
Angin bertiup kencang, dingin menusuk sampai ke tulang, di kejauhan sayup- sayup terdengar mengalun suara gamelan.
Ning nong...Ning nong....suaranya hilang timbul tertutup suara angin kencang yang menderu, menampar permukaan wajah Dino yang pucat.
Perlahan Dino membuka kelopak matanya, kepalanya masih terasa pening, berdenyut...
Dino terbangun dengan posisi punggungnya menyandar pada sebuah batu besar.
Jantungnya berdetak kencang, matanya mengerjap melihat sekelilingnya, ia hanya melihat hamparan rumput yang menguning. Ia berusaha menyadarkan ingatannya.
Tak terlihat seorangpun yang berada di sekitar tempat itu. Tak nampak pula, Poni yang sebelumnya setia menemani. Kemanakah hewan berbulu cokelat itu?
Dino memegang kepalanya, memijitnya perlahan untuk mengurangi rasa pusing yang masih terasa.
Ia berusaha mengingat- ingat apa yang ia alami sebelumnya, astaga...ia meraba pelipisnya dan ia mengaduh...
Masih terasa sakit..... Dino teringat, ia mengejar buruannya bersama si Poni, lalu ia terjatuh karena menabrak akar pohon tanpa sengaja, lalu keningnya luka dan berdarah.
Ia lalu memandang jaket yang ia kenakan, ada bekas darah yang sudah mengering.
Jadi ini bukan mimpi?
Lalu apa yang terjadi dengannya? mengapa ia berada di tempat lain, yang ia kenali bukanlah merupakan tempat yang terakhir ia terluka.
Siapa yang membawanya ke sini?
Dino memandang lagi sekelilingnya.
Hanya ada hamparan luas rerumputan kuning, tanpa batas.
Dino meringis, ia juga teringat janjinya pada Andi dan Wendi akan segera kembali, dan bertemu di titik kumpul mereka menjelang siang.
Teman- temannya pasti cemas menunggunya. Bagaimana caranya kembali ke tenda mereka, sementara Dino tidak tau di mana sebenarnya ia berada.
Sementara Poni juga menghilang, bukannya tadinya Poni bersamanya? lalu di mana keberadaan anjingnya itu.
Kalau bersama Poni, setidaknya Dino masih merasa aman ada yang menemaninya dan bisa membantunya mencari jalan pulang.
Apakah ini hanya mimpi buruk, ia meraba lagi luka di keningnya dan menekannya.
Au ....sakit...untuk meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi, Dino lalu mencubit tangannya sendiri dan terasa sakit.
Berarti ini kenyataan... bukan di alam mimpi...
Dino bangun dari duduknya, matanya mulai mencari- cari di sekelilingnya.
Di manakah kira- kira jalan menuju pulang? harus mengambil arah sebelah mana?
Ia menginjak- nginjak rumput yang ada di dekat batu, tempat ia bersandar. Memberi tanda.
Ia mengingat posisinya terakhir waktu keningnya terluka di hutan, kalau batu itu digantikan dengan pohon terakhir sebagai tempat ia bersandar berarti hutan berada di sebelah kanannya.
" Aku ambil jalan ke arah sebelah kananku saja," ucapnya dalam hati.
Dino lalu mencoba mengambil arah ke kanannya dan ia berjalan perlahan.
Dino terus berjalan, ia harus mencoba kembali. Terbayang di benaknya bayangan Mira, isteri yang sangat dicintainya.
__ADS_1
" Mira...kamu pasti lagi menunggu mas Dinomu ini kembali," gumam Dino.
Dino terus berjalan lurus tanpa melihat ke belakang, ia harus bisa kembali.
Ia merindukan isterinya, ada sesal dalam hatinya mengapa ia tidak segera kembali di hari ketiga perburuan mereka.
Ia yang mengusulkan pada teman- temannya untuk menunda kepulangan mereka dan menambah waktu satu hari lagi untuk berburu.
Ia juga menyesal telah menembak rusa jantan besar yang ia lihat sangat indah dengan badan tegapnya.
Belum pernah ia melihat, ada rusa jantan yang sebesar dan setegap itu. Seharusnya ia biarkan hewan itu tanpa menembaknya.
Semua karena keserakahannya..
Seribu penyesalan dalam hatinya. Andai ia dapat mengulang waktu...
