Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Yang satu bahagia, yang satu resah


__ADS_3

Muka Arum terlihat pucat, kepalanya terasa berputar...dari pagi belum ada sebutir pun makanan yang masuk ke perutnya.


Ia merasa mual, ingin muntah tapi yang dimuntahin cuma cairan asam dari perutnya.


Raden Prana memijit pelipis Arum dengan lembut.


Arum merasa tidak enak badan, bibirnya terlihat kering dan matanya terpejam untuk mengurangi rasa pusing.


Raden Prana yang melihat kondisi Arum sangat cemas, dari pagi Raden Prana tidak keluar menjaga Arum yang sakit.


"Arum...aku sudah menyuruh pelayan untuk memanggil tabib, sebentar lagi akan segera kemari," Raden Prana menggenggam jemari Arum.


Arum diam saja, ia malas bicara...


"Permisi den, tabibnya sudah sampai," salah seorang pelayan memberitahu Raden Prana.


"Langsung ajak masuk kemari aja," perintah Raden Prana.


"Baik den..."


Tak lama, tabib yang dipanggil masuk ke kamar dengan diantar pelayan rumah.


"Permisi ya Den...maaf saya periksa dulu denyut nadinya," tabib yang biasa dipanggil Ki Randu itu memegang pergelangan tangan Arum.


Ia terdiam lalu ia tersenyum.


"Gusti Ayu tidak apa- apa, selamat ya kalian akan segera menjadi orang tua...usia kehamilannya baru dua minggu," ujar Ki Randu tersenyum.


"Maksudnya isteri saya hamil Ki?" tanya Raden Prana tidak yakin dengan pendengarannya.


"Iya...Gusti Ayu sedang hamil muda...tolong dijaga jangan terlalu capek," tukas Ki Randu.


Raden Prana terlihat bahagia, ia memeluk Arum dengan sayang.


"Tapi isteri saya dari tadi belum bisa makan Ki, ia mual."


"Itu biasa terjadi di awal kehamilan, nanti saya akan memberikan ramuan untuk membantu menghilangkan rasa mual dan juga untuk penguat kandungannya, nanti saya suruh pembantu saya yang mengantar ramuannya kemari," imbuh Ki Randu.


" Makasih Ki," Raden Prana merogoh kantongnya lalu memberikan beberapa keping perak pada Ki Randu.


"Ini terlalu banyak den...," ucap Ki Randu.


"Terima saja Ki...itu juga untuk ucapan syukur karena saya akan menjadi seorang ayah," jawab Raden Prana.


"Kalau begitu saya permisi dulu den..nanti ramuannya diantar kemari," pamit Ki Randu.


"Makasih ya Ki..." ucap Raden Prana.


Raden Prana memeluk Arum.


"Arum...terima kasih ya...," senyumnya.

__ADS_1


"Apa Kangmas bahagia?" tanya Arum.


"Tentu saja sayang...," jawab Raden Prana tersenyum.


Arum sedikit khawatir dengan kehamilannya, bagaimana nanti ia akan memenuhi janjinya pada nenek Kanji dengan kondisinya yang sudah berbadan dua.


"Mudah- mudahan di saat malam bulan purnama aku sudah kuat," gumamnya dalam hati.


Arum tidak menyangka, ia langsung hamil padahal ia baru saja menikah.


Arum bahagia, cuma ada penyesalan dengan apa yang sudah ia lakukan.


Ia masih harus memenuhi janjinya pada nenek Kanji, Arum berniat membatalkan perjanjiannya itu tapi ia tidak tau bagaimana caranya.


Dalam hati Arum berjanji, pada saat malam bulan purnama nanti ia akan memohon pada nenek Kanji untuk membatalkan perjanjian mereka karena Arum ingin hidup tenang bersama Raden Prana dan calon anak mereka nantinya.


Raden Prana tidak henti- hentinya memeluk Arum, ia begitu bahagia.


Arum bahagia dengan kasih sayang yang Raden Prana tunjukkan padanya.


"Coba untuk makan ya, sedikit saja...tadi aku udah suruh pelayan buatin bubur buat kamu Arum," kata Raden Prana penuh perhatian.


"Coba sedikit aja Kangmas...aku masih merasa mual," jawab Arum.


"Iya satu dua suap aja, kasihan perutmu dari pagi masih kosong," Raden Prana mengecup jemari Arum lembut.


Hati Arum berbunga- bunga, ia tidak menyangka bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Raden Bondo.


*********


Raden Bondo sudah putus asa mencari Anum.


