
Anum merasa seperti dilempar dengan sesuatu.
Anum terbelalak....
Apa yang sedang dia alami?
Beberapa pasang mata menatapnya dengan terheran- heran....
"Mbakyu...." panggil Ningrum.
Anum melihat sekeliling, nampak beberapa orang melihatnya dengan kebingungan.
Yang tadi melemparnya dengan sesuatu adalah Ki Anjar, Anum tidak mengerti itu ramuan apa seperti ramuan daun- daun yang diremas- remas.
Mungkin itu cara untuk menyadarkannya.
Anum melihat ia sudah berada di pusat kota.
Ningrum dan Ki Anjar menatapnya dengan khawatir.
"Apa yang terjadi dengan Mbakyu ? dari tadi Mbakyu lari- lari mengelilingi tempat ini," Ningrum menatap Anum dengan tatapan ingin tau.
"Benar Gusti ayu....Gusti ayu terlihat seperti orang ketakutan lalu berlari seperti dikejar setan," tambah Ki Anjar.
"Tadi aku mencari kalian, tapi kalian tidak ada di sini. Lalu seorang laki- laki mengatakan padaku Ningrum kerasukan dan dibawa pergi seorang nenek- nenek."
"Lalu katanya Ki Anjar mengejar Ningrum untuk dibawa kembali....lalu laki- laki itu mau mengantar aku mencari kalian."
" Aku mengikuti laki- laki itu lalu tiba- tiba ia menghilang, lalu kulihat di kiri kanan jalan berubah menjadi kuburan- kuburan tua."
" Aku merasa ada yang memegang pundak ku, tapi tidak ada siapa- siapa di situ."
"Lalu aku melihat suamiku Raden Bondo, tapi kemudian dia juga menghilang, lalu seperti ada yang sengaja meniup telingaku...ih serem," Anum menyelesaikan ceritanya.
Ningrum dan Ki Anjar saling melihat satu sama lain.
" Tapi Mbakyu...kami tidak kemana- kemana, kami menunggu Mbakyu di sini dekat kereta," jawab Ningrum.
Anum bingung...
"Bagaimana bisa? dari pertama Mbakyu datang cuma melihat kereta kuda kita, tapi kalian tidak ada," Anum tidak percaya dengan yang Ningrum katakan.
"Tanya Ki Anjar, benar kan ki kita dari tadi menunggu di sini? aku cuma lihat- lihat sebentar...lalu langsung menunggu di sini," sambung Ningrum.
"Iya betul Gusti ayu....kami dari tadi menunggu di sini," sahut Ki Anjar.
"Tak lama kami melihat Mbakyu sudah berlari- lari ketakutan..."
Anum tidak bisa percaya, apa yang baru saja ia alami?
Sangat tidak masuk di akal...
"Gusti ayu seperti baru sadar setelah saya lempar ramuan tadi, saya udah menebak Gusti ayu pasti sudah diganggu sesuatu...," sambung Ki Anjar.
"Dari mana Ki Anjar dapat ramuan itu Ki?" tanya Anum.
"Di sana ada yang jual Gusti Ayu...saya baru ingat itu daun Bidara.... katanya bisa buat ngusir yang gituan," jelas Ki Anjar.
__ADS_1
Anum sedikit lega, karena tidak terjadi apa- apa dengan Ningrum, malah Anum sendiri yang mendapat gangguan.
Penglihatannya seperti ditutup, sehingga ia tidak bisa melihat Ningrum dan Ki Anjar.
Dan merekapun tidak bisa melihat kedatangan Anum.
Entah bagaimana, Anum ternyata hanya berlari- lari di sekitar situ saja.
Tidak ada Ki Arup, Raden Bondo, dan kuburan- kuburan tua.
Ia seperti sedang dipermainkan, diberi halusinasi sehingga yang ia lihat berbeda dengan yang orang lain lihat.
Orang lain malah yang melihat Anum terlihat berlari- lari ketakutan seperti takut pada sesuatu.
"Sebaiknya kita cepat pulang Ki..." ajak Anum.
"Ningrum mari kita pulang..."
"Ayo Mbakyu, buluk kudukku udah dari tadi meremang terus...," jawab Ningrum.
"Baik Gusti ayu, naiklah ke atas kereta," sahut Ki Anjar.
Anum dan Ningrum lalu naik ke atas kereta.
Ki Anjar lalu menjalankan kereta kudanya...
Dari kejauhan terlihat dua pasang mata melihat kepergian mereka dengan senyum penuh kemenangan.
