Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Mira melawan


__ADS_3

Mira mengajak mbak Susi untuk ke rumah mertuanya kembali.


Hatinya belum percaya selama belum melihat sendiri ke dalam rumah mertuanya.


Setelah sampai, mbak Susi memarkirkan motornya agak jauh dari situ.


Mereka berdua mengawasi rumah mertua Mira yang terlihat sepi.


"Apa yang harus kita lakukan mbak? kalau kita mengetuk pintu pasti percuma karena kita pasti diusir lagi," kata Mira.


"Coba kamu masuk lewat pintu belakang Mir, biar mbak mengetuk pintu depan untuk mengalihkan perhatian," jawab mbak Susi setelah berpikir.


" Bagaimana kalau pintu belakang terkunci mbak?" tanya Mira.


Mbak Susi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, benar juga apa kata Mira...kalau pintu belakang terkunci tetap saja Mira tidak bisa masuk.


"Atau begini saja, kamu ngumpet di sebelah rumah...nanti mbak ketuk pintunya, kalau pintunya terbuka kamu terobos masuk saja," mbak Susi kembali memberi saran.


" Kalau dihalangi masuk mbak?" tanya Mira ragu.


" Mbak akan berusaha memegang tangan mertuamu Mir, kepalang basah kita sudah datang ke sini...masa harus pulang dengan hati penasaran lagi," Mbak Susi berkata dengan semangat.


" Hari ini kita sudah harus mendapatkan jawabannya...," sambung mbak Susi lagi.


"Baiklah mbak, tapi bagaimana kalau kita diteriaki maling atau rampok?" Mira masih terlihat ragu.


" Biarkan saja, toh kita tidak membawa senjata...itu urusan belakangan...nanti saja dipikirkan...udah jangan terlalu banyak pikir keburu siang," tukas mbak Susi.


Akhirnya Mira mengikuti saran mbak Susi, ia bersembunyi di sebelah rumah mertuanya.


Mbak Susi mengetuk pintu.


Tok..tok...tok..


Masih belum ada yang membukakan pintu.


Mbak Susi mengetuk pintu lagi...


Tok...tok...tok...


Terdengar langkah berat mendekat...


"Siapa yang datang bertamu jam segini?" terdengar suara dari arah dalam rumah.


Krek....


Pintu terbuka, ibu mertua Mira berdiri di tengah pintu...


"Kamu....ada apa kemari? kamu bersama Mira?" Bu Broto celingak- celinguk mencari Mira.


" Maaf mengganggu Bu, kemarilah ikut saya," mbak Susi menarik tangan ibu Dino hingga ia maju beberapa langkah tanpa menghalangi pintu lagi.


"Sekarang Mir....," teriak mbak Susi.


Mira yang mendengar aba- aba dari mbak Susi langsung berlari menerobos ke dalam rumah ibu mertuanya.

__ADS_1


Bu Broto terperangah....ia ingin mengejar Mira untuk menghalanginya masuk, tapi mbak Susi memegang tangannya.


Walaupun Bu Broto tubuhnya gemuk, tapi soal tenaga ia kalah jauh dengan mbak Susi yang sudah terbiasa bekerja berat.


Bu Broto kesulitan melepaskan tangannya yang dipegang erat oleh mbak Susi.


Bu Broto hanya bisa berteriak pada pembantunya.


"Bi Siti....ada penerobos masuk ke rumah...halangi dia," teriak Bu Broto.


Bi Siti yang sedang sibuk di dapur mendengar teriakan majikannya, ia bergegas menjaga di depan pintu kamar Dino.


Mira melesat masuk, mencari dari satu kamar ke kamar lainnya.


Yang terakhir ia sampai di depan kamar Dino yang dijaga oleh Bi Siti.


"Neng Mira sedang apa di sini?" tanya Bi Siti cemas.


"Mau memeriksa apakah benar Mas Dino sudah kembali," jawab Mira.


"Ti...tidak ada Neng...sungguh...," Bi Siti yang gugup malah membuat Mira semakin curiga.


"Bolehkah saya melihat ke dalam kamar Bi...tolong...saya janji akan segera pergi kalau memang benar mas Dino tidak ada di sini," Mira menangkupkan kedua tangannya.


"Ta...tapi Neng...saya bisa kena marah," Bi Siti terlihat cemas, ia sebenarnya kasihan pada Mira, tapi ia juga takut kena marah Bu Broto.


"Tolong Bi...coba kalau bi Siti jadi saya ...apa Bi Siti bisa merasakan sedihnya kehilangan suaminya...tolong Bi...," mohon Mira memelas.


Akhirnya Bi Siti menyerah, bagaimanapun ia sebenarnya juga tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh orang tua Dino.


