
Anum terus berlari, ia sangat ketakutan.
Raden Bondo sudah seperti dirasuki iblis, ia yang tidak pernah bertindak kasar nyatanya hari ini sudah tidak bisa menahan amarahnya.
Anum melihat ke arah belakang, Raden Bondo masih mengejarnya.
Rasa dendam dan amarah membuat Raden Bondo hilang kendali.
Anum tiba di tepi jurang, ia menghentikan langkahnya.
Ia tidak bisa berbalik lagi, sementara di belakang Raden Bondo sudah semakin dekat.
Anum berdiri dengan tubuh gemetar, tubuhnya sudah basah oleh keringat.
"Habislah riwayatku kali ini," gumam Anum.
"Mau lari kemana lagi kamu Anum? ha...ha...ternyata hutan ini pun mendukungku," tawa Raden Bondo.
"Kanda Bondo....apakah kamu lupa? kita pernah menjadi suami isteri," Anum berusaha mengulur waktu.
"Aku tidak pernah lupa....kamu lah yang sudah lupa...berselingkuh saat kita masih menjadi suami isteri," jawab Raden Bondo tertawa.
Raden Bondo mendekati Anum, matanya liar menyapu tubuh Anum yang pakaiannya sudah berantakan.
Anum ketakutan, ia mundur satu langkah...jurang menganga di belakangnya...beberapa langkah saja bila ia mundur, maka ia akan jatuh ke sana.
"Sudah tidak ada jalan lagi bagi kamu melarikan diri Anum....," seringai Raden Bondo.
Ia semakin mendekati Anum...Anum tidak bisa untuk mundur lagi.
Tidak ada cara lain lagi, Anum akan melawan sebisanya.
Anum berlari menubruk tubuh besar Raden Bondo.
Raden Bondo yang mempunyai tenaga lebih besar cuma terjajar ke belakang satu langkah.
Raden Bondo langsung memeluk tubuh Anum, Anum terbaring ke tanah.
Mereka bergumul ke tanah yang penuh ditutupi oleh daun- daun kering.
Raden Bondo begitu bernafsu men*c**mi tubuh Anum yang terbuka.
Anum melawan sekuat tenaga, ia menggigit bahu Raden Bondo sekencang- kencangnya.
Raden Bondo berteriak kesakitan, ia melepaskan pelukannya dan langsung terduduk, di saat yang tepat Anum mendorong tubuh Raden Bondo.
Tubuh mereka menggelinding....
"Kita akan mati bersama...," teriak Anum.
Tubuh mereka jatuh meluncur ke arah jurang dengan posisi Raden Bondo di bagian bawah.
"Clap...." tubuh mereka terbanting ke bawah.
Anum menimpa tubuh Raden Bondo.
"Anum kamu tidak apa- apa?" Dimas yang sudah berhasil melepaskan ikatannya baru tiba di tempat itu.
Rasa khawatirnya pada Anum membuatnya terus berusaha membuka ikatan talinya.
__ADS_1
"Anum.....," Dimas melongokkan kepalanya melihat jurang yang tidak begitu dalam.
Ia melihat Anum tertelungkup di atas tubuh Raden Bondo.
Entah masih hidup atau sudah meninggalkah mereka.
Dimas perlahan turun dari sisi jurang, ia menginjak akar- akar pohon yang ada di sisi jurang untuk menjadi pijakannya saat ia turun.
Rasa khawatirnya pada nasib Anum membuatnya buru- buru untuk segera sampai di bawah.
Setelah dengan bersusah payah akhirnya Dimas sampai ke bawah.
"Anum...." teriaknya khawatir.
Dimas mengangkat tubuh Anum yang terkulai lemas.
"Anum...." Dimas masih bisa melihat Anum masih bernapas.
Anum hanya pingsan...
"Anum bangunlah....," Dimas menepuk- nepuk pipi Anum.
"Aah...," Anum mulai membuka matanya.
"Syukurlah Anum kamu masih hidup," kata Dimas sambil memeluk tubuh Anum.
Dimas memeriksa semua tubuh Anum, tidak ada luka....hanya ada goresan kecil di tangannya.
Anum terlindung oleh tubuh Raden Bondo yang berada di bawahnya.
Mata Dimas beralih pada tubuh Raden Bondo, ia memeriksa tubuh laki- laki malang itu.
Raden Bondo tewas dengan kondisi mengenaskan, matanya membeliak ke atas.
