
Raden Dito berjalan dengan bingung, ia tadi sedang tidur di rumah.
Lalu kenapa ia tiba- tiba sudah berada di tempat yang tidak dikenalnya di saat ia terbangun.
Matanya memandang ke arah langit, tampak sinar rembulan yang bersinar terang.
Di kiri kanannya nampak gelap...hanya diterangi cahaya obor dari rumah penduduk di kejauhan.
Raden Dito terhuyung ketika sebuah tangan menahan tubuhnya.
Raden Dito menengok ke arah orang yang telah menahan tubuhnya, seorang gadis cantik yang selama ini selalu ada di pikirannya.
" Kamu...mengapa kamu ada di sini?" tanya Raden Dito.
" Menjemputmu....," seringai Arum.
"Hari ini malam bulan purnama....kamu orang berikutnya," mata Arum berkilat.
Raden Dito terlihat senang....ia tak menyadari sebentar lagi nyawanya sedang ada dalam bahaya.
" Kamu orang istimewa....," Arum tertawa lirih...
Raden Dito hanya menggangguk, ia tidak sepenuhnya sadar.
Sebagian dari jiwanya sudah ada dalam pengaruh kegelapan.
Arum membimbing tangan Raden Dito.
"Raden Bondo....kau akan terkejut setelah ini," Arum tersenyum sinis.
"Akan ada kejutan untukmu ...satu- persatu akan kutunjukkan untukmu... begitu juga dengan kamu Anum...kakakku tersayang...," seringai kejam tampak terlihat di bibir Arum.
"Raden Dito...apakah kamu siap berkorban untukku?" tanya Arum.
Raden Dito menggangguk.
" Walaupun kau harus kehilangan nyawamu?" tanya Arum lagi.
"Aku akan mengorbankan jiwa dan ragaku hanya untukmu," jawab Raden Dito.
Arum tersenyum...
" Kamu tidak akan menyalahkan aku kan? berjanjilah tidak ada dendam untukku," kata Arum.
"Aku berjanji," jawab Raden Dito.
"Baiklah...terima kasih...sebentar lagi kita sampai," jawab Arum.
Arum membawa Raden Dito menuju hutan terlarang.
"Aku akan meminta Nenek Kanji untuk membuatmu tidak merasakan sakit," Arum menatap Raden Dito yang seperti tunduk padanya.
Raden Dito mengangguk lagi...
" Aku akan membuat kekasihmu Ningrum segera menyusulmu agar kamu tidak sendirian...," sambung Arum.
Setelah mereka sampai di sebuah pohon besar, Arum memanggil nenek Kanji...
"Nenek Kanji, aku datang memenuhi kewajibanku...." panggil Arum.
Pohon itu bergetar hebat lalu keluarlah nenek Kanji.
__ADS_1
"Hi....hi....kau datang cah ayu...kau membawa tumbal yang masih muda dan segar,"
tawa Nenek Kanji.
"Nek, aku ingin membuat dua permintaan sebelum laki- laki ini ditumbalkan," pinta Arum.
"Katakan cah ayu...," jawab nenek Kanji.
" Pertama tolong jangan buat laki- laki ini merasakan sakit."
" Gampang....apa permintaan kedua?" tanya nenek Kanji.
" Aku ingin laki- laki ini tidak menghilang menjadi asap...aku ingin mayatnya tetap utuh untuk ditunjukkan pada keluarga Raden Bondo," jawab Arum.
"Baiklah, aku akan mengikuti keinginanmu," jawab nenek Kanji.
Nenek Kanji lalu mendekati Raden Dito, Raden Dito hanya diam tanpa ekspresi.
" Kamu beruntung anak muda...kamu tidak akan merasakan sakit," nenek Kanji menyentuh dahi Raden Dito.
Raden Dito seperti tertidur, ia memejamkan matanya.
Nenek Kanji mengeluarkan gigi taringnya yang runcing, lalu mulai menghisap darah dari leher Raden Dito.
Ia terus menyedot sehingga wajah Raden Dito pucat seputih kapas.
Tubuh Raden Dito terkapar di tanah dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
Nenek Kanji menjilat bibirnya.
" Manis....enak....darah anak muda," ujarnya sambil masih menjilat- jilat bibirnya.
"Cah Ayu....mau dibawa kemana tubuhnya? aku aku akan mengirimkannya ke tempat yang kamu mau," tanya nenek Kanji.
" Baiklah cah ayu...ingat jangan lupa untuk persembahan tumbal selanjutnya," pesan nenek Kanji.
