
"Arum...akhirnya kamu akan menerima balasan karena sudah menumbalkan aku dan Dimas," teriak Anum.
"Aku lah yang akan menjadi penguasa di hutan ini....hi....hi....," tawa Anum.
Wajah Anum seputih kapas, sangat pucat dan terlihat menyeramkan.
Di sebelahnya, nampak Dimas yang hanya diam memandang Arum.
Arum bergidik...
"Apakah aku sudah mati?" Arum bertanya dalam hati.
"Kamu selamanya akan menjadi penghuni hutan ini hi....hi....," tawa Anum yang membuat Arum meremang.
Arum melihat di sekelilingnya...pepohonan lebat yang dipenuhi oleh kabut tebal.
Suara gamelan terdengar di kejauhan.
Nampak di situ berkumpul beberapa orang Noni- Noni Belanda yang sudah ditumbalkan Arum untuk nenek Kanji.
Mereka semua berwajah pucat dengan tatapan dingin menusuk, mereka memandang Arum dengan pandangan penuh dendam.
"Lihatlah....mereka semua adalah pengikutku....hi...hi....," tawa Anum.
Arum ketakutan, ia berbalik arah lalu berlari sekencangnya.
Namun pandangan matanya terhalang oleh kabut tebal, Arum memperlambat larinya.
Suara gagak terdengar bersahut- sahutan, Arum gemetaran.
"Di alam lain kah ini?" gumam Arum.
Suara gamelan masih terdengar di kejauhan.
Arum menoleh ke belakang, tidak nampak Anum mengejarnya.
Arum sedikit lega, ia mengatur napasnya yang terengah- engah.
Keringat dingin mengucur dari dahinya, seluruh tubuhnya pun sudah basah oleh keringat.
Arum menghentikan larinya, ia berjalan perlahan mencoba menembus kabut tebal di sana.
Arum menabrak tubuh seseorang, ia sedikit sempoyongan.
Kabut tebal perlahan mulai menipis, Arum bisa melihat sosok menyeramkan di depannya.
sepasang sorot mata merah sedang menatapnya penuh kemarahan, sosok nenek tua menyeramkan yang sudah dikenal oleh Arum.
"Nenek Kanji...," panggil Arum.
"Hi...hi....aku memang Nenek Kanji yang selama ini menjadi junjunganmu....," Nenek Kanji tertawa.
"Kamu tau apa kesalahan yang sudah kamu buat Arum?" tanya Nenek Kanji sambil menunjukkan jari tangannya yang berkuku lancip dan tajam ke muka Arum.
"Ampun Nenek Kanji...aku tidak sengaja....sungguh....anak ku sakit dan tidak mau lepas dari pelukanku...," Arum ketakutan.
"Aku tidak menerima alasan apapun, sudah ku katakan dari awal...kamu tidak boleh lupa...," jawab Nenek Kanji dengan marah.
"Tapi Nenek Kanji...tidak bisakah kamu mengampuniku hanya untuk sekali ini saja?" mohon Arum.
Nenek Kanji tertawa nyaring.
"Boleh saja...apa kamu mau menukarnya dengan nyawa anakmu atau suamimu?" tanya Nenek Kanji.
Arum terperanjat, ia tidak menyangka Nenek Kanji akan memberinya pilihan yang tidak terpikirkan oleh Arum.
__ADS_1
Arum menggelengkan kepalanya, ia mencintai Asmita dan Raden Prana melebihi nyawanya sendiri.
Tidak mungkin ia akan mengorbankan salah satu dari mereka untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.
"Tidak Nek....jangan mereka...," mohon Arum sambil berlutut.
"Tidak ada pilihan....kamu tidak berhak meminta lebih," tunjuk Nenek Kanji.
Arum menangis, ia menyesali perbuatannya.
Sekarang ia yang akan menjadi tumbal terakhir untuk melunasi perjanjiannya.
Tidak ada ampun, Arum harus membayar karma atas dosa- dosanya.
Pada intinya, semua manusia hanya boleh meminta pada Tuhan Pencipta alam dan segala isinya.
Manusia tidak boleh meminta pada setan atau iblis, karena mereka hanya ingin mencelakakan manusia.
Mereka ingin manusia masuk ke dalam jebakan yang membuat manusia itu jatuh ke dalam dosa.
Arum menangis, tapi semuanya sudah terlambat...
Nenek Kanji mendekati Arum, tangannya terulur....
Arum tercekat, ia memejamkan matanya.
Sepasang tangan mencekiknya, Arum susah bernapas.
Arum meronta, namun apa daya cekikan kuat di lehernya begitu terasa menyakitkan.
