Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Pembalasan dimulai


__ADS_3

Pernikahan Anum dengan Raden Bondo yang kacau balau menjadi perbincangan di antara orang- orang yang mengenal mereka.


Gusti Arya dalam beberapa hari ini sibuk mengawasi para pekerja yang membantu memperbaiki pendopo ya yang atapnya rusak parah.


Dalam beberapa hari ini tampak kesibukan di kediaman mereka.


Anum dan Raden Bondo tidak bisa melupakan tragedi di hari yang harusnya menjadi hari yang membahagiakan untuk mereka.


Dalam beberapa hari ini hubungan mereka tidak seperti pasangan pengantin baru lainnya.


Raden Bondo seperti menghindari Anum yang statusnya sudah menjadi isterinya.


Karena kejadian yang tidak mengenakkan di hari pesta pernikahan mereka, di hati Raden Bondo seperti merasakan itu adalah permulaan dari akibat Arum yang menyumpahinya.


Anum yang merasa Raden Bondo menjauhinya tentu saja tidak bisa terima begitu saja.


" Kanda.. mengapa sikapmu dingin padaku...bukankah aku sudah menjadi isterimu?" tanya Anum sambil mengelus lengan Raden Bondo.


" Itu hanya perasaanmu saja," jawab Raden Bondo.


" Kanda...apa aku punya salah? kalau aku punya salah, katakan saja padaku... aku akan memperbaikinya," Anum mencoba merayu suaminya.


" Kamu tidak ada salah Anum...sudah kukatakan itu hanya perasaanmu saja..."


" Kalau aku tidak punya salah, kenapa sikap kanda sangat dingin padaku?"


Raden Bondo menatap lurus pada Anum, ia malas meladeni Anum selagi hati Raden Bondo dalam beberapa hari ini terasa gundah.


"Aku tidak bersikap dingin Anum...aku memang begini."


Anum menghela napas, walaupun sudah menjadi suaminya Raden Bondo bersikap masih sama seperti dulu.


" Apa Kanda masih belum bisa melupakan Arum adikku itu?" tanya Anum lagi.


"Jangan bawa- bawa nama Arum...Anum..."


Raden Bondo bersusah payah ingin melupakan Arum, tapi Anum malah mengingatkannya kembali.


Ingat Arum, maka Raden Bondo akan mengingat kutukan Arum padanya.


Gadis itu sudah mengutuknya...ia dan Anum tidak akan pernah bahagia.


************


Arum tertawa terbahak- bahak, hatinya puas saat pesta pernikahan mantan kekasih dan kakaknya porak- poranda.


"Ini baru permulaan....ha....ha...," tawanya puas.


" Aku akan membuat keluargamu ikut merasakan sakit seperti yang kurasakan....lihat saja..."


Arum tersenyum licik....


***********


Ningrum, adik bungsu Raden Bondo sedang latihan menari di rumah guru tarinya.


Gerakannya lemah gemulai mengikuti iringan gamelan.


Ia menari bersama beberapa orang temannya.


" Cukup....bagus sekali...kalian banyak mengalami kemajuan," guru tarinya bertepuk tangan.


Musik yang mengiringi juga langsung berhenti.


Ningrum mengusap keringat di pelipisnya menggunakan sapu tangannya.

__ADS_1


Matanya melirik ke ujung jalan dan mencari- cari.


" Tumben dia belum menjemputku," gumam Ningrum.


"Rum, kami pulang dulu ya...masih nunggu ya?" teman- temannya sudah bersiap untuk pulang.


..." Iya...kalian duluan saja, aku nunggu Mas Dito dulu," jawab Ningrum melambaikan tangan pada teman-temannya....


..."Duduk dulu aja Ndok..sambil nunggu dijemput," kata guru tari Ningrum....


...Guru tari Ningrum adalah seorang wanita setengah baya yang dipanggil Nyi Sukma."...


..."Makasih Nyi," jawab Ningrum lalu duduk di atas bangku yang terbuat dari bambu....


..." Tumben Raden Dito belum datang Ndok...biasanya ia yang menunggu," ucap Nyi Sukma....


" Iya Nyi ga tau ini."


Ningrum mulai gelisah, biasanya Raden Dito tidak pernah terlambat menjemputnya.


Raden Dito adalah kekasih Ningrum, sudah beberapa tahun mereka pacaran.


Setelah menunggu lama dan hari sudah semakin sore, akhirnya Ningrum memutuskan untuk pulang sendiri.


" Nyi, Ningrum pulang aja...udah sore," Ucap Ningrum pamitan.


" Ya udah Ndok, mungkin nanti ketemu Raden Dito di jalan...hati- hati ya Ndok..."


" Iya Nyi...makasih."


Ningrum berjalan menyusuri jalan, dalam hatinya bertanya- tanya mengapa Raden Dito tidak datang menjemputnya.


