
"Au....terasa sakit...."
"Berarti ini nyata, tapi di mana ini...?" gumam Mira dalam hati.
Mata Mira berkeliling, yang nampak hanya kesunyian yang dikelilingi pohon- pohon besar dan semak belukar.
Dari kejauhan Mira seperti melihat ada seperti bayangan dua orang perempuan.
Dalam keremangan yang diterangi sedikit cahaya bulan, Mira melihat perempuan satunya menarik tangan perempuan lainnya.
Mira seperti mengenal salah satunya.
"Iya itu perempuan di dalam mimpiku."
Mimpi yang seolah- olah Mira adalah perempuan itu, perempuan yang sedang patah hati.
"Nenek Kanji, keluarlah...aku membawa persembahan untukmu," kata perempuan itu berteriak.
Mira ingin menyapa dan bertanya kepada kedua perempuan itu, apa yang mereka lakukan di situ?
Tapi mulut Mira seakan terkunci, ia tidak bisa mengeluarkan sedikitpun suaranya.
Hanya matanya saja yang bisa bergerak, melihat kegiatan kedua orang di depannya.
Pohon besar di depan kedua perempuan itu bergetar, lalu seperti terdengar seperti suara kepakan ribuan burung.
Kemudian Mira melihat seorang nenek tua yang menyeramkan entah keluar dari mana.
" Bagus Cah ayu...kamu memenuhi janjimu hi...hi...," tawa Nenek tua itu mendirikan bulu kuduk.
Kaki Mira gemetar, Mira melihat nenek tua itu mendekati perempuan yang satunya lagi, seorang perempuan yang berpakaian seperti orang keturunan Belanda zaman dulu.
Nenek tua itu tampak mengelus leher perempuan keturunan Belanda itu lalu perlahan mendekatkan mulutnya ke leher perempuan itu.
Lalu...
"Clap..."
"Aaaaa.....," teriakan kesakitan perempuan itu memenuhi tempat itu.
Mira membelalakkan matanya menyaksikan hal yang begitu mengerikan terjadi di depannya
Bulu kuduknya meremang, andai Mira bisa menggerakkan kakinya...ia pasti sudah berlari secepatnya meninggalkan tempat itu.
Cuma anehnya mengapa mereka tidak mempedulikan kehadiran Mira di tempat itu seakan Mira tidak terlihat oleh mereka.
Nenek tua itu menghisap darah perempuan Belanda itu dengan rakus.
Perempuan itu menggelinjang menahan rasa sakit.
Lalu tubuh perempuan itu terlihat mengkerut dan mengeriput lalu menghilang menjadi asap hitam.
Masih terdengar suara mengecap dari mulut nenek menyeramkan itu.
Perut Mira terasa sedikit mual melihat adegan mengerikan di depannya.
" Manis..." katanya menjilat- jilat bibirnya.
Mira bisa melihat gigi taring yang tajam tersembul dari mulut nenek itu.
" Hi....hi....." ia tertawa menyeramkan.
"Ingat jangan lupa membawa persembahan di malam bulan purnama berikutnya, atau kamu akan merasakan akibatnya," tunjuk nenek itu pada perempuan satunya yang memakai kerudung hitam.
" Baik Nek," jawab perempuan itu.
__ADS_1
Nenek tua yang mengerikan itu lalu perlahan menghilang di kegelapan malam.
Perempuan muda berkerudung hitam itu lalu bicara sendiri.
"Aku terlanjur terikat perjanjian dengannya, aku lakukan ini karena rasa sakit hatiku."
"Semua karena laki- laki itu," ucapnya sambil menatap ke arah cahaya bulan.
" Sudah cukup pertunjukannya, pulanglah," ucapnya.
"Apa dia bicara padaku?" tanya Mira dalam hati.
Tapi perempuan itu bicara bukan menghadap padanya.
Tubuh Mira kemudian terbaring dengan posisi melayang, matanya kembali terasa sangat berat.
Seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan.
Mira hanya merasakan tubuhnya seperti terbang melayang dan terasa hembusan angin kencang menerpa di sebelah telinganya.
Mira hanya bisa pasrah, semoga saja ia sedang dikembalikan lagi ke tempat tidurnya.
Mira tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya Mira terus berada di tempat menyeramkan itu.
Perlahan kesadaran Mira sedikit demi sedikit mulai menghilang.
Entah sudah berapa lama Mira berada dalam keadaan seperti itu, ia tidak menyadari ketika akhirnya tubuhnya melayang perlahan turun di tempat tidurnya.
