Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Arum jatuh cinta


__ADS_3

Raden Prana berjalan- jalan mencari udara segar, saat melihat gadis berkerudung hitam yang beberapa malam ini menghiasi mimpinya.


"Arum...." panggilnya.


Arum menoleh kepada orang yang memanggil namanya.


"Raden Prana," panggilnya lirih.


Arum hendak menghindar, ia mempercepat langkah kakinya.


Tangan Raden Prana menarik lengannya.


"Tunggu dulu Arum...mengapa kamu menghindari ku?" tanya Raden Prana.


"Aku....sedang terburu- buru," jawab Arum mencari alasan.


"Apa yang membuat kamu terburu- buru?" Raden Prana bertanya dengan senyum dikulum.


Arum jadi salah tingkah, jantungnya berdebar kencang.


"Ada apa dengan jantungku? dulu saat aku masih bersama Raden Bondo juga seperti ini," Anum berucap dalam hati.


Arum sibuk menenangkan debar jantungnya, ia tidak berani menatap mata Raden Prana.


" Bagaimana kalau kita ngobrol sambil makan di kedai nasi?" tawar Raden Prana.


"Maaf aku....," Arum belum menyelesaikan kalimatnya.


"Tolong jangan menolak...aku tidak berniat jahat...," bujuk Raden Prana.


Arum mulutnya ingin menolak, tapi hatinya berkata lain.


"Ayolah...aku mohon...." bujuk Raden Prana lembut.


Arum menganggukkan kepalanya, ia tidak bisa menolak lagi.


Raden Prana menggandeng tangan Arum, Arum diam saja. Entah mengapa, hatinya malah senang diperlakukan seperti itu.


Raden Prana menunjuk sebuah kedai nasi yang tidak terlalu ramai.


"Ayo...kita masuk," ajaknya.


Mereka masuk ke dalam, Raden Prana mengajak Arum duduk di meja yang paling sudut....Raden Prana menarik bangku buat Arum.


"Duduklah Arum," katanya mempersilahkan.


Arum merasa tersanjung, ia lalu duduk.


" Kamu ingin makan apa?" tanya Raden Prana.


"Terserah saja," jawab Arum.


"Nasi rawon di sini enak, mau cobain?" tanya Raden Prana lembut.


"Boleh," jawab Arum singkat.


Raden Prana memesan makanan mereka...nasi rawon dengan daging sapi.


Raden Prana lalu duduk berhadapan dengan Arum.


"Aku senang bisa berkenalan denganmu Arum...entah mengapa sejak pertemuan yang pertama kali denganmu...aku selalu ingat padamu," Raden Prana memandang wajah Arum yang menunduk.


"Arum...aku sepertinya mulai menyukaimu," Raden Prana berterus terang.


Ia tidak bisa menyimpan perasaannya karena ia takut nantinya tidak bisa bertemu lagi dengan Arum.

__ADS_1


Mata Arum membulat, ia tidak menyangka secepat ini Raden Prana menyatakan perasaannya....padahal mereka baru saja bertemu dan berkenalan.


"Secepat ini?" tanya Arum.


"Perasaan tidak bisa dikendalikan Arum, bila suka...ia akan langsung suka tanpa menunggu waktu yang lama," jawab Raden Prana.


" Tapi...."


" Aku tau mungkin kamu merasa takut atau tidak percaya...tapi sungguh aku tulus..sejak pertemuan kita yang pertama aku tidak bisa melupakan kamu hingga sekarang," ujar Raden Prana.


Pelayan datang membawakan pesanan mereka dan juga dua gelas air putih lalu meletakkannya di atas meja mereka.


"Ayo kita makan dulu Arum," ajak Raden Prana.


Mereka menikmati makanan yang sudah terhidang.


Arum begitu menikmati makanannya, sudah lama ia tidak makan makanan seenak ini.


Selama ini ia kekurangan makan, dan ia hanya makan makanan sesaji yang dibawa orang- orang yang melakukan pesugihan di depan pohon besar kediaman nenek Kanji.


Arum sejak meninggalkan rumah, ia banyak mengalami penderitaan.


Hal itu juga yang menjadi pemicu dendam yang ada di hatinya, yang sampai saat ini masih membara.


Arum menghabiskan makanannya lalu meneguk segelas air putih hingga tandas.


"Terima kasih Raden Prana untuk makanannya," Ucap Arum dengan mata berbinar.


"Sama- sama Arum," jawab Raden Prana tersenyum.


Raden Prana juga menyelesaikan makannya, ia kemudian meneguk air putih yang sudah disediakan.


Raden Prana menatap lama wajah Arum, Arum yang ditatap wajahnya merona karena malu.


Raden Prana tersenyum...


"Apa ini tidak terlalu cepat Raden? kamu belum mengenalku...aku banyak kekurangan dan juga banyak masalah," jawab Arum.


"Kalau kamu tidak keberatan..semakin cepat semakin bagus," ujar Raden Prana.


"Aku sungguh menyukaimu Arum..., aku tidak peduli dengan kekurangan mu, kalaupun kamu banyak masalah ceritakan padaku...aku akan membantumu," sambung Raden Prana lagi.


