
Berita yang menggemparkan segera menjadi buah bibir di daerah itu.
Berita hilangnya seorang Noni Belanda yang bernama Aleid di depan kusir kereta kudanya sendiri ramai dibicarakan.
Petugas keamanan setempat sudah membantu mencari di daerah sekitar hilangnya gadis keturunan Belanda itu, namun gadis yang dibawa pergi oleh seorang perempuan berkerudung hitam itu seakan lenyap ditelan bumi.
Yang menghebohkan adalah cerita dari kusir Noni Belanda itu, ia seakan seperti patung tidak bisa bergerak setelah bahunya ditepuk oleh perempuan misterius itu.
Berita itu berkembang menjadi rumor yang menakutkan, ada yang menambahkan bumbu- bumbu dalam cerita mereka, sehingga otomatis berita itu dalam sekejap menjadi berita yang paling menggemparkan.
Ada yang menebak- nebak, Noni Belanda itu dibawa pergi oleh mahkluk penunggu tempat itu ada pula yang menyatakan Noni itu sengaja menghilang untuk menghindari keluarganya.
Berita yang muncul menjadi simpang- siur.
Anum sendiri mendengar cerita itu langsung dari Raden Bondo, suaminya.
Tapi karena Raden Bondo tidak menyebut nama dari Noni Belanda yang hilang itu, jadi Anum tidak tau bahwa Noni Belanda itu merupakan salah satu temannya yang baru saja berkumpul di rumah kediaman Gusti Arya kemarin.
Anum baru tau beritanya setelah tadi pagi mendengar berita dari seorang pelayannya yang baru pulang dari pasar membeli keperluan dapur mereka.
Pelayan mereka itu menyebut nama Noni Belanda yang hilang itu bernama Aleid.
Berarti menurut perkiraan Anum, kejadian hilangnya Aleid adalah saat menuju perjalanan pulang ke rumahnya setelah pulang dari rumah kediaman Gusti Arya.
Anum merasa ada keganjilan, ia mengenal baik sosok Aleid.
Aleid bukanlah tipe orang yang mau diajak pergi sembarangan oleh orang lain, apalagi jika perempuan yang mengajaknya pergi itu orang yang tidak Aleid kenal.
Apalagi itu lagi di posisi dimana roda kereta mereka ada kerusakan dan kusir kereta kudanya sedang memperbaikinya.
Terdengar juga desas- desus di daerah mereka, ada orang yang sedang mempelajari ilmu hitam yang menumbalkan nyawa orang lain untuk mendapatkan suatu kekuatan.
Namun itu baru dugaan dari beberapa orang saja yang kemudian berkembang menjadi beberapa versi.
Anum sendiri tidak terlalu mau ambil pusing, walaupun gadis yang hilang itu merupakan salah satu temannya.
Karena Anum sendiri juga punya masalah sendiri.
Suaminya Raden Bondo tidak pernah bersikap manis padanya.
Walaupun Raden Bondo sudah mendapatkan haknya sebagai seorang suami, setelah melakukan tugasnya biasanya Raden Bondo langsung tidur tanpa mengacuhkan Anum.
Tentu saja Anum kecewa, ia merasa hanya sebagai pemuas n****u suaminya saja, tanpa mendapatkan rasa cinta.
Terkadang Anum membanding- bandingkan sikap Raden Bondo dengan Dimas, mantan kekasihnya.
Dimas selalu memperlakukan Anum dengan sikap manisnya.
Ia selalu bersikap lemah lembut dan perhatian pada Anum.
__ADS_1
Bagi Dimas, Anum adalah dunianya dan kebahagiaannya.
Andai saja Dimas terlahir bukan dari golongan rakyat jelata, Anum pasti sudah pasti lebih memilihnya dibandingkan Raden Bondo yang selalu bersikap acuh tak acuh kepadanya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, Anum sudah memilih Raden Bondo yang sudah dikaguminya sejak lama.
Mungkin ini bukan cinta, tapi hanya obsesi karena Anum tidak suka adiknya Arum mendapatkan seorang kekasih yang berasal dari keluarga bangsawan, tidak seperti dirinya yang menjalin hubungan dengan laki- laki dari golongan rakyat jelata.
Anum merasa " kalah " dari Arum, adiknya sehingga tanpa sadar ia sudah menciptakan neraka untuk dirinya sendiri.
Ia dengan sengaja menerima lamaran dari keluarga Gusti Arya untuknya, tanpa sedikitpun menolak dan tanpa berpikir panjang.
Dan Anum tidak berusaha untuk menjelaskan kepada Gusti Arya bahwa Raden Bondo adalah kekasih Arum, adiknya padahal ia sudah mengetahui hal itu.