" Baik Nek," jawab Arum.
Nenek Kanji menunjuk ke arah tubuh Raden Dito yang sudah tidak bernyawa.
Lalu tubuh Raden Dito bergerak sendiri kemudian melesat terbang menembus gelapnya malam.
Keesokan paginya, di rumah kediaman Gusti Arya...
Pelayan rumah Gusti Arya yang pertama kali menemukan sosok tubuh yang pucat pasi seputih kapas tergeletak di depan halaman rumah Gusti Arya.
"Ada mayat....ada mayat....," teriaknya dan langsung membuat gempar.
Semua orang langsung keluar untuk melihat.
Ningrum langsung shock begitu ia melihat tubuh tidak bernyawa di depannya.
" Mas Dito....," Ningrum langsung histeris, tubuhnya terkulai lemas.
Gusti Arya yang berada di belakang Ningrum langsung menangkap tubuh puterinya itu.
Para tetangga yang pagi- pagi mendengar teriakan ada mayat, berbondong- bondong datang melihat.
" Ki Anjar, tolong sampaikan kabar ini ke rumah orang tua Raden Dito sekarang....ajak siapa saja untuk menemanimu," perintah Gusti Arya.
Ki Anjar mengangguk, ia mengajak salah satu pelayan laki- laki untuk menemaninya.
__ADS_1
Ningrum menangis, hatinya sangat kalut...bagaimanapun ia masih mencintai Raden Dito.
Raden Bondo hanya diam, ia tidak mengerti mengapa jenazah Raden Dito ada di rumah mereka.
Anum cuma bisa diam...
Sementara Raden Ayu Ditha merasa khawatir dengan Ningrum.
Ia takut puterinya itu tidak bisa menerima kejadian yang terjadi begitu tiba- tiba.
Gusti Arya meminta kepada salah satu tetangga dekatnya untuk melapor kepada perangkat desa.
"Kenapa Raden Dito bisa berada di rumah kita? dan mengapa ia bisa meninggal dengan kondisi seperti ini?" Gusti Arya berbisik pada Raden Bondo.
"Entahlah Ayanda...entah apa yang menyebabkan kematiannya...," Raden Bondo juga terlihat bingung.
Beribu pertanyaan muncul di benaknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Raden Dito?" gumamnya dalam hati.
Beberapa perangkat desa datang ke kediaman Gusti Arya.
Mereka datang melihat kondisi Raden Dito yang sepertinya meninggal dalam keadaan tidak wajar.
Salah satu dari mereka memeriksa tubuh Raden Dito.
" Kering tanpa darah....," ujarnya.
Ia lalu melihat leher Raden Dito dan menunjukkannya kepada yang lain.
" Luka dengan dua lobang," sambungnya lagi.
Mereka saling melihat satu sama lain, mereka bisa menyimpulkan dari luka yang mungkin itu adalah penyebab kematiannya.
" Aneh....," ucap yang lain.
" Bisa saya bicara dengan keluarganya?" tanya salah satu orang perangkat desa.
" Masih sedang dijemput Ki...rumah keluarganya lumayan jauh dari sini," Gusti Arya yang menjawab.
" Kalian masih ada hubungan keluarga atau bagaimana?" tanyanya lagi.
" Tadinya ia adalah tunangan anak saya, tapi mereka baru putus..." jawab Gusti Arya lagi.
"Saya juga bingung bagaimana ia bisa sampai kemari," sambung Gusti Arya lagi.
Para perangkat desa hanya bisa manggut- manggut.
Mereka harus menunggu keluarga Raden Dito tiba, agar bisa diambil kesimpulan apa yang sebenarnya terjadi.
Raden Ayu Ditha menatap Anum...ia ingat apa yang pernah dikatakan seorang nenek aneh padanya tentang menantunya itu.
Hatinya jadi memikirkan yang dulu pernah ditepis oleh suaminya Gusti Arya.
" Jangan- jangan betul apa yang dikatakan oleh nenek aneh itu tentang Anum," Raden Ayu Ditha bicara dalam hati.
" Bagaimana kalau hal itu memang benar?" Raden Ayu Ditha nampak gelisah.
Ia takut kesialan akan benar- benar datang di keluarga mereka.
"Setelah bulan purnama..." gumamnya mengusap tengkuknya yang sudah meremang.
__ADS_1
Raden Ayu Ditha menatap Anum...
" Apakah dia penyebabnya?" ucapnya dalam hati.