Mata Arum mendelik....ia megap- megap...
Ia hampir kehabisan napas....ketika sebuah suara yang dikenalnya memanggilnya dengan panik.
Arum merasa seseorang menggoyang- goyangkan tubuhnya dan menepuk pipinya.
Arum tersentak, ia langsung duduk dan menghirup oksigen sebanyak- banyaknya.
Arum sampai terbatuk- batuk...
"Kamu mimpi buruk?" tanya Raden Prana dengan cemas.
Raden Prana mengambil air minum yang ada di atas meja kamar mereka, lalu membantu Arum minum.
Dengan napas yang masih terengah- engah, Arum menghapus butiran keringat yang sudah membasahi wajahnya.
Arum menatap sekeliling, ia masih berada di dalam kamarnya.
Arum menatap Asmita yang masih tertidur.
Raden Prana menatap Arum dengan pandangan khawatirnya.
"Kamu mimpi buruk apa?" tanya Raden Prana.
Arum hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa menceritakan mimpinya.
Arum merasa mimpi itu adalah peringatan untuknya.
Arum tau, cepat atau lambat Arum akan menerima hukuman dari Nenek Kanji karena sudah melupakan tugas terakhirnya.
Arum merasa waktunya bersama dua orang yang dicintainya itu sudah tidak banyak.
"Kangmas....maukah kamu memaafkan semua kesalahanku?" tanya Arum.
"Kamu salah apa? aku tidak merasa kamu melakukan kesalahan," jawab Raden Prana membelai sayang rambut Arum.
__ADS_1
" Berjanjilah Kangmas....apapun yang nanti terjadi Kangmas akan memaafkan kesalahanku dan aku ingin Kangmas menjaga Puteri kita dengan baik," pesan Arum.
"Kamu ini bicara apa?" tanya Raden Prana heran.
"Tolong berjanjilah," desak Arum.
"Baiklah...aku berjanji," jawab Raden Prana tersenyum lembut.
Arum memeluk Raden Prana, ia ingin merasakan pelukan hangat suaminya untuk saat- saat terakhirnya.
Arum ingin menghirup bau harum tubuh suaminya.
Sebutir air bening turun di sudut mata Arum, ia tidak bisa menahan perasaannya.
Arum segera menghapus air matanya, ia tidak ingin Raden Prana melihatnya sedang menangis.
Arum menahan kesedihannya, ia melepaskan pelukannya pada Raden Prana.
"Kamu ada apa Arum? apa karena Asmita sakit semalam? Asmita sekarang baik- baik saja," Raden Prana merasa sikap Arum yang sedikit aneh.
Arum memaksakan senyumnya.
"Hari ini aku ingin Kangmas menemaniku seharian di rumah," pinta Arum.
"Aku akan memberikan apapun yang kamu pinta," jawab Raden Prana tertawa lalu mencubit hidung Arum dengan gemas.
"Pergilah mandi, setelah itu kita makan bersama," suruh Raden Prana.
Arum mengangguk, ia lalu bersiap untuk membersihkan tubuhnya.
Arum ingin memanfaatkan waktu terakhirnya bersama dua orang yang dicintainya.
Asmita menggeliat, ia membuka matanya....bayi kecil itu sudah terbangun.
"Pergilah Arum, biar Asmita sama aku," Raden Prana menggendong Asmita.
"Kamu sudah sehat sayang," ucap Raden Prana mencium pipi Asmita dengan sayang.
Arum tersenyum melihat pemandangan mengharukan di depannya.
Ia bergegas keluar dari kamarnya menuju ke arah belakang untuk mandi.
Sementara Raden Prana menggendong dan membawa bayi kecil itu keluar dari kamar.
**********
Malamnya, Arum tidur dengan gelisah...ia sudah merasakan waktunya semakin dekat.
Sebuah bisikan terdengar di telinganya.
"Sekarang waktunya Arum...datanglah ke hutan larangan," perintah suara itu.
Arum mencium Raden Prana dan Asmita bergantian.
Ia merasa tidak rela meninggalkan keduanya.
Arum terisak, hatinya sangat sakit...
Ia tidak bisa lagi bersama dengan suami dan anaknya.
"Sudah waktunya ....atau kamu ingin anak dan suamimu yang akan menjadi tumbal menggantikanmu?" ancam suara itu.
Arum kemudian melangkah keluar dengan perlahan, ia menoleh lagi pada kedua orang yang dicintainya itu untuk yang terakhir kalinya.
Arum menangis lalu ia berlari keluar rumah....
__ADS_1
Arum terus berlari dengan berlinangan air mata...menuju hutan larangan untuk menerima hukumannya....