Anum seperti sengaja untuk menunjukkan pada Arum, bahwa dirinyalah yang lebih pantas untuk menjadi isteri dari Raden Bondo.
Dan Anum tidak akan pernah menduga, kalau dendam Arum bermula dari perbuatannya itu.
Sementara Anum sendiri tidak mengira, pernikahannya dengan Raden Bondo tidak pernah memberikan hal manis sedikitpun kepadanya.
Di saat- saat seperti inilah, Anum seperti merasa sendirian dan sangat merindukan Dimas, mantan kekasihnya.
Anum rasanya ingin pergi menemui Dimas untuk melepaskan kerinduannya, namun ia sekarang sudah menjadi isteri dari Raden Bondo.
Dan Anum juga tidak bisa sembarangan bepergian tanpa meminta izin dari mertuanya.
Kemarin saja, saat teman- temannya datang ke rumah, ibu mertuanya Raden Ayu Ditha terlihat tidak begitu senang.
Raden Ayu Ditha malah meminta padanya untuk lebih memperhatikan Ningrum, adik iparnya.
" Memangnya aku pengasuh, aku sendiri aja perlu untuk diperhatikan," sungutnya dalam hati.
Raden Ayu Ditha terlalu memanjakan puterinya itu, sedikit- sedikit Ningrum.
Anum kesal jika memikirkan hal itu, sikapnya terhadap adiknya sendiripun tidak pernah ia beri perhatian.
Apalagi ini hanya terhadap seorang adik ipar.
Mertuanya ada- ada saja, harusnya ia yang sebagai seorang ibulah yang berkewajiban untuk memperhatikan puterinya.
Bukan tugas dia yang hanya sebagai seorang kakak ipar.
Kehidupan pernikahan yang dijalankan Anum tidaklah seperti yang ada di dalam bayangannya selama ini.
Ia mengira dengan masuk di keluarga Raden Bondo, maka ia akan diperlakukan seperti seorang ratu.
Walaupun Anum tidak perlu mengerjakan tugas apapun, karena semua tugas- tugas rumah sudah dikerjakan oleh para pelayan yang diperkerjakan di rumah itu.
Namun, Anum tidak bisa melakukan hal- hal yang ia suka seperti waktu ia masih tinggal di rumah Romonya.
__ADS_1
Di rumah Romonya, ia bebas mengajak teman- temannya berkumpul dan bersenda gurau kadang sambil menyaksikan pertunjukan kesenian gamelan kesukaannya.
Ia bisa memanggil para pemain kesenian itu kapanpun ia mau.
Romonya tidak pernah melarangnya untuk melakukan apapun.
Sementara di rumah kediaman Gusti Arya, Anum merasa semua tindak- tanduknya diawasi oleh ibu mertuanya.
Apalagi menghadapi sikap Raden Bondo yang dingin terhadapnya, Anum merasa ia tidak diperlakukan sebagai seorang isteri yang sesungguhnya.
"Anum, jangan melamun saja...pergilah temani Ningrum di kamarnya. Hiburlah dia," suara Raden Ayu Ditha mengejutkannya.
Anum tersadar dari lamunan panjangnya, ia sedikit tersentak mendengar ibu mertuanya memanggilnya.
"Memangnya aku penghibur?" omel Anum dalam hati.
Tapi Anum hanya menyimpan dan menelan perkataannya di dalam hati.
Di mulutnya, Anum tetap mengiyakan dan pura- pura tersenyum.
" Baik Bunda," jawabnya.
Anum melangkah menuju kamar Ningrum.
Tok....tok...tok...
"Ningrum...," panggilnya.
Anum masuk setelah menunggu lama tetapi tidak ada jawaban dari Ningrum.
Pintu kamar Ningrum tidak dikunci.
Anum terkesiap melihat kondisi kamar Ningrum yang berantakan, seperti kapal pecah.
Pakaian berhamburan di sepanjang lantai kamar Ningrum.
Sepasang mata memandang Anum dengan tajam dan penuh kebencian.
Mata milik Ningrum, tetapi tatapan tajamnya seperti bukan milik Ningrum.
Rambut Ningrum yang biasanya disanggul rapi, sekarang nampak panjang terurai awut- awutan.
Ningrum tersenyum menyeringai memandang kepada Anum.
Anum bergidik, kakinya seperti terpaku tidak bisa berlari dari situ.
Hanya suaranya yang tadinya sempat tercekat, masih bisa berteriak.
" Kanda Bondo.....Bunda..tolong....Ningrum kenapa?" Anum berteriak sekencang- kencangnya.
__ADS_1
" Kamu.....orang yang paling aku benci...." tunjuk Ningrum sambil mendekat ke arah Anum.
Mata Ningrum mendelik penuh kemarahan.