..."Aku sebenarnya juga menyukaimu Raden Prana...tapi aku takut kamu akan kecewa padaku jika saja kamu tau begitu banyak hal yang tidak bisa kuceritakan padamu," jawab Arum....


..." Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan hal yang tidak bisa kamu ceritakan Arum," kata Raden Prana lembut....


...Hati Arum bergetar, ia sangat bahagia mendengar kata- kata yang diucapkan oleh Raden Prana....


"Apa kamu akan menyesal jika nanti kamu tau segala kekuranganku Raden Prana?" tanya Arum untuk memastikan.


"Aku tidak akan menyesal Arum, maukah kamu jadi kekasihku mulai sekarang?" tanya Raden Prana mengulang pertanyaannya.


"Aku mau," angguk Arum.


Raden Prana bersorak girang dalam hatinya, ia menggenggam tangan Arum dengan bahagia.


" Terima kasih sayang...," Raden Prana meremas tangan Arum dengan mesra.


"Bolehkah aku tau di mana tempat tinggalmu Arum? aku ingin berkenalan dengan keluargamu," tanya Raden Prana.


Arum menghela napas panjang, Arum tidak berani menceritakan semuanya pada Raden Prana.


Arum menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak punya tempat tinggal tetap Raden...aku sudah meninggalkan rumah orang tua ku karena aku punya masalah dengan kakak dan romo ku," jawab Arum dengan sedih.

__ADS_1


" Benarkah? kalau begitu aku akan memberi kamu tempat tinggal Arum."


"Aku tidak ingin merepotkan mu Raden Prana," jawab Arum tidak enak.


"Mulai sekarang panggil aku dengan Kangmas Arum...," pinta Raden Prana.


"Baik Kangmas...," jawab Arum malu- malu.


Raden Prana jadi gemas melihat wajah Arum yang merona karena malu.


"Aku anak tunggal Arum...nama Romoku Gusti Wira dan bundaku Raden Ayu Sekar...tapi mereka sudah meninggal Arum."


"Romo ku meninggal karena sakit dua tahun yang lalu, sedangkan bundaku menyusul setengah tahun kemudian... karena ia terlalu sedih ditinggal pergi oleh romo...bundaku jadi sering sakit dan kemudian ikut pergi," cerita Raden Prana sedih.


"Aku turut prihatin...," jawab Arum.


"Sejak Romo dan bunda meninggal...aku jadi kesepian Arum," lanjut Raden Prana lagi.


"Aku ingin kita saling mengenal dan aku ingin cepat menikah," ujarnya lagi.


"Kangmas tidak takut denganku? bagaimana jika aku adalah seorang perempuan jahat?" tanya Arum, ia menyadari ia banyak berbuat kejahatan dengan menumbalkan orang- orang tidak bersalah karena balas dendamnya.


"Aku akan menerima segala kelebihan dan kekuranganmu Arum....aku tidak peduli dengan kehidupanmu sebelumnya....aku hanya ingin kita saling mencintai," jawab Raden Prana.


Arum menjadi terharu...sungguh ia sudah jatuh cinta pada sosok Raden Prana.


"Sekarang ikutlah denganku, aku punya rumah yang tidak ditempati...sementara tinggallah di sana sebelum kita menikah, aku akan segera menikahimu dan akan membawamu untuk tinggal bersamaku," ujar Raden Prana.


Raden Prana membayar makanan mereka, lalu menggandeng tangan Arum menuju kereta kudanya.


Raden Prana mengantar Arum ke sebuah rumah yang tidak begitu besar, tapi sangat nyaman.


Mereka disambut oleh penjaga rumah, Nyi Hanum..


"Nyi mulai sekarang tolong layani segala keperluan Arum, nanti bawakan juga pakaian bersih untuknya...ia adalah calon isteriku," perintah Raden Prana.


"Ini untuk membeli pakaian Arum dan keperluan lainnya," Raden Prana mengeluarkan beberapa keping perak dari kantongnya.


"Baik Raden, kalau begitu saya pergi belanja dulu," Nyi Hanum memberi hormat lalu pergi.


"Ayo Arum...ku tunjukkan kamar mu," Raden Prana menggandeng tangan Arum.


"Ini kamar tidurmu," katanya sambil membuka pintu kamar.


Arum melihat ada sebuah tempat tidur dan sebuah lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati.


Raden Prana menarik Arum masuk ke dalam kamar.


Ia memeluk Arum lalu men***m bibir Arum.


Arum terperangah, ia ingin menolak tapi hatinya berkata lain.


Arum memejamkan matanya, ia membalas dan menikmati semua kemesraan itu.


Napas Raden Prana menderu kencang...


Arum kemudian tersadar lalu mendorong perlahan tubuh Raden Prana.


Wajah Arum tersipu dan sudah merah merona.


"Maaf Arum...aku begitu terhanyut," Raden Prana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tahan dulu Kangmas..kita belum menikah," ujar Ningrum masih tersipu.


"Aku akan mengingatnya Arum, tapi aku akan secepatnya menikahimu," katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Ayo kita keluar sebelum aku tidak sadar dan menerkammu," tawa Raden Prana menarik tangan Arum keluar dari kamar.


__ADS_2