Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Tragedi Ningrum


__ADS_3

Sejak pulang dari pemakaman Raden Dito, Ningrum tidak henti- hentinya menangis.


Raden Ayu Ditha yang melihat Ningrum sangat terpuruk, menjadi sangat khawatir.


Sudah seminggu ini Ningrum mengurung diri di kamarnya, Raden Ayu Ditha tidak berani meninggalkan Ningrum sendiri.


Anum, Raden ayu Ditha, dan para pelayan bergantian untuk menemaninya.


Raden Ayu Ditha khawatir, takut kejadian Ningrum yang kesurupan terulang lagi.


Siang ini Ningrum sudah keluar dari kamar, Anum berada di belakangnya.


Ningrum terlihat sudah mau tersenyum.


"Bunda...jangan khawatirkan Ningrum, mulai hari ini tidak usah menemani Ningrum lagi," kata Ningrum pada Raden Ayu Ditha.


"Ningrum sudah merelakan kepergian Raden Dito," tambah Ningrum tersenyum.


" Tapi...."


" Jangan khawatir Bunda, Ningrum sudah tidak apa- apa," Ningrum memotong ucapan Raden Ayu Ditha.


" Baiklah hanya kalau di siang hari...di malam hari Bunda tetap ingin ada yang menemanimu," tegas Raden Ayu Ditha.


"Terserah Bunda saja," Ningrum akhirnya mengalah.


Sudah seminggu ini Anum juga selalu berada di rumah.


Tidak ada alasan baginya untuk bisa keluar, apalagi dengan kondisi Ningrum yang sedang terpuruk.


Anum berusaha menahan kerinduannya pada Dimas, ia akan mencari alasan untuk keluar setelah kondisi Ningrum membaik.


Setelah hari ini melihat Ningrum sudah mau tersenyum dan mulai mau banyak bicara, membuat Anum merasa tenang.


Ia sudah membayangkan, nanti akan membujuk Ningrum lagi untuk keluar rumah bersamanya.


"Bunda....Ningrum lapar....maukah Bunda menemani Ningrum makan?" tanya Ningrum.


Raden Ayu Ditha sedikit heran melihat Ningrum yang terlihat lebih manja, tapi tentu saja hal ini malah membuat hati Raden Ayu Ditha menjadi senang, ia jadi tidak mengkhawatirkan Ningrum lagi.


"Tentu saja sayang...ayo bunda temani kamu makan," jawab Raden Ayu Ditha.


Ningrum menggandeng tangan Raden Ayu Ditha dengan manja, mereka menuju meja makan.


Sementara Anum merasa senang melihat Ningrum yang mulai terlihat ceria.


Anum tidak harus menjaga Ningrum seperti menjaga seorang anak kecil yang selalu harus diawasi bergantian dengan yang lain.


********


Malam harinya, Ningrum masih bermanja- manja dengan bundanya.


Ia tidak henti- hentinya memeluk Raden Ayu Ditha.


Gusti Arya dan Raden Bondo yang melihat tingkah Ningrum hanya menggeleng- gelengkan kepalanya.


"Ningrum mau minta maaf pada Bunda, Ayanda, Kanda, dan Mbakyu karena beberapa waktu ini telah membuat khawatir dan merepotkan kalian semua," ucap Ningrum sambil menyandarkan kepalanya di bahu Raden Ayu Ditha.


"Yang penting sekarang kamu sudah bisa melewati itu semua, jadikan ini pelajaran agar kamu selalu kuat," nasehat Gusti Arya.


Ningrum hanya menganggukkan kepalanya, ia bersyukur memiliki keluarga yang begitu memperhatikannya.

__ADS_1


"Ningrum sudah ngantuk Bunda, Ningrum ingin tidur...tapi malam ini tidak usah ditemani," kata Ningrum menatap Raden Ayu Ditha.


" Bunda tidak ingin kamu sendiri Ningrum...," jawab Raden Ayu Ditha masih terlihat khawatir.


" Hanya untuk malam ini bunda, besok- besok terserah apa kata bunda," Ningrum merajuk.


"Biarkan saja Dinda, Ningrum sudah tidak apa-apa," kata Gusti Arya.


"Baiklah hanya untuk malam ini saja," Raden Ayu Ditha akhirnya mengalah.


" Ningrum pamit dulu ingin tidur," Ningrum lalu menuju ke kamarnya, ia memang sudah kelihatan mengantuk.


Ningrum membaringkan tubuhnya di tempat tidur, rasa kantuk sudah tidak bisa ia tahan lagi.


Ningrum tertidur sangat lelap.


Di tengah malam....Ningrum tidur dengan gelisah.


Ia merasa kepanasan, keringat sudah membanjiri tubuhnya.


Ningrum terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa sangat sakit.


