Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )

Super Daddy ( Gadis Kecil Milik Daddy )
Konyol


__ADS_3

Albert hanya bisa menghembuskan napasnya pelan, ia melihat raut wajah Luna yang sangat menggemaskan membuat dirinya semakin tidak tahan menahan semua gejolak yang ada di benaknya.


"Om, kan tadi lari mengejar Luna. Sudah dipastikan jantung Om berdebar lebih cepat," jawabnya membuat Luna manggut-manggut tanda mengerti. Albert pun langsung berjalan ke arah tempat tidur, ia langsung melonggarkan dasi yang ada di leher jenjangnya.


Ide muncul di dalam pikiran Luna, ia segera menyusul Albert dengan langkah kakinya sedikit berlari. Luna tidak sabar kalau ia sudah menjadi istri Albert dapat di pastikan ia tidak akan membiarkan suaminya ini keluar sendirian.


"Om, biar Luna bantu, Oh iya. Kamar Luna yang mana Om?" tanya Luna sembari meletakan ponsel miliknya di atas meja yang dekat dengan tempat tidur.


"Tidak, usah Luna. Om bisa sendiri kok," jawabnya sembari melepaskan dasi dan juga langsung membuka kancing kamejanya satu persatu. Albert belum sadar bahwa di depannya ada Luna yang sejak dari tadi melihat ke arah tubuhnya yang seperti roti sobek.


"Omegot, Luna sadarlah. Ini bukan mimpi kan," batinnya menjerit girang setelah ia melihat roti sobek terpang-pang nyata ada di hadapannya. Luna menelan salivanya susah payah, Luna menggigit jarinya sembari terus melihat ke arah roti sobek.


Albert tersadar dirinya membuka baju dihadapan seorang gadis. Betapa kagetnya, Al. Ia segera mengambil kamejanya yang sempat Albert lempar ke sembarang arah.


"Luna, tutup mata mu," pekiknya membuat Luna terkekeh girang. Luna malah sengaja mendekati Albert.


"Tidak, sudah terlanjur Luna melihat tubuh kekar Om. Kalau begini, Om harus tanggung jawab dong! Om sengaja bukan mau menggoda Luna? Ayo ngaku saja Om?" tanyanya mendesak Albert.


"Luna, Kamu salah paham. Om, lupa Kamu ada disini sungguh! Sekarang Luna pergi ke kamar Luna yang ada di sebelah kamar Om," ucapnya seraya menutup tubuhnya kembali.


Luna hanya bisa terkekeh geli, Albert benar-benar lupa. Ia merasa bersalah kepada Luna yang masih polos.

__ADS_1


"Mata suci Luna Om nodai dengan cara membuka pakaian di hadapan Luna. Kenapa Om tidak melanjutkan membuka yang bawah saja, dengan begitu Om harus tanggung jawab," serunya sambil berkacak pinggang.


Albert tidak mengerti, atas apa yang di ucapkan Luna kepadanya. Ia begitu ceroboh sampai-sampai Luna ia lupakan dan malah langsung membuka pakaian di hadapannya.


"Luna mending tidur saja, Om minta maaf. Sekali lagi Luna lupakan kejadian tadi Oke," rayunya membuat Luna mengerutkan dahinya.


"Tidak semudah itu, Om harus tanggung jawab. Dengan hukuman besok pagi Om harus antar Lun ke sekolah dan harus pura-pura jadi kekasih Luna," ucapnya membuat Albert tercengang. Bagaimana bisa dia pura-pura menjadi kekasihnya sedangkan dirinya sudah tua yang ada Albert di bilang orangtuanya.


"Tapi, Luna itu sangat konyol sekali," timpal Albert.


"Tidak, pokoknya Om harus mau jadi pacar bohongan Luna di sekolah. Kalau tidak, Om harus tanggung jawab karena telah menodai mata suci Luna," tegasnya membuat Albert kehilangan akal untuk menolak keinginan konyol yang di pinta Luna.


Luna pun pergi keluar kamar Albert dengan berbinar. Ia tidak menyangka Luna begitu pede ingin menjadi pacar pura-puranya.


"Luna, Kamu ini ada-ada saja. Tapi dengan cara ini, Aku bisa melihat dan melindungi Luna dari godaan Pria lain," ucapnya mantap sambil tersenyum ke arah Luna yang sudah menghilang dari penglihatannya.


Satu jam telah berlalu.


Hujan turun dikeheningan malam. Luna merasa takut karena petir di luar sana terus mengeluarkan bunyi yang sangat mengerikan. Setelah tadi Luna bersiap untuk tidur dengan menggunakan tangt*p dan juga celana pendek. Kebiasaan Luna di rumahnya ya seperti ini, karena baginya sangat nyaman untuk tidur nyenyak.


Lampu mendadak mati membuat Luna kaget setengah mati. Ia mencari ponselnya tapi tidak ditemukan. Luna tersadar bahwa ponselnya ada di kamar Albert. Dengan langkah pelan sambil meraba-raba dinding tembok menuju keluar kamar. Luna akhirnya menemukan pintu dan segera membukanya.

__ADS_1


Untung saja kamar Albert tidak jauh, ia segera membuka pintu kamar Albert. Luna memanggil nama Albert tapi tidak ada jawaban. Luna pun menangis di depan pintu kamar Albert yang saat ini menatap ke arah depan karena Albert tidak menjawab panggilan Luna.


"Om, Luna takut. Hik ... hik .. hik," Luna menangis.


Albert yang sudah tertidur lelap segera membuka matanya karena tersadar mendengar suara tangisan. Ia melihat bayangan hitam di depan pintunya yang terbuka. Sepertinya ia mengenali suara itu, Albert kaget segeralah ia beranjak dari tempat tidurnya. Albert merasa cape setelah memberisihkan diri ia langsung tidur dengan menggunakan boxer dan juga kaos tipis.


Dengan langkah cepat Albert menyalakan ponselnya dan segera memeluk Luna dengan reflek.


Albert segera mengendong Luna ke arah tempat tidur. Luna memeluknya begitu erat hingga keduanya tidak sadar satu sama lain.


Deg!


Jantung Albert berdebar saat ia merasakan gunung kenyal itu berada di dad*nya. Luna masih menangis sambil memeluknya dengan sangat erat.


"Om, Luna takut," tangisnya membuat Albert segera menurunkan Luna dari pangkuannya.


Senter dari ponsel Albert letakan di atas meja hingga kini kamarnya lumayan terang. Luna masih menangis pilu, Albert tidak tega ia segera memeluknya dengan cara mengusap kepala Luna.


Kedua wajah itu saling memandang satu sama lain membuat jantung keduanya berdegup lebih cepat.


"Awwshiit, Luna Kamu begitu seksi," batin Albert.

__ADS_1


__ADS_2