Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Gangguan dalam perjalanan


__ADS_3

Dino pergi ke kota dengan motor bututnya, motor yang biasa ia pakai untuk pergi berburu.


Motor itu sudah diantar oleh Wendi ke rumah Dino saat Dino menghilang di hutan.


Dino ingin mencoba mencari pekerjaan baru, ia sudah tidak ingin pergi berburu lagi.


Mira mendukung keinginan Dino untuk mencoba mencari pekerjaan di kota.


Dino merasa tubuhnya sudah sehat, ia tidak mau menggantungkan hidupnya pada usaha Mira membuat dan menjual kue.


Dino merasa ia harus bertanggung jawab pada isterinya.


Walaupun Dino belum bisa mengingat semua masa lalunya bersama Mira, tetapi setidaknya ia sudah kembali pada isterinya itu.


Ibunya pernah menawarinya untuk membantu bekerja di toko, asal Dino mau meninggalkan Mira...tetapi hal itu tentu saja Dino tolak.


Dari cerita Mira, dan juga dipertegas oleh mbak Susi, Dino menjadi mengerti hubungan Dino dan Mira tidak direstui oleh orang tua Dino.


Dino juga melihat sendiri, ketika ia kembali dari hutan dan melupakan Mira, tidak ada sedikitpun upaya dari kedua orang tua nya untuk memberitahu Mira ataupun berusaha untuk menyatukan mereka.


Dari situ Dino tau, orang tua Dino terutama ibunya begitu tidak menyukai Mira.


Untunglah Mira mau bersabar menghadapi Dino yang hilang sebagian ingatannya dengan membantu menceritakan banyak masa lalu mereka... mulai saat mereka masih pacaran sampai sesudah mereka menikah.


Dino tiba di sebuah rumah makan, di sana ia melihat ada tulisan lowongan pekerjaan.


Dino berhenti untuk membacanya.


Dino tersenyum, ia merasa ia bisa melamar di sana.


Dino lalu memarkirkan motornya, lalu masuk ke dalam.


Ada sepasang pria dan wanita paruh baya yang sedang sibuk membersihkan ruangan.


"Selamat pagi...," sapa Dino.


"Pagi....maaf den...Aden mau makan? kami belum siap...," jawab yang wanita.


"Bu...bukan Bu....saya ingin mencari pekerjaan...di depan saya lihat ada tulisan lowongan pekerjaan," jawab Dino agak gugup.


"Oh....itu...iya kami sedang mencari orang yang bisa membantu kami di sini...kami kekurangan orang...apa Aden berminat?" tanya wanita itu.


"Iya...saya mau...," jawab Dino terlihat senang.


" Kita duduk di sana dulu...kita bicarakan pekerjaan dan juga gajinya," ajak wanita itu.


Mereka lalu duduk berhadapan.


"Nama Aden siapa? saya Ratih...panggil saja Bu Ratih.. dan itu suami saya Ilham...kami sepasang suami isteri tua pemilik rumah makan ini," Bu Ratih menjelaskan.


"Nama saya Dino," jawab Dino.


"Saya seperti pernah melihatmu...," Bu Ratih mengingat- ingat.


Dino mengerenyitkan dahinya, perasaan ia belum pernah bertemu dengan Bu Ratih.

__ADS_1


"Oh ya saya ingat...kamu yang masuk berita di TV itu kan? orang yang hilang di hutan saat berburu," kata Bu Ratih.


"Saya memang pernah hilang di hutan, tapi benarkah sampai masuk berita di TV?" tanya Dino heran, Mira tidak menyebut hal ini padanya.


"Iya berarti betul...kamu sudah kembali?" Bu Ratih bertanya balik.


"Iya saya baru saja kembali...cuma sebagian ingatan saya banyak yang hilang....jadi jangan ibu tanyakan bagaimana saya kembali dan apa yang terjadi saat itu," jawab Dino tertawa.


Sikap ramah Bu Ratih membuat Dino merasa nyaman, ia bisa mengobrol panjang seperti sudah saling mengenal lama.


Pak Ilham datang mendekat mendengar isterinya yang asyik membahas tentang Dino.


Pak Ilham mengamati wajah Dino.


"Iya ya...ibu daya ingatnya tajam juga," tawa Pak Ilham.


Bu Ratih terkekeh...


"Kembali ke pembicaraan, pekerjaanmu di sini bantu kami semuanya...melayani pelanggan, menyapu, mengepel, mencuci piring...apakah kamu mau?" tanya Bu Ratih.


"Kami berdua tugasnya memasak...kami kadang kewalahan kalau pelanggan sedang banyak- banyaknya," tambah Bu Ratih lagi.