Mira sudah terlelap ke alam mimpi...
Keesokan harinya...
Mira terbangun...
Ia terperanjat dan tanpa sadar ia melompat dari tempat tidurnya.
Pintu kamar tidurnya dalam posisi terbuka.
Apa yang sudah ia alami semalam? seperti dalam mimpi tapi terasa sangat nyata.
Mira mengingat- ngingat, kemarin sore badannya terasa tidak enak lalu ia mengistirahatkan tubuhnya dengan berbaring.
Dan sebelumnya ia sudah menutup pintu kamarnya, sebelum Mira berbaring di tempat tidur.
Kemudian Mira mendengar pintu kamarnya yang terbuka sendiri, berarti yang dia alami bukan mimpi?
Mira memegang kepalanya yang agak pusing, terasa agak hangat.
Mira demam...
Mira mengambil ponselnya yang ada di meja.
Lalu Mira menelepon mbak Susi mengabari hari ini Mira tidak membuat kue karena ia sedang tidak enak badan.
" Ya udah Mir...kamu istirahat saja tidak usah bangun dulu. Nanti mbak masakin kamu bubur," kata mbak Susi perhatian.
"Makasih mbak Susi, maaf jadi ngerepotin lagi."
"Santai aja Mir...," jawab mbak Susi.
Mira lalu menutup sambungan teleponnya, ia kembali membaringkan tubuhnya sambil mengamati langit- langit kamarnya.
"Ada kisah apa di balik kejadian aneh yang belakangan ini mengikutiku?" gumam Mira.
Seandainya kejadian semalam itu nyata, bagaimana cara Mira keluar dari kamar? sementara jendela kamar dalam keadaan terkunci.
__ADS_1
Mira merasa tubuhnya dibawa terbang melayang dalam posisi tetap berbaring.
Lalu apa Mira terbang menembus tembok rumahnya.
Sangat tidak masuk diakal...
"Gruk...gruk..." seperti ada suara garukan di pintu depan rumah Mira.
Mira menajamkan telinganya...suara apa itu?
" Gruk...gruk..." suaranya terdengar lagi.
Mira beringsut bangun dari tempat tidurnya, ia lalu membuka gorden jendela.
Seketika kamarnya menjadi terang, sinar matahari perlahan masuk menerobos dari kaca jendela kamarnya.
" Gruk...gruk..."
Mira menuju pintu depan, ia penasaran dengan suara garukan di pintunya.
Mira perlahan membuka pintu rumahnya.
Dan Mira terbelalak melihat tubuh kurus dan ringkih di depannya.
" Poni..." teriak Mira.
"Augh....augh,"Poni mengendus lemah.
Mira mencari- cari di sekeliling depan rumahnya, namun tidak ditemuinya sosok yang sangat dirindukannya.
Mira memeluk tubuh Poni yang sangat kurus.
Garis- garis tulang si Poni tampak menyembul kelihatan dari tubuhnya.
Mira menangis....
" Poni....kamu masih hidup? lalu mengapa kamu pulang sendiri? tuanmu mana?" tanya Mira pada Poni.
Poni terlihat tampak lemah, Mira membawanya masuk lalu memberinya minum.
Poni minum dengan rakus, ia sepertinya sangat haus dan juga kelaparan.
"Mira...Poni sudah kembali?" mbak Susi yang sudah datang terkejut melihat kehadiran Poni.
"Ia kelihatan lapar mbak..." Mira memberitahu Mbak Susi.
" Ini mbak masak bubur banyak, bagi buat si Poni," mbak Susi membawa sebaskom penuh bubur yang uapnya masih mengepul.
Mira lalu mengambil piring tempat makan si Poni lalu menuang sepiring bubur hangat untuknya.
" Makanlah....," Mira menambahkan sedikit air di bubur Poni untuk menghilangkan uap panasnya.
Poni menghampiri sepiring bubur yang diletakkan Mira di lantai.
Poni makan dengan lahap, entah bagaimana cara Poni bertahan hidup selama ia berada di hutan.
Dalam waktu sekejap, bubur di piringnya ludes dimakan.
Poni masih menjilat- jilat piringnya sampai benar- benar bersih tak bersisa.
Mira masih meneteskan air matanya, ia bersyukur anjingnya kembali dengan selamat.
"Kamu juga makan Mir," suruh mbak Susi.
" Iya mbak," Mira menuangkan bubur ke dalam mangkok.
__ADS_1
Sesekali ia mengusap air matanya, keharuan muncul dalam hatinya begitu ia melihat Si Poni kembali.