
Di suatu tempat dan era berbeda...
Sudah terlalu lama kita meninggalkan Dino dan Mira.
Dino bangun dari tidurnya, entah sudah berapa bulan ia terkurung di sini.
Penyiksaan demi penyiksaan sudah dia alami, pergelangan tangannya penuh dengan bekas gigitan dari perempuan iblis itu.
Gusti Ratu Anum ingin membangkitkan suaminya dari kematian dengan menggunakan kekuatan mistis dari darah Dino yang diteteskan.
Dino bertahan hidup hanya dengan daun yang berwarna keemasan yang diberikan Gusti Ratu Anum yang diberikan padanya setiap darahnya selesai dihisap.
Andai waktu itu bisa diulang....
" Aku tidak akan pernah menjadi seorang pemburu," gumamnya penuh penyesalan.
Beberapa bulan sejak darahnya dipersembahkan untuk membangkitkan jelmaan rusa itu dari kematian, Dino selalu didatangi oleh perempuan lain yang mengaku saudari dari Gusti Ratu Anum.
Tapi sosok perempuan itu hanya datang lewat mimpinya, mengelus leher dan menjilatinya tapi tidak sampai menggigitnya.
Entah perempuan iblis jenis apa mereka itu, Dino merinding.
Seperti ada ikatan dendam di antara kedua kakak adik itu, entah dendam apa Dino tidak bisa menebaknya.
" Mira....," Dino mendesah.
Air mata mengalir deras turun di pipinya setiap kerinduan itu kerap datang menghampirinya.
Hanya Mira yang memberi kekuatan untuk bertahan hidup, ia begitu merindukan senyuman isterinya itu.
" Semoga kamu di sana sehat- sehat saja sayang," desahnya lirih penuh kerinduan.
Dalam kerinduannya yang sangat dalam, Dino memejamkan matanya.
Tanpa sadar ia tertidur dan kembali bermimpi.
"Dino...bangunlah....," tangan dingin mengelus- ngelus lehernya.
Dino bergidik, ia membuka matanya dan melihat perempuan tersenyum padanya.
Tercium bau pandan yang menguar dari tubuh perempuan itu.
Dino segera bangun...
" Kamu...."
"Iya ini Arum...aku rindu bau darahmu," katanya menyeringai.
Arum mendekati Dino, lalu mengelus leher Dino lalu menjilatinya dengan rakus.
Walaupun sudah sering Arum melakukan itu padanya, tetap saja Dino masih merinding.
Bisa saja sewaktu- waktu Arum menancapkan gigi taringnya dan menggigit lehernya.
Tetap saja Dino menegakkan tubuhnya dengan tegang sampai seluruh keringat dinginnya mengucur di seluruh bagian tubuhnya.
"Hi...hi... kau takut padaku," tawa nyaring Arum bergema memenuhi tempat itu.
Bulu kuduk Dino meremang, ia mengumpat dalam hati.
"Aku tidak akan menyakitimu...kamu tidak ada ikatan dendam denganku, hanya wajahmu itu yang mengingatkan aku pada seseorang yang paling aku benci," ucapnya.
__ADS_1
"Darahmu manis, hanya dengan mencium aromanya saja sudah membuat aku kenyang," sambungnya lagi.
"Bisakah kau membantuku keluar dari tempat ini?" dengan takut- takut Dino meminta pada Arum.
" Tidak bisa, aku sendiripun masih terkurung di dalam kutukan ini," jawab Arum.
" Kutukan? kutukan apa?" tanya Dino ingin tau.
"Kutukan masa lalu," jawab Arum.
"Hiks...hiks...semua karena laki- laki itu...aku benci..." Arum meraung penuh kesedihan.
Wajah cantik Arum terlihat beringas, ia menatap tajam wajah Dino.
" Wajahmu itu...sangat mirip dengannya.."
"Lalu di mana laki- laki itu sekarang?" tanya Dino memberanikan diri.
" Aku tidak bisa memberitahukan semuanya padamu," jawab Arum.
"Andai kamu adalah dia, sudah kucabik- cabik tubuhmu tanpa sisa hi...hi...," Arum menangis sambil tertawa.
Wajahnya yang cantik terlihat menyeramkan.
Terdengar alunan suara gamelan dari kejauhan tertangkap oleh telinga Dino.
Dino terbangun dari tidurnya...ia mengusap peluh di pelipisnya yang sudah basah oleh keringat...
**********
Sudah beberapa bulan sudah lewat, Mira menjalani hari- harinya tanpa kehadiran Dino semenjak suaminya hilang tanpa kabar.