"Dan satu lagi gaji disesuaikan dengan ramai tidaknya rumah makan kami, kalau sepi kami tetap akan membayar gaji bulanan kamu....kalau ramai akan kami tambah gajinya...gimana?" tanya Bu Ratih.


"Tidak masalah Bu...saya mau," jawabnya Dino dengan gembira.


"Dan satu lagi kamu bisa sarapan dan makan siang di sini," sambung Bu Ratih tersenyum.


"Makasih Bu, kapan saya mulai bekerja?" tanya Dino bersemangat.


"Baik Bu, saya boleh pinjam telepon untuk mengirim pesan buat isteri saya? biar dia tau saya langsung bekerja hari ini," pinta Dino.


Waktu di hutan ponsel Dino hilang, dan sampai saat ini ia belum menggantinya karena ia tidak mau menggunakan uang Mira.


"Tentu saja boleh," Bu Ratih menyerahkan ponselnya.


Dino lalu mengirimkan pesan untuk Mira yang isinya ia langsung bekerja hari ini di sebuah rumah makan.


Mira yang menerima pesan dari Dino, tentu saja merasa senang karena suaminya sudah mendapatkan pekerjaan.


"Terima kasih Bu," Dino mengembalikan ponsel milik Bu Ratih.


Dino lalu mulai bekerja, ia menyapu dan mengepel lalu mengelap meja dan bangku yang ada di sana.


Menjelang siang, rumah makan itu sudah mulai ramai, Dino mencatat pesanan mereka dan memberikan pada Bu Ratih dan Pak Ilham yang bertugas memasak.


Setelah masakan siap, Dino hilir mudik mengantarkan pesanan ke meja pelanggan.


Tidak terasa dengan sibuk bekerja, hari sudah menjelang sore dan rumah makan sudah mau tutup.


Dino mengelap meja hingga bersih, lalu ia bersiap untuk pulang.


Dino kemudian pamit pulang...


"Hati- hati di jalan Dino," pesan Bu Ratih dan Pak Ilham.

__ADS_1


Dino mengangguk, lalu mulai menjalankan motornya untuk kembali ke rumah.


Jarak dari kota ke rumah Dino tidak begitu jauh hanya butuh waktu setengah jam dengan sepeda motornya.


Dino hari ini merasa gembira karena ia langsung bisa mendapatkan pekerjaan, selain itu suami isteri pemilik rumah makan itu bersikap baik padanya.


Tiba di perbatasan antara kota dan desa tempat tinggal Dino, motor Dino tiba- tiba mogok.


Dino mencoba berulang kali menghidupkan motornya tapi tidak berhasil.


Di sana jalan sudah terlihat sepi, karena sudah mencoba membersihkan busi dan menghidupkan motornya berulang kali tapi tidak berhasil akhirnya Dino memutuskan untuk mendorong saja motornya.


Hari sudah mulai gelap, Mira pasti akan cemas kalau ia terlambat pulang ke rumah.


Dino mendorong motornya, tiba -tiba ia merasa ada hembusan angin yang menerpa tengkuknya.


Dino merinding, ia menoleh ke belakang tapi tidak nampak apa- apa.


Dino mempercepat langkahnya, di depan ia melihat sekelebat bayangan putih yang melintas.


Dino mengerjap- ngerjapkan matanya, mungkin ia salah lihat.


Bayangan putih itu sudah tidak ada, tapi Dino merasa motornya menjadi sangat berat.


Dino tetap mempercepat langkahnya, ia ingin segera sampai di rumah.


Tenaganya banyak terkuras, semakin lama semakin berat...tubuhnya sampai berkeringat.


"Ada yang menggangguku," gumam Dino dalam hati.


Dino membaca doa- doa, setelah itu barulah motornya tidak terasa berat lagi.


Di belakang terdengar suara tawa perempuan.


"Hi....hi....hi....," terdengar sangat menyeramkan.


Dino menoleh ke belakang, ia melihat sesosok perempuan memakai pakaian berwarna putih panjang yang sampai menutupi mata kakinya.


Perempuan itu melambai- lambaikan tangannya.


Wajah perempuan itu tidak terlihat karena ditutupi oleh rambut panjang yang menutupi mukanya sampai ke dada.


"Setan perempuan..." Dino bergidik.


Bulu kuduk Dino langsung meremang, dengan setengah berlari ia mendorong sepeda motornya.


Untunglah motornya sudah tidak seberat tadi, sehingga ia bisa dengan cepat meninggalkan tempat itu.


"Hi...hi....hi..," Suara tawa perempuan itu semakin menjauh ke belakang.


Desa Dino sudah mulai terlihat, ia mencoba menyalakan lagi motornya.


Dan...


"Brum....Brum...," motornya bisa menyala.

__ADS_1


Dino langsung menaiki motornya dan melesat menuju ke rumahnya, jantungnya masih berdetak dengan kencang...


__ADS_2