
Mira lebih bersemangat dengan kembalinya Poni ke rumah.
Hari itu Si Poni dimandikan oleh Mira.
"Andai kamu bisa bicara, aku ingin menanyakan banyak hal padamu," Mira mengusap kepala Poni yang sudah selesai dimandiin.
Bulu cokelatnya terlihat berkilat karena sudah bersih.
"Apa yang terjadi dengan kamu dan mas Dino, di mana kalian berpisah?"
Poni diam mendengarkan Mira bicara, namun matanya tetap memandang pada Mira sambil mengibas- ngibaskan ekornya, seolah ia adalah pendengar yang baik.
"Mungkin sebentar lagi menyusul tuanmu yang kembali," Mira mengusap kepala si Poni.
Poni membaringkan tubuhnya di lantai, lalu memejamkan matanya.
Mira membiarkan Poni untuk tidur, Mira merasa kesepiannya sedikit terobati dengan kembalinya Poni.
Setidaknya Mira merasa sedikit aman karena ia tidak benar- benar sendirian di rumah.
Mira lalu pergi ke dapur untuk mencuci tangannya, lalu mempersiapkan bahan- bahan kue untuk persiapan membuat kue.
Besok Mira harus jualan lagi, ia harus lebih bersemangat apalagi si poni sudah kembali.
*********
Pak Broto baru kembali dari tokonya, ia pulang lebih cepat dari biasanya.
Pak Broto merasa kepalanya sedikit pusing, mungkin karena ia kelelahan.
Ia tinggalkan toko berasnya di pasar dan membiarkannya dijaga oleh Reni, adik Dino.
Pak Broto pulang dengan diantar salah satu pegawai tokonya.
Sesampainya di rumah, Pak Broto segera membaringkan tubuhnya di sebuah dipan jati yang ada di dekat dapur rumahnya.
Isterinya segera menghampirinya dan memegang dahinya.
" Tidak panas...," kata isterinya.
" Iya cuma sedikit pusing Bu, mungkin karena kelelahan," jawab Pak Broto.
" Ya udah, tidur saja Pak," sahut ibunya Dino.
Pak Broto memejamkan matanya...
Pak Broto mulai terlelap, tak lama kemudian ia bermimpi....
Pak Broto berjalan menyusuri sebuah tanah gersang...yang ada hanya hamparan rumput- rumput kering yang sudah menguning.
Matahari bersinar sangat terik, Pak Broto melindungi matanya dari silaunya cahaya matahari.
Pak Broto memandang sekelilingnya, sunyi tanpa terlihat satu orang manusiapun.
Hanya ada dirinya sendiri yang berada di situ, berjalan menyusuri jalan setapak.
Angin bertiup sangat kencang sampai mengibas- ngibaskan ujung pakaian yang ia kenakan.
" Aku lagi di mana?" gumamnya.
"Ayah...." seperti suara Dino yang memanggilnya.
Pak Broto mencari asal suara yang memanggilnya.
Namun tidak nampak ada Dino di situ.
Pak Broto meneruskan langkahnya.
__ADS_1
Lalu...
"Ayah.....tolong Dino.." terdengar lagi suara Dino yang memanggilnya, kali ini ditambah dengan teriakan meminta tolong.
Pak Broto mencari sumber suara yang memanggilnya, namun tidak tampak satu orang manusia pun yang terlihat di sana.
" Di sini ayah....," terdengar lagi suara Dino.
Pak Broto setengah berlari mendekati suara putera sulungnya yang memanggilnya.
Setelah didekati suara itu menghilang, Pak Broto celingukan mencari- cari orang yang dirindukannya.
"Ayah....," suara itu menjauh.
Pak Broto kembali mencari, dengan masih setengah berlari untuk mendekati suara yang memanggilnya.
"Dino.....," teriak Pak Broto.
Sunyi.....tak ada jawaban dari Dino.
"Dino, kamu di mana......?" Pak Broto kembali berteriak.
" Ayah....aku di sini," di kejauhan Pak Broto melihat Dino berdiri.
Hanya siluet tubuhnya yang terlihat jelas, sedangkan wajah Dino tidak terlihat jelas karena silaunya pancaran sinar matahari.
"Ayah...." teriak Dino.
Pak Broto menghampiri Dino, semakin dekat jarak di antara mereka.
Pak Broto baru bisa melihat wajah anaknya, terlihat pucat dan wajahnya terlihat sangat tirus.
Tubuhnya juga terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
"Dino, kamu kemana saja Nak?" Pak Broto memegang tangan Dino.
Pak Broto melihat pergelangan tangan putera sulungnya itu, dan ia sangat terkejut melihat banyak bekas luka yang masih merah.
