
Jantung Mira berdetak kencang setelah rumah mertuanya sudah mulai kelihatan...
Mbak Susi menghentikan motornya tepat di depan rumah mertua Mira.
Mira dan mbak Susi turun dari motor lalu melepaskan helm.
Mira mengetuk pintu rumah mertuanya yang terlihat sepi.
Tok...tok...tok...
Setelah menunggu tidak begitu lama pintu rumah terbuka, seorang wanita bertubuh subur membelalakkan matanya.
"Neng Mira....," sapa bi Siti.
"Siang Bi Siti....Mira mau tanya....," Mira belum menyelesaikan kalimatnya.
"Tunggu bentar Neng Mira, saya panggil ibu....," Bi Siti dengan buru- buru kembali masuk.
Mira dan mbak Susi saling memandang dengan bingung.
Terdengar langkah yang terburu- buru keluar dari dalam rumah.
"Ngapain kamu kemari hah?" Bu Broto keluar dan langsung menyemprot Mira dengan kasar.
" Siang Bu," Mira mengulurkan tangannya ingin mencium tangan mertuanya, tapi langsung ditepis ibu Dino dengan kasar.
" Jangan sentuh saya," bentaknya.
Mira menelan salivanya mendapat sambutan kasar dari ibu mertuanya, sampai sekarang sikapnya terhadap Mira tidak berubah sedikitpun.
"Maaf Bu, saya kemari mau bertanya tentang mas Dino, benarkah mas Dino sudah kembali?" tanya Mira.
" Mengapa kamu mencari Dino kemari, bukankah kamu isterinya...kalau Dino kembali bukankah dia akan langsung mencarimu?" jawab Bu Broto ketus.
"Tapi Bu, kemarin mas Darto...suami mbak Susi ini..tetangga saya melihat mas Dino ada di rumah sakit yang mungkin ditemani sama bapak," jawab Mira sambil menunjuk pada mbak Susi dengan jempolnya.
"Kamu sedang ngigau ya?" tanya Bu Broto.
"Sungguh Bu, suami saya melihat sendiri itu memang benar Dino," Mbak Susi membantu Mira bicara.
"Kalian mengada- ngada, mana ada Dino kembali," Bu Broto membantah.
"Bolehkah saya masuk Bu untuk melihat ke dalam?" tanya Mira hati- hati.
Mira ingin memastikan sendiri bahwa ibu mertuanya sedang tidak berbohong.
"Kamu tidak percaya sama saya?" Bu Broto berang dan mendorong bahu Mira.
__ADS_1
Mira terdorong ke belakang, ia tidak mengira dengan reaksi ibu mertuanya.
"Untuk apa kamu masuk ke rumah saya...kamu tidak pantas, saya tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk menginjak rumah ini perempuan pembawa sial...," Bu Broto berteriak sambil menunjuk pada Mira.
"Bu....apa salah saya?" Mira memelas.
"Salah kamu apa? salah kamu terlahir jadi orang miskin," Bu Broto menghina Mira dengan kasar.
"Bu...saya tidak bisa memilih untuk lahir di keluarga miskin atau kaya...tapi tolong izinkan saya untuk melihat ke dalam rumah...saya janji saya akan langsung pergi kalau memang mas Dino tidak berada di sini," Mira berusaha melawan.
"Dasar perempuan tidak tau diri...jadi kamu pikir saya berbohong?" Bu Broto marah dan mendorong tubuh Mira hingga terjengkang.
Mbak Susi yang melihat, langsung membantu Mira untuk bangun.
"Bu...tidak pantas ibu memperlakukan menantu sendiri seperti ini...dari tadi Mira sudah bersikap sopan," mbak Susi menjadi berang melihat sikap ibu Dino.
"Jangan ikut campur...pergi kalian dari sini," usir Bu Broto.
"Bu...saya mohon...." Mira masih berusaha untuk melunakkan hati ibu mertuanya.
"Saya sudah bilang Dino tidak ada di sini...cepat kalian pergi dari sini...saya tidak mau melihat muka kalian lagi," Bu Broto lalu masuk ke rumah dan membanting pintu dengan kasar.
"Brak....."
Mira dan mbak Susi sampai terkaget.
"Sudahlah Mir...kita pulang," ajak Mbak Susi.