Jarak rumah Ningrum ke tempat latihan menari cukup jauh.


Biasanya Raden Dito menjemputnya dengan kereta kuda.


Setengah perjalanan, Ningrum melihat kereta kuda yang dikenalinya milik keluarga Raden Dito. Kudanya sedang merumput di pinggir jalan.


Kereta kuda yang biasa dipakai Raden Dito untuk menjemputnya.


Ningrum celingak- celinguk mencari Raden Dito.


"Sayang....apa kau mencintai aku....?" terdengar suara seorang perempuan.


Ningrum melihat ke asal suara, hanya terlihat kemben seorang perempuan dan sebelah kaki yang menyembul dari balik pohon.


"Tentu saja...," jawab suara laki- laki yang dikenal Ningrum sebagai suara Raden Dito, kekasihnya.


Ningrum berlari di balik pohon, rasa penasaran mendorongnya untuk melihat dari jarak dekat.


Ningrum membelalakkan matanya, ia melihat seorang perempuan yang hanya terlihat matanya saja, perempuan itu menutup hidung dan mulutnya dengan ujung kerudung yang dipakainya.


Perempuan itu menggunakan kerudung berwarna hitam.


Perempuan itu satu tangannya membelai mesra rambut Raden Dito.


" Mas Dito...apa yang kamu lakukan dengan perempuan ini?" Ningrum berteriak.


Raden Dito hanya melihat sekilas ke arah Ningrum lalu kembali menatap perempuan di sampingnya.


Raden Dito tidak mempedulikan Ningrum.


Perempuan itu lalu berbisik di telinga Raden Dito dengan mesra.


"Iya sayang...," jawab Dito kepada perempuan yang membisiki telinganya.

__ADS_1


"Apa- apaan ini Mas Dito? siapa perempuan ini?" Ningrum sudah mulai marah.


"Dia kekasihku," jawab perempuan berkerudung hitam.


"Siapa kamu?" bentak Ningrum.


" Kamu tidak perlu tau siapa aku..."


Ningrum menarik tangan Raden Dito...tapi Raden Dito menepis tangan Ningrum.


" Mas Dito...ayo kita pulang...Mas harus jelasin semuanya."


Ningrum kembali menarik tangan Raden Dito, tetapi kembali Raden Dito menepis tangan Ningrum.


" Tinggalkan dia...dia sekarang adalah kekasihku...," ucap perempuan itu lagi.


Ningrum sudah sangat marah.


" Raden Dito adalah kekasihku, kamu siapa mengapa menutup wajahmu?" ujar Ningrum sambil menunjuk perempuan itu.


"Aku kekasih Raden Dito...," jawab perempuan itu.


" Tidak mungkin....ayo Mas Dito kita pulang....," Ningrum masih berusaha menarik tangan Raden Dito.


" Tampar dia....," perintah perempuan itu kepada Raden Dito.


Raden Dito seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, menampar pipi Ningrum dengan keras.


Ningrum merasakan perih di pipinya, ia membelalakkan matanya.


Air matanya mulai turun di pipinya, ia mengusap bekas tamparan Raden Dito.


Selama ini Raden Dito jangankan berbuat kasar padanya, berbicarapun Raden Dito selalu dengan lemah lembut.


Tapi hari ini, karena seorang perempuan yang tidak Ningrum kenal... Raden Dito tega menamparnya.


"Apa- apaan ini Mas?" teriak Ningrum berlinang air mata.


"Suruh dia pergi sayang...," perempuan itu memerintah Raden Dito lagi.


"Pergi kamu dari sini," usir Raden Dito pada Ningrum.


Ningrum tidak percaya, Raden Dito hari ini menyakitinya. Menampar dan melukai hatinya


"Tega kamu mas...," Ningrum berteriak.


" Pergi...," Raden Dito menunjukkan telunjuknya pada Ningrum.


Ningrum membalikkan tubuhnya dan ia berlari pulang.


Sepanjang jalan ia menangis....seperti mimpi rasanya hari ini tidak ada angin tidak ada hujan Raden Dito mencampakkannya demi perempuan lain.


Sementara itu perempuan berkerudung hitam tertawa puas...


Ia membuka kerudung yang menutup hidung dan mulutnya.


Arum tertawa.....


Perempuan itu adalah Arum yang sedang membalaskan sakit hatinya.


" Raden Bondo....kau akan menderita.. adikmu juga merasakan akibat dari perbuatanmu ha...ha...." Arum tertawa terbahak.


Di sebelahnya Raden Dito hanya diam, tatapannya kosong. Ia dalam pengaruh kekuatan Arum.


Arum mendekat Raden Dito.

__ADS_1


"Apakah kamu juga akan kusakiti?" Arum mengusap leher Raden Dito.


Kedua tangannya dalam posisi siap untuk mencekik...


__ADS_2