"Ningrum...akhiri hidupmu," terdengar bisikan di telinganya.


"Raden Dito sedang menunggumu di suatu tempat, pergilah bersamanya," suara itu semakin jelas terdengar di telinga Ningrum.


Ningrum menutup telinganya, ia menggeleng- gelengkan kepalanya yang dirasakan seperti ditusuk- tusuk.


"Ningrum, apa kamu tidak mencintai Raden Dito lagi?"


"Pergilah....," suara itu semakin jelas di telinganya.


Ningrum kembali teringat masa- masa indahnya saat bersama Raden Dito.


Ia begitu merasa sangat merindukan Raden Dito.


"Mas Dito...," panggilnya lirih.


" Hanya sekecil itukah rasa cintamu pada Raden Dito?" bisik suara itu lagi.


" Mas Dito, aku sangat mencintaimu...," desah Ningrum.


"Kalau begitu susul dia Ningrum, Raden Dito sudah menunggumu," suara itu terus berbisik di telinga Ningrum.


Ningrum beringsut dari tempat tidurnya.


"Ningrum cepat lakukan...," perintah suara itu di telinganya.


"Mas Dito....tunggu aku...," Ningrum berbisik.


Ningrum melangkah menuju lemarinya, ia mencari selendang panjang yang ada di dalam lemari pakaiannya.


Ningrum merasa seperti ada yang membimbingnya untuk mengikat selendang itu di kayu atas jendela kamarnya.


Ningrum menaiki bangku yang ada di situ.


Lalu selendang yang sudah diikat di kayu atas jendelanya itu ia pasangkan di lehernya.


Ningrum melakukannya mengikuti perintah bisikan di telinganya.


"Tendang bangkunya Ningrum," perintah suara bisikan itu.

__ADS_1


Ningrum menendang pelan bangku yang ia naiki, mata Ningrum mendelik ke atas.


Ia merasa cekikan kuat di lehernya dari kain selendang yang ia ikatkan.


Kaki Ningrum menggelepar menahan rasa sesak karena ia tidak bisa bernapas.


Kemudian gelepar di kakinya berhenti, tubuhnya tergantung dengan mata yang mendelik ke atas dan lidah yang terjulur keluar.


Siang harinya, Raden Ayu Ditha merasa cemas karena sudah siang begini Ningrum belum juga keluar dari kamarnya.


Tok...tok...tok


Raden Ayu Ditha mengetuk pintu kamar puterinya.


"Ningrum....," panggil Raden Ayu Ditha.


Sunyi...tidak ada sahutan dari kamar Ningrum.


"Bunda masuk ya Nak...," teriak Raden Ayu Ditha.


Masih tidak ada sahutan, Raden Ayu Ditha mendorong pintu kamar puterinya.


Terkunci dari dalam.


Raden Ayu Ditha tidak bisa masuk.


Tok....tok..tok..


Ia kembali mengetuk pintu.


"Ningrum....bangun Nak...sudah siang...," Raden Ayu Ditha semakin cemas karena tetap tidak ada jawaban.


"Raden Bondo....Kanda....kemari sebentar," Raden Ayu Ditha berteriak panik.


Raden Bondo dan Gusti Arya yang mendengar panggilan Raden Ayu Ditha dengan tergopoh- gopoh menghampiri Raden Ayu Ditha.


"Ada apa Bunda?" Raden Bondo yang bertanya.


"Dobrak pintu kamar Ningrum...," suruh Raden Ayu Ditha.


" Lho kenapa Dinda?" tanya Gusti Arya heran.


" Saya sudah berteriak memanggil Ningrum, tapi dari tadi tidak ada suara Ningrum kanda...Dinda takut terjadi apa- apa pada Ningrum," jawab Raden Ayu Ditha cemas.


Tok...tok..tok...


Gusti Arya mengetuk pintu Ningrum, tapi tetap tidak ada jawaban.


"Bondo dobrak saja Ayanda...," Raden Bondo lalu mendobrak paksa pintu kamar Ningrum.


Tentu saja dengan usaha berkali- kali karena pintu kamar Ningrum terbuat dari pintu jati yang sangat kuat, tidak mudah untuk mendobrak pintu itu.


Gusti Arya membantu puteranya yang terlihat kesulitan mendobrak pintu kamar Ningrum.


Dengan tenaga mereka berdua, akhirnya pintu kamar Ningrum bisa terbuka juga.


Mata mereka terbelalak melihat pemandangan yang terpampang di depan mata mereka.


Raden Ayu Ditha langsung berteriak histeris, sehingga membuat Anum dan semua pelayan di rumah mereka yang tadinya sibuk dengan tugas masing- masing, datang untuk melihat.


Semua mata terbelalak kaget , Anum sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Astaga....


__ADS_2