Ia terpaksa menghidupi dirinya sendiri dengan berjualan kue.
Untunglah Mbak Susi yang pintar membuat kue itu mau mengajarinya.
Dengan dibantu Mbak Susi, Mira mencoba jualan kue yang dijualnya di depan rumahnya.
Kue- kue bikinan Mira dan Mbak Susi itu dipajang di atas sebuah meja panjang.
Siang itu kue- kue yang mereka jual sudah hampir habis, tinggal sisa sedikit saja.
" Syukur sekali ya Mir...jualan kita tiap hari laris manis," Kata mbak Susi.
"Iya mbak, kenapa ga dari dulu kita jualan kue ya mbak?" ujar Mira.
" Semua ada jalan sendiri Mir, dulu kamu tidak begitu kesulitan karena ada suamimu yang bekerja," jawab Mbak Susi.
" Tapi Mira berhutang budi sama mbak Susi, selama ini mbak Susi lah yang banyak membantu Mira."
" Itu karena kita berjodoh Mir, kamu itu sudah mbak anggap sebagai adik mbak sendiri...," jawab mbak Susi lembut.
"Perempuan itu masih sering mendatangimu Mir?" tanya Mbak Susi.
" Masih mbak, tapi ia tidak bisa masuk...hanya gangguan dari luar rumah saja mbak," jawab Mira.
" Kamu masih ketakutan?" tanya Mbak Susi.
" Tentu saja mbak, tapi selama ia tidak bisa mendekati Mira...Mira masih bisa menahannya," jawab Mira lagi.
********
__ADS_1
Malamnya...
Mira merasa badannya tidak enak, dari mulai tadi sore ia seperti merasa bulu kuduknya selalu berdiri.
Angin di luar memang bertiup sedikit kencang, hawa dingin sampai terasa sampai di dalam rumah.
Mira mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya di kamar.
Mira memejamkan matanya, dalam keadaan setengah tertidur ia seperti melihat pintu kamarnya terbuka sendiri.
Mira ingin membuka matanya, namun terasa sangat berat.
Tubuhnya juga seakan tidak bisa bergerak.
Mira masih bisa merasakan dengan pendengarannya, dan mencoba untuk mengintip walaupun matanya tidak bisa terbuka lebar.
Seperti ada bayangan hitam yang melintas di depan pintu kamarnya.
" Apa itu?" jantung Mira berdebar dengan kencang.
Ia masih berusaha untuk menggerakkan tubuhnya, dan berusaha membuka kelopak matanya.
Namun tubuhnya seolah mati, hanya otaknya yang masih bisa berpikir.
Hembusan angin dingin masuk ke kamarnya, tubuh Mira menggigil.
"Wus ......" Mira seperti mendengar suara tiupan angin di sebelah telinganya.
Mira seperti merasa tubuhnya melayang....sementara suara angin tetap menderu di telinganya.
Mira berusaha meronta dan memberontak, tetapi seluruh tubuhnya seperti lumpuh sedikitpun tidak bisa digerakkan.
"Ada apa lagi ini?" ucap Mira dalam hati.
"Jeger.....duar....," pintu kamar Mira menutup dan membuka menimbulkan suara berisik.
"Apa aku sedang bermimpi?" Mira bergumam dalam hatinya.
" Tapi ini terasa nyata," Mira masih terus berusaha untuk menggerakkan tubuhnya dan membuka kelopak matanya.
Namun lagi- lagi semua sia- sia.....
Mira lalu merasakan tubuhnya seperti diputar- putar, ia melayang di atas tempat tidurnya.
Kepalanya terasa pusing, sementara suara angin masih terasa menderu- deru di telinganya.
Dalam keadaan setengah sadar pula, Mira lalu seperti dibawa di suatu tempat oleh suatu sosok yang tidak terlihat.
Di kegelapan malam pekat, Mira terbangun di suatu tempat.
Mira menggerak- gerakkan matanya, ia mencoba menebak di manakah saat ini ia berada.
Dalam gelapnya malam, mata Mira mulai beradaptasi sedikit demi sedikit.
Mira melihat di sekelilingnya, ia terperanjat...
Saat itu ia seperti berada di dalam hutan? di sekeliling Mira tampak bayangan pohon- pohon besar dan semak belukar.
Lalu suara- suara aneh tertangkap oleh telinga Mira.
" Apakah aku sedang di dalam mimpi?" Mira mencubit tangannya sendiri.
__ADS_1