Tak terasa Dino berjalan jauh, tapi semua rerumputan di situ nampak terlihat sama. Dino hanya bisa tetap berjalan lurus...
Dino sampai di sebuah batu.
" Lho bukannya ini tempat yang tadi?"
Dino mengenali tempat pertama kali ia sadar dari pingsannya, batu yang rumput di sekitarnya sudah ditandai Dino dengan menginjak- injaknya.
Dino merinding.....ia merasa ada sesuatu yang aneh di tempat itu.
Ia merasa tadi sudah berjalan jauh meninggalkan tempat itu, tapi kembali lagi ke tempat semula.
Apa yang terjadi?
Dino mencoba lagi pergi ke arah tadi ia berjalan, dan dengan setengah berlari ia terus mengambil arah lurus sambil memanjatkan doa dalam hatinya.
Muka Dino pias, sepucat kapas. Tubuhnya gemetaran...
Rasa takut mulai ia rasakan...ada sesuatu yang tidak beres...
Sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat..
Dan sesuatu itu sedang mempermainkannya..
Dino melihat lagi sekelilingnya dengan menahan perasaan takut yang mulai menghantui hatinya.
Suara gamelan masih kadang terdengar di kejauhan...
Dino merinding...
Siapakah yang memainkan iringan gamelan di sekitar tempat itu?sementara tidak terlihat ada tanda- tanda kehidupan seorang manusia pun.
Lalu sejenak Dino berpikir...
" Astaga....apakah aku sudah mati?"
Dino meraba- raba tubuhnya, kemudian memegang dadanya.
"Masih ada denyut jantung..."
" Berarti aku masih hidup..."
__ADS_1
"Kalau masih hidup, lalu di mana ini?"
Dino rasanya ingin berteriak dan menangis sekencang- kencangnya, ia merasa putus asa...
" Bagaimana caraku mencari jalan pulang?"
" Kalau aku tidak bisa menemukan jalan pulang, aku tidak bisa bertemu dengan Mira."
"Apa aku akan selamanya berada di sini?"
Dino terus bergumam dalam hatinya, yang ia inginkan saat ini adalah agar bisa menemukan jalan pulang dan bisa kembali bertemu dengan Mira.
Teringat Mira, Dino kembali mengumpulkan semangatnya...
" Aku harus pulang."
Dino berpikir, ia akan mencoba berjalan ke arah sebaliknya, tadi ia mengambil arah kanan...
Sekarang ia akan mencoba ke arah sebelah kiri, siapa tau itu adalah arah yang benar.
Setelah berdoa, Dino berjalan ke arah sebelah kiri. Ia menyusuri jalan yang berupa rerumputan yang menguning.
Tak ia pedulikan lagi suara gamelan yang masih terdengar walaupun hilang timbul.
Dino berjalan lurus dan dalam hatinya terus berdoa dan berdoa....
Lalu di depannya tidak nampak lagi rerumputan yang menguning.
Mulai terlihat ada semak belukar dan pepohonan kecil.
Dino terus berjalan, ia tidak ingin menoleh ke belakang. Yang ia pikirkan hanya menemukan jalan pulang.
Semakin jauh Dino berjalan, pemandangan di depannya mulai berubah.
Sudah nampak pepohonan besar seperti pohon- pohon yang ada di tempat semula ia berburu.
Dino mulai mendapatkan harapan dalam hatinya, ia mempercepat langkahnya.
Kepalanya masih terasa pening, tapi tak ia hiraukan.
Ia ingin cepat kembali ke titik kumpulnya bersama teman- temannya.
Mereka pasti sedang menunggunya dengan cemas.
"Mungkin Poni juga ada bersama mereka, mencari bantuan saat ia pingsan," Dino mengira- ngira.
Dino memandang sekelilingnya, sambil berjalan lurus ke arah depan.
Ia lalu melihat dua baris pohon yang berjajar rapat seperti pintu gerbang.
" Pasti sudah dekat," gumam Dino dalam hati.
Dino semakin bersemangat, ia mulai tersenyum kecil. Ia semakin mempercepat langkah kakinya.
Dino mulai bersorak dalam hatinya, ia akan segera bertemu dengan teman- temannya.
Di kejauhan...Dino melihat sekelebat bayangan yang sedang berlari.
__ADS_1
Bayangan berwarna cokelat....