Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Ketegangan yang berlanjut


__ADS_3

"Waduh Ki...ada darah," teriak Raden Ayu Ditha.


Ki Anjar mengangkat lengan baju kanannya yang panjang, hingga ke siku.


Ki Anjar membelalakkan matanya, tangannya penuh dengan bentol- bentol merah dan ada satu yang mengalirkan darah mungkin karena Ki Anjar terlalu kencang menggaruk.


Ki Anjar lalu menarik dan melipat lengan baju yang sebelahnya lagi, hasilnya sama tangan sebelah kirinya juga nampak bentol- bentol merah.


Begitu juga ketika Ki Anjar menggulung ke atas celana panjangnya.


"Semut iblis," gumam Ki Anjar ketakutan.


Raden Ayu Ditha merobek ujung kain selendangnya, dan memberikannya pada Ki Anjar.


" Ikat dulu luka yang berdarah Ki..."


Gusti Arya membantu Ki Anjar mengikat luka di tangannya yang sudah basah oleh darah.


"Terima kasih Gusti," ucap Ki Anjar.


" Kita harus cepat kembali Ki....biar bisa mengobati tangan dan kaki Ki Anjar," ujar Gusti Arya.


Ki Anjar mengangguk, dengan menahan rasa panas dan gatal Ki Anjar segera menghentakkan tali kekang Si Bondan, agar kuda itu cepat berlari.


Setelah melalui berbagai rintangan dalam perjalanan pulang, akhirnya kereta kuda mereka membelok ke arah kediaman keluarga besar Gusti Arya.


Terlihat kelegaan terpancar dari wajah Raden Ayu Ditha.


Ki Anjar segera memarkirkan kereta kuda mereka dan segera berlari ke arah belakang pendopo untuk mencari obat.


Raden Ayu Ditha mengerutkan keningnya melihat kediaman rumah mereka terlihat agak ramai.


Anum sedang berkumpul di depan teras pendopo utama dengan teman - temannya yang semuanya keturunan orang Belanda.


Noni - Noni Belanda itu tertawa- tawa, kadang mereka bercanda dicampur dengan sedikit bahasa Belanda.


Raden Ayu Ditha dan Gusti Arya turun dari kereta.


Raden Ayu Ditha terlihat tidak senang, Anum mengundang teman- temannya tanpa meminta izin pada mereka.


Gusti Arya dan Raden Ayu Ditha berjalan melewati teras tempat Anum dan teman- temannya berkumpul.


"Udah kembali Ayanda? Bunda?" sapa Anum pada Guti Surya dan Raden Ayu Ditha.


Sementara Noni- Noni Belanda teman- teman Anum mengganggukkan kepala pada mereka.


" Sudah Nak..." Gusti Arya yang menjawab.


Sementara Raden Ayu Ditha hanya melengos lalu buru- buru masuk untuk mencari Ningrum, Puteri mereka.


Gusti Arya berjalan masuk mengikuti isterinya. Ia tau isterinya terlihat sangat kesal.


Dari sikap Raden Dito yang berubah pada mereka, lalu kejadian aneh yang menimpa mereka di jalan tentu saja membuat hati Raden Ayu Ditha terlihat tidak baik- baik saja.


Ditambah menantu mereka yang mengundang teman- temannya tanpa meminta izin sedikitpun.


Raden Ayu Ditha berjalan mencari Ningrum di kamarnya.

__ADS_1


Tok...tok...tok...


Raden Ayu Ditha masuk setelah mengetuk pintu.


Raden Ayu Ditha melihat penampilan puterinya yang terlihat kusut.


Rambutnya acak- acakan sementara kedua matanya terlihat sembab.


"Ningrum...," panggil Raden Ayu Ditha pada puterinya.


Ningrum menoleh pada Raden Ayu Ditha.


" Bunda sudah pulang? bagaimana hasilnya Bun?" tanya Ningrum terlihat lesu.


Raden Ayu Ditha menggelengkan kepalanya.


"Lupakan Raden Dito Nak," Raden Ayu Ditha menahan kemarahannya.


" Ia mengakui semuanya Bun?" tanya Ningrum pada ibunya.


" Ia tidak ingin bersama denganmu lagi Nak."


"Ia mengakui ini karena perempuan lain Bun?"


" Iya Nak, cuma yang bunda heran dia tidak tau nama dan tempat tinggal perempuan itu."


" Kok bisa Bun?" Ningrum menautkan kedua alisnya.


" Apa karena dia diguna- guna Bun?"


" Tidak usah kau pikirkan Nak, lagian kami sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan kalian," jawab Raden Ayu Ditha.


