
Tubuh Ningrum yang tergantung diturunkan, Gusti Arya membuka kain selendang yang menjerat lehernya dibantu oleh Raden Bondo.
Isak tangis langsung terdengar dari rumah kediaman keluarga Gusti Arya.
Para pelayan juga ikut menangis melihat kematian Ningrum yang sangat tragis.
Selama ini Ningrum adalah sosok gadis yang ramah, lembut, dan baik kepada para pelayan yang bekerja di sana.
Raden Ayu Ditha menangis sejadi- jadinya, ia tidak pernah menyangka puteri yang sangat disayanginya itu sudah tidak bernyawa.
Yang ia sesalkan, mengapa ia mengabulkan keinginan Ningrum untuk sendirian tadi malam.
Raden Ayu Ditha tadinya sudah merasa tenang melihat Ningrum sudah mau tersenyum dan banyak bicara.
Kemarin juga Ningrum bersikap sangat manja pada Raden Ayu Ditha, apakah itu merupakan suatu pertanda Ningrum akan pergi.
Raden Ayu Ditha memandang Anum yang berdiri diam di sana, kata- kata nenek aneh itu tiba- tiba terngiang kembali di telinganya.
Menantu perempuanmu ...usir dia...dia pembawa sial..."
"Kejadian demi kejadian buruk akan menimpa anggota keluarga yang lainnya...lihat saja."
Raden Ayu Ditha menghampiri Anum, ia mendorong tubuhnya.
Anum hampir terjengkang, ia berpegangan pada tepi pintu.
" Bunda kenapa?" tanya Anum kaget.
" Semua karena kamu....," tunjuk Raden Ayu Ditha dengan suara kencang, ia mengusap air matanya.
Semua orang yang ada di situ langsung melihat. Gusti Arya dan Raden Bondo yang baru membaringkan tubuh Ningrum juga nampak kaget dengan sikap Raden Ayu Ditha.
" Apa salah Anum Bunda?" tanya Anum yang kebingungan.
"Kamu...."
"Dinda....apa yang kamu lakukan?" tegur Gusti Arya memotong kalimat Raden Ayu Ditha.
"Dia yang jadi penyebab semua kejadian ini," Raden Ayu Ditha berteriak dengan muka merah padam.
"Dinda...tenangkan dirimu...semua orang melihatmu," bujuk Gusti Arya.
Raden Bondo turut menenangkan Raden Ayu Ditha.
" Tenang bunda...ini bukan salah siapa- siapa, Ningrum memilih mengakhiri hidupnya sendiri....," Raden Bondo mengelus- ngelus lengan bundanya.
"Tidak mungkin...bunda tidak percaya Ningrum melakukan ini...kemarin Ningrum sudah bisa tersenyum...ini semua pasti karena isterimu," teriak Raden Ayu Ditha sambil menangis.
" Apa salah Anum Bunda? mengapa bunda melimpahkan semua kesalahan pada Anum?" tanya Raden Bondo bingung.
"Karena isterimu pembawa sial," Raden Ayu Ditha yang mulai percaya dengan kata- kata nenek aneh itu tidak bisa menahan perasaannya lagi.
__ADS_1
Anum membelalakkan matanya, ia sangat terkejut Raden Ayu Ditha bisa berkata seperti itu tentang dirinya.
"Bunda....aku? pembawa sial?" tanyanya dengan suara parau.
Anum menahan air matanya yang sudah mau jatuh, ia merasa sangat sakit hati dengan tuduhan mertuanya.
Para pelayan saling memandang satu sama lain, mereka terkejut mendengar kata- kata yang keluar dari mulut Raden Ayu Ditha pada menantunya.
" Dinda...kamu jangan percaya dengan ramalan dari nenek aneh itu," tegur Gusti Arya.
" Nenek aneh? ramalan?" Anum bingung apa yang dibicarakan oleh ayah mertuanya.
"Tidak usah dipikirkan Anum...," jawab Gusti Arya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Ayanda? ramalan nenek aneh yang mana?" tanya Raden Bondo.
" Sudahlah Bondo, nanti saja kita bicarakan...kita harus mengurus jenazah Ningrum dulu...," tukas Gusti Arya, hatinya berduka karena kepergian puterinya.
Perasaan Anum sangat tidak enak, Raden Ayu Ditha menyebutnya sebagai pembawa sial.
Hatinya sangat sakit, Raden Ayu Ditha percaya setelah mendengar ramalan. Entah ramalan nenek aneh yang mana yang dikatakan tadi oleh Gusti Arya.
Keluarga Gusti Arya sibuk mengurus jenazah Ningrum, memandikan dan memakamkan jenazahnya.
