Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Pembebasan


__ADS_3

Kontrak kerja sama Pak Broto dengan rekan bisnisnya Pak Rinto sudah mereka tanda tangani.


Pak Rinto sudah selesai mengurus perizinan untuk mengambil hasil hutan, dengan syarat hanya pohon tua lah yang boleh diambil dan mereka harus menggantinya dengan menanam kembali dengan bibit pohon baru.


Pak Broto diajak oleh Pak Rinto untuk meninjau hutan yang menjadi proyek mereka.


*******


Keempat orang dengan berboncengan menuju hutan tempat Dino dulu menghilang.


Mira dibonceng oleh Dino, sementara mbak Susi dibonceng oleh Nandar.


Hari ini adalah hari yang mereka pilih untuk melakukan ritual untuk membebaskan roh- roh yang jiwanya terkurung di sana.


Pada saat akan mendekati hutan itu, cuaca mendadak menjadi sangat gelap.


Hal ini sudah bisa dibaca oleh Nandar sebelumnya.


"Kita harus bergegas," teriak Nandar pada Dino.


Merekapun mempercepat laju sepeda motor mereka.


Mereka melihat ada sebuah mobil minibus putih yang terparkir tidak jauh dari depan hutan.


Setelah sampai di depan hutan, Nandar berpesan pada Dino.


"Den Dino hanya boleh menunggu di depan, apapun yang terjadi Den Dino tidak boleh masuk," Nandar memberi pesan pada Dino.


"Mengapa begitu Mas Nandar?" tanya Dino.


" Saya tidak bisa menjelaskannya, karena dari bisikan mata bathin saya Den Dino tidak boleh masuk," jawab Nandar.


"Baiklah," Dino mengangguk.


"Jangan khawatir Dino, mbak akan menjaga Mira," Mbak Susi menenangkan Dino.


Itulah tujuan Nandar mengajak mbak Susi, Nandar tidak mungkin masuk ke hutan hanya berdua dengan Mira.


Nandar menjaga, agar tidak ada yang berpikiran buruk pada mereka.


Sementara Dino tidak boleh masuk bersama Mira.


Mereka lalu memakai jas hujan.


"Ayo neng Mira, mbak Susi....kita masuk," ajak Nandar yang membawa sekantong garam.


Dino duduk di atas jok motornya, ia terpaksa menunggu dengan jas hujan yang sudah ia pakai.


"Ingat pesan saya...,apapun yang terjadi Den Dino tetap tunggu di sini dan jangan masuk," Nandar mengulangi pesannya.


"Iya mas Nandar...saya mengerti," jawab Dino.


Mira dan mbak Susi mengikuti di belakang Nandar.


Nandar mulutnya mulai berkomat- kamit...ia membaca doa- doa.


Mereka terus masuk ke dalam hutan lalu mereka berhenti di bawah sebuah pohon besar.


Mira melihat takjub, Mira sudah beberapa kali melihat tempat ini persis seperti yang ia lihat dalam mimpinya.


Nandar duduk bersila di bawah pohon besar itu, ia terus melantunkan doa- doa.


Nandar mengambil sejumput garam dan melemparnya di bawah pohon itu.


Seketika suara menggelegar terdengar di udara, suara petir sambung- menyambung.


Angin di sekitar hutan itu mulai terasa dingin...


Mbak Susi menatap ke atas langit melalui celah daun pepohonan, langit terlihat sangat gelap.


Sebentar lagi pasti akan hujan.


"Neng Mira ambil sejumput garam...lalu lemparkan ke bawah pohon," perintah Nandar.


Mira melakukan apa yang diperintahkan Nandar, Mira lalu melempar garam itu ke bawah pohon.


Kembali terdengar suara menggelegar di angkasa, suara petir.

__ADS_1


Rintik hujan mulai turun, ketika sebuah suara membentak mereka.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya suara yang sudah dikenal Mira.


Suara ayah mertuanya, Pak Broto.


" Bapak....," panggil Mira.


Pak Broto berdiri di samping seorang pria seumurannya yang tidak Mira kenal.


Pak Broto dan temannya memandang mereka dengan tatapan tajam.


" Ternyata kamu, apa yang sedang kamu lakukan di sini Mira?" tanya Pak Broto dengan suara kencang, ia berkacak pinggang.


"Bapak sendiri ngapain di sini?" tanya Mira heran.


"Saya sedang meninjau lokasi proyek kami di hutan ini...lalu apa yang kalian lakukan di sini?" Pak Broto balik bertanya.


Sementara rintik hujan mulai menjadi membesar...


"Maaf Pak, kami tidak bisa menjelaskannya sekarang...kami harus segera menyelesaikan ritual doa kami," Nandar yang menyahut.


" Kalian melakukan pesugihan?" tuduh Pak Broto marah.


"Bukan Pak....tolong jangan ganggu kami dulu...," mbak Susi menyela.


Nandar kembali memejamkan matanya, ia melanjutkan doanya.


Sementara Mira melempar- lemparkan garam di sekeliling pohon itu dengan petunjuk Nandar.


Hujan turun semakin deras, Nandar memperbesar volume suaranya.


Terdengar suara lengkingan yang berasal dari pohon itu.


Lalu keluar sosok seorang nenek tua.


"Siapa yang berani mengganggu tidurku?" bentaknya.


Mira tubuhnya gemetar.


Mira melakukan apa yang diperintahkan Nandar, sementara Nandar terus melantunkan doa.


"Perih.....au....sakit.....," teriak Nenek tua yang sudah pernah dilihat Mira diantara sadar dan mimpinya bernama nenek Kanji.


