Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Arum melahirkan


__ADS_3

Raden Prana heran sudah lima hari Dimas tidak datang bekerja di peternakan miliknya.


Raden Prana dengan naik kuda datang ke rumah yang disewa Dimas, rumah itu tampak sepi dan pintu depannya terbuka lebar.


"Permisi.....Dimas....,"panggil Raden Prana.


Sepi...tidak ada jawaban dari dalam rumah...


"Dimas....saya masuk ya...," teriak Raden Prana.


Tidak terlihat ada tanda- tanda keberadaan Dimas ataupun Anum, pintu kamar mereka pun tampak terbuka lebar.


"Permisi....Dimas....Anum....," Raden Prana masih memanggil.


Tapi tidak ada jawaban, Raden Prana masuk ke dapur...tapi tetap saja tidak ada siapa- siapa.


"Kemana mereka?" Raden Prana berbicara sendiri.


Raden Prana lalu keluar dari sana dan menutup daun pintunya.


"Apa pergi ke rumah Ki Sowa?" gumamnya.


Raden Prana naik ke punggung kudanya, lalu menuju rumah Ki Sowa yang tidak jauh dari sana.


Setelah sampai di depan rumah Ki Sowa, Raden Prana turun dari kudanya.


"Permisi...Ki Sowa....," panggil Raden Prana.


Nyi Sowa yang keluar dari rumah dengan tergopoh- gopoh.


"Raden Prana...Ki Sowa sudah pergi jualan pisang Raden...," kata Nyi Sowa setelah melihat Raden Prana yang datang.


"Ada keperluan apa Raden mencari Ki Sowa?" tanya Nyi Sowa.


"Tidak apa- apa Nyi, cuma saya ingin bertanya apa Dimas dan isterinya kemari? sudah lima hari Dimas tidak datang untuk bekerja."


"Tadi saya baru dari rumahnya, cuma di sana tidak ada siapa- siapa, saya mencari mereka kemari," Raden Prana menjelaskan.


"Mereka tidak datang kemari Raden...," jawab Nyi Sowa.


"Lalu mereka pergi kemana ya?" tanya Raden Prana heran.


"Sudah lima hari tanpa kabar Raden?" Nyi Sowa balik bertanya.


"Iya Nyi, mereka kemana ya?" Raden Prana heran.


"Ayo kita lihat lagi di rumahnya Raden...," ajak Nyi Sowa.


Nyi Sowa ikut merasa heran, pergi kemana mereka kira- kira.


"Mari Nyi...," Jawab Raden Prana.


Nyi Sowa lalu berjalan menuju rumah Dimas, Raden Sowa mengikuti dari belakang dengan kudanya.


Setelah sampai, Nyi Sowa mengetuk pintu.


"Buka saja Nyi...tidak dikunci," Raden Prana memberitahu.

__ADS_1


Nyi Sowa membuka pintu yang tidak terkunci, mereka kemudian masuk.


Nyi Sowa melongok ke arah kamar Dimas yang terbuka.


Tampak tempat tidur dalam keadaan berantakan seperti habis ditiduri.


Nyi Sowa juga membuka lemari kayu yang ada di kamar, masih tampak pakaian Dimas dan Anum yang tidak banyak di dalam lemari.


"Pakaian mereka masih ada Raden...," kata Nyi Sowa.


Raden Prana merasa heran, kemana pasangan suami isteri itu.


Kalau mereka berdua pergi, seharusnya mereka juga membawa pakaian mereka.


"Pakaian mereka juga masih baru semua Raden, mungkin baru mereka beli sesudah mereka tinggal di sini," ujar Nyi Sowa.


"Apa terjadi sesuatu pada mereka Nyi?" tanya Raden Prana.


"Entahlah Raden, mereka belum terlalu mengenal warga di sini...jadi bingung juga kita harus bertanya pada siapa," jawab Nyi Sowa.


"Saya minta tolong Nyi, besok Nyi Sowa datang lagi ke sini untuk memeriksa apa mereka sudah kembali," pinta Raden Prana.


"Kasihan mereka tidak punya siapa- siapa di sini," tambah Raden Prana.


"Baik Raden...," jawab Nyi Sowa.


"Ayo Nyi kita kembali, terima kasih untuk bantuannya," ucap Raden Prana.


Nyi Sowa tersenyum, Raden Prana memang rendah hati.


Raden Prana segera pulang ke rumahnya sendiri untuk mengabari Arum.


