
Dino dan Mira masuk ke dalam rumah.
Dino napasnya agak terengah- engah, lagi- lagi ia melihat penampakan seorang perempuan.
"Apa yang mas Dino lihat? Mira tidak melihat apa- apa," tanya Mira.
"Sesosok perempuan berbaju putih berambut panjang...sepasang matanya merah menyala," jelas Dino dengan suara gemetar.
"Yang Mira heran dari mana kucing hitam tadi bisa masuk ke rumah? padahal pintu dan jendela sudah tertutup semua," Mira berpikir keras.
"Entahlah Mir, bingung memikirkan semuanya...," jawab Dino sambil menghela napas panjang.
"Poni belum kembali, dia mengejar kucing hitam itu sampai di mana?" tanya Mira.
"Kita tunggu saja Mir...," baru saja Dino menjawab, Poni masuk ke dalam rumah.
Poni mengedip- ngedipkan matanya dan menggaruk pinggir hidungnya.
Dino mendekati Poni.
"Ia terluka Mir...," Dino memegang kaki depan Poni yang menggaruk- garuk pinggir hidungnya.
Tampak segaris merah dan mengeluarkan sedikit darah, mungkin si Poni tidak merasa nyaman dengan lukanya, makanya ia mengaruk- garuk.
Mira ke dalam mengambil kotak obatnya, ia mengoleskan salep di luka Poni.
"Kamu bandel Poni....sudah dibilang jangan dikejar," omel Dino yang membuat Mira tersenyum mendengarnya.
Mira lalu menutup pintu rumah, ia tidak ingin Dino kembali melihat penampakan yang aneh.
"Mas Dino, Mira mau membuat kue di dapur ya....," ujar Mira.
"Iya Mir, Aku juga mau mandi bersiap- siap nanti mau berangkat kerja," Dino bangun dari duduknya.
Poni mengekori di belakang mereka.
**********
Pak Broto ditawari proyek kerja sama oleh kenalannya yang seorang pengusaha di kota.
Pengusaha yang bernama Pak Rinto itu ingin membuka tempat pameran penjualan furniture yang khusus mengutamakan hasil kerajinan rotan dan kayu.
Pak Rinto sedang mengurus perizinan untuk mengambil hasil hutan yang masih di wilayah daerah Pak Broto.
Pak Broto belum mengetahui hutan yang menjadi target Pak Rinto adalah hutan tempat Dino menghilang waktu berburu saat itu.
Pak Broto menyetujui kerja sama itu, karena akan ada pembagian keuntungan yang membuat Pak Broto tergiur.
Karena Pak Broto selama ini sudah mengenal Pak Rinto yang sudah berpengalaman dan sudah terkenal sepak terjangnya dan sudah malang- melintang terjun di dunia usaha.
********
"Mira...Mira...tolong bantu bebaskan aku," Mira mendengar suara bisikan di telinganya.
Mira menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapa- siapa.
__ADS_1
Mira sedang sibuk di dapur mempersiapkan bahan- bahan kue untuk besok.
Mira kembali melanjutkan menimbang gula dan terigu lalu memisah- misahkannya ke dalam kantong plastik.
"Mira....Mira...tolong...," kembali suara itu berbisik di telinganya.
"Aku tersiksa di sini, tolong bantu bebaskan aku...," bisikan itu semakin kencang di telinga Mira.
Bulu kuduk Mira meremang, Mira mempercepat kerjanya lalu menyimpannya dalam satu kantong plastik besar dan menggantungnya di paku yang ada di dapur.
Kaki Mira gemetaran.
Mira bergegas keluar dari dapur lalu mencari keberadaan Si Poni.
Dino belum pulang dari bekerja, saat ini hanya Mira sendirian di rumah dengan ditemani Si Poni.
Si Poni sedang meringkuk di ruang tengah.
Mira memanggilnya.
"Poni...kemarilah kita duduk di ruang depan," panggil Mira.
Poni yang sedang berbaring lalu mengikuti Mira ke ruang tamu.
Mira lalu membuka pintu depan lebar- lebar.
Mira duduk di ruang tamu, Poni lalu berbaring di dekat kaki Mira.
Mira merenung, mengapa akhir- akhir ini mereka selalu mengalami banyak keanehan.
"Halo Mir...," terdengar suara mbak Susi menjawab panggilan Mira.