"Baiklah Neng...," Bi Siti menyingkir dari depan pintu, lalu membiarkan Mira membuka pintu kamar Dino.


"Mas Dino....," teriak Mira.


Dino menoleh ke arah Mira, ia mengerenyitkan dahinya.


"Kamu siapa?" tanyanya bingung.


Mira tersentak, dia bingung melihat Dino yang tidak mengenalinya.


"Mas Dino, aku Mira isterimu..." jawab Mira.


"Mira? isteriku?" Dino bingung, lagi- lagi nama Mira disebut.


"Iya Mas Dino, apa yang terjadi sama mas Dino? mengapa tidak mengenali Mira?" Mira tergugu, ia sedih melihat kondisi suaminya yang terlihat kurus.


Mira memeluk suaminya, Dino hanya diam terpaku...


"Mas Dino, ayo kita pulang ke rumah kita," Mira menarik tangan Dino.


"Ke rumah kita? bukankah ini adalah rumahku?" tanya Dino.


"Ini rumah orang tua mas Dino...bukan rumah kita," jawab Mira menyeka air matanya yang tidak terasa turun begitu saja.


Dino menatap dalam mata Mira, ia merasa tidak asing melihat wajah Mira.

__ADS_1


Namun ia sama sekali tidak bisa mengingat Mira.


"Ayo mas Dino...," Mira menarik tangan Dino, mata Mira fokus pada pergelangan tangan Dino yang banyak terdapat bekas luka.


"Mengapa tangan mas Dino banyak bekas luka?" tanya Mira mengusap lembut pergelangan tangan suaminya.


Dino merasa nyaman dengan perlakuan lembut dari Mira, dalam hatinya timbul kepercayaan bahwa apa yang dikatakan Mira bahwa ia adalah isteri Dino adalah suatu kejujuran.


Dino bangun mengikuti Mira, Mira memegang hangat tangannya.


Tidak henti- hentinya Mira mengucap syukur karena suaminya masih hidup walaupun dalam keadaan tidak bisa mengingat Mira.


Mira membawa Dino keluar rumah menemui mbak Susi yang masih menahan tangan ibu Dino.


Ibu Dino terlihat lelah, dari tadi ia berusaha memberontak melepaskan pegangan tangan mbak Susi, tapi tidak berhasil malah tubuhnya yang subur itu sudah terlihat berkeringat.


Mbak Susi membulatkan matanya, ketika melihat Mira yang keluar bersama dengan Dino.


Bu Broto terkesiap, rencananya untuk menyembunyikan Dino dari Mira telah gagal total.


"Mbak Susi, ayo kita pulang...mbak Susi bisa memanggil ojek untuk mas Dino?" tanya Mira.


"Bisa Mir...tunggu di sini," Mbak Susi melepaskan tangan Bu Broto.


Mbak Susi menuju ke arah sepeda motornya, ia menjalankan motornya untuk memanggil ojek yang banyak mangkal di depan jalan besar.


Sementara Bu Broto menggosok- gosokkan pergelangan tangannya yang memerah.


"Kuat juga tenaga perempuan itu," gumamnya kesal.


Lalu ia beralih kepada Mira.


"Lepaskan Dino, ia tidak boleh pergi bersama perempuan pembawa sial macam kamu," tunjuk Bu Broto.


"Saya berhak membawa suami saya, kalau ibu coba- coba menghalangi...saya akan laporkan ibu pada polisi...saya akan tunjukkan surat nikah saya pada polisi sebagai bukti," sahut Mira dengan berani, selama ini ia sudah banyak mengalah dan rela dihina.


Tapi tidak untuk kali ini, ia sudah kehilangan kesabarannya. kedua mertuanya sengaja menyembunyikan Dino yang sudah kembali.


Dan ini sudah sangat keterlaluan, mertua Mira memanfaatkan Dino yang kehilangan ingatannya untuk memisahkan mereka.


Ibu Dino terdiam, ia takut ketika Mira mengancamnya akan melaporkannya pada polisi.


Bagaimanapun Mira berada di pihak yang benar, ibu Dino tidak akan menang jika dibawa ke jalur hukum.


Mbak Susi kembali diikuti oleh ojek motor di belakangnya.


"Ayo mas Dino kita pulang," ajak Mira pada Dino.


" Bu...Dino pergi dulu...pamitkan nanti sama bapak," Dino berpamitan pada ibunya.


Dino naik ke atas boncengan tukang ojek setelah memakai helm di kepalanya.


Mira naik ke boncengan mbak Susi, lalu berlalu dari situ tanpa pamit pada ibu mertuanya.


Di belakangnya ojek yang membawa Dino mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Bu Broto hanya memandang kepergian mereka dengan cemberut...ia sangat kesal...


"Awas kamu nanti Mira...," ucapnya dengan penuh kemarahan.


__ADS_2