakutan..
" Tidak...bukan aku...," Dino berkata ketakutan.
__ADS_1
"Bukan kamu? kamu lah yang sudah membunuh suamiku," tunjuk perempuan itu dengan marah.
" Tapi...yang aku tembak bukan dia...," jawab Dino gemetar.
" Kau masih mengelak, apa kau ada menembak seekor rusa besar? rusa besar itu adalah dia," tunjuk perempuan itu pada laki- laki yang terbaring di meja batu.
" Am....pun...aku tidak tau kalau rusa itu jelmaan suamimu," jawab Dino sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada.
" Ampun? hi....hi...apa dengan mengampunimu kamu bisa mengembalikan suamiku hah?" dengan wajah menyeramkan perempuan itu telunjuknya menunjuk Dino.
" Aku menyesal...tolong ampuni aku..kalau aku tau...aku tidak akan menembak suamimu..."
Perempuan itu mendelik kan matanya, mukanya yang pucat terlihat sangat menyeramkan.
" Kau harus membayar perbuatanmu...hi...hi..."
Perempuan itu mendekati Dino dan menjulurkan kedua tangannya ke arah leher Dino.
Bersiap untuk mencekik Dino.
Dengan sekuat tenaga, Dino memerintahkan kakinya untuk menyelamatkan diri.
Dino berbalik, kabur....berusaha meninggalkan tempat itu....
***********
Dino berlari dan terus berlari sekencang- kencangnya, sekuat tenaga yang ia bisa.
Napasnya terengah- engah. Sesekali Dino menengok ke belakang untuk melihat apakah perempuan itu mengejarnya.
" Dan aku membuat kesalahan dengan membunuh rusa yang ternyata jelmaan suami perempuan siluman itu."
Dino bergidik....
Ia terus berjalan mencoba mencari jalan pulang.
Tiba- tiba kepala Dino sangat sakit. Matanya berkunang- kunang. Keringat dingin kembali mengucur dari tubuhnya yang sudah sangat letih.
Tubuh Dino terkulai. Ia kembali pingsan...
************
Suara raungan dari seorang perempuan yang sedang menangis menyadarkan Dino dari pingsannya.
Ia perlahan- lahan membuka kelopak kedua matanya. Dino lalu mencoba untuk duduk.
Dino melihat banyak orang berkumpul sambil menyanyikan kidung aneh, kidung dengan bahasa yang asing di telinga. Kidung yang bernada pilu menyayat hati.
Tubuh seorang laki- laki perlahan- lahan diturunkan ke dalam sebuah lobang.
Acara sebuah pemakaman....
Para perempuan yang berpakaian seperti Noni- Noni itu lalu menimbun lobang itu dengan pasir hingga membentuk sebuah gundukan.
Gerakan mereka kaku seperti zombie, kaku tapi gesit.
__ADS_1
Dalam waktu singkat, gundukan itu sudah membentuk sebuah kuburan.
Kuburan dari jelmaan rusa yang mati terkena tembakan dari senapan Dino.
Teringat senapannya, Dino tidak tau di manakah senapannya berada. Tiba- tiba saja ia terbangun dari pingsannya yang pertama dengan tanpa menyandang senapan.
Poninya juga menghilang, raib tanpa jejak.
Dino sudah tidak bisa berbuat apa- apa lagi, ia merasa putus asa.
Kemanapun ia pergi dan melarikan diri, ia tetap kembali ke tempat yang tidak ia ketahui ada di mana.
Dino sudah terjebak di sini...dan ia harus bersiap menerima hukuman dari perbuatannya.
Apapun hukumannya, ia akan berusaha menjalankannya dan berharap masih ada harapan untuk kembali ke dunianya.
Pemakaman jelmaan rusa itu sudah selesai, tapi kidung- kidung pilu itu masih dinyanyikan.
Perempuan yang mengaku sebagai isteri jelmaan rusa itu masih menangis dengan meraung- raung.
Angin dingin terasa menusuk tulang, Dino merasakan suasana mistis yang menyelubungi tempat itu.
Suatu tempat antah berantah yang tidak Dino ketahui ada di bagian hutan sebelah mana.
Entah bagaimana nasib Dino setelah ini, entah apa pula hukuman yang akan diberikan oleh perempuan siluman itu.
" Hei kamu....apakah masih ingin mencoba untuk kabur? hi...hi..," perempuan menyeramkan itu menunjuk ke arah Dino.
Dino menelan saliva nya, ia sangat ketakutan.
" Ampun....."
" Panggil aku Gusti ...aku adalah ratu di hutan ini."
" Baik Gusti ratu...., tolong ampuni aku. Izinkan aku kembali kepada isteriku...," Dino menangis.
" Tidak semudah itu. Kau harus berterima kasih aku masih mengampuni nyawamu."
" Lalu bagaimana caraku menebus kesalahanku Gusti ratu...agar aku bisa kembali ke duniaku."
" Belum waktunya sekarang. Kau harus menjalankan hukumanmu di sini..." perempuan itu menjawab dengan marah.
" Kau harus mengabdikan dirimu di sini selama seratus delapan puluh hari. Jiwa dan tubuhmu sekarang adalah milikku... hi...hi..."
Perempuan itu mendekati Dino lalu tiba- tiba ia membuka mulutnya, tampak taring yang tajam menyembul dari mulutnya.
Perempuan siluman itu memegang pergelangan tangan Dino.
Ia mendekatkan mulutnya ke pergelangan Dino....lalu mulai menghisap....
Dino berteriak kesakitan, ia ingin menarik tangannya tapi seakan- akan tenaganya lenyap. Ia tak berdaya.
Perempuan itu begitu rakus, ia begitu menikmati darah Dino yang dirasakannya sangat manis.
Tak ia pedulikan teriakan rasa sakit yang keluar dari mulut Dino.
__ADS_1
Ia terus menghisap.....