Dimas mengusap kelopak mata Dimas agar terpejam.
"Pergilah dengan tenang....ampunilah segala dendam di antara kita...mulai hari ini kita sudah tidak ada urusan lagi," ucap Dimas.
"Anum...sebaiknya kita segera naik ke atas...apakah kamu bisa? aku akan membantu menarikmu," ujar Dimas.
"Bisa Mas Dimas, aku tidak apa- apa," jawab Anum.
Anum melirik sekilas pada jasad Raden Bondo.
"Salahmu sendiri Kanda Bondo...kamu tidak mau melepaskan aku," ujar Anum.
"Sudahlah Anum, kita harus segera melarikan diri....sebelum waktunya warga melepaskan kita...," titah Dimas.
Dimas naik perlahan menginjak akar- akar pohon yang banyak tumbuh melintang di sana.
Sambil menarik tangan Anum, mereka berdua sedikit demi sedikit memanjat ke atas.
"Ayo Anum kita tinggalkan tempat ini....," ajak Dimas.
"Aku haus dan lelah mas Dimas," tukas Anum.
"Kita istirahat sebentar Anum, setelah itu kita harus segera meninggalkan tempat ini," titah Dimas.
Dimas menunggu Anum dengan sabar, ia membiarkan Anum melepaskan lelahnya.
__ADS_1
Setelah Anum siap, mereka bergegas keluar dari hutan...saat itu sudah menjelang sore.
Setelah berjalan keluar hutan, Dimas melihat seekor kuda cokelat sedang merumput di sana, kuda itu terikat di salah satu pohon.
Dimas bisa langsung menebak, itu adalah kuda milik Raden Bondo.
"Anum kita bisa mengendarai kuda itu," tunjuk Dimas girang.
"Milik Raden Bondo," gumam Anum.
"Ayo Anum, kuda ini bisa membantu kita untuk segera pergi dari sini," ajak Dimas.
Dimas lalu membuka ikatan kuda cokelat itu, ia mengelus- ngelus kepala kuda itu.
"Tolong bantu kami...bawalah kami pergi dari sini..." ujar Dimas pada kuda cokelat itu.
Kuda cokelat itu seakan mengerti, ia diam saja saat Dimas naik ke atas punggungnya, Dimas lalu membantu menarik Anum untuk segera naik.
Setelah Anum duduk, Dimas menghela kekang kuda itu.
Mereka berlalu dan menjauh dari tempat itu mencari tempat baru dimana tidak ada orang- orang yang mengenal mereka.
**********
Arum gelisah dalam tidurnya, ia bisa melihat kejadian yang menimpa Raden Bondo.
"Kanda Bondo...," teriaknya lalu ia terbangun dari tidurnya.
"Arum....kamu mimpi buruk sayang?" tanya Raden Prana yang juga langsung terbangun dari tidurnya.
"Iya Kangmas....," jawab Arum.
Raden Prana turun dari tempat tidur, ia mengambilkan Arum air minum untuk menenangkannya.
"Minumlah Arum," perintah Raden Prana.
Arum menenggak habis air minum yang diberikan oleh Raden Prana.
Arum mengenang mimpinya barusan...ia seperti melihat langsung adegan demi adegan yang terjadi di antara Anum dan Raden Bondo.
"Semua karena aku menyumpahinya," sesal Arum.
Raden Bondo termakan sumpah Arum, ia memang terbukti tidak bahagia dengan pernikahannya dengan Anum.
Ia juga menderita, Anum juga sudah mendapatkan balasannya, Anum sudah menerima hukuman dari masyarakat.
Arum sungguh menyesal, tapi ia masih harus menyelesaikan perjanjian yang ia lakukan dengan nenek Kanji, makhluk kegelapan.
Bila tiba waktunya, Arum tetap harus mengorbankan Anum sebagai tumbal persembahannya.
"Sayang....mengapa kamu termenung? masih memikirkan mimpi barusan?" tanya Raden Prana lembut.
Raden Prana menyadarkan Arum dari lamunannya.
"Tidurlah kembali....ini masih malam," Raden Prana membaringkan tubuh Arum, ia menyelimuti isterinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku akan memelukmu, pejamkan matamu dan tidurlah....," Raden Prana memeluk tubuh Arum, bau tubuh Raden Prana membuat Arum menjadi tenang.
Mereka segera terlelap kembali menyambut hari esok yang akan tiba...
__ADS_1