Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Gangguan


__ADS_3

Setelah dagangan Mira dan mbak Susi habis, Mira beres- beres di dapur.


Dari pagi Mira merasa gelisah, belum ada tanda- tanda mas Dinonya akan kembali.


"Apakah mimpi ku selama ini hanya sekedar mimpi?" keluh Mira.


Ia sudah hampir tidak bisa menahan kerinduannya lagi.


Selama 180 hari ini Mira berusaha untuk sabar menanti, namun 180 hari sudah berlalu namun harapannya masih tinggal harapan.


Air mata Mira tanpa sadar sudah mengalir turun membasahi pipinya.


Mira menahan kesedihan hatinya, ia takut Dino tidak akan kembali lagi.


Selama ini setiap saat Mira selalu menyebut nama suaminya dalam doa panjangnya.


Ia selalu memohon kepada Sang Pencipta agar mas Dinonya selamat dan bisa kembali pulang.


Si Poni mendekatinya, ia seakan mengerti kesedihan Mira.


Ia tidur meringkuk di dekat kaki Mira.


Mira memandang anjing kesayangan Dino itu dengan sejuta kesedihan.


"Poni, apa tuan mu akan kembali?" tanya Mira.


Poni mengedip- ngedipkan matanya, seakan ia mendengarkan perkataan Mira.


*********


Pagi ini Dino bangun dengan tubuh yang lebih segar.


Sudah lama ia tidak tidur di atas kasur yang empuk.


Dino berjalan keluar kamar, masih dengan agak sempoyongan.


Ia mencari ibunya yang sedang berada di dapur.


Ibunya sedang melihat Bi Siti, pembantu mereka yang hanya datang bekerja di pagi sampai siang hari.


Bu Siti memandang Dino dengan mata terbelalak, Bu Broto dari tadi tidak menceritakan padanya bahwa Dino sudah kembali.


"Aden Dino....apa benar ini Den Dino?" tanya Bu Siti.


" Iya Bi Siti, ini aku Dino," jawab Dino.


Ibu Dino bangun dari duduknya lalu menyuruh Dino untuk duduk.


Anaknya itu terlihat lebih segar dibandingkan semalam saat ia baru kembali.


"Lapar Bu..." kata Dino.


"Bu Siti...tolong ambilkan nasi untuk Dino makan," perintah Bu Broto pada bi Siti.


Bi Siti mencuci tangannya, lalu mengambilkan piring untuk Dino lalu mengisinya dengan nasi.


"Makasih Bi Siti," ucap Dino.


Dino menyendokkan sayur dan lauk ke dalam piringnya.

__ADS_1


"Masakan Bi Siti enak sekali," puji Dino.


Ia makan dengan lahap.


" Bapak udah berangkat kerja Bu?" tanya Dino.


"Sudah dari pagi Nak," jawab ibu Dino.


Setelah Dino selesai makan, Bu Broto mendekati anaknya.


Ibu Dino menarik bangku yang ada di sebelah Dino, lalu ia duduk di sebelah puteranya itu.


" Dino, bisa kamu ceritakan pada ibu apa yang kamu alami selama kamu di hutan?" tanya ibu Dino ingin tau.


Dino menggelengkan kepalanya, ia juga tidak tau apa yang selama ini ia alami.


Dino tidak bisa mengingat kejadian dari ia mulai tersesat.


"Lalu luka di tanganmu? apa yang membuatnya bisa seperti itu?" cecar ibu Dino.


Dino memandang bekas luka di pergelangan tangannya.


Dino berpikir keras, ia tidak juga tidak tau bagaimana ia bisa mendapatkan bekas luka di pergelangan tangannya.


Bekas luka itu bukan hanya satu, tapi banyak...seperti bekas luka tusukan dari benda yang berbentuk runcing.


"Dino tidak ingat Bu," jawab Dino.


"Lalu apa yang masih bisa kamu ingat Nak?"


Dino berpikir sejenak, tidak banyak yang ia ingat.


"Terus..?" ibu Dino terlihat tidak sabar mendengar kelanjutan cerita Dino.


" Lalu Dino menembak rusa itu tepat di jantungnya."


"Dino mengira rusa itu akan langsung mati, tapi ternyata dugaan Dino meleset rusa itu masih bisa bangun dan melarikan diri."


"Lalu Dino bersama Poni mengejar rusa itu," lanjut Dino.


"Tapi tunggu dulu...Poni...di mana Poni?" Dino baru mengingat anjing berbulu cokelat itu.