"Mbak Susi lagi sibuk?" tanya Mira.
"Enggak Mir, ini baru selesai mempersiapkan bahan- bahan kue buat besok," jawab Mbak Susi.
"Nanti Mbak Susi bisa tolong datang ke sini?" tanya Mira.
"Oke Mir...tapi ada apa?" tanya Mbak Susi heran.
"Nanti Mira cerita di rumah Mira aja mbak," jawab Mira.
"Ya sudah, bentar lagi Mbak ke sana," balas Mbak Susi.
Mira menghapus keringat yang membasahi pelipisnya.
Ia masih gemetaran.
Mbak Susi muncul di depan pintu, ia melihat wajah Mira yang agak pucat.
"Kamu kenapa Mir? sakit?" tanya Mbak Susi lalu ia duduk di sebelah Mira.
Mira menggelengkan kepalanya.
"Mbak, apa Mira dan Mas Dino punya salah ya? mengapa makhluk- makhluk astral itu terus mengganggu?" Mira menatap Mbak Susi.
__ADS_1
"Ceritakan pelan- pelan Mir, Mbak ga ngerti," kata Mbak Susi.
Mira lalu menceritakan semua kejadian yang Mira dan Dino alami.
"Kamu kok ga cerita Mir, mbak kira selama ini kalian baik- baik saja setelah mas Dino mu kembali," tukas Mbak Susi.
"Mira mengira kejadian kemarin hanya kebetulan saja, jadi Mira ga mau membesar- besarkannya," jawab Mira.
"Tapi ini udah keseringan mbak, Mira jadi takut ini ada ada hubungannya dengan hilangnya Mas Dino di hutan waktu itu," tambah Mira.
Mbak Susi berpikir sejenak.
"Nanti mbak coba ceritakan hal ini sama si Nandar, mungkin dia bisa menjelaskannya," Mbak Susi memberi solusi.
"Tapi apa ga merepotkan mas Nandar mbak?" tanya Mira tidak enak hati.
"Santai aja Mir, mbak Susi udah lama mengenal sifat si Nandar, ia pasti tidak akan merasa direpotkan...nanti serahkan sama mbak ya....kamu jangan khawatir," jawab Mbak Susi sambil menepuk lengan Mira.
"Makasih mbak Susi...Mira selalu saja merepotkan mbak Susi," jawab Susi.
"Ga direpotkan, mbak sudah bilang berkali- kali, kamu itu sudah mbak anggap sebagai adik mbak sendiri," ucap mbak Susi tersenyum hangat.
Mira menjadi tenang melihat senyuman mbak Susi.
*********
Dino sudah pulang, dan Mira menceritakan kejadian yang ia alami di dapur tadi siang.
"Ada suara minta tolong mas....suara seorang perempuan," cerita Mira pada Dino.
Dino mendengarkan cerita Mira sambil berpikir keras, mengapa kejadian aneh demi kejadian aneh terus menghantui mereka.
"Apa ini ada hubungannya dengan hilangnya aku kemarin saat berburu di hutan saat itu?" tanya Dino.
"Itu juga yang sempat terlintas di pikiran Mira mas...," balas Mira.
"Mbak Susi nanti akan meminta bantuan Mas Nandar....," kata Mira.
"Mas Nandar yang saudara dari Mas Darto?" tanya Dino.
"Ini kok mas Dino ingat? ga lupa?" tanya Mira heran.
"Ga tau Mir....ingatan aku ada ingat ada yang lupa," jawab Dino.
"Iya mas, mas Nandar itu adik sepupunya mas Darto," Mira menjelaskan.
"Apa Mas Nandar bisa membantu kita? emang dia punya kelebihan ya Mir?" tanya Dino.
"Iya mas, kan Mira udah pernah cerita...garam yang ada di kamar kita itu juga Mas Nandar yang suruh taroh di situ dan ga boleh disapu," cerita Mira.
"Kalau garamnya mencair gimana Mir?" tanya Dino.
"Mira masih menyimpan sisa Mas, kalau mencair tinggal diganti," jawab Mira.
"Semoga saja semua ini cepat berakhir Mir, aku ga kuat lama- lama melihat sosok- sosok menyeramkan itu," sambung Dino.
__ADS_1
"Mira juga ingin hidup tenang mas Dino..."