Akhirnya ia berterus terang kepada bundanya, Raden Ayu Ditha bahwa Anum tidak berada di rumah Romonya.


Raden Ayu Ditha sudah curiga saat Raden Bondo menjemput Anum ke rumah Romonya, tapi Raden Bondo pulang seorang diri tanpa membawa Anum.


Raden Bondo waktu itu beralasan Anum sedang pergi menemui teman- temannya.


Setelah didesak oleh Raden Ayu Ditha, akhirnya Raden Bondo mengatakan yang sejujurnya.


"Isterimu itu sudah keterlaluan, pergi tanpa izin dari suami dan mertua," omel Raden Ayu Ditha.


"Kalau ia berbuat sesuatu yang bikin keluarga kita malu, maka bunda tidak akan segan- segan memaksa kalian untuk bercerai," titah Raden Ayu Ditha kesal.


"Sabar dulu bunda...kita tidak tau kemana Anum berada, siapa tau ia di rumah temannya untuk sementara waktu," jawab Raden Bondo.


"Ini sudah hampir dua bulan...apakah pantas seorang isteri pergi selama itu tidak ingat pulang?" sambung Raden Ayu Ditha.


"Apa kamu sudah tanyakan lagi pada Ki Anjar?" tanya Raden Ayu Ditha.


"Udah Bunda, tapi Ku Anjar bilang ia sungguh tidak tau...ia menurunkan Anum di tengah jalan," jawab Raden Bondo.

__ADS_1


"Dasar perempuan ga tau diri, menyesal bunda menyetujui perjodohan kalian," tukas Raden Ayu Ditha.


"Keturunan bangsawan, tapi tingkah lakunya seperti tidak punya sopan santun, tidak ada tata Krama," ujarnya lagi.


Raden Bondo diam saja, ia juga menyesal sudah menikahi Anum.


Harusnya dari awal Raden Bondo berjuang untuk Arum bukan malah menerima perjodohan itu.


*********


Hoek...Hoek...


Anum muntah- muntah, ia terlihat pucat.


Ketika mencium bau ikan yang digoreng oleh Dimas, Anum berlari ke kamar mandi yang ada di bagian belakang rumah Dimas.


Di sana Anum menumpahkan isi perutnya, Dimas datang menghampirinya dengan cemas.


"Kamu sakit Anum? masuk angin?" tanya Dimas mengurut punggung Anum.


Anum menggelengkan kepalanya, matanya sampai berair sehabis muntah- muntah.


"Mas Dimas...apa mungkin aku hamil? aku beberapa hari ini telat datang bulan," kata Anum dengan cemas.


"Bagaimana ini mas Dimas?" kata Anum takut.


" Kita akan hadapi berdua Anum, tenanglah....lagian ini kan baru dugaan kamu saja."


"Tapi aku sangat yakin Mas Dimas...sepertinya aku memang hamil," tukas Anum.


"Berbaringlah dulu Anum...nanti aku akan mencari mbok Ning...dia dukun beranak...pasti tau kamu hamil atau tidak," Dimas menenangkan Anum yang terlihat cemas.


Dimas lalu memapah Anum yang mengeluh kepalanya pusing, lalu mengantarnya ke tempat tidur.


"Bagaimana kalau aku benar- benar hamil mas Dimas...apa yang harus kukatakan pada Raden Bondo? aku tidak mau kembali lagi padanya," tanya Anum.


"Kita akan menghadapinya berdua Anum, jangan takut....aku akan memikirkan caranya nanti setelah benar- benar jelas kamu hamil atau tidak," jawab Dimas.


"Tiduran aja dulu...aku lanjutkan pekerjaanku dulu," suruh Dimas pada Anum, ia lalu melanjutkan menggoreng ikan yang tadi sempat ia hentikan.


Dimas memutar otaknya agar ia bisa menemui Raden Bondo dan meminta Raden Bondo menceraikan Anum agar Dimas bisa menikahi Anum.


Ia tidak mau terus- terusan berhubungan dengan sembunyi- sembunyi.


Ia juga harus siap menerima hukuman yang berlaku di daerah mereka.


Jika ketahuan berselingkuh, mereka akan dikawinkan lalu diarak keliling kampung dan akan menerima hukuman lain tergantung keputusan kepala adat di sana.


Dimas menghapus keringat dingin yang turun deras di pelipisnya.


Bagaimanapun, nantinya mereka berdua harus siap menerima hukuman itu.

__ADS_1


__ADS_2