Dino memijit kepalanya yang terasa sangat sakit...ia tidak bisa dipaksa untuk mengingat semuanya.


"Kenapa Nak? kamu sakit kepala?" tanya Bu Broto dengan khawatir.


"Sudah jangan dipaksa mengingat lagi, nanti pelan- pelan saja," Bu Broto sedikit merasa bersalah, ia terlalu mendesak anaknya.


"Nanti minta bapakmu untuk membawamu ke rumah sakit Nak, kamu harus diperiksa," kata ibu Dino.


"Aku ingin mandi Bu...bisa tolong bantu papah Dino ke kamar mandi?" pinta Dino.


Kepalanya terasa sakit setelah terlalu dipaksa untuk mengingat kejadian yang ia alami.


Bu Broto lalu membantu Dino berjalan menuju kamar mandi lalu meninggalkan Dino untuk mandi sendiri.


" Hati- hati Nak, panggil ibu kalau udah selesai," pesan ibu Dino.


" Mengapa tidak ajak neng Mira, isteri den Dino kemari Bu? bukankah kalau ada isterinya bisa mengurus keperluan den Dino?" celetuk bi Siti.

__ADS_1


"Jangan sebut- sebut nama perempuan itu Bi Siti...," Bu Broto terlihat kesal.


" Tapi Bu kasihan den Broto Bu....," sahut bi Siti.


" Sudah... sudah...bi Siti urus saja pekerjaan bi Siti sendiri...jangan terlalu ikut campur yang bukan urusan bi Siti" balas Bu Broto ketus.


Bi Siti langsung bungkam, ia tidak berani menyahut lagi.


"Ah....siapa kamu? pergi dari sini....," Dino tiba- tiba teriak di kamar mandi.


Terdengar pintu kamar mandi terbuka, Dino yang sudah selesai mandi dan sudah berpakaian terlihat ketakutan...


"Dino kamu kenapa Nak?" Bu Broto berlari menghampiri anaknya.


Bi Siti juga spontan berlari mendekati Dino.


"Den Dino kenapa Den?" tanyanya ikutan cemas.


"I...itu..." Dino menunjuk ke arah kamar mandi, wajahnya sudah seputih kapas.


Dino memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit, mata Dino sedikit terpejam. Ia terkulai lemas....Dino pingsan.


Bu Broto dengan sigap menahan kepala Dino agar tidak terbentur lantai.


"Bi Siti...coba tolong lihat...ada apa di dalam kamar mandi," pintanya pada bi Siti.


Bu Siti dengan tergopoh- gopoh mengecek ke dalam kamar mandi.


"Tidak ada apa- apa Bu...," jawab Bu Siti bingung.


"Coba tolong bantu angkat Dino bi...," suruh Bu Broto.


Mereka berdua dengan bersusah payah menyeret tubuh Dino yang walaupun sangat kurus tapi masih terasa berat untuk dua perempuan bertubuh subur itu.


Mereka tidak kuat mengangkat tubuh Dino, hanya dengan sekuat tenaga lalu menyeret tubuh Dino kemudian mengangkatnya sedikit demi sedikit dan membaringkannya di dipan jati yang ada di dekat dapur itu.


Kedua wanita yang sama- sama bertubuh gembur itu tampak sudah mandi oleh keringat sehabis bekerja keras membantu Dino.


" Bi Siti bisa bantu ambil air buat menyadarkan Dino?" tanya Bu Broto dengan napas terengah.


Bi Siti menenangkan napasnya, lalu mengambil sebaskom air dan membasahi wajah Dino dengan sedikit air.


"Bangun Den Dino....," Bi Siti memanggil Dino sambil menepuk pipi Dino.


"Dino....sadarlah Nak...," Bu Broto mengguncang tubuh Dino.


Perlahan Dino mulai membuka matanya, ia mengerjapkan matanya.


Lalu ia terlihat seperti ketakutan, matanya mencari- cari.


" Dino...apa yang kamu lihat Nak?" tanya ibu Dino.


"Perempuan.....sosok perempuan....," jawab Dino.


"Perempuan? perempuan siapa?" tanya ibu Dino.


Bi Siti menggosok tengkuknya yang tiba- tiba merinding.


" Sosok perempuan tanpa mata....cuma terlihat hidung dan mulutnya....lidahnya panjang menjulur....," jawab Dino ketakutan.

__ADS_1


"A....pa...?" Bu Broto dan bi Siti berpandangan dengan tubuh gemetar...


__ADS_2