Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Persembahan Di Malam Bulan Purnama


__ADS_3

Seorang Noni Belanda bernama Alleta berjalan sempoyongan. Ia mengoceh sendiri di jalanan yang terlihat sedikit gelap.


Tidak ada lampu jalan, hanya diterangi oleh lampu obor di kiri kanan jalan.


Aletta memandang langit, nampak sedikit cahaya bulan yang tertutup oleh awan.


Alleta tertawa....


"Dasar laki- laki tidak tau diri...masih kurang cantik apa aku...."


Tangan Alleta menunjuk- nunjuk jalanan. Kadang ia terlihat tertawa, kadang ia menangis tersedu.


Perempuan keturunan Belanda itu terlihat sedang mabuk, ia baru saja selesai menenggak beberapa botol arak di salah satu kedai arak.


"Rasakan....kau akan ku beri pelajaran....ha...ha..."


" Lihat saja....rasakan pembalasanku...."


" Tapi aku sangat mencintaimu....hiks ...hiks...kembalilah dalam pelukanku...," ia tersedu.


"Ik hou van je, kom bij me terug schat....." ( aku mencintaimu, kembalilah padaku sayang...) Alleta menyanyikan lagu berbahasa Belanda.


" Aku akan memaafkan semuanya....kembalilah...aku rindu...hiks...hiks..."


Alleta terus berjalan, ia tidak sadar ke mana arah pulang.


Di ujung jalan yang gelap, Aletta mengedip- ngedipkan matanya.


Alleta melihat seorang perempuan cantik, memakai pakaian seperti Puteri bangsawan pada umumnya.


Alleta yang sedang mabuk melambai- lambaikan tangannya.


" Hai...cantik...kamu pasti seorang bidadari kan? kamu mau mengantarku pulang? iya kan...ha....ha..." Alleta menyipitkan matanya.


Kepala Alleta terasa pusing, terlalu banyak arak yang sudah ia tenggak.


Perempuan cantik itu menyeringai, ia mendekati Alleta yang tertawa.


Dengan sempoyongan Alleta juga mendekati perempuan cantik yang dilihatnya.


" Ayo..." perempuan itu menarik tangan Alleta.


Dalam kondisi normal, Alleta pasti tidak akan mau ditarik perempuan yang tidak dikenalnya.


Dalam keadaan mabuk, segala kewaspadaannya menjadi hilang.


"Nama kamu siapa...?" tanya Alleta.


" Panggil aku Arum..."


"Aku Alleta.....aku sedang patah hati...kekasihku kawin lari sama pacar barunya...hiks...hiks..." Alleta menangis.


Arum tersentak, ia menghentikan langkahnya menarik tangan Alleta.


Arum menatap iba gadis keturunan Belanda di depannya.


"Dia tega meninggalkan aku...padahal kurang baik apa aku padanya...hiks...hiks."


" Ternyata kita bernasib sama...patah hati karena dikhianati..."


Arum terdiam....ia merenung...menjilati bibirnya yang tiba- tiba terasa kering.

__ADS_1


" Aku harus bagaimana? tak tega hatiku sebenarnya," Arum berpikir.


" Kamu harus membalaskan dendam mu...jangan pedulikan Noni Belanda di depanmu..." bisik iblis jahat di hatinya.


" Kasihan Arum...dia bernasib sama sepertimu..lepaskan dia...." bisik suara yang lainnya.


" Kamu tidak mengenalnya...teruskan tujuanmu semula Arum...."


" Jangan Arum....kasihan dia... dia mirip denganmu..."


" Apa kau lupa Arum apa akibat yang akan kau tanggung jika melanggar?"


Sisi jahat di hatinya akhirnya menang, Arum kembali menarik tangan Alleta.


Alleta yang kebingungan menurut, ia mengikuti langkah Arum menuju hutan larangan....


Sesampainya di depan hutan larangan, Arum menarik napas panjang....pikirannya bercabang antara kasihan dan takut.


Masih ada sedikit rasa iba melihat perempuan keturunan Belanda di depannya.


Tapi di sisi lain Arum ingin membalaskan sakit hatinya dan Arum juga merasa takut jika ia melanggar perjanjian yang terlanjur ia buat dengan nenek Kanji.


" Tidak, hatiku tidak boleh lemah...aku harus menuntaskan tujuanku semula...," Arum bergumam dalam hati.


Arum mengingat kembali segala sakit hatinya.


Perbuatan Anum kakaknya dan Raden Bondo yang mengkhianati dirinya.


Arum menggeretakkan giginya, teringat perbuatan Anum dan Raden Bondo membuat kemarahannya muncul kembali.


Arum menyeret tangan Alleta dengan kasar.