Para tetangga bertanya- tanya, setelah kemarin baru ada kejadian menggemparkan hari ini disusul lagi dengan kejadian baru.
*********
Setelah pemakaman Ningrum selesai, Anum merasa kehilangan.
Ada rasa bersalah Anum terhadap Ningrum yang memanfaatkan kepolosan Ningrum, untuk Anum bisa bebas keluar rumah.
Anum pasti akan tambah kesepian berada di rumah.
Selama ini Anum yang menemani Ningrum dengan perasaan terpaksa, baru sekarang ia menyadari justru Ningrum lah yang selama ini menemaninya dari rasa kesepian.
Setelah ini Anum tidak ada teman ngobrol lagi, ditambah dengan sikap Raden Ayu Ditha yang menyalahkannya.
Raden Bondo tidak usah diharapkan, Anum jadi sedikit cemas bagaimana dengan dirinya setelah ini.
Ternyata pernikahannya dengan Raden Bondo tidak membuatnya bahagia.
Ia sudah melakukan kesalahan fatal, tapi Anum sudah tidak bisa memperbaikinya lagi.
Anum tidak mungkin berani meminta cerai dari Raden Bondo, di kalangan bangsawan itu merupakan hal yang sangat tabu dilakukan.
Kecuali ia yang diceraikan dari pihak keluarga laki- laki, maka itu bisa dilakukan.
Di masa itu, di kalangan bangsawan pihak wanita tidak boleh meminta cerai.
Perceraian hanya boleh dilakukan bila diinginkan oleh pihak laki- laki.
__ADS_1
Masih ada perbedaan kedudukan di antara pria dan wanita di masa itu.
Anum tidak menyangka, begitu banyak kejadian setelah ia masuk dalam keluarga Raden Bondo.
"Apa ini karma karena telah merebut Raden Bondo dari Arum?" sempat terbersit pikiran seperti itu dalam hati Anum.
"Pernikahan yang aku jalani tidak seindah yang ada di dalam bayanganku," gumam Anum dalam hati.
Apalagi setelah kematian Ningrum, sikap Raden Ayu Ditha seperti memusuhinya.
Anum juga tidak lagi bisa sembarangan keluar rumah, ia tidak punya alasan lagi dengan tidak adanya Ningrum.
Raden Bondo juga sikapnya tidak pernah berubah masih tetap dingin dan tidak begitu mempedulikan Anum.
Sementara Anum hanya bisa menahan dirinya untuk menerima keadaan.
*********
Anum sudah tidak bisa menahan diri lagi, ia merasa seperti burung dalam sangkar emas.
Tiap hari hanya berdiam diri dan tidak ada teman bicara.
Raden Ayu Ditha menjauhinya, setiap kali ia ingin mengajak ngobrol.
Anum kesepian....
Anum memberanikan diri untuk mendekati Raden Ayu Ditha yang memandang sinis padanya.
" Bunda bolehkah Anum bicara?" tanyanya hati- hati.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Raden Ayu Ditha menjawab dengan ketus.
" Bolehkah Anum pulang menengok Romo Anum?" tanya Anum.
" Tidak boleh," jawab Raden Ayu Ditha.
"Kenapa tidak boleh bunda?" tanya Anum lagi.
"Kamu adalah menantu perempuan kami, kalau kamu ingin pulang menjenguk Romomu tunggu suamimu," Raden Ayu Ditha menjawab ketus.
" Tapi kenapa Bunda? kanda Bondo siang selalu pergi bekerja....mana ada waktu?" tanya Anum.
" Kamu mulai berani membantah ibu mertuamu?" Raden Ayu Ditha terlihat mulai marah.
" Bukan begitu bunda, Anum merindukan Romo ..sudah lama Anum tidak menjenguknya," jawab Anum.
" Kamu sudah masuk dalam keluarga ini...kamu sudah menjadi isteri Raden Bondo....berkunjung ke rumah Romo mu sebaiknya bersama suamimu," jawab Raden Ayu Ditha tegas.
Anum tidak bisa berkata- kata lagi, ia sebenarnya ingin menemui Dimas, ia hanya mencari- cari alasan supaya diizinkan keluar dengan mengatakan ingin mengunjungi Romonya.
Rencana Anum telah gagal, ia akan mencari cara lain agar bisa keluar menemui Dimas.
__ADS_1
Sudah kepalang basah, Anum tidak begitu peduli lagi dengan nasib pernikahannya dengan Raden Bondo.
Ia hanya ingin mencari kebahagiaannya sendiri, walau dengan cara yang salah.