" Sudah jangan kau sia- siakan air matamu hanya demi lelaki seperti Raden Dito," ucap Raden Ayu Ditha terlihat kesal.


" Cari laki- laki lain yang lebih baik," kata Raden Ayu Ditha tegas.


Ningrum sangat kecewa, ia mengira dengan bertemunya orang tuanya menemui keluarga Raden Dito, semua akan membaik.


Tapi nyatanya ayahanda dan ibundanya telah memutuskan dan membatalkan perjodohan mereka."


Ningrum belum bisa menerima hal ini, ia masih sangat mencintai Raden Dito.


Di luar rumah terdengar suara berisik suara tawa Anum dan teman- temannya.


Raden Ayu Ditha merasa sangat terganggu, menantunya tidak punya sopan santun.


Bukankah Anum sudah tau kondisi Ningrum yang lagi patah hati?


Seharusnya Anum sebagai kakak ipar bisa mengerti situasi tidak enak yang lagi ada di rumah, adik iparnya sedang tertimpa masalah,...Anum malah asyik berkumpul dengan teman- temannya yang Noni- Noni Belanda itu.


"Rapikan penampilanmu Nak, Bunda ga ingin kamu berlama- lama terpuruk hanya karena laki- laki itu," Raden Ayu Ditha menunjuk pada rambut Ningrum.


Tiba- tiba mata Ningrum membeliak... tubuhnya berguncang...


Raden Ayu Ditha terkesiap melihat perubahan puterinya.


"Ningrum....kamu kenapa Nak?" Raden Ayu Ditha memegang lengan Ningrum.

__ADS_1


Ningrum berteriak...


Ningrum menunjuk pada ibunya...


" Kanda.....Ningrum kenapa?" Raden Ayu Ditha berteriak memanggil suaminya, Gusti Arya.


Gusti Arya yang mendengar teriakan Raden Ayu Ditha dengan setengah berlari masuk ke kamar Ningrum.


Mata Ningrum berubah menjadi merah, membeliak lalu ia tertawa.


" Rasakan pembalasanku, kalian akan merasakan akibat telah memisahkan aku dengan kekasihku."


" Sadar Nak...sadar...itu kami lakukan karena lelaki itu telah menolakmu," Raden Ayu Ditha mengira Ningrum membahas tentang Raden Dito.


" Laki- laki itu menolakku karena ulah kalian...."


" Bukan salah kami Nak, kami hanya ingin melindungimu," tunjuk Ningrum pada kedua orang tuanya.


" Sadar Nak...sadar..." Raden Ayu Ditha menangis.


" Kanda apa yang harus kita lakukan?" Raden Ayu Ditha bertanya pada Gusti Arya.


Mata Gusti Arya mencari- cari, matanya lalu tertuju pada seikat sapu lidi kecil di atas lemari.


Sapu lidi itu biasa digunakan untuk membersihkan kasur dari debu dan kotoran.


Gusti Arya mengambil sapu lidi itu, ia bergegas membaca doa.


" Gusti Allah, sadarkan Puteri hamba," ucapnya dalam hati.


" Pergi kamu dari tubuh puteriku, tempatmu bukan di sini," Gusti Arya melibaskan sapu lidi itu ke kaki Ningrum.


" Au sakit...," teriaknya.


Raden Ayu Ditha merinding, suara itu bukan lagi suara Ningrum.


Suara yang berteriak kesakitan adalah suara perempuan bersuara serak.


"Pergi....jangan ganggu kami," Gusti Arya kembali memukul sapu lidi kali ini ke bagian tubuh Ningrum.


"Ampun....sakit...ah....," teriaknya.


"Pergi....dan jangan pernah kembali..." Gusti Arya terus memukulkan sapu lidi ya ke tubuh Ningrum.


" Ampun....baik...aku pergi....," suara serak itu memohon ampun.


Mata Ningrum kembali membeliak, tubuhnya terguncang- guncang lalu tubuhnya terkulai lemas.


Raden Ayu Ditha segera menangkap tubuh Ningrum sebelum ia jatuh terhempas ke lantai kamarnya.


" Nak sadar.....," Gusti ayu Ditha menepuk- nepuk pipi puterinya.


Gusti Arya membopong tubuh Ningrum ke atas tempat tidurnya.


" Nak bangun....," Raden Ayu Ditha menggoyang- goyangkan tubuh Ningrum.


" Nak...bangun..," Gusti Arya ikut membantu menepuk- nepuk pipi Ningrum.

__ADS_1


Raden Ayu Ditha sangat mencemaskan Ningrum, apa yang terjadi dengan puterinya?


__ADS_2