Alleta mengaduh, dengan terseok- seok ia mengikuti Arum masuk ke dalam hutan.


" Nenek Kanji aku datang tepat di malam bulan purnama....bersama persembahan ku..." Arum menatap ke arah pohon besar.


Pohon besar itu bergetar hebat....terdengar seperti kepakan ribuan burung.


Bulu kuduk Arum meremang, bagaimanapun ia belum pernah melihat hal seaneh itu di hutan gelap yang hanya diterangi remang- remang cahaya bulan.


Arum mendudukkan tubuh Alleta yang matanya nampak terpejam.


Alleta menahan pening di kepalanya. Kesadarannya masih belum pulih, efek dari arak yang ditenggaknya.


Tampak sekelebat sosok berkemben putih muncul di situ...dengan rambut putih panjang terurai menjuntai hingga ke tanah.


"Nenek Kanji.. ," ucap Arum.


Wajah nenek Kanji terlihat sangat menyeramkan....matanya merah menyala.


Nenek Kanji menyeringai, di balik mulutnya tersembul gigi taring putih mengkilat yang sangat runcing.


Kuku - kuku tangannya juga panjang dan lancip.


Tidak nampak lagi sosok nenek lembut yang pertama kali dilihat Arum saat mereka baru bertemu.


" Hi...hi...bagus cah ayu...kau menepati janjimu..."


Nenek Kanji mendekati Alleta...air liurnya tampak menetes dari bibirnya.


Arum memandangnya dengan perasaan jijik...

__ADS_1


Nenek Kanji menyingkap rambut panjang Alleta dari leher jenjangnya.


Ia membelainya....mendekatkan mulutnya ke leher Alleta...lalu.....


"Aaaaaaaa................." Alleta meraung melengking...mendirikan bulu roma bagi siapapun yang mendengar lengkingannya.


Arum berdiri terpaku melihat pemandangan menyeramkan di depannya.


Dengan rakus nenek Kanji menghisap darah dari leher Alleta.


Tidak dipedulikannya Alleta yang meraung kesakitan....


Mata Alleta membeliak...nenek Kanji terus menghisap..sesekali terdengar suara seperti menyeruput dari mulutnya.


Alleta terkulai dengan kulit berkeriput....lalu tubuhnya perlahan menghilang menjadi asap hitam....


Nenek Kanji mengusap sisa darah yang


menetes di bibirnya. Ia menjilat- jilat bibirnya dengan puas.


" Manis.....mmm...nikmat....," nenek Kanji masih mengecap.


Arum melihatnya dengan tubuh gemetar....ada sedikit perasaan menyesal di hatinya.


Gadis itu mati mengenaskan....tanpa jasad yang ditinggalkan. Sungguh menyeramkan.


Arum menggelengkan kepalanya.


" Sudah terlanjur," ucapnya dalam hati.


" Kau tidak perlu menyesal cah ayu....ini baru permulaan....hi...hi...kau akan mendapatkan apa yang kau mau."


Dengan bibir gemetar Arum bertanya.


" Kemanakah jasad gadis itu pergi nek?"


" Jasadnya sudah tidak ada cah ayu....yang ada cuma sukmanya..sukmanya sudah menyatu dengan hutan ini dan menjadi pengikut sementara ku."


" Pengikut sementara?" Arum bertanya dengan heran.


" Sementara ini ia menjadi pengikutku, dan suatu hari nanti ia boleh berpindah tuan."


" Kemarilah cah ayu..." nenek Kanji memanggil Arum.


Jantung Arum berdegup kencang, bagaimanapun ada rasa takut melihat penampakan nenek Kanji yang menyeramkan.


" Jangan takut cah ayu...aku tidak akan menyakitimu selama kamu tidak melanggar perjanjian kita..."


Arum dengan ragu kemudian mendekat...


Nenek Kanji menjilati ubun- ubun Arum dengan air liurnya yang berbau amis bekas darah yang diminumnya.


Arum menahan napasnya supaya ia tidak muntah.


Nenek Kanji menyelesaikan ritualnya.


" Selesai...mulai hari ini auramu akan berubah...semua orang akan menurut padamu saat akan kamu ajak ke sini di malam bulan purnama..."


" Kamu akan mudah mencari korbanmu tanpa harus dipaksa," mata merah nenek Kanji menatap Arum.


" Tapi ingat satu hal...jangan sampai kau lupa waktu menyerahkan persembahan...jika kamu lupa akan ku tanggung sendiri akibatnya," mata nenek Kanji menatap tajam Arum penuh ancaman.

__ADS_1


" Ba...ik Nek...," Jawab Arum terbata.


__ADS_2