"Tapi mbak...bagaimana dengan benar atau tidaknya yang dilihat mas Darto?" tanya Mira putus asa.
" Mungkin mas Darto memang salah orang Mir...sudahlah jangan dipikirkan lagi...kita pulang," Mbak Susi menepuk lembut lengan Mira.
Mira terpaksa menurut...ia segera mengambil helm dan memakainya.
Mbak Susi melakukan hal yang sama segera memakai helmnya.
Setelah Mira naik di boncengan, mbak Susi menjalankan sepeda motornya.
Mira sempat menoleh ke belakang, ia melihat seseorang yang mengintip lewat gorden jendela rumah mertua Mira, tapi segera ditutupnya kembali gordennya bersamaan dengan Mira yang menoleh ke belakang.
Tapi Mira tidak bisa melihat jelas siapa yang sedang mengintip.
Mira pergi dengan perasaan kecewa, seandainya ibu mertuanya mengizinkan ia untuk masuk sebentar saja, ia pasti bisa pergi dengan hati yang tidak bertanya-tanya.
Sementara di rumah mertua Mira.
"Siapa kedua perempuan yang tadi kemari Bu, kenapa mereka mencari Dino?" tanya Dino bingung.
__ADS_1
"Mereka bukan siapa- siapa, abaikan saja tidak usah dihiraukan," jawab Bu Broto.
"Sementara kamu jangan keluar dulu Dino, ibu tidak mau ada yang mengenalimu," perintah ibu Dino.
" Tapi memangnya kenapa Bu? Dino kan ga punya salah, kenapa takut orang mengenali Dino?" tanya Dino dengan heran.
" Karena sebagian ingatan kamu hilang Nak, ibu tidak mau ada yang memanfaatkannya untuk hal yang tidak baik," Bu Broto mencari alasan.
Dino hanya manggut- manggut.
"Yang penting jangan pernah keluar kalau ada yang mencarimu, tetaplah di kamar," pesan ibu Dino.
Bu Broto tidak ingin Dino bertemu dengan Mira, ia tidak mau berpisah lagi dengan anaknya itu.
Ibu Dino ingin Dino melupakan Mira selamanya, ia ingin Dino mencari isteri dengan status yang sama dengan mereka.
Mira sampai di rumahnya, mbak Susi menemaninya.
Mira terlihat termenung dan memikirkan apa betul yang dikatakan ibu mertuanya.
"Mir...tidak usah dipikirkan," hibur mbak Susi yang mengira Mira sedih dengan perlakuan ibu mertuanya.
"Mira tidak apa-apa mbak, dari dulu Mira sudah terbiasa dengan sikap ibu mertua Mira...Mira hanya memikirkan mas Dino."
" Mira penasaran....mengapa ibu mertua Mira tidak mengizinkan Mira untuk mengecek kebenarannya, seharusnya kalau memang benar apa yang dikatakannya....ibu mertua Mira bisa membiarkan Mira melihat sendiri," jawab Mira.
"Jangan- jangan yang dikatakan mas Darto itu benar mbak...," kata Mira lagi.
" Kalau memang benar, lalu kenapa mas Dinomu tidak pulang ke rumah menemuimu Mir?" mbak Susi bertanya ragu.
"Iya juga sih mbak, selama ini Dino rela meninggalkan keluarganya dan memilih bersama Mira."
"Kalau memang mas Dino sudah kembali...tidak mungkin mas Dino malah ke rumah orang tuanya," Mira berkata ragu.
"Tapi Mira belum puas kalau belum memeriksa sendiri ke rumah orang tua mas Dino mbak," tukas Mira.
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan Mir?" tanya mbak Susi.
"Entahlah mbak, percuma juga Mira ke sana kalau tidak diizinkan untuk masuk," jawab Mira.
"Coba nanti dipikirkan lagi Mir gimana caranya," saran mbak Susi.
" Iya mbak, nanti Mira akan memikirkannya lagi," tambah Mira.
"Mbak siap membantu kamu Mir," ujar mbak Susi sambil menepuk lengan Mira.
"Makasih mbak....mbak Susi memang yang paling baik pada Mira," jawab Mira tersenyum.
__ADS_1
"Sama- sama Mir..."