Seperti luka tusukan benda tajam?
" Tanganmu kenapa Nak?" tanya Pak Broto.
Dino hanya menggelengkan kepalanya, lalu matanya melirik ke kiri dan ke kanan seakan- akan takut pada sesuatu.
"Dino, tanganmu kenapa?" tanya Pak Broto mengulang pertanyaannya.
" Takut Pak...," jawab Dino.
" Takut? pada apa? pada siapa?" Pak Broto melihat di sekelilingnya.
" Pada itu...." tunjuk Dino di belakang tubuh Pak Broto.
Pak Broto menoleh ke belakang punggungnya, nampak bayangan sesosok perempuan berpakaian seperti puteri- puteri keraton atau puteri bangsawan zaman dulu.
Perempuan itu cantik tapi berwajah pucat, ada mahkota kecil berbentuk kepala rusa di atas rambut panjangnya.
Perempuan itu tersenyum menyeramkan, Pak Broto sampai bergidik melihatnya.
"Sedikit lagi....tunggu sebentar lagi...hi....hi...," perempuan itu tertawa menyeramkan.
"Apa maksudnya? Pak Broto bergumam dalam hati.
"Kau apakan puteraku?" tanya Pak Broto.
"Ini karena puteramu berhutang nyawa padaku....hi...hi....," perempuan itu mengikik.
Berdiri bulu kuduk Pak Broto mendengar suara tawa perempuan itu.
__ADS_1
" Ayo kita pulang Nak," Pak Broto merarik lengan Dino.
" Tidak bisa, dia masih harus menerima hukumannya," lantang terdengar suara perempuan berwajah pucat itu.
" Kenapa tidak bisa? ia puteraku, aku berhak membawanya pulang," jawab Pak Broto dengan berani.
"Kalau kamu berani melawanku, akan ku tambah hukuman buat anakmu," ancam perempuan itu.
" Tolong ampuni anakku...lepaskan dia...ibunya sangat merindukannya," mohon Pak Broto.
"Belum saatnya...," jawab perempuan menyeramkan itu.
"Bagaimana cara agar kamu mau melepaskan anakku?" tanya Pak Broto lagi.
"Tunggu sampai hukumannya selesai, akan ku antar sendiri dia kepadamu," janji perempuan itu.
Perempuan itu lalu melangkah mendekati Dino, Pak Broto ingin menghalanginya.
Tapi perempuan itu mendorong Pak Broto, tenaganya sangat kuat.
Pak Broto tidak menyangka, tenaga perempuan itu seperti tenaga dua orang laki- laki.
Pak Broto hampir jatuh terjengkang, sementara perempuan itu hanya tertawa mengikik yang merindingkan bulu kuduk.
Lalu terdengar alunan suara gamelan di kejauhan.
Tampak barisan beberapa orang perempuan berwajah pucat, berwajah keturunan Belanda, dan berambut pirang.
Mereka memakai pakaian Belanda zaman dulu, mereka membentuk barisan untuk menjemput Dino.
Terlihat Dino digiring dengan pasrah...
seperti seorang pesakitan yang menuju tiang gantungan.
Pak Broto ingin mencegah kepergian Dino, tapi ia dihalangi dengan tatapan penuh ancaman dari perempuan berwajah pucat itu.
Pak Broto mengurungkan niatnya, ia hanya berdiri melihat Dino yang dibawa pergi.
Mereka kemudian menghilang di kejauhan.
Tinggallah Pak Broto yang sendirian di tempat itu, keringatnya sudah mengalir deras turun di seluruh tubuhnya.
Pak Broto mengusap keringat yang turun di pelipisnya, terasa semakin gerah.
Lalu Pak Broto berbalik arah, ia kembali ke jalan setapak tempat awal ia datang.
Matahari yang tadinya terik perlahan menghilang, berganti menjadi mendung yang datang tiba- tiba.
Angin bertiup dengan kencang...Pak Broto menggigil.
Ia merasa angin dingin itu terasa sangat menusuk, dinginnya sampai ke tulang.
Pak Broto ingin pulang, ia memanggil isterinya.
" Bu....Bu...aku ingin pulang," teriaknya.
"Bu...."
"Pak...bangun Pak...kamu bermimpi?"
Bu Broto menepuk- nepuk lengan suaminya.
"Bangun Pak...sudah sore..." panggilnya lagi.
Pak Broto perlahan membuka matanya, ia melihat isterinya yang sedang menatapnya dengan khawatir.
"Bapak mimpi apa, sampai teriak- teriak begitu?" tanya Ibu Dino.
__ADS_1
"Dino...." gumam Pak Broto lirih.