Mata milik seorang nenek tua dan milik seorang perempuan berkerudung hitam yang menutup hidung dan mulutnya dengan ujung kerudungnya.
Mata milik nenek Kanji dan Arum...
Sedangkan nenek Kanji terlihat tersenyum puas.
"Ingat Cah ayu, aku sudah banyak membantumu...jangan lupa tumbal berikutnya," pesan nenek Kanji lalu secepat angin tubuhnya sudah menghilang dari tempat itu.
"Raden Bondo....sebentar lagi giliranmu...aku akan mempermainkan kalian sampai aku puas," gumamnya dengan suara lirih.
Arum berjalan meninggalkan tempat itu, dalam hati kecilnya ia rindu berada pada kehidupan normal.
Tapi sudah terlanjur basah, ia akan menuntaskan semuanya.
Arum berjalan sambil melamun, tiba- tiba ia menyenggol tubuh seseorang.
"Maaf...saya tidak sengaja," ucap Arum.
Arum tanpa sadar melepaskan ujung kerudung yang menutup mulut dan hidungnya.
Ia terpesona dengan makhluk indah yang berada di depan matanya.
Seorang pria tampan dan bertubuh tinggi tegap sedang melihatnya dengan tatapan lembut yang terasa menyejukkan.
"Saya yang minta maaf, saya juga tidak hati- hati waktu berjalan," jawab makhluk tampan di depan Arum.
"Saya Raden Prana...nama kamu siapa?" tanya pria dengan alis tebal dan berhidung bangir di depannya.
Arum masih terpana, ia menatap makhluk di depannya dengan penuh kekaguman.
__ADS_1
"Maaf...nama saya Raden Prana...nama kamu siapa?" laki- laki muda di depannya mengulang pertanyaannya.
"a...aku..." Arum tergagap.
"Iya...?" laki- laki itu menunggu Arum menyebut namanya.
"Nama ku Arum," jawab Arum dengan pipi memerah.
Laki- laki tampan di depannya tersenyum melihat Arum yang terlihat gugup.
"Cantik..." gumam Raden Prana dalam hati.
Raden Prana mengulurkan tangannya...Arum memandang Raden Prana dengan salah tingkah lalu menyambut tangan Raden Prana yang mengajaknya bersalaman.
"Kamu tinggal di mana?" tanya Raden Prana.
"Aku tinggal di..." Arum bingung untuk menjawab pertanyaan Raden Prana.
"Iya...?" Raden Prana tersenyum lagi.
Arum tidak bisa memberitahu di mana ia tinggal.
"Maaf aku permisi dulu...." Arum terburu- buru meninggalkan tempat itu.
" Tunggu dulu...kamu belum memberitahuku di mana kamu tinggal," teriak Raden Prana.
Arum menjadi panik, ia tidak mau membuka identitasnya.
"Bisa kacau- balau rencana ku," gumam Arum dalam hati.
Raden Prana ingin mengejar Anum, tapi ia mengurungkannya.
" Mungkin ia takut padaku karena kami baru saling kenal," Raden Prana berkata dalam hati.
"Arum...gadis yang menarik, suatu hari aku berharap bisa bertemu dengannya lagi," Raden Prana tersenyum.
Sementara Arum berjalan cepat meninggalkan tempat itu.
"Hampir saja aku keceplosan," Arum bicara sendiri.
"Tapi aku tadi malah sempat- sempatnya memberitahu namaku, dasar bo**h," umpatnya pada diri- sendiri.
Arum memukul jidatnya sendiri, mentang- mentang melihat laki- laki ganteng ia lupa untuk menjaga rahasia agar nantinya tidak ada yang mengenalinya.
Sepanjang jalan Arum bicara sendiri.
" Tapi laki- laki itu terlihat baik dan bersahabat."
" Raden Bondo dulu juga baik, tapi akhirnya juga menyakiti hatimu," ucap kata hatinya yang lain.
"Tapi laki- laki yang bernama Raden Prana itu terlihat lemah lembut," bela kata hatinya yang lain.
"Semua laki- laki sama saja, baiknya cuma di awal saja...lihat saja nanti, seiring waktu sikapnya juga akan berubah," sanggahnya.
"Kenapa aku jadi memikirkan laki- laki yang bernama Raden Prana itu?"
" Baru juga sekali bertemu...dasar kamu Arum tidak bisa melihat mahkluk tampan," omelnya.
__ADS_1
"Tapi dia memang tampan...dan terlihat gagah," Arum senyum sendiri.
"Fokus pada tujuanmu Arum...kamu belum selesai membalas dendam...," kata hatinya memperingatkannya.