"Enyahlah kamu roh jahat....," bentak Nandar.


Nenek Kanji mengeluarkan lengkingan kesakitan yang menyayat hati.


Perlahan tubuh nenek Kanji menghilang.


"Kalian....kalian..." Pak Broto membelalakkan matanya, pemandangan di depannya membuat ia ketakutan.


Pak Broto berlari bermaksud meninggalkan mereka, ia mengira mereka semua sedang melakukan pesugihan.


Pakaian Pak Broto sudah basah kuyup oleh air hujan.


"Brak....dess...." petir menyambar salah satu batang pohon.


"Awas bapak...." teriak Mira, lalu ia spontan berlari menubruk tubuh Pak Broto.


"Mira.....awas..."teriak mbak Susi, ia berteriak sekencangnya.


Pak Broto terguling, ia selamat...hampir saja ia tertimpa batang pohon yang disambar petir.


Tubuh Mira tertimpa batang pohon, ia langsung tidak sadarkan diri.


Semua mata terbelalak, hujan deras tiba- tiba berhenti.


Cuaca yang tadinya sangat gelap mendadak menjadi terang.


Ada banyak titik cahaya terang datang menghampiri tempat itu, seperti puluhan kunang- kunang.


Tapi itu bukan kunang- kunang karena masih siang hari di dalam hutan itu.


Puluhan cahaya itu mendekat ke arah


batang pohon yang menimpa tubuh Mira.

__ADS_1


Puluhan cahaya itu perlahan mengangkat batang pohon yang menimpa tubuh Mira dan memindahkan batang itu menjauh dari tubuh Mira.


Semua mata yang ada di situ terbelalak, mereka melihat pemandangan aneh tapi nyata terjadi di depan mata mereka.


Puluhan cahaya itu kemudian kembali mendekat.


Mereka berubah menjadi sesosok tubuh beberapa orang perempuan dan satu orang laki- laki.


Salah satu perempuan mendekati Mira lalu mengusap- usap punggung Mira.


Mira membuka matanya perlahan, lalu ia yang tadinya jatuh dengan posisi telungkup berbalik menjadi tidur terlentang.


"Mira...syukurlah....," mbak Susi berlari


jongkok di samping Mira dan memangku kepalanya.


Perempuan yang menggosok- gosok tubuh Mira tersenyum.


"Terima kasih cucu ku, aku adalah Arum leluhurmu....kamu sudah membebaskan aku dengan jiwa murnimu," ucapnya.


"Aku sudah menunggu selama beberapa ratus tahun untuk menemukan keturunanku."


"Aku yang memulai semua ini, maka hanya keturunanku yang bisa mengakhiri semua ini."


"Aku tidak bisa menjangkau keturunanku yang sebelumnya, semua ini karena kita berjodoh...suamimu bisa masuk ke hutan ini."


"Kamu juga rela mengorbankan nyawamu demi bapak mertuamu yang membencimu, yang membuat semua ini terkoneksi dengan alam," sambungnya lagi.


"Terima kasih Mira....kami juga terbebas karena kamu," ucap perempuan lain yang Mira lihat dalam mimpinya bernama Anum.


Anum tersenyum, ia bergandengan tangan dengan sesosok laki- laki yang Mira perkirakan adalah suami Anum.


"Sekarang ikatan dendam di antara kami sudah selesai....kami semua bisa pergi dengan tenang....," tambah Anum.


" Jiwa kami sudah beberapa ratus tahun terperangkap di hutan ini...terima kasih," ucap sosok laki- laki.


"Nandar...terima kasih karena sudah mendampingi keturunanku untuk membebaskan jiwa kami..." Arum beralih pada Nandar.


Roh- roh lain yang kebanyakan bertampang Eropa juga mengucapkan terima kasih lalu mereka berubah lagi menjadi cahaya terang.


Cahaya itu lalu terbang melambung ke atas ...lalu perlahan menghilang.


Pak Broto dan Pak Rinto temannya, bengong dengan mulut menganga.


Baru kali ini seumur hidup mereka menyaksikan hal yang tidak bisa diterima dengan akal sehat mereka.


"Mira...kamu tidak apa- apa?" tanya mbak Susi.


" Tidak apa- apa mbak, cuma punggung saya berasa ngilu," jawab Mira.


"Ayo kita periksa ke rumah sakit," Pak Broto bersuara.


"Ini menantu saya Mira....," Pak Broto mengakui Mira sebagai menantunya, mengenalkannya pada Pak Rinto.


"Ayo saya antar ke rumah sakit dengan mobil saya," tawar Pak Rinto.


"Ayo Mira....kamu harus diperiksa," Pak Broto baru pertama kali bersikap ramah pada Mira.


Mbak Susi lalu memapah Mira, Nandar mengekor di belakang mereka.


Setelah sampai di depan hutan, Dino menyambut mereka.


Dino heran melihat bapaknya ada dalam rombongan.


"Bapak ngapain ke sini?" tanya Dino.


"Mira kamu kenapa?" Dino beralih pada Mira yang dipapah oleh mbak Susi.


"Panjang ceritanya, ayo Mira masuk ke mobil dulu...mbak tolong temani," Pak Broto yang menjawab.


"Terima kasih mas Nandar atas bantuannya," Mira menoleh ke arah Nandar.


"Sama- sama Neng Mira...kami ikut ke rumah sakit...ayo Den Dino kita ikuti dari belakang," ajak Nandar.


Dino yang kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi hanya mengikuti saja.


Ia bertanya- tanya dengan kejadian di dalam hutan.

__ADS_1


__ADS_2