Raden Prana berpikir, walaupun isterinya tidak akur dengan kakaknya itu, pasti Arum masih menyayangi kakaknya itu.


Setelah sampai di rumah, Raden Prana menemui Arum.


"Kenapa Kangmas terlihat cemas?" tanya Arum.


"Dimas dan Anum menghilang dari rumahnya," Raden Prana memberitahu.


Arum terdiam, akhirnya Raden Prana mengetahui juga menghilangnya Anum dan Dimas.


Raden Prana yang melihat Arum terdiam, mengira Arum mencemaskan kakaknya.


"Jangan cemas Arum, mungkin mereka pergi karena ada urusan mendadak," hibur Raden Prana menepuk lembut punggung Arum.


"Kita akan menunggu kabar mereka Arum, mungkin saja mereka akan segera kembali," tambah Raden Prana.


"Anum dan Dimas tidak akan kembali lagi Kangmas, " tapi Arum hanya menjawab di dalam hati.


Andai Raden Prana tau, Arumlah yang sudah menumbalkan mereka berdua...


Raden Prana tidak akan menyangka, isterinya yang terlihat lemah lembut telah melakukan perjanjian dengan setan yang sudah banyak menumbalkan nyawa orang lain.


Andai saja kalau dia tau, entah apa yang akan dilakukannya.


**********

__ADS_1


Sudah beberapa bulan berlalu sejak menghilangnya Dimas dan Anum, Raden Prana mengambil kesimpulan mungkin Anum dan Dimas memang sudah meninggalkan tempat itu dan pergi ke tempat lain karena ada sesuatu hal.


Perut Arum pun sudah semakin membesar, tidak lama lagi Arum akan bersiap untuk melahirkan.


Nyi Sowa ditunjuk Raden Prana untuk memeriksa dan mengontrol perkembangan kandungan Arum.


Raden Prana begitu melindungi Arum, ia semakin memanjakan isterinya itu yang bisa membuat orang lain merasa iri.


Mendekati masa- masa menjelang Arum melahirkan, Raden Prana tidak pernah meninggalkan Arum sedetikpun.


Ia menyerahkan semua pekerjaannya pada orang kepercayaannya untuk mengawasi para pekerjanya.


Arum merasa sangat beruntung dengan bersuamikan Raden Prana yang sangat menyayanginya dan memperlakukannya dengan lembut.


*******


"Oek....oek..." terdengar tangis bayi yang baru saja dilahirkan.


"Selamat Gusti ayu....anaknya perempuan....cantik sekali," suara Nyi Sowa terdengar dari dalam kamar Arum.


Raden Prana yang dari tadi gelisah menunggu di luar kamar akhirnya bisa menarik napas lega.


Para pelayan hilir mudik membawa air hangat dan keperluan lainnya yang diminta Nyi Sowa.


"Masuklah Raden...Gusti ayu Anum melahirkan seorang Puteri yang sangat cantik," Nyi Sowa keluar untuk memanggil Raden Prana.


Raden Prana langsung menerobos masuk, dan melihat bayi mungil yang sudah selesai dimandikan.


Bayi itu sangat cantik, Raden Prana sampai terpana melihat bayi mungil itu.


Arum masih terbaring lemah, ia tersenyum begitu melihat Raden Prana masuk melihatnya.


Raden Prana menghampiri Arum, dan mencium keningnya.


"Terima kasih sayang....kamu sudah memberiku seorang Puteri cantik....ia secantik kamu," Raden Prana tersenyum hangat.


Arum meneteskan air mata bahagia dari sudut matanya.


Arum memandang bayi cantik yang berada di sampingnya, ia mengusap lembut pipi merah bayi kecilnya.


Raden Prana mengusap air mata yang menetes dari sudut mata Arum.


"Jangan menangis sayang," ucap Raden Prana.


"Aku menangis karena sangat bahagia Kangmas...," senyum Arum.


"Mau kamu beri nama siapa Puteri kita Arum?" tanya Raden Prana.


"Asmita Kangmas yang artinya kemenangan," jawab Arum.


"Asmita...nama yang indah," Raden Prana membelai rambut Arum.


"Kamu pandai memilih nama," puji Raden Prana.


"Ia akan menjadi kebanggaan dan akan menjadi simbol kemenangan," gumam Arum.


Ia menatap Asmita dengan penuh kasih sayang...

__ADS_1


__ADS_2